Cerita Rakyat Indonesia #119: Si Miskin yang Tamak

Cerita rakyat Indonesia ini ditulis ulang oleh Sakaji*

Si Miskin yang Tamak

Dulu di Riau, hidup sepasang suami istri yang hidup serba kekurangan. Mereka tidak dapat mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari karena penghasilan yang pas-pasan. Kita sebut saja Pak Miskin ini dengan nama Pak Sakaji, biar lebih asyik ya ^^, hihihi...

Suatu ketika Pak Sakaji yang miskin bermimpi. Dalam mimpinya itu, seorang kakek menemuinya dan memberikannya seutas tali. Sebelum menghilang, Kakek itu berpesan, "Hai Sakaji, esok pergilah merakit dan carilah sebuah mata air di Sungai Sepunjung!”

Setelah bermimpi itu, Pak Sakaji terbangun. Pikirannya masih tersaput kebingungan. “Duh, mimpi apa aku tadi? Kenapa kakek tadi menyuruhku pergi merakit?” ujar Pak Sakaji dalam hati.

Namun, begitu, Pak Sakaji hendak mengikuti petunjuk mimpi itu. Siapa tahu nasibnya berubah! “Tidak ada salahnya mencoba. Siapa tahu aku mendapatkan keberuntungan,” pikir pak Miskin.

Maka, pergi Pak Sakaji ia memakai perahu miliknya satu-satunya. Di sepanjang sungai, dia terus mendayung. Matanya celingak-celinguk mencari mata air yang dimaksud si kakek dalam mimpinya. Tidak

berapa lama dilihatnya riakan air di pinggir sungai pertanda bahwa di bawah sungai itu terdapat mata air.
“Hmmm, mungkin ini mata air yang dimaksud,” pikir Pak Sakaji.

Dia menengok ke kanan dan ke kiri mencari si kakek dalam mimpinya. Namun hingga lelah lehernya, si kakek tidak juga kelihatan. [baca kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya, disini]

Ketika dia sudah mulai tidak sabar, tiba-tiba muncullah seutas tali di samping perahunya. Tanpa pikir panjang ditariknya tali tersebut. Ternyata di ujung tali itu terikat rantai yang terbuat dari emas.

Alangkah senangnya Pak Sakaji. Cepat-cepat ditariknya rantai itu.
“Oh, ternyata benar, ini adalah hari keberuntunganku. Dengan emas ini aku akan kaya!,” kata Pak Sakaji gembira.

Dia menarik rantai itu sekuat tenaga dan mengumpulkan rantai tersebut di atas perahunya. Tiba-tiba terdengar kicau seekor burung dari atas pohon: “Cepatlah potong tali itu dan kembalilah pulang!”

Namun karena terlalu gembira, Pak Sakaji tidak mempedulikan kicauan burung itu. Dia terus menarik rantai emas itu hingga perahunya tidak kuat lagi menahan bebannya. Dan benar saja, beberapa saat kemudian perahu itu miring dan kemudian terbalik bersama Pak Sakaji yang masih erat memegang rantai emasnya.

Rantai emas yang berat itu menarik tubuh Pak Sakaji hingga terseret ke dalam sungai. Pak Sakaji berusaha menarik rantai itu. Namun, rantai itu malah melilitnya dan menyeretnya semakin dalam.

Pak Sakaji yang kehabisan udara, gelagapan di dalam air. Dengan susah payah dia melepaskan diri dan kembali ke permukaan. Dengan napas tersengal-sengal dilihatnya harta karunnya yang tenggelam ke dalam sungai. Dalam hati dia menyesal atas kebodohannya. Seandainya dia tidak terlalu serakah pasti kini hidupnya sudah berubah. Tapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Dan Pak Sakaji kembali ke rumah dengan tangan hampa.[SELESAI]

----------
*) Pendongeng maya yang mengurusi blog Cerita Rakyat Indonesia. Sapa melalui Twitter di akun @foklore atau di profile Google Plus.
0 Komentar untuk "Cerita Rakyat Indonesia #119: Si Miskin yang Tamak"

Back To Top