Showing posts with label Riau. Show all posts
Showing posts with label Riau. Show all posts

Cerita Rakyat Indonesia #119: Si Miskin yang Tamak

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, July 1, 2013

Cerita rakyat Indonesia ini ditulis ulang oleh Sakaji*

Si Miskin yang Tamak

Dulu di Riau, hidup sepasang suami istri yang hidup serba kekurangan. Mereka tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari karena penghasilan yang pas-pasan. Kita sebut saja Pak Miskin ini dengan nama Pak Sakaji, biar lebih asyik ya ^^, hihihi...

Suatu ketika Pak Sakaji yang miskin bermimpi. Dalam mimpinya itu, seorang kakek menemuinya dan memberikannya seutas tali. Sebelum menghilang, Kakek itu berpesan, "Hai Sakaji, esok pergilah merakit dan carilah sebuah mata air di Sungai Sepunjung!”

Setelah bermimpi itu, Pak Sakaji terbangun. Pikirannya masih tersaput kebingungan. “Duh, mimpi apa aku tadi? Kenapa kakek tadi menyuruhku pergi merakit?” ujar Pak Sakaji dalam hati.

Namun, begitu, Pak Sakaji hendak mengikuti petunjuk mimpi itu. Siapa tahu nasibnya berubah! “Tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu aku mendapatkan keberuntungan,” pikir pak Miskin.

Maka, pergi Pak Sakaji ia memakai perahu miliknya satu-satunya. Di sepanjang sungai, dia terus mendayung. Matanya celingak-celinguk mencari mata air yang dimaksud si kakek dalam mimpinya. Tidak

berapa lama dilihatnya riakan air di pinggir sungai pertanda bahwa di bawah sungai itu terdapat mata air.
“Hmmm, mungkin ini mata air yang dimaksud,” pikir Pak Sakaji.

Dia menengok ke kanan dan ke kiri mencari si kakek dalam mimpinya. Namun hingga lelah lehernya, si kakek tidak juga kelihatan. [baca kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya, disini]

Ketika dia sudah mulai tidak sabar, tiba-tiba muncullah seutas tali di samping perahunya. Tanpa pikir panjang ditariknya tali tersebut. Ternyata di ujung tali itu terikat rantai yang terbuat dari emas.

Alangkah senangnya Pak Sakaji. Cepat-cepat ditariknya rantai itu.
“Oh, ternyata benar, ini adalah hari keberuntunganku. Dengan emas ini aku akan kaya!,” kata Pak Sakaji gembira.

Dia menarik rantai itu sekuat tenaga dan mengumpulkan rantai tersebut di atas perahunya. Tiba-tiba terdengar kicau seekor burung dari atas pohon: “Cepatlah potong tali itu dan kembalilah pulang!”

Namun karena terlalu gembira, Pak Sakaji tidak mempedulikan kicauan burung itu. Dia terus menarik rantai emas itu hingga perahunya tidak kuat lagi menahan bebannya. Dan benar saja, beberapa saat kemudian perahu itu miring dan kemudian terbalik bersama Pak Sakaji yang masih erat memegang rantai emasnya.

Rantai emas yang berat itu menarik tubuh Pak Sakaji hingga terseret ke dalam sungai. Pak Sakaji berusaha menarik rantai itu. Namun, rantai itu malah melilitnya dan menyeretnya semakin dalam.

Pak Sakaji yang kehabisan udara, gelagapan di dalam air. Dengan susah payah dia melepaskan diri dan kembali ke permukaan. Dengan napas tersengal-sengal dilihatnya harta karunnya yang tenggelam ke dalam sungai. Dalam hati dia menyesal atas kebodohannya. Seandainya dia tidak terlalu serakah pasti kini hidupnya sudah berubah. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Dan Pak Sakaji kembali ke rumah dengan tangan hampa.[SELESAI]

----------
*) Pendongeng maya yang mengurusi blog Cerita Rakyat Indonesia. Sapa melalui Twitter di akun @foklore atau di profile Google Plus.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #119: Si Miskin yang Tamak

Cerita Rakyat Indonesia #48: Kisah Si Kelingking dari Bangka Belitung

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Wednesday, February 6, 2013

Cerita rakyat si Kelingking merupakan cerita rakyat dari Bangka Belitung, yang berkisah tentang seorang anak yang hanya sebesar kelingking, tapi memiliki kekuatan yang besar. Cerita rakyat dari Bangka Belitung ini begitu terkenal dan menarik.

Sebelum membaca lanjutan cerita rakyat dari Bangka Belitung ini, kami juga sudah sharing mengenai cerita rakyat Lutung Kasarung dan cerita rakyat Legenda Danau Toba. Oke, kalau begitu, silakan membaca cerita rakyat dari Bangka Belitung berjudul Si Kelingking ini…

***

Di Pulau Belitung tinggallah sepasang suami istri yang hidup miskin dan sudah tua. Selama menikah mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Usia yang semakin menua menyebabkan keinginan mereka untuk memiliki anak semakin kuat. Mereka berpikir jika saja memiliki seorang anak pastilah anak tersebut dapat membantu mereka mengurus rumah, mencari nafkah dan merawat mereka jika sudah tidak mampu untuk bekerja lagi. Namun, sangat disayangkan karena tidak ada seorang anak pun yang mau menjadi anak asuh mereka karena kehidupan suami istri yang sudah tua dan miskin itu.

Sang nenek berpikir bahwa dia akan menerima anak dengan gembira walaupun anak tersebut hanya seukuruan jari kelingking. Keinginan sang nenek menjadi doa yang dimakbulkan Tuhan. Tiba-tiba saja si nenek hamil dan setelah cukup bulan, dia melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun, seperti yang dikatakannya dulu bahwa anak tersebut hanya seukuran jadi kelingking orang dewasa. Walaupun sudah diberi makan yang cukup tubuh anak tersebut tidak juga membesar, karena memiliki tubuh yang kecil anak tersebut diberi nama si kelingking.

Mendapat anak yang tidak seperti biasa menyebabkan kakek dan nenek tersebut merasa malu jika ada tetangga yang tahu. Mereka akhirnya sepakat untuk membunuh anak tersebut agar tidak diketahui orang lain. Suatu hari sang kakek membawa anaknya ke hutan dan mengatakan bahwa dia akan menebang pohon yang besar. Si kelingking disuruh berdiri tepat di samping pohon besar itu. Sang kakek dengan semangat lalu menebang pohon tersebut dan benar saja, pohon itu jatuh tepat mengenai kepala si kelingking. Melihat hal itu sang kakek merasa gembira dan pulang ke rumahnya.

Sore hari ketika sang kakek dan nenek duduk di beranda tiba-tiba terdengar suara anak kecil terteriak-teriak sambil membawa batang kayu yang besar. Anak kecil itu tak lain adalah si kelingking. Dia datang membawa pohon besar tersebut. Kemudian si kakek menyuruh kelingking untuk membelah pohon itu menjadi potongan kayu yang kecil untuk dijadikan kayu bakar. Si kelingking tetap senang mengerjarkan pekerjaan yang diperintahkan ayahnya.

Walaupun begitu kakek dan nenek yang tidak lain adalah orang tua si kelingking ternyata tetap tidak senang dan ingin mencoba membunuh kelingking sekali lagi. Oleh karena itu, suatu hari sang kakek mengajak kelingking ke kali sungai yang besar. Kakek tersebut bermaksud ingin menggulingkan batu yang besar agar menimpa kelingking. Kakek tersebut berbohong pada anaknya bahwa batu itu akan dijadikan pondasi rumah mereka.

Si kelingking merasa senang akan memiliki rumah baru, sehingga dia mengikuti ayahnya ke sungai. Sampai di sungai kakek tersebut memerintahkan kelingking untuk berdiri di sebelah batu besar, kemudian sang kakek menggunakan linggis untuk menggeser batu besar itu. Si kelingking yang tidak mengira merasa terkejut ketika batu tersebut menggelinding ke arahnya. Setelah si kelingking terlindas oleh batu besar tersebut, sang kakek dengan senang pulang ke rumah dan memberi tahu istrinya.

Ketika sore hari alangkah terkejutnya kedua suami istri tersebut saat mendengar suara seorang anak yang berteriak hendak diletakkan di mana batu besar itu. Ternyata kelingking pulang sambil membawa batu besar yang tadi telah menimpanya. Sang kakek lalu memerintahkan kelingking untuk memecah batu tersebut menjadi kecil-kecil agar bisa dijadikan pondasi rumah mereka. Melihat kelingking mengerjakan semua pekerjaan dengan gembira kakek dan nenek itu merasa sangat menyesal karena telah berusaha membunuh kelingking. Mereka lalu meminta maaf kepada kelingking dan merawatnya dengan penuh kasih sayang.

***

Cerita rakyat dari Bangka Belitung mengisahkan seorang anak yang baik tapi disia-siakan oleh orangtuanya. Cerita rakyat dari Bangka Belitung berjudul Si Kelingking memiliki pesan moral yang sangat mendalam. Para orangtua yang membaca cerita rakyat dari Bangka Belitung ini sebaiknya dapat menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh anaknya. Karena, anak adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Sebagai anugerah sudah sepantasnya anak dirawat dan dididik agar memiliki sifat-sifat yang baik.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #48: Kisah Si Kelingking dari Bangka Belitung

Cerita Rakyat Indonesia #10 - Akhir Riwayat Si Lancang

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Saturday, September 29, 2012

Cerita Rakyat Indonesia #10 - Akhir Riwayat Si Lancang

Alkisah dulu pernah hidup seorang janda dan anaknya, Lancang, di Kampar. Sebuah kabupaten di Provinsi Riau.

Pergilah Lancang ke negeri orang. Namanya zaman dulu, belum ada alat komunikasi secanggih sekarang, Lancang jarang pulang tanpa kabar pula. Itu berlangsung selama beberapa tahun.

Ibu yang sudah lama tak bersua tentu rindu betul dengan anaknya. Namun, dia tak bisa apa-apa, badan rentanya tak memungkinkannya pergi jauh dari kampungnya. Lagipula, dia tak ada uang buat ke mana-mana. Si ibu hanya bisa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia minta Lancang pulang ke Kampar. Doa ibu Lancang diijabah Tuhan.

Lancang bersama 7 istrinya pulang ke Kampar karena suatu urusan. Kabar ini terdengar sampai ke telinga ibunya. Buru-buru wanita tua itu ke pantai mencari anaknya.

Di pantai, dia melihat sebuah kapal dagang yang amat besar. Dan betul, Lancang ada di atas kapal itu. Ketika sampai di atas, wanita itu langsung memeluk Lancang anaknya. "Lancang anakku, ke mana saja selama ini, ibu kangen kamu, Nak," si ibu segera menangis

Tapi, Lancang melepaskan pelukan itu dan mendorong, wanita tua itu hingga terjatuh. "Siapa kau?"

Kegaduhan itu membuat beberapa orang di sekitarnya menoleh. Termasuk 7 istri Lancang. Salah seorang dari mereka mendekati Lancang dan bertanya padanya, "Siapa dia, Kakang Lancang?"

"Dia wanita gila. Lihat bajunya, compang-camping begitu. Kelasi! Tendang keluar wanita tua itu!"

Ditendanglah ibu Lancang keluar dari kapal. Hati seorang ibu tentu terluka diperlakukan demikian oleh putranya sendiri. Dalam kesedihan yang mendalam, ibu Lancang berdoa pada Tuhan untuk menghukum anaknya. Tuhan pun menjawab doanya.

Ketika Lancang melepas sauh kapalnya, melanjutkan berlayar kembali, suasana langit sungguh tak enak. Angin bertiup kencang, sementara langit mendadak gelap. Guntur dan kilat sambar-menyambar. Menciptakan bayangan menakutkan. Semua awak Lancang diperintahkan siaga menghadapi bahaya yang terjadi.

Sayangnya, Tuhan lebih berkuasa atas hamba-hambanya. Doa ibu yang terluka terlanjur dikabulkan. Kapal Lancang hancur berkeping-keping. Semuanya hancur tak bersisa. Kecuali kain sutra Lancang yang terbang melayang-layang hingga ke Negeri Lipat Kain di Kampar Kiri.

Sementara itu, Gong milik Lancang terlempat ke Kampar Kanan menjadi Sungai Ogong. Tembikar berubah menjadi Pasubilah. Tiang kapal terlempar ke danau yang kini dinamai Danau Lancang. Demikianlah dongeng Si Lancang dari Riau. Semoga bisa menjadi pelajaran.

Dongeng si Lancang, mengingkatkan kita tentang dongeng Malin Kundang, yang sama-sama memberi nasihat tentang berbakti kepada orang tua.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #10 - Akhir Riwayat Si Lancang