Kumpulan Cerita Rakyat dan Dongeng

Cerita Rakyat Indonesia #109: Si Manis Jembatan Ancol

Cerita rakyat yang akan saya bagikan ini telah menjadi bagian dari cerita horor legendaris yang ada di Jakarta selama bertahun-tahun. Saking terkenal, kisahnya pernah diangkat ke dalam film horor Indonesia. Ada yang tahu cerita rakyat yang saya maksud? Oke, saya kasih petunjuk. Lokasi dari cerita rakyat Indonesia ada di Jakarta, tepatnya di Jembatan Ancol. Nah, sudah tahu bukan cerita rakyat yang saya maksudkan?

Yeah, pada postingan cerita rakyat Indonesia, saya ingin mengisahkan tentang legenda si manis jembatan Ancol—sebuah cerita horor legendaris mengenai fenomena penampakan hantu perempuan di sekitar jembatan Ancol. Bagaimana cerita selengkapnya?

Cerita Rakyat Si Manis Jembatan Ancol

Waktu zaman Belanda masih menjajah Indonesia, sekitar tahun 1860, ada seorang wanita tua bernama Mak Emper*. Disebut dengan nama seperti itu, karena ia—bersama dua anaknya, yaitu Mpok dan Ariah—tinggal di emperan rumah seorang Tuan Tanah. Mak Emper dan Mpok bekerja untuk Si Tuan Tanah sebagai penumbuk padi. Sementara Ariah mencari kayu bakar untuk dipakai sendiri. Dengan demikian, hidup Mak Emper dan kedua anaknya tidak kelaparan, walaupun jauh dari kata berkecukupan.

Tahun demi tahun berlalu, hingga Mak Emper makin renta, sementara Mpok dan Ariah menjelma menjadi gadis cantik. Tuan Tanah yang melihat kecantikan Ariah langsung jatuh hati. Ia meminta Ariah kepada Mak Emper untuk dijadikan istri.

Mak Emper pun galau. Sebenarnya tidak masalah Tuan Tanah ingin memperistri Ariah, namun ada dilema yang dirasakannya. Pertama, Ariah masih memiliki kakak wanita—menurut adat orang dulu, melangkahi kakak merupakan pamali; kedua, Tuan Tanah sendiri sudah punya istri dan anak—jika ia mengizinkan Tuan Tanah menikahi Ariah, tentu ia sungkan terhadap istri dan anak Tuan Tanah. Tapi, jika tidak diizinkan pun ia tidak enak kepada Tuan Tanah. Kegalauan itu kemudian dicurahkan kepada dua anaknya.

Mpok sih bisa memahami duduk perkara. Sehingga, ia bersedia dilangkahi Ariah demi kebaikan bersama. Mak Emper dan Mpok kemudian mengembalikan permasalahan tersebut kepada Ariah. Soalnya urusan terima-tidaknya lamaran seorang laki-laki memang harus dikembalikan kepada anak, sebab ia yang akan menjalani kehidupan berumah tangga.

Ditanya tentang pernikahan, pikiran Ariah menggayut. Pasalnya, ia belum memikirkan untuk menikah. Lagipula, melangkahi kakak semata wayang merupakan pamali. Ia takut terkena karma, kakaknya tidak dapat jodoh.

“Pokoknya Mpok ridho deh dilangkahin sama Ariah. Ini semua demi kebaikan kita. Mpok yakin suatu saat bakal dapat jodoh juga,” tutur Mpok meyakinkan Ariah.

“Nggak deh, Mpok. Ariah nggak mau bersenang-senang di atas penderitaan Mpok. Walaupun Mpok ridho, tapi Ariah nggak ridho. Ariah nggak mau berumah tangga sebelum Mpok berumah tangga lebih dulu. Mak, Mpok, sepertinya Ariah tidak bisa menerima lamaran Tuan Tanah deh,” begitu pemikiran Ariah disampaikan kepada ibu dan kakaknya.

Mak Emper hanya menghela napas.

“Ariah udah ambil keputusan, Mak, Mpok!” tegas Ariah, sekali lagi.

***

Keesokan harinya, Ariah minggat dari emperan yang telah menjadi tempat tinggalnya selama ini. Ia meninggalkan ibu serta Mpok yang telah menemaninya selama ini. Juga dari Tuan Tanah yang sudah baik menerima mereka. Tapi, jangan hanya karena dirinya, mereka jadi terusir, lebih baik ia yang menyingkir. Ariah tahu diri.

Namun, minggat dari tempat tinggalnya selama ini, bukanlah perkara gampang. Selama hidupnya, Ariah tidak pernah meninggalkan kampungnya. Jadi, ia bingung harus melangkahkan kaki ke mana. Ia menuju Ancol tempat biasanya mencari kayu bakar dan melanjutkan perjalanan menuju utara hingga sampai di tempat bernama Bendungan Melayu.

Setelah sore, ia memutuskan untuk kembali ke Ancol, dan entah apa yang akan direncanakan Tuhan untuknya. Dari sela-sela pokok kayu muncul dua sosok laki-laki berbaju hitam-hitam menghadang Ariah. Mereka ini centengnya Tambahsia**.

“Heh, anak perawan, mau kemana lo?” tanya salah seorang dari mereka, yang bernama Pi’un. 

Ariah kebingungan melihat kedua centeng itu petantang-petenteng di hadapannya.

Melihat Ariah yang kebingungan Sura maju dan langsung menggamit tangan Ariah begitu saja. “Ikut gua, lo!” tukas Sura.

Ariah berusaha mengelak, “Mau dibawa kemana saya, Bang?”

“Nggak usah banyak tanya lo! Pendeknya lo bakal hidup enak di Bintang Mas!”

Demi menakut-nakuti Ariah, Pi’un mengeluarkan golok dari sarungnya dan mengibas-ngibaskannya.

“Nggak, Bang, Aye nggak mau!” Ariah meronta-ronta.

“Sialan lo!” Tubuh Ariah pun dihempaskan oleh Sura.

"Garap aja, Bang, ini bocah, baru kita habisin!"

Dalam ketidakberdayaan, Ariah “digarap” dua manusia terkutuk itu, kemudian dibunuh. Demi menghilangkan bukti mereka menggotong jasad Ariah dan melemparkannya ke pinggir laut Ancol.

Kisah kematian Ariah akhirnya menjadi dongeng yang melegenda.

***

Begitulah kisah si Manis Jembatan Ancol. Walaupun, setelah saya membaca artikel di Cerpen Horor, tentang Lukisan Asli Si Manis Jembatan Ancol, ada sedikit perbedaan. Bahwa Ariah—yang lebih terkenal dengan sebutan Mariah, Maria, atau Mariam—tidak mati, melainkan diambil oleh Ratu Kidul. Wallahu'alam.[]

Catatan:
* Mak Emper, berasal dari kata emperan, yaitu bagian bangunan rumah kecil, yang berdiri menempel pada bangunan rumah besar.
** Tambahsia adalah pemuda kaya yang memiliki villa bernama Bintang Mas. Ia biasa mencari gadis-gadis muda untuk “dimangsa”. Hal ini yang membawanya ke tiang gantungan pada 1872 di usia 29 tahun.
3 Komentar untuk "Cerita Rakyat Indonesia #109: Si Manis Jembatan Ancol"

Back To Top