Kumpulan Cerita Rakyat dan Dongeng

Cerita Rakyat Indonesia #95: Asal Usul Telaga Wekaburi

Dua hari ini, saya tidak memposting cerita rakyat Indonesia sebagaimana biasanya. Perkaranya, saya menulis dua naskah drama, yaitu naskah drama Danau Toba dan naskah drama Bawang Merah dan Bawang Putih. Karena itu, hari ini saya kembali menulis cerita rakyat Indonesia yang berjudul Asal Usul Telaga Wekaburi.

Telaga Wekaburi terletak di Desa Werabur, Kecamatan Windesi, Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat. Konon sebelum berubah menjadi Telaga Wekaburi, tempat tersebut adalah sungai kecil yang jernih airnya. Ada suatu peristiwa yang mengubah sungai itu menjadi telaga, peristiwa apakah itu? Simak saja kisahnya dalam cerita rakyat Indonesia: Asal Usul Telaga Wekaburi.

***

Suatu ketika, masyarakat Suku Wekaburi hendak menghelar pesta adat. Berbagai persiapan, seperti mendirikan rumah khusus bagi para tamu undangan, menyiapkan makanan, dan lain-lain, dilakukan oleh mereka. Saat acara berlangsung, para tamu dari berbagai suku tiba di Kampung Wekaburi. Di antara para tamu yang menghadiri pesta, terlihat seorang nenek bersama cucu perempuannya yang bernama Isosi, dan juga seekor anjing peliharaan mereka.

Sewaktu hari mulai gelap, pesta adat pun dilangsungkan. Pesta itu berjalan lancar dan sangat meriah. Berbagai tari-tarian dipertontonkan di depan khalayak. Tamu-tamu bergembira, melebur kebahagiaan dengan menari. Di waktu itulah, seseorang yang sedang menari tanpa sengaja menginjak ekor anjing kesayangan si nenek yang tengah terlelap di dekat perapian. Tak ayal, anjing itu lalu menggonggong dengan kerasnya.

Si nenek terbangun. Ia bertanya, kenapa anjingnya bisa menggonggong. Isosi, cucu si nenek, mengatakan pada neneknya bahwa seorang yang sedang menari tanpa sengaja menginjak ekor anjing milik mereka. Mendengar hal itu, si nenek murka. Ia kemudian membawa anjingnya masuk ke sebuah ruangan dan mengikatkan cawat pada tubuhnya. Setelah melakukan semua itu, ia keluar seraya memeluk anjingnya, dan berikutnya ia berjoget bersama para tamu lainnya. Menurut peraturan adat, jika ada penduduk yang berbuat demikian akan ada malapetaka datang. Si nenek itu tahu bahwa perbuatannya melanggar adat. Karena itu, ia sengaja melakukannya. Ia ingin memberi hukuman kepada mereka yang telah menginjak anjingnya.

Setelah itu, si nenek segera mengambil api, yang disembunyikan di dalam seruas bambu supaya tidak terlihat orang lain. Nantinya, api dan potongan bambu itu akan dijadikan obor. Selanjutnya, nenek itu mengajak cucunya agar segera keluar dari kampung itu.

“Ayo, cucuku. Kita segera tinggalkan kampung ini,” ajak si nenek.

“Baik, Nek,” jawab Isosi.

Penerangan obor membantu si nenek bersama cucu dan anjing kesayangannya berjalan menuju ke Gunung Ainusmuwasa melalui jalan setapak. Namun tanpa mereka sadari, ada seorang pemuda yang bernama Asya mengikuti langkah mereka. Rupanya, Asya adalah kekasih Isosi, cucu si nenek.

“Tunggu, Nek!” serunya. “Bolehkah saya ikut bersama kalian?”

Mengetahui bahwa pemuda itu adalah kekasih cucunya, si nenek pun tidak keberatan. Setelah itu, rombongan si nenek kembali melanjutkan perjalanan. Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di puncak Gunung Ainusmuwasa. Dari atas gunung tampak cuaca mulai memburuk. Awan gelap mulai menutup langit di atas hulu Sungai Wekaburi. Selang beberapa saat kemudian, kilat yang disertai guntur terlihat menyambar-nyambar. Hujan deras pun akhirnya mulai turun.

Sementara itu, para penduduk Wekaburi serta tamu undangan masih asyik berpesta. Mereka tidak menyadari jika bahaya sedang mengancam. Semakin lama, hujan turun semakin lebat sehingga terjadilah banjir besar. Mereka baru sadar akan bahaya tersebut ketika air telah naik ke lantai rumah. Kepanikan akhirnya melanda para penduduk. Mereka lari kalang kabut hendak menyelamatkan diri. Namun malang, semua sudah terlambat. Banjir yang dahsyat tersebut menghanyutkan semua yang ada.

Keesokan harinya, si nenek bersama Isosi dan Asya turun dari gunung untuk melihat peristiwa yang terjadi semalam. Tak satu pun rumah penduduk yang tersisa. Nasib yang sama juga terjadi pada para penduduk. Mereka banyak yang terbawa arus, bahkan sebagian yang lain menjelma menjadi katak dan buaya. Sementara itu, Sungai Wekaburi telah berubah menjadi sebuah telaga yang kemudian disebut Telaga Wekaburi.

Akibat peristiwa banjir yang telah menghanyutkan seluruh penduduk membuat si nenek merasa amat puas. “Itulah akibat dari perbuatan kalian! Kalian telah menginjak anjing kesayanganku,” kata nenek.

***

Bagaimana cerita rakyat Indonesia yang saya posting berikut ini? Semoga bermanfaat bagi teman-teman sekalian ^^
4 Komentar untuk "Cerita Rakyat Indonesia #95: Asal Usul Telaga Wekaburi"

Back To Top