Cerita Rakyat Indonesia #67: Legenda Dongeng Desa Trunyan

Beberapa hari yang lalu, saya pernah menulis artikel tentang Leak, sebuah mitos cerita rakyat Bali. Dan kali ini saya mau sharing artikel yang masih berhubungan dengan cerita rakyat Bali, yaitu legenda dongeng dari sebuah desa yang sangat terkenal di Bali, bahkan di luar Bali, yakni Desa Trunyan.

Ya, Desa Trunyan merupakan desa pariwisata yang sangat menarik. Saya memang belum pernah berkesempatan ke Desa Trunyan. Tapi, banyak cerita dari mulut ke mulut menyebutkan bahwa di desa itu jenazah tidak dimakamkan, melainkan dibiarkan begitu saja di udara terbuka. Saya pernah menemukan artikel dan beberapa buah gambar dari blog Cerita Horor. Sedikit mengerikan memang melihat proses penguraian lewat foto, apalagi secara langsung, brrr... bisa panas dingin, apalagi saya termasuk tipe orang yang penakut. Hehehe...

Eniwei, ada legenda dongeng yang melatarbelakangi kenapa bisa Desa Trunyan seperti itu. Bagaimana ceritanya? Yuk, sama-sama membaca legenda dongeng tersebut di bawah ini...

***

Alkisah, Raja Solo yang bertahta di Keraton Surakarta mempunyai empat orang anak, tiga anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang paling bungsu. Suatu hari, tiba-tiba mereka mencium bau harum yang sangat menyengat.

“Hai, bau harum apa itu?” tanya Pangeran Sulung, “Apakah kalian menciumnya juga?

“Iya, Kanda. Bau harum itu amat menyengat,” jawab ketiga adiknya serentak.

Keempat bersaudara itu pun mencari sumber bau harum yang menyengat tersebut.

“Sepertinya bau harum itu berasal dari arah timur, Kanda,” ujar si Putri Bungsu.

“Iya, kamu benar, Adikku,” Kakak sulungnya mengiyakan.

Keempat bersaudara itu amat penasaran dan tertarik pada bau harum itu. Akhirnya, mereka pun bersepakat untuk mencari sumbernya. Setelah menyiapkan segala keperluan dan mendapat izin dari sang Ayah, mereka pun mengadakan perjalanan menuju ke arah timur. Semakin jauh mereka ke timur, bau harum itu kian menyengat.

Setelah berbulan-bulan berjalan dengan menyusuri hutan lebat, menyeberangi sungai, dan Selat Bali, akhirnya mereka tiba di Pulau Bali. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga ke perbatasan Pulau Bali di sebelah timur, yaitu perbatasan antara Desa Ciluk Karangasem dan Tepi yang terletak di dekat Buleleng. Setiba di kaki Gunung Batur sebelah selatan, si Putri Bungsu tiba-tiba menghentikan langkahnya.

“Ada, adinda? Mengapa berhenti?” tanya Pangeran Sulung.

“Adinda tertarik pada tempat ini, Kanda. Jika diperkenankan, izinkanlah Adinda tinggal di tempat ini,” pinta si Putri Bungsu.

Permintaan Putri Bungsu pun disetejui oleh ketiga kakaknya. Sejak itulah, Putri Bungsu dari Kerajaan Surakarta itu berdiam di tempat tersebut. Namun, ia kemudian pindah ke lereng Gunung Batur sebelah timur, tempat Pura Batur berdiri. Selanjutnya, sang Putri diberi gelar Ratu Ayu Mas Maketeg.

Sementara itu, ketiga kakak Putri Bungsu kembali melanjutkan perjalanan. Saat tiba di suatu dataran bernama Kedisan yang terletak di sebelah barat daya Danau Batur, mereka mendengar suara burung yang amat merdu. Saking senangnya, Pangeran Ketiga berteriak kegirangan. Namun, Pangeran Sulung tidak senang mendengar kelakuan adiknya itu.

“Hai, Adikku! Jika kamu senang dengan tempat ini, maka tinggallah kamu di sini,” seru Pangeran Sulung.

“Tidak, Kanda. Adik mau ikut kalian,” tolak sang Adik.

Akan tetapi, Pangeran Sulung sudah terlanjur murka. Maka, ia pun menendang adiknya hingga terjatuh dalam keadaan posisi duduk bersila dan berubah menjadi patung. Hingga saat ini, patung batu Bathara (Dewa) itu itu masih dapat kita temukan di Kedisan dengan posisi duduk bersila. Patung Bathara yang merupakan penjelmaan Pangeran Ketiga Raja Solo itu diberi gelar Ratu Sakti Sang Hyang Jero dan kini sedang bersemayam (melinggih) di Meru Tumpang Pitu atau bangunan suci dalam pura yang beratap tujuh tingkat di Pura Dalam Pingit, di Desa Kedisan.

Tinggal dua orang pangeran yang tersisa dalam perjalanan itu, yaitu Pangeran Sulung dan Pangeran Kedua. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan dengan menyusuri tepi Danau Batur sebelah timur. Ketika sampai di sebuah dataran, mereka bertemu dua gadis cantik. Oleh karena tertarik pada gadis-gadis itu, Pangeran Kedua pun menyapa mereka. Namun, Pangeran Sulung tidak menyukai tindakan adiknya itu.

“Hai, Adikku! Jika kamu senang pada gadis itu, tinggallah kamu di sini!” seru Pangeran Sulung.

“Tidak, Kanda. Dinda ingin bersama Kanda,” jawab Pangeran Kedua.

Sekal lagi, Pangeran Sulung sudah terlanjur naik pitam kepada adiknya. Pangeran Sulung kemudian menyepak adiknya hingga jatuh dalam keadaan tertelungkup. Konon, Pangeran Kedua itu kemudian menjadi kepala desa dan desa itu dinamakan Desa Abang Dukuh. Disebut Abang karena tempat itu merupakan bagian dari Desa Abang, dan dinamakan dukuh karena berasal dari kata telungkup yang dalam bahasa setempat disebut dengan istilah dukuh.

Pangeran Sulung melanjutkan perjalanan seorang diri untuk mencari sumber bau harum itu. Ia kembali menyusuri pinggir Danau Batur yang curam di sebelah timur. Setiba di sebuah dataran, ia mendapati seorang dewi yang cantik jelita sedang duduk sendirian di bawah pohon Taru Menyan. Pangeran Sulung rupanya amat terpesona pada kecantikan sang Dewi dan berniat untuk melamarnya. Ketika ia menghampiri dewi itu, bau harum yang berasal dari pohon Taru Menyan itu semakin menusuk hidungnya.

“Oh, rupanya pohon inilah sumber bau harum itu,” gumam Pangeran Sulung.

Pangeran Sulung pun semakin mantap untuk melamar dewi itu. Lamaran itu ia sampaikan kepada kakak sang Dewi.

“Baiklah. Engkau boleh menjadi suami adikku, tapi dengan satu syarat,” kata kakak sang Dewi.

“Apakah syarat itu?” tanya Pangeran Sulung ingin tahu.

“Engkau harus menjadi pancer jagat (pasak dunia) atau pemimpin desa, ” kata kakak si Dewi.

“Baiklah, syarat itu saya terima,” kata Pangeran Sulung.

Akhirnya, pesta perkawinan Pangeran Sulung dan sang Dewi dilangsungkan dengan meriah. Setelah itu, Pangeran Sulung dinobatkan sebagai pemimpin desa yang dikenal dengan nama Desa Trunyan. Nama desa itu diambil dari nama pohon Taru Menyan. Taru berarti pohon dan menyan berarti harum.

Kemudian, setelah menjadi suami sang Dewi, Pangeran Sulung diberi gelar Ratu Sakti Pancering Jagat, sedangkan istrinya bergelar Ratu Ayu Pingit Dalam Dasar. Ratu Sakti Pancering Jagat kemudian menjadi dewa tertinggi orang Trunyan, sedangkan istrinya menjadi Dewi Danau Batur yang hingga kini dipercaya sebagai penguasa danau tersebut.

Sejak itulah, Ratu Sakti Pancering Jagat dibantu sang istri memimpin Desa Trunyan dengan arif dan bijaksana. Lama-kelamaan, desa itu pun berkembang menjadi kerajaan kecil. Sebagai raja yang arif dan bijaksana, Ratu Sakti Pancering Jagat menginginkan negeri dan seluruh rakyatnya hidup aman dan tenteram serta terhindar dari serangan luar. Oleh karena itulah, ia pun memerintahkan seluruh rakyat untuk menghilangkan bau semerbak itu.

“Wahai, seluruh rakyatku! Aku perintahkan kalian agar jenazah-jenazah orang Trunyan tidak lagi dikuburkan, tetapi biarkan saja membusuk di bawah pohon Taru Menyan sehingga bau harum itu tidak akan lagi mengundang kedatangan orang luar ke negeri ini!” titah Ratu Sakti Pencering Jagat.

Sejak itulah, setiap ada penduduk Trunyan yang meninggal, jenazah mereka hanya dibiarkan membusuk di atas tanah. Karena bau busuk itulah, Desa Trunyan tidak lagi mengeluarkan bau harum. Demikian pulah sebaliknya, jenazah-jenazah penduduk Trunyan itu juga tidak mengeluarkan bau busuk. Bau harum dan bau busuk tersebut telah saling menetralisir.
0 Komentar untuk "Cerita Rakyat Indonesia #67: Legenda Dongeng Desa Trunyan"

Back To Top