Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts
Showing posts with label Jawa Tengah. Show all posts

Cerita Rakyat Indonesia #137: Panembahan Senopati Menangkal Gunung Merapi Meletus

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Sunday, December 1, 2013

Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan sebuah cerita rakyat tentang Panembahan Senopati yang menangkal letusan Gunung Merapi. Dikisahkan Panembahan Senopati bertapa di Nglipura, daerah Bantul. Seselesainya bertapa Ki Juru Mertani menanyainya, "Apa yang kau dapatkan di dalam tapamu?"

"Saya mendapatkan lintang johar di Nglipura," jawab Panembahan Senopati.

"Apa lintang johar bisa menolak bala Gunung Merapi meletus?"

"Tidak, Paman."

"Kalau begitu," jelas Ki Juru Mertani, "Hanyutkanlah sebatang kayu di sungai. Naiklah kau di atasnya. Bertapalah lagi. Sesampainya di Laut Kidul kau akan bersua dengan Nyai Roro Kidul."

Cerita Rakyat Indonesia #137: Panembahan Senopati Menangkal Gunung Merapi Meletus

Panembahan Senopati melaksanakan apa yang diminta Ki Juru Mertani. Dan benar, saat sampai di Laut Kidul, ia bertemu dengan Nyai Roro Kidul. Dalam pertemuannya itu, disepakati bila Nyai Roro Kidul akan membantu Panembahan Senopati dalam menjaga Yogyakarta dari bala Gunung Merapi.

Sesudah pertemuan tersebut, Panembahan Senopati menemui Ki Juru Mertani.

"Apa yang kau dapat?" tanya Ki Juru Mertani.

"Saya bertemu dengan Nyai Roro Kidul. Saya diberi minyak Jayangkatong dan Telur Degan."

"Baiklah, Telur Degan yang kau dapat, berilah pada Ki Juru Taman."

Panembahan Senopati menuruti petunjuk Ki Juru Mertani. Ia menemui Ki Juru Taman dan memintanya memakan Telur Degan. Segera, secara ajaib, tubuh Ki Juru Taman membesar selayaknya raksasa.

Panembahan Senopati memerintahkannya untuk menjaga Gunung Merapi dengan posisi di Plawangan. Bila terjadi bencana, seperti meletusnya Gunung Merapi, maka ia yang bertugas menahan supaya lahar tak mengalir ke arah selatan. Itu sebabnya, mengapa aliran lahar tak pernah mengarah ke selatan.

Lalu, minyak Jayangketong sendiri digunakan untuk apa? Minyak itu diusapkan pada bocah laki-laki dan perempuan yang ada di Gunung Merapi. Setelah itu, secara fisik raga keduanya tidak kasat mata. Anak laki-laki itu kemudian dinamai Kyai Panggung, dan anak perempuannya dinamai Kyai Koso. Keduanya masih dipercaya menjaga Beringin Putih di utara masjid yang ada di selatan jalan. Benar atau tidaknya cerita ini dikembalikan kepada para pembaca sekalian. Misteri Gunung Merapi tetap berlanjut sampai kini.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #137: Panembahan Senopati Menangkal Gunung Merapi Meletus

Cerita Rakyat Indonesia #125: Legenda Candi Prambanan

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, August 26, 2013

Pada masa Pulau Jawa terbagi dalam kerajaan-kerajaan, tersebutlah dua kerajaan besar, yakni: Kerajaan Boko dan Kerajaan Pengging. Masing-masing kerajaan ini diperintah oleh raja yang hebat.

Prabu Boko adalah raja dari Kerajaan Boko. Dia punya wujud raksasa, namun begitu putrinya yang bernama Roro Jonggrang sangatlah cantik. Sedangkan, Prabu Damar Moyo dikenal sebagai raja Kerajaan Pengging, yang berputra seorang ksatria bernama Bandung Bondowoso.

Menurut sejarahnya, yang kemudian diceritakan secara turun-temurun menjadi cerita rakyat, kedua kerajaan ini saling berperang memperebutkan wilayah dan tampuk kepemimpinan. Ide perebutan ini digulirkan oleh Prabu Boko kepada Patih Gupala. Mereka pun menyusun rencana, taktik, serta siasat. Segera setelah semuanya siap, Prabu Boko mempersiapkan bala tentaranya menuju Kerajaan Pengging.

Pecahlah perang antara kedua kerajaan tersebut. Kerajaan Boko dipimpin langsung oleh Prabu Boko sendiri. Dan Kerajaan Pengging dipimpin oleh Bandung Bondowoso sebagai utusan ayahnya mengalahkan Prabu Boko dan anak buahnya.

Kedua kubu melancarkan serangan demi serangan yang cukup sengit. Namun, akhirnya Bandung Bondowoso berhasil membunuh Prabu Boko. Tanpa pemimpinnya anak buah Prabu Boko kocar-kacir, termasuk Patih Gupala. Dia melarikan diri kembali ke Kerajaan Boko. Bandung Bondowoso mengejar Patih Gupala.

Patih Gupala yang lebih dulu sampai di Kerajaan Boko segera melapor kepada Roro Jonggrang. Sang Putri jelita ini murka mengetahui kekalahannya. Dia bersiasat hendak mengalahkan Bandung Bondowoso di Boko.

Cerita Rakyat Indonesia: Legenda Candi Prambanan

Niat Bandung Bondowoso untuk menghancurkan Patih Gupala serta Kerajaan Boko sirna begitu dia melihat Roro Jonggrang. Dalam penglihatannya, Roro Jonggrang tampak apik, cantik, dan menawan. Hatinya pun tertarik untuk mempersuntingnya. Dia berpaling dari tujuannya semula.

Begitu Bandung Bondowoso menyampaikan kehendaknya, sang putri mengajukan dua syarat: membuatkan sumur Jalatunda dan membangunkan 1000 candi untuknya dalam waktu semalam. Karena hatinya, sudah kepincut kecantikan sang putri, Bandung Bondowoso menerima syarat itu.

Tak butuh waktu lama bagi Bandung Bondowoso untuk menyelesaikan sumur Jalatunda. Roro Jonggrang meminta Bandung Bondowoso untuk masuk ke dalamnya, dan memerintahkan Patih Gupala untuk menimbunnya. Sayang, Bandung Bondowoso terlalu sakti. Hal itu tak bisa membunuhnya.

Dia pun menyelesaikan tantangannya yang kedua: membangun 1000 candi dalam waktu semalam. Dengan bantuan makhluk gaib, Bandung Bondowoso mulai bekerja. Belum juga pagi datang, bangunan seribu candi sudah hampir selesai dibuat.

Roro Jonggrang merasa bahwa Bandung Bondowoso akan berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikannya. Tapi, Sang Putri tak hilang akal. Dia meminta bantuan gadis-gadis dari kerajaannya. Mereka diperintahkan untuk membakar jerami dan menumbuk lesung di sebelah timur. Jerami yang terbakar memberi efek terang seperti matahari mau terbit. Lesung-lesung yang dipukul membuat ayam jago berkokok. Menandakan kegiatan pagi sudah tiba.

Makhluk gaib pembantu Bandung Bondowoso pun langsung pergi begitu saja. Para makhluk gaib itu mengatakan hari sudah pagi, atau Sang Putri sedang mengerjainya. Bandung Bondowoso memanggil Sang Putri.

Roro Jonggrang kemudian mendatangi Bandung Bondowoso dan mengatakan jika laki-laki itu sudah kalah. Namun, Bandung Bondowoso menuduh Roro Jonggrang melakukan kecurangan. Jumlah candi memang tak genap 1000, hanya ada 999.

Bandung murka dan mengutuk Roro Jonggrang jadi candi menggenapi 999 candi yang ada. Seketika itu, Roro Jonggrang berubah menjadi candi. Selain itu, dia juga mengutuk para gadis yang membantu kecurangan Roro Jonggrang akan menjadi perawan tua tak laku-laku seumur hidup.

Dan begitulah legenda Candi Prambanan, Yogyakarta, terjadi. Sampai sekarang kita masih bisa melihat keindahannya, walau beberapa bagian dari kompleks ini sudah hancur. Mitos tentang perawan tua pun masih lekat di sekitaran Prambanan.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #125: Legenda Candi Prambanan

Cerita Rakyat Indonesia #72: Joko Kendil yang Tampan

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, March 14, 2013

Cerita rakyat Indonesia kali ini yang ingin saya bagikan disinyalir merupakan cerita rakyat yang berasal dari Yogyakarta.  Judulnya adalah Joko Kendil. Dongeng anak ini berkisah tentang seorang bocah laki-laki yang memiliki fisik seperti kendil (periuk). Konon, ia adalah pangeran yang telah dikutuk menjadi buruk rupa karena telah melakukan kesalahan yang fatal.

Namun, sebelum saya melanjutkan ke artikel cerita rakyat Indonesia dengan judul Joko Kendil, saya ingin memberi informasi bahwa blog ini telah ada artikel berjudul cerita rakyat Desa Trunyan, cerita rakyat I Siap Selem, cerita rakyat Si Bungsu, cerita rakyat Pohon Beringin.

***

Alkisah, hiduplah seorang janda tua dan bocah laki-laki bernama Joko Kendil di suatu dusun terpencil. Joko Kendil ini memiliki bentuk fisik sedikit lucu dan aneh. Karena itu, teman-teman sebayanya kerap mengolok-olok kekurangannya tersebut. Walaupun demikian, Joko Kendil tetaplah percaya diri. Selama bertumbuh dari anak-anak menjadi remaja, tidak ada hal-hal yang membuat Joko Kendil bersedih. Justru si ibu yang sering bersedih, selalu mendengar olok-olok dari teman Joko Kendil.

Suatu hari, Joko Kendil yang sudah beranjak dewasa bilang pada ibunya bahwa dia sudah ingin punya istri. Ibunya senang sekaligus bersedih mendengar perkataan joko kendil tersebut. Senang karena anaknya normal layaknya anak-anak yang lain, sedih karena ibunya tahu tidak bakalan ada yang mau menjadi istri Joko Kendil yang buruk rupa. Belum selesai ibunya terbengong memikirkan perkataan anaknya, dia lebih terkejut lagi saat anaknya minta untuk melamarkan putri raja untuk dijadikan istrinya. Lama sekali ibunya meyakinkan Joko Kendil agar tidak menyuruh ibunya melamar putri raja, karena sudah pasti akan ditolak. Jangankan putri raja, rakyat jelata saja belum tentu ada yang mau menjadi istri Joko Kendil. Tetapi tekad Joko Kendil tidak bisa dibendung oleh ibunya, sehingga sang ibu pun dengan terpaksa menyanggupi permintaan Joko Kendil untuk melamar putri raja.

Dengan perasaan tidak karuan, Ibu Joko Kendil pergi menghadap Raja untuk mengutarakan permintaan anaknya. Ibu Joko mengungkapkan keinginan anaknya pada Raja. Raja sama sekali tidak marah mendengar penuturan Ibu Joko. Sebaliknya, Raja meneruskan lamaran itu pada ketiga putrinya yang cantik-cantik.

Putri Sulung dan Putri Tengah menolak mentah-mentah, bahkan menghujat dan menghina ibu dan Joko Kendil. Berbeda dengan kedua kakaknya, Putri Bungsu justru menerima pinangan itu dengan senang hati. Raja dan kakak-kakaknya sangat heran. Tapi karena Putri Bungsu sudah setuju, ia tak dapat mencegah pernikahan itu.

Putri Bungsu selalu diejek kedua kakaknya, karena mempunyai suami Joko Kendil. Meskipun Putri Bungsu sedih karena diejek terus-terusan tapi ia berusaha sabar dan tabah.

Suatu hari, Raja mengadakan lomba ketangkasan. Tapi, Joko tidak bisa ikut. Ia mengatakan pada Raja, badannya sakit. Lomba ketangkasan itu diikuti banyak orang penting seperti para pangeran dan panglima. Mereka berlomba naik kuda dan menggunakan senjata. Tiba-tiba datang seorang ksatria gagah. Ia sangat tampan dan tangkas menggunakan senjata.

Putri Sulung dan Putri Tengah senang sekali melihatnya. Mereka jatuh cinta pada ksatria itu. Ia kembali mengejek adiknya, karena terburu-buru menikahi Joko Kendil. Putri Bungsu pun berlari ke kamarnya sambil menangis. Di sana ia melihat sebuah kendi. Karena kesal, ia membanting kendi itu hingga berkeping-keping.

Ksatria gagah itu masuk ke dalam kamar Putri Bungsu. Ia mencari kendi, tapi kendi itu sudah hancur. Lalu ia melihat Putri Bungsu menangis tersedu-sedu. “Ada apa istriku?” tanyanya. Tentu saja Putri Bungsu kaget. Bukankah suaminya adalah Joko Kendil? Lalu ksatria itu menceritakan dirinya yang sebenarnya. Ia sebenarnya Joko Kendil, suaminya. Ia selama ini harus memakai pakaian dalam bentuk kendi. Tapi ia dapat kembali menjelma menjadi ksatria kalau seorang putri mau menikah dengannya.

***

Cerita rakyat Indonesia barusan memberi kita pelajaran bahwa apa yang kita lihat belum tentu yang benar. Bisa jadi sesuatu buruk untukmu, tapi ia sangat bermanfaat. Begitulah kehidupan. Semoga cerita rakyat diatas dapat diambil hikmahnya untuk kita semua.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #72: Joko Kendil yang Tampan

Cerita Rakyat Indonesia #71: Legenda Pohon Beringin

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Wednesday, March 13, 2013

Tersebutlah seorang raja Jawa yang amat sakti. Ia ditakuti musuh-musuhnya karena kesaktiannya. Ia mempunyai seorang permaisuri dan beberapa selir. Dari permaisurinya lahir seorang putra bernama Pangeran Jamojaya. Dari selirnya yang paling cantik, Dewi Andana, lahir seorang putra bernama Raden Samijaya.

Kecintaan Sang Raja kepada Dewi Andana, melebihi kecintaannya kepada permaisuri. Segala yang diminta oleh selir cantik itu, pasti dipenuhi. Namun demikian, Dewi Andana tidak pernah merasa puas. Ia selalu memikirkan masa depan putra satu-satunya. Ia ingin agar putra mahkota diwariskan kepada Raden Samijaya, bukan kepada Pangeran Jamojaya.

"Maaf, Baginda!" kata Dewi Andana kepada Raja. Wajahnya sedih dan pucat karena sepanjang malam tidak bisa tidur. "Ada yang hamba sampaikan kepada Baginda."

"Katakanlah, apa lagi yang kau minta, sayang!" jawab Raja.

"Hamba sudah mendapatkan banyak hadiah perhiasan dari Baginda, tetapi ada satu hal yang mengganggu pikiran hamba."

"Pikiran apa yang mengganggumu?"

"Mengenai masa depan kerajaan."

"Maksudmu?"

"Maafkan, kalau hamba terlalu lancang. Maksud hamba, apabila Baginda nanti wafat, hamba menginginkan Raden Samijayalah yang naik tahta."

"Jangan Dewi!" seru Raja agak terkejut. "Sudah menjadi tradisi, putra mahkotalah yang akan mewarisi tahta kerajaan. Pangeran Jamojaya sangat dicintai rakyat, ia ramah dan cakap."

Dewi Andana yang sangat cantik itu menangis. Ia berkali-kali merajuk suaminya, tetapi sang Raja bergeming. Lambat-laun Baginda Raja yang amat sayang kepada putra mahkota, menjadi bimbang. Siang dan malam gelisah, memikirkan keadaan yang amat sulit itu. Ditambah lagi memikirkan Dewi Andana yang sangat disayangi. Dari hari ke hari, kesehatan selir itu menurun. Ia tidak mau makan sejak permintaannya ditolak.

Suatu hari ketika Raja berkunjung ke rumah Dewi Andana, selir yang cantik itu merajuk lagi. "Baginda, junjunganku!" katanya. "Apabila Pangeran Jamojaya naik tahta, kerajaan Baginda akan kacau-balau. Selir-selir akan dibunuh dan Baginda Raja tidak akan bertemu lagi dengan hamba."

Air mata Dewi Andana bercucuran di pangkuan Raja. Raja yang sangat tergila-gila akan kecantikan selirnya itu mengelus-elus rambut kekasihnya. "Baiklah, sayangku!" sabda Raja. "Akan kucari akal bagaimana mengatasi keadaan sulit ini."

Beberapa hari kemudian Raja yang disegani itu mengambil tindakan yang mengejutkan. Beliau mengusir Pangeran Jamojaya. Putra yang sudah dipersiapkan untuk menggantikan ayahnya itu, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia berusaha menentang kehendak ayahnya, tetapi Baginda Raja tambah murka. Demi kepuasan ayahnya dan ketenangan kerajaan, ia pun berangkat meninggalkan istana.

Tak ada yang mengiringi perjalanan Pangeran Jamojaya, kecuali sang istri Dewi Kusumasari. Istri yang setia itu tidak mau dipisahkan. Tujuannya tak lain, menuju hutan yang sepi. Dalam perjalanan yang melelahkan itu Pangeran Jamojaya tak henti-hentinya memikirkan ayahnya. Ia tahu, bahwa pengusiran itu terjadi karena desakan Dewi Andana. Sang ayah yang amat silau akan kecantikan Dewi Andana, akhirnya tunduk terhadap keinginan selir itu.

"Beristirahatlah di sini, Kanda!" kata Dewi Kusumasari setelah melihat suaminya kelelahan. Perjalanan menjelajah hutan itu sudah berlangsung beberapa hari. Malam tidur di bawah pohon, siang melanjutkan perjalanan. Mereka berdua hanya makan buah-buahan. Dewi Kusumasari heran melihat keadaan suaminya yang cepat lelah, padahal sehari-hari putra mahkota yang penyabar itu segar bugar.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Putra mahkota yang dicintai rakyatnya itu tidak dapat bertahan. Ia pun mangkat di haribaan istrinya. Sang istri menangis sejadi-jadinya. Berkali-kali ia mohon kepada Yang Maha Kuasa, agar roh suaminya mendapatkan tempat yang layak, dan ia sendiri mendapat kekuatan batin dan ketenangan.

"Tenanglah, Anakku!" Tiba-tiba terdengar suara dari angkasa. "Aku Dewa Kamajaya telah mendengar permintaanmu dan mengetahui segala kejadian di istana. Sebelum meninggalkan istana, suamimu diracun oleh Dewi Andana agar mati perlahan-lahan. Selir yang cantik itu takut kalau-kalau Pangeran Jamojaya kembali lagi ke istana. Kamu tak perlu membalas dendam. Roh suamimu yang tidak berdosa itu akan mendapatkan tempat yang terhormat."

Tiba-tiba secara gaib, jazad Pangeran Jamojaya tegak berdiri, lalu mengangkat kedua tangannya, seperti hendak terbang. Tak lama kemudian perlahan-lahan tubuh yang tak bernyawa itu berubah menjadi pohon yang makin lama makin besar. Kedua tangannya tumbuh menjadi cabang-cabang dan ranting-ranting yang berdaun lebat. Rambutnya yang terurai berubah menjadi akar gantung. Kakinya yang tembus ke tanah, berubah menjadi akar yang kokoh. Nah, itulah pohon beringin!

Melihat keajaiban itu, Dewi Kusumasari berhenti menangis. Ia yakin pohon besar itu jelmaan suaminya. Ia lalu memeluk pohon itu sepuas-puasnya. Badannya melengket, kemudian mengeluarkan air yang jernih. Air itulah yang menjadi mata air.

Bagaimana keadaan di ibukota kerajaan? Mendengar tindakan raja yang mengusir putra mahkota, rakyat memberontak. Rakyat menolak Raden Samijaya naik tahta. Rakyat menghendaki agar putra mahkota kembali ke istana dan segera dilantik menjadi raja. Rakyat yang marah itu juga menghendaki agar Dewi Andana diusir dari istana.

Raden Samijajaya, putra Dewi Andana sangat malu. Ia sebetulnya tidak ingin menjadi raja. Keinginannya sama dengan rakyat, yakni agar Pangeran Jamojaya yang naik tahta. Oleh karena itu secara diam-diam ia meninggalkan istana. Ia mengembara di hutan, mencari kakak yang dicintainya. Ia menanyakan keadaan kakaknya kepada bukit, jurang, burung, dan kepada pohon-pohon. Ia tidak mau kembali ke istana sebelum menemukan kakaknya.

Dewa Kamajaya yang kasihan melihat laki-laki pengembara itu, lalu mengubahnya menjadi burung. Burung itulah yang selalu hinggap di pohon beringin. "Kakak, kakak!" demikian bunyi burung itu setiap hinggap di pohon beringin.

"Ya, akulah kakakmu!" jawab Beringin.

"Itulah kakakmu!" sahut Mata Air.

***

Demikianlah riwayat pohon beringin itu. Pohon yang besar, bermata air dan selalu dikunjungi burung-burung itu, dipercaya sebagai penjelmaan roh putra mahkota. Itulah sebabnya pohon beringin itu ditanam di tempat-tempat yang terhormat dan dikeramatkan sampai sekarang.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #71: Legenda Pohon Beringin

Cerita Rakyat Indonesia #63: Legenda Sarang Burung Walet di Karang Bolong

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Sunday, March 3, 2013

Karang Bolong merupakan sebuah pantai yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Ada cerita dari karang ini yang menjadi cerita rakyat Jawa Tengah yang melegenda hingga kini. Sebelum melanjutkan ke cerita Karang Bolong, kami ingin menginformasikan cerita rakyat Jawa Tengah lainnya terdapat pada kategori Jawa Tengah.

Karang Bolong sebagai objek wisata sekaligus cerita rakyat Jawa Tengah berkisah tentang sakitnya permaisuri dari Kesultanan Kartasura, yang kemudian diobati oleh sarang burung walet. Itulah sebabnya mengapa daerah Karang Bolong terkenal dengan sarang burung waletnya.

***

Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras.

Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang terbalutkan kulit.

Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura. Roda pemerintahan menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. "Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan permaisuri," kata penasehat istana.

Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib.

"Hentikanlah semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah, permaisuri akan sembuh."

Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan menanyakan hal suara gaib tersebut pada penasehatnya.

"Pantai selatan itu sangat luas. Namun hamba yakin tempat yang dimaksud suara gaib itu adalah wilayah Karang Bolong, di sana banyak terdapat gua karang yang di dalamnya tumbuh bunga karang," kata penasehat istana dengan yakin.

Keesokannya, Pangeran Kartasura menugaskan Adipati Surti untuk mengambil bunga karang tersebut. Adipati Surti memilih dua orang pengiring setianya yang bernama Sanglar dan Sanglur. Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka tiba di karang bolong. Di dalamnya terdapat sebuah gua. Adipati Surti segera melakukan tapanya di dalam gua tersebut. Setelah beberapa hari, Adipati Surti mendengar suara seseorang.

"Hentikan semedimu. Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi harus kau penuhi dahulu persyaratanku."

Adipati Surti membuka matanya, dan melihat seorang gadis cantik seperti Dewi dari kahyangan di hadapannya. Sang gadis cantik tersebut bernama Suryawati. Ia adalah abdi Nyi Loro Kidul yang menguasai Laut Selatan.

Syarat yang diajukan Suryawati, Adipati harus bersedia menetap di Pantai Selatan bersama Suryawati.

Setelah lama berpikir, Adipati Surti menyanggupi syarat Suryawati. Tak lama setelah itu, Suryawati mengulurkan tangannya, mengajak Adipati Surti untuk menunjukkan tempat bunga karang. Ketika menerima uluran tangan Suryawati, Adipati Surti merasa raga halusnya saja yang terbang mengikuti Suryawati, sedang raga kasarnya tetap pada posisinya bersemedi.

"Itulah bunga karang yang dapat menyembuhkan Permaisuri," kata Suryawati seraya menunjuk pada sarang burung walet.

Jika diolah, akan menjadi ramuan yang luar biasa khasiatnya. Adipati Surti segera mengambil sarang burung walet cukup banyak. Setelah itu, ia kembali ke tempat bersemedi. Raga halusnya kembali masuk ke raga kasarnya.

Setelah mendapatkan bunga karang, Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya kembali ke Kartasura. Pangeran Kartasura sangat gembira atas keberhasilan Adipati Surti.

"Cepat buatkan ramuan obatnya," perintah Pangeran Kartasura pada pada abdinya. Ternyata, setelah beberapa hari meminum ramuan sarang burung walet, Permaisuri menjadi sehat dan segar seperti sedia kala. Suasana Kesultanan Kartasura menjadi ceria kembali. Di tengah kegembiraan tersebut, Adipati Surti teringat janjinya pada Suryawati. Ia tidak mau mengingkari janji. Ia pun mohon diri pada Pangeran Kartasura dengan alasan untuk menjaga dan mendiami karang bolong yang di dalamnya banyak sarang burung walet. Kepergian Adipati Surti diiringi isak tangis para abdi istana, karena Adipati Surti adalah seorang yang baik dan rendah hati.

Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya untuk pergi bersamanya. Setelah berpikir beberapa saat, Sanglar dan Sanglur memutuskan untuk ikut bersama Adipati Surti.

Setibanya di Karang Bolong, mereka membuat sebuah rumah sederhana. Setelah selesai, Adipati Surti bersemedi. Tidak berapa lama, ia memisahkan raga halus dari raga kasarnya.

"Aku kembali untuk memenuhi janjiku," kata Adipati Surti, setelah melihat Suryawati berada di hadapannya.

Kemudian, Adipati Surti dan Suryawati melangsungkan pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia di Karang Bolong. Di sana mereka mendapatkan penghasilan yang tinggi dari hasil sarang burung walet yang semakin hari semakin banyak dicari orang.

***

Demikianlah, cerita rakyat Jawa Tengah yang berkisah tentang Karang Bolong ini. Semoga cerita rakyat Jawa Tengah ini, bermanfaat bagi anda semua. Silakan membaca cerita rakyat Jawa Tengah lainya, pada kategori Jawa Tengah.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #63: Legenda Sarang Burung Walet di Karang Bolong

Cerita Rakyat Indonesia #60: Legenda Kawah Sikidang

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, February 21, 2013

Di sejumlah desa di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, banyak anak asli Dieng yang memiliki rambut gembel atau gimbal. Oleh karena itu, anak-anak tersebut biasa dipanggil sebagai anak gembel. Rambut gimbal itu terjadi ketika mereka berumur 40 hari sampai sekitar enam tahun yang diawali dengan gejala demam yang sangat tinggi dan suka mengigau saat tidur. Uniknya, rambut gimbal itu baru boleh dipotong setelah adanya permintaan dari anak itu sendiri. Ada beberapa versi mengenai asal mula anak gembel ini, salah satu di antaranya adalah versi cerita rakyat yang dikenal dengan Legenda Kawah Sikidang. Berikut kisahnya.

***

Ratusan tahun yang silam, di Dataran Tinggi Dieng ada seorang putri cantik jelita nan rupawan bernama Shinta Dewi. Ia tinggal di sebuah istana megah yang dikelilingi taman bunga yang indah. Kecantikan Shinta Dewi mengundang decak kagum bagi setiap pangeran yang melihatnya. Banyak pangeran yang sudah melamarnya, namun tidak ada satu orang pun yang sanggup mendapatkannya karena Shinta Dewi meminta mas kawin yang jumlahnya sangat banyak.

Suatu ketika, seorang pangeran yang kaya-raya bernama Kidang Garungan bermaksud melamar Shinta Dewi. Sang Pangeran merasa bahwa dengan harta kekayaannya, ia dapat memenuhi mas kawin yang diminta oleh sang Putri. Maka, ia pun mengutus beberapa orang pengawalnya untuk menyampaikan lamarannya kepada Shinta Dewi.

“Sampaikan lamaranku kepada Putri Shinta Dewi,” titah Pangeran Kidang kepada para pengawalnya. “Katakan kepadanya bahwa aku sanggup memenuhi berapa pun mas kawin yang dia minta.”

“Baik, Pangeran! Perintah Pangeran segera hamba laksanakan,” jawab salah seorang utusan seraya berpamitan.

Setiba di kediaman Shinta Dewi, para utusan Pangeran Kidang Garungan segera menyampaikan lamaran tuan mereka mereka kepada sang Putri.

“Ampun, Tuan Putri! Kami adalah utusan Pangeran Kidang Garungan. Kedatangan kami ke mari adalah untuk menyampaikan lamaran beliau kepada Tuan Putri,” kata salah seorang utusan.

“Hai, utusan Pangeran Kidang! Berapa banyak mas kawin yang disanggupi tuan kalian untuk melamarku?” tanya Putri Shinta Dewi.

“Ampun, Tuan Putri! Pangeran kami memiliki harta kekayaan yang melimpah. Berapa pun mas kawin yang Tuan Putri minta, pangeran kami bersedia memenuhinya,” jawab utusan itu.

Mendengar keterangan itu, Putri Shinta Dewi terdiam sejenak sambil membayangkan wajah Pangeran Kidang Garungan.

“Dia seorang pangeran yang kaya raya. Aku yakin, pastilah ia tampan dan gagah perkasa,” pikirnya

Putri Shinta Dewi akhirnya menerima lamaran Pangeran Kidang Garungan. Sementara itu, para utusan segera kembali untuk menyampaikan berita gembira tersebut kepada sang Pangeran. Alangkah senangnya hati Pangeran Kidang Garungan mendengar berita tersebut. Ia pun segera memerintahkan para pejabat istana untuk mengadakan persiapan kunjungan ke istana Putri Shinta Dewi dalam rangka membahas rencana pernikahannya.

“Wahai para pejabat istana, tolong siapkan segala sesuatunya, termasuk mas kawin yang diminta oleh Putri Shinta Dewi,” perintah Pangeran Kidang Garungan. “Besok pagi-pagi sekali, kita berangkat bersama-sama menuju ke istana sang Putri.”

Mendengar perintah itu, para pejabat dan seluruh isi istana tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Ada yang sibuk menyiapkan mas kawin berupa emas, intan, dan berlian. Sebagian yang lain sibuk menyiapkan berbagai macam hadiah lainnya untuk sang Putri. Sementara itu, beberapa pengawal menyiapkan kuda yang akan dikendarai oleh Pangeran Kidang Garungan.

Keesokan harinya, Pangeran Kidang Kidang Garungan bersama rombongannya pun berangkat ke istana Putri Shinta Dewi. Setiba di sana, mereka disambut meriah oleh sang Putri dengan aneka hiburan. Namun, ketika bertemu dengan Pangeran Kidang Garungan, sang Putri tersentak kaget karena sang Pangeran ternyata bukanlah pria tampan seperti yang ada dalam bayangannya.

“Oh, Tuhan. Mampuslah aku,” ucap Putri Shinta Dewi, “Ternyata, pangeran itu bertubuh manusia tapi berkepala kidang (Kijang, dip)!”

Putri Shinta Dewi merasa amat kecewa. Namun, nasi telah menjadi bubur. Ia sudah terlanjur menerima lamaran Pangeran Kidang Garungan. Sang Putri sudah berusaha ingin menerimanya, tapi hatinya tetap menolak. Maka, ia pun berpikir keras untuk mencari jalan keluar agar pernikahannya dengan pangeran berwajah kijang itu batal. Sebelum pernikahan dilaksanakan, ia memberikan satu syarat yang amat berat kepada Pangeran Kidang Garungan.

“Ketahuilah, Pangeran! Kami yang tinggal di daerah ini amat kesulitan mendapatkan air untuk keperluan sehari-hari. Maka itu, Dinda ingin dibuatkan sebuah sumur yang besar dan dalam. Dinda tidak mau menikah dengan Kanda sebelum sumur itu selesai,“ pinta Putri Shinta Dewi, “Tapi, pembuatan sumur itu harus dikerjakan sendiri oleh Pangeran dalam waktu sehari.”

Dengan syarat yang berat itu, Putri Shinta Dewi berpikir bahwa sang Pangeran tidak mungkin bisa memenuhinya sehingga mereka pun batal menikah. Namun, di luar dugaannya, ternyata Pangeran Kidang Garungan memiliki kesaktian yang tinggi.

“Baiklah, Dinda. Kanda siap memenuhi syarat itu,” kata Pangeran Kidang Garungan.

Pada hari itu juga, sang Pangeran membuat sumur di sebuah tempat sepi yang telah ditunjuk oleh sang Putri. Dengan kesaktiannya, ia menggali tanah itu dengan tangannya sedikit demi sedikit. Sesekali ia menggunakan tanduknya untuk menggali tanah yang keras. Ia bekerja dengan cepat dan tanpa mengenal lelah. Ketika sumur itu hampir selesai, sang Putri pun mulai panik.

“Pangeran Kidang Gurangan ternyata sakti. Bagaimana jadinya jika ia benar-benar dapat menyelesaikan sumur itu?” gumam sang Putri, “Ah, tidak. Aku tidak mau menikah dengannya. Aku tidak akan membiarkan dia menyelesaikan sumur itu.”

Putri Shinta Dewi pun segera memerintahkan para pengawal dan dayang-dayangnya untuk menimbun sumur itu. Pangeran Kidang Garungan yang berada di dalamnya tidak sadar jika dirinya telah ditipu. Ia baru menyadari hal itu setelah kerukan-kerukan tanah menimpa dirinya. Ia pun berteriak agar sang Putri berhenti menimbun dirinya di dalam sumur itu.

“Putri, hentikan! Hentikan...!” teriaknya.

Semakin keras sang Pangeran berteriak, semakin cepat pula para pengawal dan dayang-dayang itu menimbuninya. Ketika seluruh tubuhnya telah tertimbun tanah, pangeran itu segera mengerahkan kesaktiannya agar bisa keluar. Tak ayal, sumur itu meledak sehingga tanah berhamburan keluar. Ketika ia ingin keluar, sumur itu terus ditumbuni. Akhirnya, Pangeran Kidang Garungan pun tewas tertimbun tanah di dalam sumur itu. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia bersumpah bahwa seluruh keturunan Shinta Dewi akan berambut gembel. Sementara itu, sumur yang meledak itu lama-kelamaan menjadi kawah yang dan diberi nama Kawah Sikadang.

***

Demikian cerita Legenda Kawah Sikadang dari Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Hingga kini, Kawah Sikidang masih aktif mengeluarkan uap panas yang mengandung belerang. Sementara itu, anak berambut gembel akibat kutukan Pangeran Kidang Garungan juga masih dapat kita temukan di daerah ini. Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa Putri Shinta Dewi menerima lamaran Pangeran Kidang Garungan bagai “membeli kucing dalam karung”. Akibatnya, timbullah penyesalan dan perasaan kecewa pada diri sang Putri sehingga mengakibatkan nyawa Pangeran Kidang Garungan melayang. Jadi, sebelum menerima lamaran seseorang sebaiknya kita teliti terlebih dahulu keturunan dan silsilah si pelamar, serta mengetahui atau melihat langsung bentuk fisiknya sehingga tidak menimbulkan rasa penyesalan di kemudian hari.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #60: Legenda Kawah Sikidang

Cerita Rakyat Indonesia #58: Calon Arang

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, February 19, 2013

Calon Arang dikenal sebagai tokoh dalam cerita rakyat Indonesia, khususnya daerah Jawa dan Bali. Cerita rakyat Indonesia, katanya, dibuat pada abad 12 dan tidak diketahui siapa pengarangnya. Calon Arang mengisahkan tentang seorang janda tukang tenung semasa Kerajaan Daha. Kini, salinan teks latin dari cerita rakyat Indonesia Calon Arang beradai di Bijdragen Koninklijke Instituut, Belanda.

***

Pada suatu masa di Kerajaan Daha yang dipimpin oleh raja Erlangga, hidup seorang janda yang sangat bengis. Ia bernama Calon Arang. Ia tinggal di desa Girah. Calon Arang adalah seorang penganut sebuah aliran hitam, yakni kepercayaan sesat yang selalu mengumbar kejahatan memakai ilmu gaib. Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Manggali. Karena puterinya telah cukup dewasa dan Calon Arang tidak ingin Ratna Manggali tidak mendapatkan jodoh, maka ia memaksa beberapa pemuda yang tampan dan kaya untuk menjadi menantunya. Karena sifatnya yang bengis, Calon Arang tidak disukai oleh penduduk Girah. Tak seorang pemuda pun yang mau memperistri Ratna Manggali. Hal ini membuat marah Calon Arang. Ia berniat membuat resah warga desa Girah.

“Kerahkan anak buahmu! Cari seorang anak gadis hari ini juga! Sebelum matahari tenggelam anak gadis itu harus dibawa ke candi Durga!“ perintah Calon Arang kepada Krakah, seorang anak buahnya. Krakah segera mengerahkan cantrik-cantrik Calon Arang untuk mencari seorang anak gadis. Suatu perkerjaan yang tidak terlalu sulit bagi para cantrik Calon Arang.

Sebelum matahari terbit, anak gadis yang malang itu sudah berada di Candi Durga. Ia meronta-ronta ketakutan. “Lepaskan aku! Lepaskan aku!“ teriaknya. Lama kelamaan anak gadis itu pun lelah dan jatuh pingsan. Ia kemudian di baringkan di altar persembahan. Tepat tengah malam yang gelap gulita, Calon Arang mengorbankan anak gadis itu untuk dipersembahkan kepada Betari Durga, dewi angkara murka.

Kutukan Calon Arang menjadi kenyataan. “Banjir! Banjir!“ teriak penduduk Girah yang diterjang aliran sungai Brantas. Siapapun yang terkena percikan air sungai Brantas pasti akan menderita sakit dan menemui ajalnya. “He, he… siapa yang berani melawan Calon Arang? Calon Arang tak terkalahkan!” demikian Calon Arang menantang dengan sombongnya. Akibat ulah Calon Arang itu, rakyat semakin menderita. Korban semakin banyak. Pagi sakit, sore meninggal. Tidak ada obat yang dapat menanggulangi wabah penyakit aneh itu..

“Apa yang menyebabkan rakyatku di desa Girah mengalami wabah dan bencana ?” Tanya Prabu Erlangga kepada Paman Patih. Setelah mendengar laporan Paman Patih tentang ulah Calon Arang, Prabu Erlangga marah besar. Genderang perang pun segera ditabuh. Maha Patih kerajaan Daha segera menghimpun prajurit pilihan. Mereka segera berangkat ke desa Girah untuk menangkap Calon Arang. Rakyat sangat gembira mendengar bahwa Calon Arang akan ditangkap. Para prajurit menjadi bangga dan merasa tugas suci itu akan berhasil berkat doa restu seluruh rakyat.

Prajurit kerajaan Daha sampai di desa kediaman Calon Arang. Belum sempat melepaskan lelah dari perjalanan jauh, para prajurit dikejutkan oleh ledakan-ledakan menggelegas di antara mereka. Tidak sedikit prajurit Daha yang tiba-tiba menggelepar di tanah, tanpa sebab yang pasti.

Korban dari prajurit Daha terus berjatuhan. Musuh mereka mampu merobohkan lawannya dari jarak jauh, walaupun tanpa senjata. Kekalahan prajurit Daha membuat para cantrik, murid Calon Arang bertambah ganas. “Serang! Serang terus!” seru para cantrik. Pasukan Daha porak poranda dan lari pontang-panting menyelamatkan diri. Prabu Erlangga terus mencari cara untuk mengalahkan Calon Arang. Untuk mengalahkan Calon Arang, kita harus menggunakan kasih saying”, kata Empu Barada dalam musyawarah kerajaan. “Kekesalan Calon Arang disebabkan belum ada seorang pun yang bersedia menikahi puteri tunggalnya.“

Empu Barada meminta Empu Bahula agar dapat membantu dengan tulus untuk mengalahkan Calon Arang. Empu Bahula yang masih lajang diminta bersedia memperistri Ratna Manggali. Dijelaskan, bahwa dengan memperistri Ratna Manggali, Empu Bahula dapat sekaligus memperdalam dan menyempurnakan ilmunya.

Akhirnya rombongan Empu Bahula berangkat ke desa Girah untuk meminang Ratna Manggali. “He he … aku sangat senang mempunyai menantu seorang Empu yang rupawan.” Calon Arang terkekeh gembira. Maka, diadakanlah pesta pernikahan besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. Pesta pora yang berlangsung itu sangat menyenangkan hati Calon Arang. Ratna Manggali dan Empu Bahula juga sangat bahagia. Mereka saling mencintai dan mengasihi. Pesta pernikahan telah berlalu, tetapi suasana gembira masih meliputi desa Girah. Empu Bahula memanfaatkan saat tersebut untuk melaksanakan tugasnya.

Di suatu hari, Empu Bahula bertanya kepada istrinya, “Dinda Manggali, apa yang menyebabkan Nyai Calon Arang begitu sakti?“ Ratna Manggali menjelaskan bahwa kesaktian Nyai Calon Arang terletak pada Kitab Sihir. Melalui buku itu, ia dapat memanggil Betari Durga. Kitab sihir itu tidak bisa lepas dari tangan Calon Arang, bahkan saat tidur, Kitab sihir itu digunakan sebagai alas kepalanya.

Empu Bahula segera mengatur siasat untuk mencuri Kitab Sihir. Tepat tengah malam, Empu Bahula menyelinap memasuki tempat peraduan Calon Arang. Rupanya Calon Arang tidur terlalu lelap, karena kelelahan setelah selama tujuh hari tujuh malam mengumbar kegembiraannya. Empu Bahul berhasil mencuri Kitab sihir Calon Arang dan langsung diserahkan ke Empu Baradah. Setelah itu, Empu Bahula dan istrinya segera mengungsi.

Calon Arang sangat marah ketika mengetahui Kitab sihirnya sudah tidak ada lagi, ia bagaikan seekor badak yang membabi buta. Sementara itu, Empu Baradah mempelajari Kitab sihir dengan tekun. Setelah siap, Empu Baradah menantang Calon Arang. Sewaktu menghadapi Empu Baradah, kedua belah telapak tangan Calon Arang menyemburkan jilatan api, begitu juga kedua matanya. Empu Baradah menghadapinya dengan tenang. Ia segera membaca sebuah mantera untuk mengembalikan jilatan dan semburan api ke tubuh Calon Arang. Karena Kitab sihir sudah tidak ada padanya, tubuh Calon Arang pun hancur menjadi abu dan tertiup kencang menuju ke Laut Selatan. Sejak itu, desa Girah menjadi aman tenteram seperti sediakala.

***

Demikianlah, cerita rakyat Indonesia Calon Arang. Cerita rakyat Indonesia ini memiliki pesan bahwa seseorang tidak dapat memaksakan kehendaknya pada orang lain dan tidak melakukan sesuatu hal yang dibenci orang lain. Karena pemaksaan kehendak akan berakibat buruk bagi diri sendiri. Semoga cerita rakyat Indonesia Calon Arang dapat diambil hikmahnya.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #58: Calon Arang

Cerita Rakyat Indonesia #57: Dewi Sri, Sang Dewi Kesuburan

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, February 18, 2013

Dewi Sri adalah seorang putri dari seorang raja yang bernama Prabu Mahapunggung. Oleh masyarakat petani di Jawa Tengah, Dewi Sri dipercaya sebagai lambang kemakmuran dan kesuburan. Dewi Sri diyakini sebagai sosok suci yang mengatur kesejahteraan manusia di bumi. Bagaimanakah kisah tentang Dewi Sri yang sangat dihormati sebagai ibu kehidupan itu? Jawabannya dapat Anda temukan dalam cerita Dewi Sri, Dewi Kesuburan berikut ini!

***

Dahulu, di sebuah tempat di Jawa tengah, tersebutlah seorang raja bernama Prabu Sri Mahapunggung atau Bathara Srigati yang bertahta di sebuah kerajaan bernama Kerajaan Medang Kamulan. Bathara Srigati adalah putra Sanghyang Wisnu dan Dewi Sri Sekar atau Bathari Sri Widowati yang diutus ke bumi untuk menjaga kelestarian dunia.

Prabu Sri Mahapunggung mempunyai seorang putri bernama Dewi Sri. Ia adalah putri sulung sang Prabu yang diyakini sebagai titisan neneknya, Bathari Sri Widowati. Selain cantik dan rupawan, Dewi Sri adalah seorang putri yang cerdas, baik hati, lemah lembut, sabar, halus tutur katanya, luhur budi bahasanya, dan bijaksana. Dewi Sri mempunyai tiga adik kandung yaitu Sadana, Wandu, dan Oya. Ia bersama adiknya, Sadana, dikenal sebagai lambang kemakmuran hasil bumi. Dewi Sri sebagai dewi padi, sedangkan Sadana sebagai dewa hasil bumi lainnya seperti umbi-umbian, kentang, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Oleh karena itu, keduanya tidak pernah dipisahkan.

Suatu ketika, Sadana diminta oleh ayah dan ibunya untuk menikahi seorang putri bernama Dewi Panitra, cucu Eyang Pancareshi. Namun, Sadana menolak karena tidak ingin mendahului kakaknya dengan alasan bahwa hal itu kerap menjadi penyebab terjadinya berbagai kesulitan di kemudian hari. Melihat sikap putranya itu, Prabu Sri Mahapunggung berupaya membujuknya.

“Sadana, Putraku. Jika kamu menikah dengan Dewi Panitra, Ayah akan menobatkanmu menjadi Putra Mahkota. Kamulah yang akan menggantikan Ayah menjadi raja negeri ini,” bujuk sang Prabu.

Sadana hanya terdiam. Hatinya sedang gundah gulana.

“Sudahlah, Putraku. Kamu tidak usah memikirkan kakakmu. Sudah menjadi kewajiban kami untuk menikahkannya jika kelak menemukan jodohnya,” ujar sang Prabu.

Meskipun berkali-kali dibujuk, Sadana tetap bersikukuh menolak pernikahan tersebut.

“Maafkan Sadana, Ayahanda Prabu. Tidak sepantasnya seorang adik mendahului kakaknya menikah,” kata Sadana.

Rupanya, perkataan Sadana itu membuat marah ayahandanya. Ia dianggap sudah berani bersikap lancang karena tidak patuh pada nasehat orang tua. Untung sang Ibu berhasil meredam kemarahan ayah Sadana.

Pada malam harinya, Sadana sulit memejamkan mata. Pikirannya sangat kacau, sedih, dan bingung. Baginya, perjodohan itu bertentangan dengan perinsip hidupnya. Setelah memikirkan segala resikonya, akhirnya malam itu Sadana pergi meninggalkan istana secara diam-diam. Alangkah murkanya sang Prabu saat mengetahui hal itu. Kemarahannya pun ia lampiaskan kepada Dewi Sri karena dianggap sebagai penyebab minggatnya Sadana. Tuduhan itu membuat sedih hati sang Putri. Karena merasa serba salah hidup di istana, akhirnya ia pun ikut kabur dari istana.

Perginya Dewi Seri dari istana membuat Prabu Sri Mahapunggung semakin murka. Saking marahnya, sang Prabu mengutuk Dewi Sri menjadi ular sawah, sedangkan Sadana dikutuk menjadi burung sriti. Dewi Sri berjalan ke arah timur tanpa tujuan yang pasti, sedangkan Sadana terbang tanpa arah dan tujuan.

Suatu ketika, ular sawah penjelmaan Dewi Sri tiba di Dusun Wasutira. Karena lelah, ular sawah itu kemudian tidur melingkar di lumbung padi milik seorang penduduk bernama Kyai Brikhu. Petani itu memiliki seorang istri bernama Ken Sanggi yang sedang mengandung bayi pertama mereka. Pada malam harinya, Kyai Brikhu bermimpi mendapat petunjuk bahwa bayi yang dikandung istrinya adalah titisan Dewi Tiksnawati. Kelak setelah lahir, bayi itu akan dijaga oleh seekor ular sawah. Jika ular sawah itu mati, maka bayinya pun akan mati.

“Oh, alangkah bahagianya hidupku jika mimpi itu kelak menjadi kenyataan. Aku pun berjanji akan menjaga dan merawat ular sawah itu,” gumam Kyai Brikhu dengan perasaan gembira.

Hari itu, persediaan beras Kyai Brikhu untuk dimasak oleh istrinya telah habis. Ketika hendak mengambil padi di lumbungnya, ia dikejutkan oleh seekor ular sawah yang melingkar di atas tumpukan padinya. Petani itu pun langsung teringat pada mimpinya.

“Mungkin ular inilah yang menjaga anakku kelak,” gumamnya.

Kyai Brikhu pun akhirnya merawat ular sawah itu dengan baik. Ketika istrinya telah melahirkan seorang anak perempuan, ia kemudian meletakkan ular sawah itu di dekat bayinya yang berada di kamar tengah di rumahnya. Sejak itulah, Kyai Brikhu bersama sang Istri merawat anak mereka bersama ular sawah itu dengan hati-hati. Setiap hari, mereka memberi makan ular itu dengan katak.

Suatu malam, Kyai Brikhu kembali bermimpi. Dalam mimpinya, ular sawah itu menolak diberi makan katak. Ular itu minta diberi sesajen berupa sedah ayu, yakni sirih beserta perlengkapannya, bunga, dan lampu yang harus selalu dinyalakan. Ketika terbangun, Kyai Brikhu pun langsung menyiapkan sesaji sebagaimana permintaan ular sawah itu.

Sementara itu, Dewi Tiksnawati yang menitis pada tubuh anak Kyai Brikhu membuat huru-hara di kediaman para dewa. Hal itu membuat Sang Hyang Jagadnata atau Batara Guru murka.

“Wahai, para dewa! Pergilah ke bumi, beri bencana pada bayi tempat Dewi Tiksnawati menitis!” titah sang Batara Guru.

Para dewa pun segera meluncur ke bumi. Namun, usaha mereka memberi bencana pada bayi itu gagal karena pengaruh tolak bala dari Kyai Brikhu dan ular sawah. Berkali-kali para dewa itu berupaya melakukan hal itu, namun mereka tetap saja gagal. Setelah melakukan penyelidikan, para dewa dan Batara Guru pun mengetahui bahwa kegagalan mereka disebabkan oleh Dewi Sri yang setia melindungi bayi itu.

Atas perintah Batara Guru, para bidadari pun turun ke bumi untuk membujuk Dewi Sri agar mau menjadi bidadari di Kahyangan.

“Wahai, Dewi Sri! Kami diutus oleh Batara Guru untuk memintamu ke Kahyangan. Sang Batara Guru akan menjadikanmu bidadari untuk melengkapi kami para bidadari yang ada di Kahyangan,” bujuk salah satu bidadari.

“Baiklah, para bidadari. Saya bersedia menerima permintaan Batara Guru, tapi dengan satu syarat,” ujar Dewi Sri.

“Apakah syarat itu, wahai Dewi Sri?” tanya bidadari.

“Saya mohon adik saya, Sadana, yang telah dikutuk menjadi burung sriti agar dikembalikan wujudnya menjadi manusia,” pinta Dewi Sri.

Para bidadari pun menyanggupi permintaan Dewi Seri. Namun, ketika mereka hendak memenuhi permintaan tersebut, ternyata Sadana telah dikembalikan menjadi manusia oleh sosok yang sakti, yaitu Bagawan Brahmana Marhaesi, putra Sang Hyang Brahma. Bahkan, Sadana telah dinikahkan dengan seorang putri bernama Dewi Laksmitawahni. Kelak bila mereka telah memiliki putra, Sadana akan diangkat menjadi dewa.

Berita tentang Sadana kemudian disampaikan kepada Dewi Sri. Dewi Sri pun menyambutnya dengan perasaan senang. Karena keinginannya telah terkabulkan, akhirnya Dewi Sri yang berwujud ular sawah itu dikembalikan ke wujud aslinya oleh para bidadari ke wujud aslinya, yakni seorang gadis yang cantik jelita.

Sementara itu, Kyai Brikhu amat terkejut karena ular sawah di petanen-nya telah lenyap. Yang dilihatnya hanya seorang gadis cantik yang sedang duduk di samping bayinya.

“Hai, anak gadis. Kamu siapa dan kenapa berada di sini?” tanya Khai Brikhu heran.

Dewi Sri pun memperkenalkan dirinya lalu menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi di rumah itu. Akhirnya, Kyai Brikhu pun tahu bahwa Dewi Sri adalah putri Prabu Mahapunggung dari Kerajaan Medang Kamulan. Sesuai dengan janjinya, Dewi Sri pun akan segera ke Kahyangan untuk dijadikan bidadari. Sebelum pergi, Dewi Sri tidak lupa berterima kasih dan berpesan kepada Kyai Brikhu.

“Terima kasih, Kyai Brikhu atas segala bantuannya selama saya tinggal di rumah ini,” ucap Dewi Sri, “Agar sandang dan pangan keluargamu selalu tercukupi, jangan lupa untuk memberi memberikan sesajen di ruang tengah rumahmu.”

Usai berpesan, Dewi Sri pun moksa dan kemudian menuju ke Kahyangan. Sepeninggal Dewi Sri, Kyai Brikhu pun langsung menyediakan sesajen di ruang tengah rumahnya. Sejak itulah, orang Jawa selalu menyimpan atau memajang gambar ular di kamar tengah rumah mereka sebagai perlambangan sosok Dewi Sri yang telah memberikan kemakmuran dan kesuburan dalam kehidupan mereka. Tidak hanya itu, orang juga percaya bahwa jika ada ular masuk ke dalam rumah, itu berarti pertanda sawahnya akan memberikan hasil atau rezeki yang baik. Itulah sebabnya, masyarakat petani di Jawa amat menghargai ular sawah dengan cara memberinya sesaji.

***

Demikian cerita Dewi Sri, Dewi Kesuburan dari daerah Jawa Tengah. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa sifat suka memaksakan kehendak seperti Prabu Mahapunggung akan mengakibatkan bencana bagi diri dan keluarganya, yaitu minggatnya Raden Sadana dan Dewi Sri dari istana.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #57: Dewi Sri, Sang Dewi Kesuburan

Cerita Rakyat Indonesia #56: Kisah Rara Mendut

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Sunday, February 17, 2013

Rara Mendut atau Roro Mendut (dalam bahasa Jawa) adalah seorang gadis cantik yang berpendirian teguh. Karunia kecantikan yang luar biasa membuat  Rara Mendut menjadi rebutan para pria, mulai dari kalangan rakyat biasa, bangsawan, hingga panglima perang. Suatu ketika, Rara Mendut diculik oleh Adipati Pragolo II, penguasa Kadipaten Pati untuk dijadikan selir. Namun, sebelum menjadi selir Adipati Pragolo II, Rara Mendut direbut oleh panglima perang Kerajaan Mataram, Tumenggung Wiraguna untuk dijadikan selir pula. Bagaimana nasib Rara Mendut selanjutnya? Berikut kisahnya dalam cerita Kisah Rara Mendut.

***

Dahulu, di pesisir pantai utara Pulau Jawa, tepatnya di daerah Pati, Jawa Tengah, tersebutlah sebuah desa nelayan bernama Teluk Cikal. Desa itu termasuk ke dalam wilayah Kadipaten Pati yang diperintah oleh Adipati Pragolo II. Kadipaten Pati sendiri merupakan salah satu wilayah taklukan dari Kesultanan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung.

Di Teluk Cikal, hidup seorang gadis anak nelayan bernama Rara Mendut. Ia seorang gadis yang cantik dan rupawan. Rara Mendut juga dikenal sebagai seorang gadis yang teguh pendirian. Ia tidak sungkan-sungkan menolak para lelaki yang datang melamarnya sebab ia sudah memiliki calon suami, yakni seorang pemuda desa yang tampan bernama Pranacitra, putra Nyai Singabarong, seorang saudagar kaya-raya.

Suatu hari, berita tentang kecantikan dan kemolekan Rara Mendut terdengar oleh Adipati Pragolo II. Penguasa Kadipaten Pati itu pun bermaksud menjadikannya sebagai selir. Sudah berkali-kali ia membujuknya, namun Rara Mendut tetap menolak. Merasa dikecewakan, Adipati Pragolo II mengutus beberapa pengawalnya untuk menculik Rara Mendut.

Hari itu, ketika Rara Mendut sedang asyik menjemur ikan di pantai seorang diri, datanglah utusan Adipati Progolo.

“Ayo gadis cantik, ikut kami ke keraton!” seru para pengawal itu sambil menarik kedua tangan Rara Mendut dengan kasar.

“Lepaskan, aku!” teriak Rara Mendut sambil meronta-ronta, “Aku tidak mau menjadi selir Adipati Pragolo. Aku sudah punya kekasih!”

Para pengawal itu tidak peduli dengan rengekan Rara Mendut. Mereka terus menyeret gadis itu naik ke kuda lalu membawanya ke keraton. Sebagai calon selir, Rara Mendut dipingit di dalam Puri Kadipaten Pati di bawah asuhan seorang dayang bernama Ni Semangka dengan dibantu oleh seorang dayang yang lebih muda bernama Genduk Duku.

Sementara Rara Mendut dalam masa pingitan, di Kadipaten Pati sedang terjadi gejolak. Sultan Agung menuding Adipati Pragolo II sebagai pemberontak karena tidak mau membayar upeti kepada Kesultanan Mataram. Sultan Agung pun memimpin langsung penyerangan ke Kadipaten Pati.

Menurut cerita, Sultan Agung tidak mampu melukai Adipati Pragolo II karena penguasa Pati itu memakai kere waja (baju zirah) yang tidak mempan senjata apapun. Melihat hal itu, abdi pemegang payung sang Sultan yang bernama Ki Nayadarma pun berkata,

“Ampun, Gusti Prabu. Perkenankanlah hamba yang menghadapi Adipati Pragolo!” pinta Ki Nayadarma seraya memberi sembah.

“Baiklah, Abdiku. Gunakanlah tombak Baru Klinting ini!” ujar sang Sultan.

Berbekal tombak pusaka Baru Klinting, Ki Nayadarma langsung menyerang Adipati Pragolo II. Namun, serangannya masih mampu ditepis oleh Adipati Pragolo II. Saat Adipati itu lengah, Ki Nayadarma dengan cepat menikamkan pusaka Baru Klinting ke bagian tubuh sang Adipati yang tidak terlindungi oleh baju zirah. Adipati Pragolo II pun tewas seketika.

Sementara itu, para prajurit yang dikomandani panglima perang Mataram, Tumenggung Wiraguna, segera merampas harta kekayaan Kadipaten Pati, termasuk Rara Mendut. Tumenggung Wiraguna langsung terpesona saat melihat kecantikan Rara Mendut. Ia pun memboyong Rara Mendut ke Mataram untuk dijadikan selirnya.

Tumenggung Wiraguna berkali-kali membujuk Rara Mendut untuk dijadikan selir, namun selalu ditolak. Bahkan, di hadapan panglima itu, ia berani terang-terangan menyatakan bahwa dirinya telah memiliki kekasih bernama Pranacitra. Sikap Rara Mendut yang keras kepala itu membuat Tumenggung Wiraguna murka.

“Baiklah, Rara Mendut. Jika kamu tidak ingin menjadi selirku, maka sebagai gantinya kamu harus membayar pajak kepada Mataram!” ancam Tumenggung Wiraguna.

Rara Mendut tidak gentar mendengar ancaman itu. Ia lebih memilih membayar pajak daripada harus menjadi selir Tumenggung Wiraguna. Oleh karena masih dalam pengawasan prajurit Mataram, Rara Mendut kemudian meminta izin untuk berdagang rokok di pasar. Tumenggung Wiraguna pun menyetujuinya. Ternyata, dagangan rokoknya laku keras, bahkan, orang juga beramai-ramai membeli puntung rokok bekas isapan Rara Mendut.

Suatu hari, ketika sedang berjualan di pasar, Rara Mendut bertemu dengan Pranacitra yang sengaja datang mencari kekasihnya itu. Pranacitra berusaha mencari jalan untuk bisa melarikan Rara Mendut dari Mataram.

Setiba di istana, Rara Mendut menceritakan perihal pertemuannya dengan Pranacitra kepada Putri Arumardi, salah seorang selir Wiraguna, dengan harapan dapat membantunya keluar dari istana. Rara Mendut tahu persis bahwa Putri Arumardi tidak setuju jika Wiraguna menambah selir lagi.

Putri Arumardi dan selir Wiraguna lainnya yang bernama Nyai Ajeng menyusun siasat untuk mengeluarkan Rara Mendut ke luar dari istana. Bersama dengan Pranacitra, Rara Mendut berusaha untuk kembali ke kampung halamannya di Kadipaten Pati.

Namun sungguh disayangkan, pelarian Rara Mendut dan Pranacitra diketahui oleh Wiraguna. Pasangan ini akhirnya berhasil ditemukan oleh para prajurit Wiraguna. Rara Mendut pun dibawa kembali ke Mataram, sedangkan secara diam-diam, Wiraguna memerintahkan abdi kepercayaannya untuk menghabisi nyawa Pranacitra. Alhasil, kekasih Rara Mendut itu tewas dan dikuburkan di sebuah hutan terpencil di Ceporan, Desa Gandhu, terletak kurang lebih 9 kilometer sebelah timur Kota Yogyakarta.

Sepeninggal Pranacitra, Tumenggung Wiraguna kembali membujuk Rara Mendut agar mau menjadi selirnya. Namun, usahanya tetap sia-sia, gadis cantik itu tetap menolak. Sang Panglima pun tidak kehabisan akal. Ia kemudian menceritakan perihal kematian Pranacitra kepada Rara Mendut.

“Sudahlah, Rara Mendut. Percuma saja kamu menikah dengan Pranacitra,” ujar Tumenggung Wiraguna.

“Apa maksud, Tuan?” tanya Rara Mendut mulai cemas.

“Pemuda yang kamu kasihi itu sudah tidak ada lagi,” jawab Tumenggung Wiraguna.

“Kanda Pranacitra sudah tidak ada? Ah, itu tidak mungkin terjadi. Aku baru saja bertemu dengannya kemarin,” kata Rara Mendut tidak percaya.

“Jika kamu tidak percaya, ikutlah bersamaku, akan kutunjukkan kuburnya,” ujar Tumenggung Wiraguna.

Rara Mendut pun menurut untuk membuktikan perkataan Tumenggung Wiraguna. Betapa terkejutnya Rara Mendut begitu sampai di tempat Pranacitra dikuburkan. Ia berteriak histeris di hadapan makam kekasihnya.

“Kanda, jangan tinggalkan Dinda!” tangis Rara Mendut.

“Sudahlah, Mendut! Tak ada lagi gunanya meratapi orang yang sudah mati,” ujar Wiraguna, “Ayo, kita tinggalkan tempat ini!”

Rara Mendut pun bangkit lalu mengikuti Tumenggung Wiraguna sambil terus menangis. Belum jauh mereka meninggalkan tempat pemakaman itu, Rara Mendut pun murka dan mengancam akan melaporkan perbuatan Wiraguna kepada Raja Mataram, Sultan Agung.

“Tuan jahat sekali. Perbuatan Tuan akan kulaporkan kepada Raja Mataram agar mendapat hukuman yang setimpal!” ancam Rara Mendut.

Seketika, Tumenggung Wiraguna menjadi sangat marah. Ia kemudian menarik tangan Rara Mendut untuk dibawa pulang ke rumahnya. Namun, gadis itu menolak dan meronta-ronta untuk melepaskan diri. Begitu tangannya terlepas, ia menarik keris milik Tumenggung Wiraguna yang terselip di pinggangnya. Rara Mendut kemudian berlari menuju makam kekasihnya. Panglima itu pun berusaha mengejarnya.

“Berhenti, Mendut!” teriaknya.

Setiba di makam Pranacitra, Rara Mendut bermaksud untuk bunuh diri.

“Jangan, Mendut! Jangan lakukan itu!” teriak Tumenggung Wiraguna yang baru saja sampai.

Namun, semuanya sudah terlambat. Rara Mendut telah menikam perutnya dengan keris yang dibawanya. Tubuhnya pun langsung roboh dan tewas di samping makam kekasihnya. Melihat peristiwa itu, Tumenggung Wiraguna merasa amat menyesal atas perbuatannya.

“Oh, Tuhan. Sekiranya aku tidak memaksanya menjadi selirku, tentu Rara Mendut tidak akan nekad bunuh diri,” sesal Tumenggung Wiraguna.

Penyesalan itu tak ada gunanya karena semuanya sudah terjadi. Untuk menebus kesalahannya, Tumenggung Wiraguna menguburkan Rara Mendut satu liang dengan Pranacitra. Begitulah kisah perjuangan Rara Mendut dalam mempertahankan harga diri dan kesetiaannya.

***

Demikian cerita Kisah Rara Mendut dari Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Hingga kini, kisah ini masih dikenang dan menjadi simbol cinta yang abadi dalam masyarakat Jawa. Oleh YB. Mangunwijaya, cerita ini telah ditulis dalam trilogi karya sastra klasik berjudul Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri yang dimuat di harian Kompas secara bersambung. Sekitar tahun 1983, novel ini kemudian diadaptasi menjadi sebuah film yang berjudul “Roro Mendut” yang disutradarai oleh Ami Prijono. Tahun 2008, novel trilogi ini kembali diterbitkan ke dalam gabungan sebuah novel yang berjudul Rara Mendut: Sebuah Trilogi.

Adapun pesan moral yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah bahwa harta, pangkat, dan jabatan bukanlah jaminan untuk mendapatkan cinta sejati seseorang. Cinta sejati tidak selamanya bisa dinilai dengan materi, namun justru cinta itu hadir karena perasaan saling memberi-menerima dan memiliki sebagaimana kisah Rara Mendut dan Pranacitra.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #56: Kisah Rara Mendut

Cerita Rakyat Indonesia #55: Hikayat Tanjung Lesung

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Friday, February 15, 2013

Syahdan, zaman dulu, ada seorang pengembara dari Laut Selatan bernama Raden Budog. Suatu hari, setelah lelah bermain di tepi pantai, Raden Budog beristirahat di bawah pohon ketapang laut. Angin semilir sejuk membuat Raden Budog terlena. Perlahan matanya terpejam. Dalam tidumya Raden Budog bermimpi mengembara ke utara dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik. Hati Raden Budog terpesona oleh kecantikannya. Tanpa disadarinya, kakinya melangkah mendekati gadis itu yang tersenyum manis kepadanya. Dilihatnya tangan gadis itu diulurkan kepadanya. Raden Budog pun mengulurkan tangannya hendak menyambut uluran tangan gadis itu. Tapi betapa terkejutnya dia... seranting kering pohon ketapang mengenal dahinya. Raden Budog terperanjat dan terbangun dari tidurnya. Dengan perasaan kesal diraihnya ranting itu dan dibantingnya keras-keras. "Ranting keparat!" gerutunya. "Kalau ranting itu tidak jatuh maka aku bisa menikmati mimpi indahku."

Berhari-hari bayangan mimpi itu tidak pernah bisa hilang dari ingatan Raden Budog. Lalu diputuskannya bahwa dia akan pergi mengembara. Raden Budog pun segera menyiapkan perbekalan untuk pengembaraannya. "Cek...cek...cek..., kita akan mengembara, sayang," kata Raden Budog mengelus-elus anjing kesayangannya yang melonjak-lonjak dan menggonggong gembira seolah mengerti ajakan tuannya.

Raden Budog lalu menghampiri kuda kesayangannya. "Kita akan mengembara jauh, sayang. Bersiap-siaplah." Raden Budog membelai-belai kudanya yang meringkik gembira. Kemudian Raden Budog menyiapkan golok dan batu asah yang selalu dibawanya ke mana saja dia mengembara.

Setelah semuanya dirasa siap, Raden Budog segera menunggang kuda kesayangannya, berjalan ke arah utara. Di pinggangnya terselip golok panjang yang membuatnya tampak gagah dan perkasa. Sedangkan tas anyaman dari kulit terep berisi persediaan makanan, terselempang di bahunya. Sementara itu anjing kesayangannya berjalan di depan, mengendus-endus mencari jalan bagi tuannya. Anjing itu kadang menggonggong menghalau bahaya yang mengancam tuannya.

Lima hari perjalanan telah ditempuhnya. Walaupun begitu Raden Budog belum juga mau turun dari kudanya. Dia juga tidak menyadari badannya sudah lemah karena perutnya kosong, begitu pula kudanya. Pikirannya cuma terbayang-bayang pada mimpinya di tepi pantai itu. "Kapan dan di mana aku bisa bertemu gadis itu?" gumamnya dalam hati.

Raden Budog terus memacu kudanya menapaki jalan-jalan terjal dan mendaki hingga tiba di Gunung Walang yang sekarang ini menjadi kampung Cimahpar. Tiba-tiba kudanya roboh. Raden Budog terperanjat, mencoba menguasai keseimbangannya. Namun Budog terperanjat, mencoba menguasai keseimbangannya. Namun karena sudah sama-sama lemah, Raden Budog dari kudanIva berguling-guling di lereng gunung. Anjing kesayangannya menggonggong cemas meningkahi ringkik kuda. Raden Budog segera bangun, sekujur badannya terasa lemah dan nyeri.

Sejenak Raden Budog istirahat di Gunung Walang. Dia membuka bekalnya dari makan dengan lahap. Sementara itu kudanya mencari rumput segar sedangkan anjingnya berlarian kian kemari memburu mangsanya, seekor burung gemak yang berjalan di semak-semak.

"Ayo kita berangkat lagi!" Raden Budog berteriak memanggil kuda dan anjingnya. Namun dilihatnya pelana kuda itu ternyata telah robek. Dengan terpaksa Raden Budog menanggalkan pelana itu dan memutuskan untuk meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki karena dia tidak biasa menunggang kuda tanpa pelana. Mereka terus rnelangkah hingga tibalah di suatu tempat yang tinggi. Tali Alas namanya yang sekarang disebut Pilar. Dari tempat inilah Raden Budog dapat melihat laut yang biru membentang dengan pantainya yang indah.

Raden Budog kemudian melanjutkan perjalanan ke pantai Cawar. Begitu sampai di pantai yang indah itu Raden Budog segera berlari dan terjun ke laut, berenang-renang gembira. Perjalanan yang begitu melelahkan Iitu seolah lenyap oleh segarnya air pantai Cawar. Di muara sungai Raden Budog membilas tubuhnya. lalu dicarinva kuda dan anjing kesayangannya untuk meneruskan pengembaraan.

"Ayo kita berangkat lagi!" seru Raden Budog ketika dilihatnya kuda dan anjing kesayangannya itu sedang duduk di tepi pantai.

Tidak seperti biasanya, kuda dan anjing kesayangannya itu diam saja seolah tak perduli ajakan tuannya. Raden Budog merasa heran. "Cepat berdiri! Ayo kita berangkat"' Seru Raden Budog lagi.

Tapi kedua binatang itu tetap duduk saja, tak bergerak sedikit pun. Anjing dan kuda itu tampak sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang, sehingga sekadar untuk berdiri pun tak sanggup lagi.

"Aku harus segera menemukan gadis pujaanku. Kalau kalian tidak mau menuruti perintahku dan tetap diam seperti karang, akan kutinggalkan kalian di sini!" teriak Raden Budog sambil meneruskan perjalanan, meninggalkan anjing dan kuda kesayangannya. Namun kedua binatang itu tetap tidak bergeming dan menjelma menjadi karang. Sampai sekarang di pantai Cawar terdapat karang yang menyerupai kuda dan anjing sehingga disebut Karang Kuda dan Karang Anjing.

Maka Raden Budog melanjutkan pengembaraannya seorang diri. Dalam benaknya telah ada kesayangan lain yang ingin segera ditemukannya. Gadis pujaan yang muncul dalam mimpinya itu benar-benar memenuhi benaknya, sehingga goloknya pun tertinggal di Batu Cawar. Kini Raden Budog hanya membawa tas dari kulit terep beserta batu asah di dalamnya. Sesampainya di Legon Waru, Raden Budog kembali merasakan kelelahan. Sendi-sendi tubuhnya terasa lunglai. Tapi Raden Budog tidak ingin beristirahat barang sebentar. Dia terus mencoba melangkah dengan sisa tenaganya.

"Benda ini rasanya sudah tak berguna, hanya memberati pundakku saja. Lebih baik kutinggalkan saja di sini," gumam Raden Budog. Diambilnya batu asah itu dari dalam tasnya dan diletakkannya di tepi jalan. "Biarlah batu ini menjadi kenangan," gumamnya lagi. Demikianlah, sampai saat ini di Legon Waru terdapat sebuah karang yang dikenal dengan Karang Pengasahan.

Berhari-hari Raden Budog terus mengembara menyusuri pesisir pantai. Wajah gadis yang menghiasi mimpinya memenuhi pikirannya sepanjang perjalanan, menyalakan semangat dalam dadanya. Rasa bosan, lelah dan letih tak dihiraukannya. Juga pakaiannya yang mulai lusuh dan badannya yang berdebu. Suatu ketika hujan turun dengan derasnya, Raden Budog berlindung di bawah pohon. Dari balik pasir, tiba-tiba berhamburan penyu-penyu besar dan kecil menuju laut. Penyu-penyu itu seakan gembira menyambut datangnya air hujan. Tempat itu kini dikenal dengan nama Cipenyu. Sesaat kemudian Raden Budog melanjutkan perjalanannya setelah mengambil daun pohon langkap yang dijadikannya sebagai payung agar tidak kehujanan.

Namun hujan terus melebat, tidak ada pertanda akan reda. Mendung tampak semakin menghitam dan bergerak dari selatan menuju utara. "Mudah-mudahan ada gua di sekitar sini. Aku harus berlindung dan beristirahat sejenak," gumam Raden Budog. Dan betapa gembiranya Raden Budog ketika dilihatnya sebuah bukit karang yang menjorok. Raden Budog pun mempercepat langkah dan masuk ke dalam gua. Ditutupnya pintu gua dengan daun langkap sehingga gua itu pun menjadi gelap gulita.

Beberapa saat Raden Budog beristirahat melepas lelah sambil menunggu hujan reda. Tapi Raden Budog merasa tidak nyaman berada dalam gua yang gelap gulita itu. Dibukanya daun langkap yang menutupi pintu gua. Seberkas sinar menerobos masuk. Ternyata hujan telah reda. Raden Budog pun keluar dan ditutupnya kembali mulut gua itu dengan daun langkap. Sampai saat ini pintu gua itu tetap tertutup daun langkap yang membatu dari dikenal dengan nama Karang Meumpeuk.

Tidak jauh dari Karang Meumpeuk, tibalah Raden Budog pada sebuah muara sungai yang airnya sangat deras. Hujan yang baru saja turun memang sangat lebat, sehingga tidak mengherankan jika sungai-sungai menjadi banjir. Raden Budog terpaksa menghentikan perjalanannya dan duduk di atas batu memandangi air sungai yang meluap. Sayup-sayup terdengar bunyi lesung dari seberang sungai. Hati Raden Budog berdebar dipenuhi rasa sukacita. Dia merasa yakin, di seberang sungai terdapat kampung tempat tinggal gadis pujaannya yang selama ini dia cari. "Dasar kali banjir!" gerutu Raden Budog tak sabar menunggu banjir surut. Tempat ini sampai sekarang terkenal dengan Kali Caah yang berarti kali banjir.

Karena sudah tidak dapat menahan sabar, akhirnya Raden Budog menyeberangi sungai itu walaupun dengan susah payah dan dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Di pitltu masuk kampung, Raden Budog beristirahat, rnengitarkan pandang ke arah kampung. Hatinya mulai merasa tenang karena merasa akan segera bertemu dengan gadis yang dimimpikannya.

Di kampung itu tinggallah seorang janda bernama Nyi Siti yang memiliki seorang anak gadis yang sangat cantik. Sri Poh Haci namanya. Setiap hari Dri Poh Haci membantu ibunya mnumbuk padi menggunakan lesung yang dipukul-pukulnya itu menimbulkan suara yang sangat merdu dan indah. Oleh sebab itu, setiap kali selesai menumbuk padi, Sri Poh Haci tidak segera berhenti, tapi terus memukul-mukul lesung itu hingga terangkatlah nada yang merdu dan enak didengar. Dimulai dari sinilah akhirny banyak gadis kampung yang berdatangan ke rumah Nyi Siti untuk ikut memukul lesung bersama Nyi Poh Haci.

Kebiasaan memukul lesung akhirnya menjadi tradisi kampung itu. Sri Poh Haci merasa gembira dapat menghimpun gadis-gadis kampung bermain lesung. Permainan ini oleh Sri Poh Haci diberi nama Ngagondang, yang kemudian dijadikan acara rutin setiap akan menanam padi. Tapi pada setiap hari Jum’at dilarang membunyikan lesung, karena hari Jum’at adalah hari yang keramat bagi kampung itu.

Raden Budog yang sedang beristirahat di pintu masuk kampung kembali mendengar bunyi lesung yang mengalun merdu. Kemudian dia berdiri dan melangkahkan kaki menuju ke arah sumber bunyi-buny'in itu. Bunyi lesung terdengar semakin keras. Di dekat sebuah rumah, dilihatnya gadis-gadis kampung sedang bermain lesung. Tangan mereka begitu lincah dan trampil mengayunkan alu ke lesung, membentuk nada-nada mempesona. Tapi yang lebih mempesonakan Raden Budog adalah seorang gadis semampai yang cantik jelita. Gadis itu mengayunkan tangannya sekaligus memberi aba-aba pada gadis-gadis lain. Rupanya gadis itu adalah pemimpin dari kelompok gadis-gadis yang sedang bermain lesung itu.

Merasa ada yang memperhatikan, gadis itu, Sri Poh Haci, memberikan syarat kepada gadis-gadis lainnya untuk menghentikan permainan. Gadis-gadis itu pun bergegas pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula Sri Poh Haci. Di dalam rumah, ibunya bertanya kepada Sri Poh Haci, mengapa permainannya hanya sebentar. Sri Poh Haci lalu menceritakan bahwa di luar ada seorang lelaki tampan yang belum pernah dilihatnya. "Laki-laki itu memperhatikanku terus. Aku jadi malu, Bu," kata Sri Poh Haci.

Sesaat kemudian, terdengar suara ketukan pintu.

"Sampurasun."

"Rampes," jawab Nyi Siti seraya berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan. Dilihatnya seorang pemuda yang gagah lagi tampan berdiri di depan pintu.

Belum sempat Nyi Siti berbicara, pemuda itu sudah mendahului membuka suara. "Maaf mengganggu. Bolehkah saya menginap di rumah ini?"

Nyi Siti tentu saja kaget mendengar permintaan dari orang yang tak dikenalnya. "Kisanak ini siapa? Dari mana asalnya? Mengapa pula hendak menginap di sini? Saya belum kenal dengan Kisanak," kata Nyi Siti.

"Oh, ya. Maaf, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Raden Budog. Saya seorang pengembara. Saya tak punya tempat tinggal. Kebetulan saya sampai di kampung ini, dan kalau diperbolehkan saya ingin menginap di sini," jelas Raden Budog.

"Maaf, Kisanak. Saya seorang janda dan tinggal dengan anak perempuan saya satu-satunya. Saya tidak berani menerima tamu laki-laki, apalagi sampai menginap," jawab Nyi Siti dengan tegas dan segera menutup pintu.
Hari sudah mulai gelap. Raden Budog yang merasa kesal oleh kejadian yang baru saja dialaminya berjalan menuju bale-bale bambu di dekat rumah Nyi Siti. Dia merebahkan tubuhnya dan segera tertidur pulas. Dia pun bermimpi diijinkan menginap di rumah itu. Bukan oleh Nyi Siti yang menyebalkan itu, tapi oleh seorang gadis cantik yang dia temui dalam mimpinya di pantai selatan, gadis yang tadi dilihatnya sedang bermain gondang. Ah, betapa senangnya hati Raden Budog.

Namun waktu begitu cepat berlalu. Matahari mulai muncul di ufuk timur. Raden Budog terbangun, mengusap-usap matanya yang masih mengantuk. Hidungnya mencium wangi kopi yang menyegarkan. Kemudian dilihatnya seorang gadis cantik menyuguhkan segelas kopi di sampingnya.

"Minum dulu kopinya, Raden," kata gadis itu.

"Kamu siapa? Dari mana kamu tahu namaku?" tanya Raden Budog, walau sesungguhnya dia tahu bahwa gadis itu pastilah anak Nyi Siti.

"Namaku Sri Poh Haci, anak Nyi Siti.”

Hari berganti hari. Kedua insan itu pun jatuh cinta. Nyi Siti sebenarnya tidak setuju bila anaknya dipinang oleh orang yang tidak diketahui asal-usulnya, apalagi orang itu kelihatan keras kepala. Tapi Nyi Siti juga tidak ingin mengecewakan hati Sri Poh Haci, anaknya yang semata wayang itu. Akhirnya Raden Budog menikah dengan Sri Poh Haci. Kesenangan Sri Poh Haci menabuh lesung tetap dilanjutkan bersama gadis-gadis kampung. Bahkan Raden Budog sendiri menjadi sangat mencintai bunyi lesung dan turut memainkannya. Hingga suatu ketika, terjadilah peristiwa yang tidak diinginkan sama sekali oleh penduduk kampung itu. Karena sangat senangnya terhadap bunyi lesung, Raden Budog yang keras kepala itu setiap hari tidak mau berhenti menabuh lesung.

Hari itu hari Jum'at. Raden Budog kembali hendak menabuh lesung. Para tetua kampung memperingatkan dan melarang Raden Budog. Tapi Raden Budog tidak perduli dan tetap menabuh lesung. Dengan hati girang dan bersemangat, Raden Budog terus menabuh lesung seraya melompat-lompat kian kemari.

"Lihat, lihat! Ada lutung memukul lesung! Ada lutung memukul lesung!" Penduduk kampung berteriak-teriak melihat seekor lutung sedang memukul-mukul lesung.

Raden Budog terperanjat mendengar teriakan-teriakan Itu. Dia melihat ke sekujur tubuhnya. Betapa kagetnya dia setelah melihat tangarnnya penuh bulu. Begitu pula kakinya. Dirabanya mukanya yang juga telah ditumbuhi bulu. Raden Budog pun lari terbirit-birit masuk ke dalam hutan di pinggir kampung itu. Raden Budog menjadi lutung. Penduduk kampung itu menamainya Lutung Kesarung.

Sri Poh Haci sangat malu dengan kejadian itu. Diam-diam dia pergi meninggalkan kampung. Konon Sri Poh Haci menjelma menjadi Dewi Padi. Demikianlah ceritanya, kampung itu pun terkenal dengan sebutan Kampung Lesung dan karena letaknya di sebuah tanjung, orang-orang kemudian menyebutnya Tanjung Lesung.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #55: Hikayat Tanjung Lesung

Cerita Rakyat Indonesia #54: Legenda Gunung Tidar

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, February 14, 2013

Legenda Gunung Tidar merupakan salah satu legenda gunung yang hidup sebagai cerita dari Jawa Tengah. Legenda gunung ini menceritakan tentang miring pulang Jawa ke arah timur. Bagaimana kisah selengkapnya dari Gunung Tidar ini?

***

Sahibul hikayat pernah menyebutkan bahwa di pulau Jawa bagian timur terdapat sebuah gunung besar bernama Mahameru. Karena besarnya gunung ini, pulau Jawa makin lama makin miring ke arah timur. Ujung  timur pulau Jawa tenggelam dan ujung baratnya terangkat ke atas.

Para dewa sangat prihatin sehingga  menghadap Batara Guru untuk melaporkan masalah ini.

Batara Guru kemudian mengumpulkan para dewa. Ia memerintahkan supaya mereka mengangkat gunung Mahameru dan memindahkannya ke arah barat.

Para dewa bersama-sama mengangkat gunung yang sangat besar itu dan terbang membawanya ke arah barat. Ketika diangkat, puncak gunung jatuh dan menjadi gunung Semeru.

Mereka terus membawa gunung Mahameru ke barat. Sebagian demi sebagian gunung jatuh. Bagian-bagian yang jatuh itu membentuk deretan gunung baru.

Ketika para dewa tiba di tengah-tengah pulau Jawa,  gunung  yang mereka bawa tinggal sedikit.   Mereka pun memutuskan untuk meletakkan sisa gunung itu, yang kemudian membentuk gunung kecil . Gunung itu kemudian  disebut gunung Tidar.

Karena letaknya yang tepat di tengah pulau Jawa, gunung Tidar menjadi pakunya pulau Jawa. Pulau Jawa pun tidak lagi miring ke timur.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #54: Legenda Gunung Tidar

Cerita Rakyat Indonesia #53: Cinta Jaka Tarub Kepada Nawang Wulan

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Wednesday, February 13, 2013

Suatu hari di malam bulan purnama ia memasuki hutan, dari kejauhan ia mendengar sayup-sayup suara wanita yang sedang bercanda. Terdorong oleh rasa penasaran, Jaka Tarub berjalan mencari arah menuju suara-suara itu. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah danau yang sangat indah di tengah hutan, beserta 7 orang wanita yang sangat cantik sedang mandi dan bercanda ria.

Dengan mengendap-ngendap, Jaka Tarub berjalan mendekat. Kemudian ia menemukan pakaian wanita-wanita tersebut yang tergeletak berserakan. Setelah memilih, ia mencuri salah satunya dan menyembunyikannya.

Beberapa saat pun berlalu dan para bidadari sudah hendak kembali ke khayangan. 6 dari mereka memakai pakaian dan kain mereka, lalu terbang ke langit malam. Barulah Jaka Tarub mengerti kalau wanita-wanita itu adalah para bidadari khayangan. Namun seorang bidadari tertinggal di danau. Karena kehilangan pakaiannya ia tidak bisa kembali ke langit dan kemudian menangis tersedu-sedu.

“Bila ada yang menemukan pakaian dan kainku, bila laki-laki akan kujadikan suami dan bila perempuan akan kujadikan saudara,” sumpah sang bidadari. Jaka Tarub kemudian menampakkan dirinya dan menghibur sang bidadari. Ia memberikan selembar kain untuk dipakai bidadari itu, namun tetap menyembunyikan pakaiannya supaya ia tak bisa terbang ke khayangan meninggalkannya. Sang bidadari kemudian memenuhi sumpahnya dan menikah dengan Jaka Tarub.

(Ada versi lain dimana Nawang Wulan tidak perlu bersumpah seperti itu. Ketika Nawang Wulan menangis di danau, Jaka Tarub langsung muncul dan menghiburnya, lalu ia menawarkan tempat tinggal untuk Nawang Wulan sampai kemudian akhirnya mereka menikah)

Nawang Wulan nama bidadari itu, sejak menikah dengannya Jaka Tarub hidup berkecukupan. Panennya melimpah dan lumbung selalu dipenuhi oleh padi tanpa pernah berkekurangan. Pakaian Nawang Wulan disembunyikan Jaka Tarub di dalam lumbung yang selalu penuh. Mereka pun dikaruniai seorang anak (bisa anak laki-laki atau anak perempuan, tergantung versi ceritanya) dan hidup berbahagia.

Namun setelah beberapa lama hidup berumah tangga, terusiklah rasa ingin tahu Jaka Tarub. Setiap hari ia dan keluarganya selalu makan nasi, namun lumbung selalu tidak pernah berkurang seolah tak ada padi yang dipakai untuk mereka makan.

Suatu hari Nawang Wulan hendak pergi ke sungai. Ia berpesan pada suaminya supaya menjaga api tungku di dapur, namun melarangnya untuk membuka tutup periuk (pada versi lain, Nawang Wulan bahkan melarang Jaka Tarub untuk masuk ke dapur). Jaka Tarub melakukan pesan istrinya, namun rasa penasaran yang sudah dipendamnya sejak lama akhirnya membuatnya melanggar larangan yang sudah dipesankan. Dibukanya tutup periuk dan di dalamnya ternyata hanya ada satu butir beras. Rupanya selama ini Nawang Wulan hanya membutuhkan sebutir beras untuk memenuhi kebutuhan nasi mereka sekeluarga dalam sehari.

Ketika Nawang Wulan pulang dan membuka tutup periuk, hanya ada sebutir beras di dalamnya. Marahlah Nawang Wulan karena suaminya telah melanggar larangannya, dan ia pun menjadi sedih karena sejak saat itu ia harus memasak nasi seperti manusia biasa. Ia harus bersusah payah menumbuk padi banyak-banyak menjadi beras sebelum kemudian menanaknya menjadi nasi.

Akibatnya karena dipakai terus menerus, lama kelamaan persediaan padi di lumbung Jaka Tarub semakin menyusut. Pelan tapi pasti, padi mereka semakin habis, sementara musim panen masih belum tiba.

Ketika suatu hari Nawang Wulan kembali mengambil padi untuk ditumbuk, dilihatnya seonggok kain yang tersembul di balik tumpukan padi. Ketika ditarik dan diperhatikan, teringatlah Nawang Wulan kalau itu adalah pakaian bidadarinya. “Rupanya selama ini Jaka Tarub yang menyembunyikan pakaianku. Dan karena isi lumbung terus berkurang pada akhirnya aku bisa menemukannya kembali. Ini pasti sudah menjadi kehendak Yang Di Atas,” pikirnya.

Nawang Wulan kemudian mengenakan pakaian bidadarinya dan mengambil kainnya. Ia lalu menemui Jaka Tarub untuk berpamitan dan memintanya merawat anak mereka baik-baik. Jaka Tarub memohon dengan sangat agar istrinya tidak meninggalkannya, namun sudah takdir Nawang Wulan untuk kembali ke khayangan dan berpisah dengannya. “Kenanglah aku ketika melihat bulan. Aku akan menghiburmu dari atas sana,” kata Nawang Wulan. Ia pun kemudian terbang ke langit menuju khayangan, meninggalkan Jaka Tarub yang menangis dalam penyesalan.[]

Sumber:
Jaka Tarub dan Bidadari (Jawa Tengah) oleh Daniel Agus Maryanto, penerbit Grasindo.
Cerita Rakyat Dari Jawa Timur oleh Dwianto Setyawan, penerbit Grasindo.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #53: Cinta Jaka Tarub Kepada Nawang Wulan

Cerita Rakyat Indonesia #52: Mas Kawin Tanah Seluas Kulit Kerbau

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Sunday, February 10, 2013

Cerita rakyat yang hendak saya ceritakan kali ini merupakan request sahabat di Angga Sindi Wahayudi [fb]. Pada awalnya, saat hendak menuliskan permintaan darinya, saya kesulitan menemukan cerita rakyat yang dimaksud. Namun, ketika dia menuliskan keyword "Indramayu" di dinding fanspage Cerita Rakyat Indonesia, barulah saya paham yang dia maksud. Oke, tanpa basa-basi lagi, silakan baca cerita rakyat asal usul kota Indramayu.

***

Menurut sahibul hikayat, asal usul kota Indramayu bermula dari pengembaraan Wiralodra untuk mencari sungai Cimanuk. Dalam perjalanannya, ia banyak menemui berbagai rintangan. Dari mulai bertemu dengan kakek tua yang kejam hingga gadis ayu bernama Dewi Rarawana yang menginginkan dijadikan istri oleh  Wiralodra.

Mulanya, Wiralodra yang ditemani Ki Tinggil juah tersesat. Beruntung ia bertemu dengan kakek tua bernama Kyai Malih Warna. Namun, pikiran mereka tak sejalan. Kyai Malih Warna menuduh Wiralodra sebagai perampok.

Pertarungan pun tak dapat dihindarkan dan pertarungan tersebut dimenangkan oleh Wiralodra dan Kyai Malih Warna memberikan petunjuk menuju arah Sungai Cimanuk.

Perjalanan dimulai kembali. di tengah hutan belantara, Wiralodra bertemu dengan Dewi Rarawana. Sang Dewi memaksa Wiralodra untuk menikahi. Bahkan ia menjanjikan tahta, harta dan menuruti semua keinginan Wiralodra. Namun Wiralodra menolaknya. Pertengkaran pun kembali terjadi. Wiralodra yang sakti memenangkannya. Sang Dewi lalu melarikan diri. Seketika Wiralodra ingat, sang Dewi itulah petunjuk yang diberikan oleh Kyai Malih Warna.

Wiralodra dan Ki Tinggil mengejar gadis ayu itu dan sampailah mereka di Cimanuk. Babad alas pun dilakukan. Jadilah negeri itu bermana Cimanuk.

Suatu ketika, Ki Tinggil yang dipercaya oleh Wiralodra untuk menjaga Negeri Cimanuk mempersilahkan seorang perempuan untuk ikut bercocok tanam di negeri tersebut. Karena memang begitulah pesan Wiralodra padanya. Siapa pun diperbolehkan singgah dan bercocok tanam di Negeri Cimanuk.

Perempuan itu bernama Endang Darma Ayu. Ia merupakan perempuan cantik dan pandai melakukan apa saja. Dari mulai bercocok tanam hingga ilmu bela diri (silat). Namun semua itu tak berjalan mulus. Ia dianggap membangkang. Ada aturan dan kode etik bahwa ilmu silat hanya boleh dipelajari dan diajarkan kepada kaum ningrat. Namun baginya, siapa pun berhak mempelajarinya.

Kondisi inilah yang memancing amarah Pangeran Guru, Pangeran Palembang. Ia bersama 24 muridnya menyebrang ke tanah Jawa menentang Endang Darma Ayu. Nasib berpihak padaEndang Darma Ayu. Pangeran  guru beserta 24 muridnya meninggal bersamaan.

Peristiwa ini diketahui oleh Wiralodra dan keluarganya. Amarah kembali bergelora. Raja Singalora (ayah Wiralodra)memerintahkan Wiralodra beserta dua adiknya untuk menangkap Endang Darma Ayu dan menghukumnya.

Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Para lelaki putra Raja Singalodra itu jatuh cinta kepada Endang Darma Ayu. Perjanjian pun dibuat, kalau Endang Darma Ayu kalah terhadap kedua adik Wiralodra dalam pertarungan duel, maka ia harus mau diperistri yang mengalahkan dan kalau ia menang ia berhak memperbudak yang dikalahkan. Dan akhirnya Endang Darma Ayu berhak memperbudak.

Tak sampai di situ. Wiralodra sendiri yang telah jatuh cinta pada Endang Darma Ayu dalam pandangan pertama, ingin masuk dalam perjanjian itu. Namun Endang Darma Ayu menolak. Wiralodra memaksa dan ia kalah oleh jurus ampuh milik Endang Darma Ayu.

Setelah itu, Endang Darma Ayu pergi meninggalkan Negeri Cimanuk. Namun ia berpesan pada Wiralodra, “… hamba janganlah dilupakan…”

Wiralodra menepati janjinya dan mengabadikan nama Endang Darma Ayu. Negeri yang mulanya bernama Cimanuk diganti menjadi Darma Ayu (kini Indramayu).

Ketika Negeri ini dalam keadaan damai dan tentram, munculnya penjajah yang mereka sebut sebagai orang asing yang dibawa Waduaji dan Nitinegara dari Karawang. Namun Wiralodra tak hanya diam. Ia menyiapkan pasukannya dan mulai berperang melawan penjajah.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #52: Mas Kawin Tanah Seluas Kulit Kerbau

Cerita Rakyat Indonesia #50: Legenda Rawa Pening

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Friday, February 8, 2013

Cerita rakyat Rawa Pening merupakan legenda dari sebuah kawasan wisata di Semarang, Jawa Tengah, bernama sama.

***

Rawa Pening adalah sebuah tempat wisata air di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Luasnya 2.670 hektare, dan menempati wilayah kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Hampir seluruh permukaan rawa ini tertutup tanaman enceng gondok. Tanaman sejenis gulma ini juga sudah menutupi Sungai Tuntang, terutama di bagian hulu.

Konon, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya di kutuk seorang penyihir jahat. Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam dan amis. Luka itu tak pernah kering. Jika mulai kering, selalu saja muncul luka-luka baru, disebabkan memar. Biru Klinting berubah menjadi seorang anak kecil yang mempunyai luka disekujur tubuhnya, dan lukanya menimbulkan bau amis. Biru Klinting berjalan-jalan di desa tersebut, dan melihat anak-anak didesa itu sedang bermain. Muncullah keinginan dihatinya untuk bergabung, namun anak-anak tersebut menolak kehadiran Biru Klinting dan memaki-makinya dengan ejekan. Biru Klinting pun pergi. Di tengah jalan, perutnya mulai lapar, dan Biru Klinting mendatangi salah satu rumah dan meminta makan. Saat itu Biru Klinting pun kembali di tolak bahkan di maki-maki.

Desa tersebut adalah desa yang makmur, namun penduduk di Desa itu sangatlah angkuh. Sampai suatu hari ada seorang Janda tua (Nyai Latung) yang baik dan mau menampung dan memberi makan Biru Klinting. Setelah selesai makan, Biru Klinting berterimakasih kepada Nyai, sambil berkata, "Nyai, kalau Nyai mendengar suara kentongan, Nyai harus langsung naik ke perahu atau lisung ya?", kemudian Nyai tersebut menjawab "Iya".

Ketika Biru Klinting sedang di perjalanan meninggalkan komunitas tersebut, Biru Klinting bertemu dengan anak-anak yang sering menghinanya dan langsung mengusir Biru Klinting dengan kata-kata kasar. Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun langsung menancapkan sebatang lidi yang kebetulan ada di sana. Lalu dengan wajah berang ia pun bersumpah, bahwa tak ada seorang pun yang sanggup mengangkat lidi ini, kecuali dirinya.

Satu persatu mulai berusaha mencabut lidi yang di tancapkan Biru Klinting, namun anak-anak tidak ada yang bisa mencabutnya. Sampai akhirnya orang-orang dewasa yang berusaha mencabut lidi tersebut. Namun hasilnya TETAP TIDAK BISA! Akhirnya Biru Klinting sendiri yang menarik lidi tersebut, karena hanya dia yang bisa mencabutnya (mengingat bahwa dia sakti). Saat itupun keluarlah air dari tanah bekas lidi itu menancap, airnya sangat deras keluar dari tanah, dan terjadilah banjir bandang di Desa Rawa Pening dan menewaskan seluruh masyarakat di desa itu, kecuali Nyai Latung.

Setelah lidi tersebut lepas, Biru Klinting langsung membunyikan kentongan untuk memperingati Nyai. Akhirnya Nyai Latung yang sedang menumbuk padi segera masuk ke lisung, dan selamatlah dia. Nyai menceritakan kejadian ini kepada penduduk2 desa tetangganya dan Biru Klinting kembali menjadi ular dan menjaga desa yang telah menjadi rawa tersebut.

Begitulah ceritanya. Saat ini Rawa Pening bukanlah malapetaka, namun menjadi kemakmuran bagi masyarakat sekitar, karena rawa tersebut bermanfaat bagi pertanian, budidaya ikan, dan eceng gondok.

***
Amanat: jangan suka menghardik orang yang tak berdaya karena suatu saat kita akan dapat balasannya.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #50: Legenda Rawa Pening

Cerita Rakyat Indonesia #49: Cinta Bersemi di Baturaden

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, February 7, 2013

Cerita rakyat Indonesia Baturaden berasal dari daerah Banyumas, Jawa Tengah. Cerita rakyat ini kemudian dijadikan nama sebuah kecamatan bernama Baturaden (yang benar Baturraden). HIngga kini, Baturaden yang namanya diambil dari cerita rakyat Indonesia Baturaden menjadi objek wisata yang menarik bagi banyak orang.

Cerita rakyat Indonesia Baturaden ini mengisahkan tentang cinta beda kelas sosial antara putri raja (raden) dengan seorang pembantu (batur). Ketimpangan kelas sosial yang demikian jauh membuat kedua orangtua tidak merestui hubungan mereka. Terlebih, orangtua dari pihak sang putri. Cerita rakyat Indonesia Baturaden ini berakhir dengan haru biru. Penasaran dengan cerita ini? Silakan baca lebih lanjut...

***

Pada zaman dahulu, di sebuah Kadipaten hiduplah seorang pembantu (batur) yang bernama Suta. Pekerjaan atau tugas sehari-hari Suta ialah merawat kuda sang Adipati. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, biasanya Suta berjalan-jalan disekitar Kadipaten. Maksudnya, ia ingin lebih mengenal tempatnya bekerja.

Suatu sore, seperti biasanya Suta sedang berjalan-jalan disekitar tempat pemandian atau biasa disebut dengan taman sari. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh jeritan seorang wanita. Suta segera mencari arah jeritan tadi.

Akhirnya ia tiba didekat sebuah pohon besar. Dilihatnya putri Adipati menjerit-jerit dibawah pohon. Di dekatnya, seekor ular yang sangat besar menggelantung, mulutnya menganga siap menelan putri yang tengah ketakutan itu. Suta sendiri sebenarnya sangat takut melihat ular itu. Namun melihat keadaan putri Adipati yang pucat ketakutan itu, timbul keberaniannya untuk membunuh ular tersebut. Diambilnya bambu yang cukup besar, dipukulnya kepala ular tersebut berkali-kali. Ular itu menggeliat-geliat kesakitan. Dan tak lama kemudian ular itu diam tak bergerak. Mati.

“Terima kasih kang Suta. Kau telah menyelamatkan jiwaku,” kata putri Adipati yang kelihatan masih gemetar.

"Itu sudah menjadi tugas saya, Tuan putri. Hamba adalah abdi Kadipaten, yang selalu siap mengorbankan nyawa demi keselamatan tuan putri,” sahut Suta.

Putri Adipati itu kemudian diantar oleh Suta menuju Kadipaten.

Sejak peristiwa itu. Putri Adipati itu semakin akrab dengan Suta. Bahkan keduanya kini telah merasa saling jatuh hati. Dan mereka berencana meningkatkan hubungan ke tali pernikahan.

Hubungan kedua insan yang saling mencintai itu akhirnya diketahui oleh sang Adipati. Maka dia menjadi murka.

“Dia hanya seorang batur! Sedangkan, dirimu seorang raden, putri seorang Adipati. Kau tak boleh menikah dengannya, anakku..!” kata sang Adipati.

Mendengar kata-kata ayahnya sang putri sangat sedih hatinya. Apalagi ketika mendengar kabar bahwa Suta dimasukan penjara bawah tanah oleh sang Adipati. Kesalahan Suta ialah karena dia berani melamar putri seorang Adipati, yang berbeda derajat dan martabatnya diantara mereka.

Didalam penjara, Suta tidak diberi makan dan minum, bahkan ruang penjaranya digenangi air setinggi pinggang. Akibatnya Suta terserang penyakit demam. Mendengar kabar keadaan Suta, sang putri bertekad membebaskan kekasihnya itu.

“emban, aku harus bisa membebaskan kang Suta, kasihan dia. Dahulu dia telah menolong saya, aku telah berhutang nyawa kepadanya. Bantulah aku emban,” kata sang putri kepada pengasuhnya.

Pengasuh itu mengetahui perasaan putri ndaranya itu. Dia juga iba mendengar keadaan Suta yang sakit dipenjara. Maka pengasuh perempuan itu diam-diam menyelinap di penjara bawah tanah. Dan akhirnya ia berhasil membebaskan pemuda malang itu, dan dibawanya ke suatu tempat. Disana sang putri telah menunggu dengan seekor kuda. Kemudian dengan menunggang seekor kuda, mereka berboncengan pergi meninggalkan Kadipaten. Dalam perjalanan, keduanya menyamar sebagai orang desa, sehingga tak dikenali orang.

Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, sampailah keduanya di tepi sebuah sungai, mereka beristirahat sejenak. Sang Putri merawat Suta yang masih sakit.

Berkat kesabaran dan ketelatenan sang putri merawat Suta dan beberapa hari kemudian pemuda itu akhirnya sembuh seperti sediakala.

Karena tempat mereka berhenti itu dirasa cocok bagi mereka. Maka keduanya memutuskan untuk menetap disana. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama Baturaden (yang berarti Batur dan Raden).

***

Cerita rakyat Indonesia Baturaden ini memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu jika kita mencintai seseorang maka perjuangankanlah cinta itu, walau badai menghadang. Dengan perjuangan tersebut, cinta kita akan diuji seberapa dalam dan besar. Ya, seperti cerita rakyat Indonesia Baturaden ini.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #49: Cinta Bersemi di Baturaden

Cerita Rakyat Indonesia #46: Riwayat Aji Saka

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Sunday, February 3, 2013

Cerita rakyat Aji Saka ini berasal dari Jawa Tengah, yang berkisah tentang kesaktian Aji Saka dalam melawan Prabu Dewata Cengkar yang lalim suka makan manusia. Dalam cerita rakyat Aji Saka ini pula dikisahkan tentang dipakainya huruf Jawa yang kita kenal saat ini, yakni Hanacaraka.

***

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Medang Kamulan yang diperintah oleh raja bernama Prabu Dewata Cengkar yang buas dan suka makan manusia. Setiap hari sang raja memakan seorang manusia yang dibawa oleh Patih Jugul Muda. Sebagian kecil dari rakyat yang resah dan ketakutan mengungsi secara diam-diam ke daerah lain.

Di dusun Medang Kawit ada seorang pemuda bernama Aji Saka yang sakti, rajin dan baik hati. Suatu hari, Aji Saka berhasil menolong seorang bapak tua yang sedang dipukuli oleh dua orang penyamun. Bapak tua yang akhirnya diangkat ayah oleh Aji Saka itu ternyata pengungsi dari Medang Kamulan. Mendengar cerita tentang kebuasan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka berniat menolong rakyat Medang Kamulan. Dengan mengenakan serban di kepala Aji Saka berangkat ke Medang Kamulan.

Perjalanan menuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu.
Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. Sesaat setelah Aji Saka berdoa, seberkas sinar kuning menyorot dari langit menghantam setan penghuni hutan sekaligus melenyapkannya.

Aji Saka tiba di Medang Kamulan yang sepi. Di istana, Prabu Dewata Cengkar sedang murka karena Patih Jugul Muda tidak membawa korban untuk sang Prabu.

Dengan berani, Aji Saka menghadap Prabu Dewata Cengkar dan menyerahkan diri untuk disantap oleh sang Prabu dengan imbalan tanah seluas serban yang digunakannya.

Saat mereka sedang mengukur tanah sesuai permintaan Aji Saka, serban terus memanjang sehingga luasnya melebihi luas kerajaan Prabu Dewata Cengkar. Prabu marah setelah mengetahui niat Aji Saka sesungguhnya adalah untuk mengakhiri kelalimannya.

Ketika Prabu Dewata Cengkar sedang marah, serban Aji Saka melilit kuat di tubuh sang Prabu. Tubuh Prabu Dewata Cengkar dilempar Aji Saka dan jatuh ke laut selatan kemudian hilang ditelan ombak.

Aji Saka kemudian dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan. Ia memboyong ayahnya ke istana. Berkat pemerintahan yang adil dan bijaksana, Aji Saka menghantarkan Kerajaan Medang Kamulan ke jaman keemasan, jaman dimana rakyat hidup tenang, damai, makmur dan sejahtera.

Demikian cerita rakyat Aji Saka.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #46: Riwayat Aji Saka

Cerita Rakyat Indonesia #43: Timun Emas Dikejar Raksasa

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, January 29, 2013

Cerita rakyat Timun Mas berasal dari Jawa Tengah. Sebelum saya membagikan artikel mengenai Cerita rakyat Timun Mas, saya sudah sharing artikel Cerita Rakyat Lutung Kasarung, Cerita Rakyat Bawang Merah Bawang Putih, dan Cerita Rakyat Ande Ande Lumut. Cerita rakyat Timun Mas ini mengisahkan tentang seorang janda yang mengidam-idamkan seorang anak. Bagaimana kisahnya, mari lanjutkan membaca artikel di bawah ini.

***

Adalah Mbok Sirni, seorang janda yang menginginkan seorang anak supaya dia dapat menolongnya karena dirinya telah renta. Suatu hari, keinginannya tersebut dikabulkan, kala ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang anak dengan sebuah perjanjian. Apabila, anak itu genap berusia enam tahun harus diserahkan kembali kepada si raksasa itu untuk dijadikan makan malam.

Karena keinginan hatinya sudah berada di ujung ubun-ubun, Mbok Sirni pun setuju saja dengan perjanjian tersebut. Dia tidak tahu, apa yang akan terjadi kelak. Saat itu, si raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan dirawat, setelah dua minggu di antara buah ketimun yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan berkilau seperti emas. Mbok Sirni membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya seorang bayi cantik. Maka, diberilah bayi cantik itu nama Timun Emas.

Mbok Sirni merawat Timun Emas dengan penuh kasih. Tidak terasa hari berganti bulan, bulan berganti tahun, enam tahun berlalu. Mbok Sirni teringat perjanjiannya dengan si raksasa dan menjadi sedih. Saat itu Timun Emas pun tumbuh menjadi bocah ayu.

Setelah itu, si raksasa datang menagih janji. Mbok sirni yang takut kehilangan Timun Emas berusah mengulur janji.

"Dua tahun lagi datanglah kemari dan ambillah Timun Emas," kata Mbok Sirni kepada si raksasa.

Si raksasa menurut, karena dia berpikir, semakin besar, semakin mantaplah daging Timun Emas. Si raksasa setuju dengan usul Mbok Sirni.

Tapi, bukannya makin merelakan diri, Mbok Sirni justru semakin sayang pada Timun Emas. Setiap kali ia teringat janjinya hatinya gundah gulana.

***

Suatu malam, Mbok Sirni mendapat wangsit untuk menyelamatkan Timun Emas, ia harus menemui seorang pertapa di Gunung Gundul. Pagi-pagi buta, ia capcus ke Gunung Kidul untuk menemui si pertapa. Benar saja, si pertapa memberinya empat buah bungkusan kecil yang berisi biji mentimun, jarum, garam, dan terasi.

"Untuk apa semua ini?" tanya Mbok Sirni.

"Untuk mengatasi si raksasa," sahut si pertapa.

Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun Emas pun disuruh keluar lewat pintu belakang untuk Mbok sirni.

Raksasa segera mengejarnya. Timun Emas teringat akan bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Si raksasa memakannya dan buah mentimun itu justru menambah tenaga raksasa.

Lalu Timun Emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlah pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah raksasa terus mengejar. Timun Emas membuka bingkisan garam dan ditaburkannya. Seketika hutan menjadi lautan luas. Dengan kesakitannya raksasa dapat melewati. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika terbentuklah lautan lumpur yang mendidih. Si raksasa yang mengejar tidak kuasa menembus lautan lumpur yang mendidih tersebut hingga akhirnya dia mati.

Timun emas pun berucap syukur, "Terimakasih Tuhan, Engkau telah melindungi hambamu ini."

Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan damai, selamanya.

***

Setelah membaca cerita rakyat Timun Mas ini ada dua pesan dalam kisah ini. Pertama, berdoalah pada Tuhan, niscaya Tuhan pasti mengabulkan. Kedua, janganlah berjanji jika takut menepati. Demikianlah cerita rakyat Timun Mas ini, mudah-mudahan bermanfaat untuk dipetik hikmahnya.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #43: Timun Emas Dikejar Raksasa