Bergerak Maju Selangkah Lebih Baik Daripada Diam

“Wulan belum meng-approve juga permintaan pertemananmu di Facebook?”

Aku tergeragap dengan pertanyaan yang tiba-tiba terdengar di telinga kiriku. Pemilik suara itu bernama Ilham. Aku memanggilnya dengan panggilan Bang Ilham.

“Belum Bang,” sahutku kemudian, “Karena dia udah punya pasangan mungkin Bang.”

Tak peduli pada penjelasanku, Bang Ilham malah bertanya, “Udah berapa lama kamu mengajukan permintaan pertemanan padanya?”

“Kalau hari ini dihitung, berarti udah 14 hari lewat 7 jam lebih 20 menit tepat 20 detik. Tepatnya sehabis aku di-Putus Mitra dari ojek online.”

“Kenapa dia nggak meng-approve ya?” tanyanya lebih kepada diri sendiri, lalu terdiam beberapa saat, dan melanjutkan, “Boleh kutahu Facebooknya Wulan?”

Aku terdiam.

“Tenang Nal, nggak akan kugebet,” katanya seolah tahu apa yang ada di dalam pikiranku, “Aku cuman penasaran kenapa dia nggak meng-approve permintaan pertemananmu.”

Sebenarnya aku tak ingin memberitahu Facebook Wulan pada Bang Ilham. Setahuku Bang Ilham playboy, tukang gonta-ganti cewek. Walaupun ada jaminan darinya tidak akan menggebet Wulan. Tapi rasa penasaran akan sikap Wulan yang belum mau meng-approve permintaan pertemananku jauh lebih besar dibandingkan ketakutanku Wulan digebet Bang Ilham. Toh aku tak bisa mendekati Wulan jika permintaan pertemananku tak di-approve.

“Ini Bang,” kataku sambil menunjukkan akun Facebook Android milik Wulan.

“Boleh kuadd?”

Aku mengangguk. Bang Ilham pun meng-add akun Facebook Wulan.

***

Sehari kemudian, Bang Ilham memberitahuku kalau Wulan meng-approve permintaan pertemanannya.

“Kok bisa segampang itu ya?” tanyaku tak percaya.

“Kamu kurang ganteng kayaknya, hehehe,” sahutnya asal.

‘Sialan!’ rutukku dalam hati.

“Nggak cuman persetujuan pertemanan darinya, aku bahkan sudah chit-chat dikit dengannya, mengorek latar belakangnya.”

‘Sialan lagi!’ aku memaki, tapi bersemangat mendengar kelanjutan dari cerita Bang Ilham tentang latar belakang Wulan.

“Terus apa saja yang Abang tahu tentang Wulan?”

“Haus nih Nal,” tukas Bang Ilham, “Cerita kalau nggak ada airnya suka tersendat-sendat. Seret.”

Aku beranjak dari tempat dudukku untuk pergi ke warung kopi, memesan segelas es teh manis dan segelas kopi.

“Jangan lupa gorengannya ya,” pesan Bang Ilham sambil prengas-prenges.

Aku hanya mengiyakan sambil berlalu.

***

Cemilan dan minuman sudah tersedia. Giliranku menuntut Bang Ilham untuk menceritakan soal Wulan.

“Saat ini, status Wulan adalah jomblowati. Belum lama sih dia menjomblo. Kurang lebih seminggu lalu. Penyebab putusnya, aku nggak tahu. Jadi kamu, dan aku, punya peluang besar untuk menggebetnya,” demikian Bang Ilham mengawali ceritany tentang Wulan.

“Katanya Bang Ilham nggak mau menggebet Wulan, gimana sih?” tanyaku sedikit ketus, “Kalau begini caranya aku menyesal memberitahu Facebook Wulan pada Bang Ilham.”

Mendengar keluhanku itu, Bang Ilham hanya nyengir lebar. “Just kidding. Aku hanya menggodamu.”

“Ngaku aja dah Bang kalau mau ikut dalam permainan. Aku rapopo.”

“Mau dilanjutkan atau tidak?”

Aku terdiam. Tentu saja aku mau dilanjutkan, tapi bercandaan itu menyisakan kedongkolan di hati.

“Mau nggak?”

Akhirnya aku menggangguk.

“Oke kalau begitu,” katanya sambil nyeruput kopi, yang setelahnya dilanjutkan memakan gorengan, “Wulan anak kedua. Dia tinggal sendirian disini. Ngontrak rumah tak jauh dari tempatnya bekerja di warung makan. Kedua orang tuanya tinggal di Magelang. Kakak pertamanya sudah menikah dan ikut suaminya ke Batam.”

Aku takjub dengan kemampuan Bang Ilham mengorek latar belakang Wulan secara detail dalam satu hari. Cerita tersebut membuatku makin mengawang berimajinasi Wulan berada di sisiku, menjadi milikku.

***

Pertemuanku dengan Wulan terjadi waktu aku mendapat order mengantar makanan dari warung tempat Wulan bekerja. Saat itu aku bak menemukan mutiara hitam yang tersimpan di dalam lumpur. Sejak itu, aku selalu berusaha mendapatkan order makanan dari warung tempat Wulan bekerja setiap harinya. Memiliki bentuk fisik yang tambun, membuatku tak percaya diri memulai pembicaraan dengan wanita. Apalagi wanita itu sudah kusukai sejak awal. Jadi aku hanya menjadi pemuja rahasianya. Mencuri-curi pandang tiap kali aku mendapatkan order.

Hal ini kulakukan sampai datang kabar buruk dari server ke akun ojek online-ku. Aku di-Putus Mitra karena diduga melakukan order fiktif. Dan aku tak bisa melihat Wulan lagi dari dekat, karena aku memutuskan bekerja di bidang lain. Tak ingin lagi bekerja sebagai ojek online lantaran tarifnya yang selalu diutak-atik, hampir tiap bulan.

***

“Kalau begitu, kita berangkat ke warung tempat Wulan bekerja?” kata Bang Ilham merusak lamunanku.

“Mau ngapain kesana Bang?” tanyaku.

“Makan ayam gorenglah,” sahutnya, “Tenang, kutraktir.”

***

Jujur saja, datang ke warung tempat Wulan bekerja membuatku gugup. Pun begitu aku tak ingin kegugupanku terlihat siapapun, termasuk oleh Wulan.

“Kak,” panggil Bang Ilham. Seorang pramusaji datang ke meja kami duduk.

‘OMG, pramusaji itu Wulan. Dia terlihat cantik banget hari ini,’ gumamku.

“Kamu pesan apa Nal?” tanya Bang Ilham.

Aku yang sedang dalam lamunan tak mendengar pertanyaan itu. “Nal!” panggil Bang Ilham sambil menyenggol kakiku.

“Wulannn...”

Wulan tersenyum mendengarnya. Aku salah tingkah. Tapi dengan cepat menenangkan diri.

“Maaf kak, maksud saya...”

“Jangan panggil saya kakak, panggil saya Wulan, Wulandari kalau mau manggil secara lengkap. Abang baru kelihatan, nggak ambil order makanan lagi disini?”

“Kode tuh Nal,” celetuk Bang Ilham.
Aku nyengir, bingung harus menjawab apa.

“Cepet, pesen apa, kasihan kak Wulan berdiri mematung menunggu kamu memilih menu.”

“Samain aja kayak Bang Ilham.”

“Yaudah, ayam bakar dua plus es teh manis dua biar tambah romantis.”

Wulan mencatat, lalu berlalu pergi ke dapur untuk menyerahkan pesanan kami.

***

Dalam sepuluh menit, kami berhasil menghabiskan makan siang kami. Bang Ilham, yang tahu kalau Wulan merangkap sebagai kasir juga, menyuruhku membayar tagihan.

“Jangan lupa ajak dia bicara, seolah-olah ini menjadi pertemuan terakhirmu dengannya. Jangan cuman bayar lalu kabur. Percuma kamu kuajak makan kalau nggak bisa melakukannya.”

Aku mengambil duit yang diberikan Bang Ilham, lalu menuju kasir, sambil memikirkan apa yang akan kukatakan.

“Semua-nya jadi empat puluh ribu,” kata Wulan. Aku menyerahkan selembar uang pecahan 50 ribu.

Sambil menunggu kembalian, aku mengumpulkan nyali untuk bertanya, “Jam kerjamu selesai jam berapa?”

Setelah menatap jam dinding, Wulan menjawab, “Saya selesai jam 9 malam.”

“Mau ngopi di kedai Della?” tanyaku memberi tawaran.

“Hmm... saya nggak jadwal kemana-mana sih,” jawab Wulan dengan senyum mengembang.

Jawaban itu membuatku riang. “Oke aku tunggu kamu diluar jam 9-an nanti malam.”

Dengan langkah ringan aku kembali ke Bang Ilham sembari memberitahu rencanaku dengan Wulan nanti malam.

“Baguslah kalau begitu.”

Kami beranjak dari meja, dan pergi ke tempat parkir motor. Setelah Bang Ilham menyalakan motor, aku berkomentar, “Tapi hebat juga Bang Ilham bisa tahu latar belakang Wulan dalam satu hari.”

“Aku nggak tahu Nal. Aku ngarang semua kok. Wulan nggak pernah menerima permintaan pertemananku. Facebook Wulan yang menerima itu buatanku sendiri. Semua cerita latar belakang Wulan juga cuman rekaanku.”

“Kok Bang Ilham gitu sih?” tanyaku sebal, merasa dibohongi. Aku marah.

“Denger ya Nal, kamu boleh suka sama semua cewek cantik di seluruh dunia ini. Tapi kalau kamu nggak memulainya, mereka semua nggak akan tahu kalau kamu menyukai mereka. Aku hanya ingin kamu bergerak. Nggak vakum menunggu keajaiban. Buktinya, setelah kamu bergerak, Wulan memberi respons positif kan? Sekarang semua bergantung pada kamu dan Wulan, serta jodoh.”

Aku mengangguk-angguk, membenarkan apa yang dikatakan Bang Ilham. Jika tidak sekarang kapan lagi? Kami kembali ke kontrakan. Kepalaku memikirkan rencana apa yang harus kulakukan nanti malam bersama Wulan.[]

0 Komentar untuk "Bergerak Maju Selangkah Lebih Baik Daripada Diam"

Back To Top