Cerita Rakyat Indonesia #118: Lakipadada

Kisah ini digubah dari cerita rakyat Indonesia yang diceritakan oleh Kak Rico*

Cerita Rakyat Indonesia Lakipadada Di tanah Toraja ada seorang bangsawan yang paranoid terhadap maut, yaitu Lakipadada. Saking takutnya, dia sampai mencari mustika Tang Mate. Tujuannya supaya dia bisa hidup abadi, tanpa dihantui oleh kematian.

Dalam cerita rakyat Indonesia ini, rasa paranoid Lakipadada muncul akibat kehilangan orang-orang yang tersayang (ibu, saudara perempuan, saudara laki-laki, pengawal hingga hamba sahayanya) yang meninggal satu per satu.

Lakipadada pergi mengembara mencari mustika tang mate dengan tunggangan kesayangannya, Tedong Bonga. Tempat tujuannya belum pasti. Yang jelas, dia mengarungi Teluk Bone dengan Buaya Sakti yang ditukar dengan Tedong Bonga, kemudian mencari Pulang Maniang. Konon, Pulang Maniang dihuni Kakek Sakti - pemilik mustika Teng Mate.

Ketika bertemu Lakipadada langsung meminta Teng Mate. Seperti kebanyakan hal-hal yang enak, yang butuh syarat untuk mendapatkannya. Maka, Kakek Sakti itu mengajukan syarat kepada Lakipadada jika ingin mendapatkan Teng Mate. Yaitu puasa makan, minum, dan tidur selama tujuh hari tujuh malam. Dalam melakoninya, tentu saja dibutuhkan kesabaran. Sayang, Lakipadada kurang sabar sehingga dia gagal dalam ujiannya.

Walaupun begitu, Lakipadada mendapat hikmah, bahwa manusia tidak bisa lari dari kematian. Karena, hal tersebut sama dengan menentang kuasa Tuhan. Tidak seorang pun bisa menentang takdir-Nya.

Lakipadada, kemudian mengembara lagi dengan menumpang bergelantungan di cakar burung Garuda, yang membawanya ke negeri Gowa. Disana Lakipadada, yang sudah tercerahkan, menyebarkan hikmah kebajikan dan berhasil mendapat simpari Raja, mengobati dan membantu permaisuri raja melahirkan. Lakipadada diangkat menjadi anak angkat dan Putra Mahkota.

Diakhir cerita diceritakan Lakipadada yang memperistri bangsawan Gowa, kemudian diangkat menjadi raja Gowa, penguasa baru yang bijak. Dia memiliki tiga orang anak, yang kemudian menjadi penerusnya dan mengembangkan kerajaan-kerajaan lain di jazirah sulawesi. Putra sulung, Patta La Merang menggantinya di tahta Gowa. Putra kedua, Patta La Baritan ditugaskan ke Sangalla, Toraja dan menjadi raja disana. Putra bungsu, Patta La Bunga, menjadi raja di Luwu.

Akulturasi damai. Lakipadada yang berasal dari Toraja berdamai dengan tiga suku lain; belajar hikmah dari Bugis/Bajo (kakek sakti di pulau Maniang), menjadi raja di pusat budaya Makassar, dan mengirim anaknya menjadi Datu di Luwu. Akulturasi inilah yang mengabadikan darah dan silsilahnya, juga legenda yang mengantarkannya pada kita saat ini, mungkin inilah mustika Tang Mate yang dimaksudkan, keabadian melalui cerita rakyat Indonesia atau legenda.[]

----------
*) seorang pendongeng yang punya blog di dongengkakrico.wordpress.com.
0 Komentar untuk "Cerita Rakyat Indonesia #118: Lakipadada"

Back To Top