Cerita Rakyat Indonesia #65: Nenek Pakande, Siluman Pemangsa Manusia

Di Sulawesi Selatan, kisah Nenek Pakande dikenal sebagai cerita rakyat yang sudah melegenda. Cerita rakyat ini disampaikan secara turun temurun oleh masyarakat melalui tradisi lisan. Setelah zaman internet, blog Cerita Rakyat Indonesia menyampaikan cerita rakyat berjudul Nenek Pakande, Siluman Pemangsa Manusia ini melalui tradisi tulisan. Cerita rakyat ini mengisahkan tentang seorang siluman tua yang suka memakan bayi dan anak-anak. Ketika sampai di daerah Soppeng dan memangsa tiga bocah cilik, warga mengerjai Nenek Pakande dengan memanggil Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale.

Bagaimana cerita rakyat ini selengkapnya?

***

Dikisahkan, pernah suatu waktu sebuah daerah di Soppeng (salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan) didatangi oleh seorang nenek. Dilihat dari penampilannya, nenek ini hanyalah orang biasa - yang rambutnya berwarna putih dengan konde di kepala, berwajah keriput, tubuh setengah membungkuk, dan pakaian dari sarung batik dan kemeja. Orang-orang di daerah tersebut, yang terkenal ramah dan damai, menerima saja kedatangan si nenek. Mereka tidak mengetahui bahwa nenek yang datang ke wilayah mereka adalah Nenek Pakande.

Kalian tahu, siapa Nenek Pakande itu? Wujud asli Nenek Pakande adalah sesosok siluman, yang senang memakan daging manusia. Terlebih lagi daging anak-anak. Hiii... Nama Pakande diambil dari bahasa Bugis, yaitu "manre" yang artinya "makan". Nenek Pakande sudah menjadi cerita rakyat bagi masyarakat Soppeng sana.

Nenek Pakande biasa melakukan aksinya saat pergantian hari, yaitu saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Karena, tidak ada yang mencurigai kehadiran Nenek Pakande di daerah tersebut, maka ia leluasa melakukan aksinya. Korban pertama Nenek Pakande di daerah tersebut adalah dua kakak beradik yang masih di luar, saking serunya mereka bermain.

Ibu mereka sebenarnya sudah menyuruh masuk. "Nak, ayo cepat masuk rumah. Hari sudah malam!"

Sayangnya, kedua bocah tersebut hanya menganggap perintah Ibunya sebagai angin lalu. Hingga, Nenek Pakande dengan cepat menculik mereka untuk dibawa ke rumahnya. Di sana, si Nenek menyantap kedua bocah tersebut. Sementara, Ibu kedua bocah tadi kebingungan mencari kedua anaknya yang mendadak hilang dari halaman rumahnya.

Gegerlah daerah tersebut karena hilangnya dua bocah malang tanpa dosa. Tetua adat meminta warga, khususnya para pria, melakukan penyisiran. Namun, hasilnya nihil. Dua bocah itu tetap tidak ditemukan.

Belum hilang aura kesedihan di daerah tersebut, keesokan hari seorang bayi yang tengah ditinggal ibunya ke belakang tiba-tiba menghilang. Nenek pendatang barulah yang menculik bayi tersebut dan memakannya di rumahnya. Setelah kenyang, si Nenek berpikir untuk menetap selama penyamarannya belum terbongkar. Warga yang membantu mencari, tentu tidak ketemu si bayi karena memang sudah tidak ada lagi di dunia.

***

Gara-gara kejadian ini, diadakanlah rembug kampung. Para tetua dan warga berdiskusi mengenai peristiwa yang meresahkan ini. Tentu mereka takut kalau anak-anak mereka yang menjadi korban berikutnya.

"Tentu kita tidak boleh mendiamkan hal ini. Dua kejadian belakangan ini sudah cukup meresahkan. Kami khawatir, yang jadi korban berikutnya, adalah anak-anak kami."

"Ya, memang kita tidak akan mendiamkan hal ini. Hanya saja, siapa yang sudah melakukannya?"

"Sepertinya, ini cara yang dilakukan oleh Nenek Pakande."

"Nenek Pakande? Bagaimana dia bisa masuk ke tengah-tengah masyarakat kita tanpa dicurigai? Dan siapa orangnya yang menjadi Nenek Pakande?"

Semua orang saling memandang, tidak tahu harus menjawab apa.

"Kita semua tahu, ada seorang warga baru di kampung ini."

"Siapa?"

"Seorang nenek yang tinggal persis di batas terluar kampung ini."

"Apakah dia Nenek Pakande yang dimaksud?"

"Bukan menuduh. Tapi, semenjak kedatangannya..."

"Kenapa kita tidak kesana saja sekarang dan membunuhnya?"

"Tidak. Kita semua tahu, Nenek Pakande adalah cerita rakyat yang berilmu tinggi. Tidak ada seorang pun dari kita yang memiliki kekuatan gaib setimpal dengannya."

"Mmm, apa sebaiknya kita meminta tolong Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale?"

Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale adalah raksasa setinggi sekitar 7 hasta. Raksasa itu juga doyan memangsa manusia. Bedanya, Raja Bangkung hanya memangsa manusia jahat yang tidak disukainya.

"Ya, mungkin bisa. Tapi, keberadaan Raja Bangkung sudah lama tidak pernah terdengar atau terlihat lagi."

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"

Suasana hening. Tidak seorang pun yang buka suara. Disaat itu, La Beddu, seorang pemuda cerdik angkat bicara.

"Maaf, bolehkah saya berbicara? Saya punya ide mengenyahkan Nenek Pakande dari kampung ini, selamanya," ujar La Beddu.

"La Beddu, kamu cuma pemuda biasa! Dibanding Nenek Pakande yang berilmu tinggi, kamu tidak ada apa-apanya," seorang warga berkata merendahkan.

Tetua adat menenangkan warga. "Biarlah La Beddu mengemukakan idenya."

La Beddu tersenyum kecut, ia melanjutkan bicaranya. "Tidak selamanya kesaktian harus dilawan dengan kesaktian. Selama ini, aku dikenal sebagai pemuda cerdik. Tapi, ada perbedaan antara cerdik dan licik. Nah, mari kita pakai cara licik untuk mengalahkan kesaktian Nenek Pakande."

"Apa kamu tidak takut dengan Nenek Pakande?"

"Orang yang berani bukanlah orang tanpa rasa takut. Saya memiliki rasa takut itu, tapi saya memilih untuk melawan rasa takut itu."

Warga yang mendengar kata-kata La Beddu menjadi semangat kembali.

"Kali ini kita akan mengerjai Nenek Pakande. Tapi, saya minta, permintaan saya dipenuhi. Saya membutuhkan beberapa ekor belut, kura-kura, salaga (garu), busa sabun satu ember, kulit rebung yang telah kering, dan sebuah batu besar. Jika semua sudah tersedia, kumpulkanlah di rumah saya."

Warga memenuhi permintaan La Beddu, walaupun mereka belum mengerti apa maksud La Beddu. Mereka mengikuti permainan La Beddu.

***

Keesokan hari, saat malam menjelang, semuanya telah dipersiapkan untuk menjebak Nenek Pakande. Seorang bayi ditaruh di rumah La Beddu dengan pengawasan ketat demi memancing Nenek Pakande.

Benar saja, Nenek Pakande terpancing dan menuju rumah La Beddu. Karena, mencium aroma bayi. Lagipula, hanya rumah La Beddu saja yang diterangi lampu minyak. Nenek Pakande tidak curiga sama sekali bahwa itu adalah jebakan warga. Saat telah berada di depan kamar yang ada bayinya, terdengarlah suara. Suara itu suara La Beddu yang bersembunyi di atas atap, yang dibuat seolah-olah seperti Raja Bangkung Pitu Reppa Rawo Ale.

"Nenek Pakande, kenapa kamu datang kemari?" tanya La Beddu yang tengah menyamar.

"Saya ingin mengambil bayi ini untuk dimakan."

"Jangan kamu makan bayi tidak bersalah. Dasar kamu siluman tua! Pergi dari desa ini, kalau tidak, kumakan kamu!"

"Saya tidak percaya kalau kamu Raja Bangkung!"

La Beddu memerintahkan warga untuk menumpahkan air sabun, supaya si nenek percaya bahwa itu air liur Raja Bangkong.

"Saya sedang lapar, Nenek Pakande. Lihat air liurku sudah mengalir. Jika kamu tidak segera enyah, kumakan kamu!"

"Saya yakin kamu hanya orang biasa yang menyamar sebagai Raja Bangkung!"

La Beddu memerintahkan lagi warga untuk menjatuhkan sisir yang besar dan kura-kura secara beruntun.

Melihat hal tersebut, nyali Nenek Pakande menciut juga. Tanpa menunggu lama lagi, Nenek Pakande lari keluar dan tidak melihat belut yang diletakkan di dekat tangga keluar oleh warga. Membuat Nenek Pakande jatuh berguling-guling di tangga. Kepalanya membentur batu besar yang sudah disiapkan di bawah tangga. Walaupun limbung, Nenek Pakande tetap memaksa untuk berdiri. Sebelum meninggalkan desa itu, Nenek Pakande meninggalkan suatu pesan “Saya akan memantau anak kalian dari atas sana dengan cahaya rembulan di malam yang sangat gelap. Dan suatu saat nanti saya akan kembali memangsa anak-anak kalian.”

***

Demikianlah Cerita Rakyat berjudul Nenek Pakande, Siluman Pemangsa Manusia ini kami tulis. Adapun pesan tersirat dalam Cerita Rakyat ini adalah sikap yang ditunjukkan oleh La Beddu bahwa akal sehat mesti diutamakan dalam menghadapi berbagai persoalan. Semoga kita dapat mengambil manfaat dari Cerita Rakyat ini.
0 Komentar untuk "Cerita Rakyat Indonesia #65: Nenek Pakande, Siluman Pemangsa Manusia"

Back To Top