Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts
Showing posts with label Cerita Rakyat. Show all posts

Cerita Rakyat India: Anjing dan Kambing

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, June 16, 2014

Saking sukanya terhadap anjing dan kambing, seorang Raja asal India memerintahkan kepada menteri untuk memelihara kedua jenis hewan tersebut. Menteri yang dititahkan rajanya ini segera mengerjakannya.

Beberapa tahun setelahnya, Raja menerima laporan bahwa kedua hewan yang dipelihara tersebut berkembang secara tidak seimbang. Populasi kambing jauh lebih banyak dibandingkan populasi anjing. Mengapa demikian? Timbul pertanyaan di benak Raja. Dia pun memerintah Menterinya untuk mencari tahu apa sebabnya hal itu bisa terjadi?

"Sebelum hamba menjawabnya, izinkan hamba membuat percobaan," jawab Menteri. Raja pun mempersilakan.

Menteri kemudian meletakkan 10 ekor kambing dan 10 ekor anjing di kandang terpisah. Masing-masing diberi makan yang cukup. Kambing diberi rumput dan anjing diberi daging. Selang beberapa hari, Menteri pun mengecek hasilnya.

Cerita rakyat_India_anjing dan kambing

Pertama, Menteri membuka kandang kambing. Ketika membukanya Menteri menemukan kambing-kambing tengah tertidur pulas setelah memakan habis semua rumput yang diberikan. Kedua, ketika membuka kandang anjing Menteri menemukan kenyataan berbeda. Anjing-anjing di dalam kandang sedang saling berkelahi. Mereka memperebutkan daging makanan yang sejatinya diberikan untuk mereka. Yang paling parah adalah saking sibuknya berkelahi, mereka sampai lupa memakan daging makanan. Akhirnya, ada anjing yang terluka bahkan mati.

Menteri pun melaporkan apa yang telah ditemukannya kepada Raja.

Cerita rakyat Anjing dan Kambing ini telah ditulis ulang dan diedit sebagaimana mestinya dari sumber Duniaanda.com.
More aboutCerita Rakyat India: Anjing dan Kambing

Cerita Rakyat Rusia: "Masha and the Bear"

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, April 7, 2014

Cerita Rakyat Rusia "Masha and the Bear"

Ada sepasang pria dan wanita tua, yang memiliki cucu bernama Masha. Suatu hari beberapa teman Masha ingin pergi ke hutan mencari jamur dan buah berry. Mereka datang ke rumah Masha untuk mengajaknya turut serta. Masha bilang kepada kakek serta neneknya.

"Oma, opa, boleh ya aku pergi ke hutan," pinta Masha.

Kakek-nenek Masha mengizinkan dengan satu nasihat: Masha tidak boleh terpisah dari teman-temannya atau Masha akan tersesat.

Masha dan teman-temannya pun mencari jamur dan buah. Selama beberapa waktu mencari, tanpa terasa Masha telah terpisah dari teman-temannya. Masha memanggil-manggil temannya. "Hallo?"

Ternyata teman-teman Masha sudah tidak ada di dekat Masha lagi. Mereka semua sudah pergi meninggalkannya. Karena sudah malam, Masha berjalan mencari jalan pulang sampai akhirnya dia menemukan pondok kecil yang dihuni oleh beruang.

Cerita Rakyat Rusia: "Masha and the Bear"

Masha mengetuk pintu selama beberapa kali. Karena tidak ada jawaban, Masha membuka pintu dan duduk di dekat jendela. Dia ingin tahu siapa yang tinggal di sana.

Beberapa saat setelahnya, yang tinggal di pondok tersebut adalah beruang. Seekor beruang yang besar. Menemukan Masha di dalam pondokannya, beruang lalu menakut-nakutinya. Sehingga Masha menjadi takut. Beruang mengatakan jika dirinya tidak akan membuat Masha takut asalkan Masha membuatkan makanan dan mengurus rumah untuknya.

Selama beberapa waktu, Masha melakukan semua yang diperintahkan beruang. Namun dia rindu dengan kakek-neneknya dan juga teman-temannya. Karena itu Masha mencari akal untuk bisa pulang.

Masha kemudian meminta beruang untuk membiarkannya satu hari saja untuknya pulang ke rumah. Karena dia mau memberikan kue untuk dimakan kepada kakek-neneknya.

"Jangan. Kalau keluar sendirian kamu akan tersesat. Tapi... kalau kamu bersedia memberikan sebagian kue itu untukku, maka aku akan mengantarkannya kepada kakek-nenek kamu," kata beruang.

Masha pun membuat kue yang besar untuk dikirim kepada kakek-neneknya. "Silakan kamu bawa kue ini. Tapi aku akan naik ke pohon ek besar dan memantaumu. Awas kalau memakannya!"

Beruang menurut apa yang dikatakan Masha. Sebelum beruang menggendong kue itu dengan keranjang di belakang punggungnya, Masha menyelinap dan masuk ke dalam keranjang. Kemudian menutupi dirinya dengan kue.

Di tengah jalan beruang mau memakannya. Namun terdengar suara Masha dari dalam keranjang. Beruang pun tidak jadi memakan kue tersebut. Begitu seterusnya.

Akhirnya beruang sampai di depan rumah kakek-nenek Masha. Dengan cepat, beruang mengetuk pintu dan berteriak, "Aku membawa sesuatu untuk kalian dari Masha."

Kakek-nekek Masha pun segera keluar dan menemukan sebuah keranjang. Mereka membukanya dan terkejut ketika melihat Masha ada di dalamnya. Masha pun memeluk kakek dan neneknya. Mereka bersyukur Masha bisa selamat karena kepintarannya.

=====
Catatan: cerita rakyat dari Rusia ini kini sudah dibuat film animasinya dengan judul "Masha and the Bear". Cerita sudah sangat bertolak belakang dari cerita foklore di atas. Dalam film jelas lebih lucu, kocak, sekaligus menarik.
More aboutCerita Rakyat Rusia: "Masha and the Bear"

Cerita Rakyat Indonesia #140: Asal Mula Batu Kuwung

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, December 17, 2013

Ada sebuah cerita rakyat Banten yang mengisahkan tentang saudagar kaya, yang mempunyai sifat kikir dan sombong. Sifatnya itu membuatnya dia dijauhi oleh penduduk setempat. Pun begitu, saudagar itu cuek saja.

Dikisahkan dalam cerita rakyat Indonesia, suatu hari saudagar itu didatangi seorang pengemis. Pengemis itu minta makan barang sepiring. Sebab, dia belum makan apa-apa. Selain, makanan sisa yang diambilnya dari tempat sampah.

“Tuan,” pengemis itu bersuara pelan, “Boleh saya minta makan, Tuan. Saya lapar. Saya belum makan, Tuan.”

Melihat pengemis itu si saudagar langsung mengusirnya. “Hei, pengemis! Seenaknya saja kau minta makan padaku. Pergi sana! Kau pikir aku mencari duit untukmu?!”

Kata-kata yang dilontarkan si saudagar membuat si pengemis sakit hati. Dia pun pergi. Tapi, sebelum pergi dia sempat berujar, “Dasar orang sombong! Tunggu saja balasan yang akan kau terima!”

Si saudagar tidak bergeming dengan kata-kata si pengemis. Dia malah berkacak pinggang.

***

Beberapa hari setelah peristiwa itu. Saat bangun tidur si saudagar tidak bisa menggerakkan kedua kakinya. Berkali-kali dia mencoba tapi sia-sia. Kakinya tetap tidak bisa bergerak. Dia pun memanggil anak buahnya. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang laki-laki ke kamar si saudagar.

Dia pun langsung memerintahkan, “Cari tabib terbaik di seluruh tempat! Bawa ke sini. Minta mereka memeriksa kakiku!”

Selang beberapa waktu kemudian datanglah tabib terbaik dari seluruh penjuru negeri. Satu per satu mereka menyembuhkan kaki si saudagar. Hasilnya nihil. Mereka tidak bisa menyembuhkan kaki si saudagar.

Si saudagar pun putus asa. Dia minta semua orang keluar dari kamarnya. Tangisnya meledak hingga akhirnya dia kelelahan lagi dan tertidur. Dalam tidurnya, si saudagar bermimpi bertemu si pengemis. Si saudagar pun segera bertanya, “Kau apakan kakiku?”

“Saya tidak melakukan apa-apa terhadap kakimu. Tapi, kau sendiri?” jawab si pengemis.

“Aku?”

“Ya, kau. Sekiranya kau tidak kikir dan tidak sombong terhadap orang lain, kakimu pasti tidak apa-apa.”

Dalam mimpi itu, si saudagar berlutut. Dia minta maaf pada si pengemis telah menghardiknya. Kemudian, si saudagar bertanya bagaimana mengobati kakinya supaya bisa digerakkan kembali.

“Kau tidak perlu minta maaf padaku. Sebab, aku sudah memaafkanmu. Yang harus kau lakukan adalah ubahlah sifat sombongmu, bagikan sebagian hartamu, dan merenunglah di atas batu cekung,” jelas si pengemis.

“Baiklah, aku berjanji akan menepati semuanya.”

***

Dibantu para anak buahnya, si saudagar merenung di atas batu cekung selama 7 hari berturut-turut. Pada hari terakhir, keajaiban pun terjadi. Dari tengah-tengah batu cekung itu keluar sumber air panas. Si saudagar segera menghentikan perenungannya. Dia mandi di sumber air panas itu. Ajaibnya, kakinya pun bisa digerakkan kembali.

Setelah yakin kakinya kembali normal dia pulang ke rumah. Kemudian langsung membagi-bagikan hampir dari semua hartanya kepada orang miskin. Sifat kikirnya perlahan-lahan berubah menjadi sifat dermawan.

Cerita Rakyat Indonesia #140: Asal Mula Batu Kuwung

Batu cekung yang dipakai oleh si saudagar kemudian dikenal orang-orang dengan batu kuwung. Penduduk lokal mengistilahkan cekung sama dengan kuwung. Urban legend setempat mengatakan konon berbagai penyakit bisa disembuhkan di tempat wisata Batu Kuwung.

Pesan dari cerita rakyat diatas adalah hidup tidak selalu berjalan lurus seperti kemauan kita. Kadang tamparan keras justru akan mengubah kita menjadi lebih baik. Baca kumpulan dongeng Indonesia lainnya disini.[Skj]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #140: Asal Mula Batu Kuwung

Cerita Rakyat Indonesia #139: Asal-Mula Negeri Lempur

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, December 9, 2013

Di belantara Sumatera dulu pernah ada Kerajaan Pamuncak Tiga Kaum. Kerajaan tersebut dipimpin oleh tiga bersaudara, yang masing-masing bernama Pamuncak Rencong Talang, Pamuncak Tanjung Seri, dan Pamuncak Koto Tapus. Berikut cerita rakyat Indonesia yang diturunkan sampai sekarang dari mulut ke mulut orang-orang Jambi.

Cerita Rakyat Indonesia – Asal Mula Negeri Lempur

Suatu hari, Kerajaan yang berada di bawah pimimpin Pamuncak Rencong Talang berlimpah hasil panennya. Karena itu, hendak diadakan sebuah pesta panenan sebagai rasa syukur. Pesta panenan ini digelar dengan mengundang kerabat serta keluarga saja. Termasuk, keluarga Pamuncak Tanjung Seri – yang tak bisa hadir dan diwakili istri dan anak gadisnya.

Hari H pun tiba, istri Pamuncak Tanjung Seri dan anak gadisnya datang ke Kerajaan Pamuncak Rencong Talang untuk ikut merayakan pesta panenan. Anak gadis Pamuncak Tanjung Seri menjadi primadona dan banyak “ditaksir” para pemuda setempat.

Tak terasa waktu sudah menjelang pagi. Istri Pamuncak Tanjung Seri kemudian mengajak anaknya pulang. Namun, anaknya masih mau berada di sana, karena itu dia mengacuhkannya. Ketika itu seorang pemuda bertanya pada si gadis, siapa yang mengajaknya pulang. “Pembantuku…” ucapnya asal. Si ibu rupanya mendengar pernyataan tersebut. Sehingga, dia jadi sakit hati sampai mereka pulang keesokan harinya.

Saat keesokan harinya, istri Pamuncak Tanjung Seri yang kesal dengan tingkah anaknya menggumam. “Tuhan, sakit hatiku dikatai anakku sendiri pembantu.” Dari doanya itu terucaplah semoga anaknya dikenai hukuman ditelan rawa berlumpur. Nah, dalam dongeng Indonesia dikisahkan bahwa waktu keduanya berada di Pulau Sangkar dan Lolo yang berawa dan berlumpur Tuhan mengabulkan doa istri Pamuncak Tanjung Seri.

Entah bagaimana caranya, si gadis terpeleset hingga ia tercebur ke dalam rawa berlumpur. Dia meronta-ronta sekuat tenaga namun justru hal itu malah menambahnya cepat tenggelam ke rawa. “Ibu… tolong aku, Ibu,” teriak gadis yang telah melukai perasaan ibunya itu.

“Aku bukan ibumu. Aku pembantumu,” jawab ibunya, sambil mengambil gelang serta selendang jambi dari anaknya. Lalu, meninggalkan putrinya begitu saja.

Akhir dari cerita rakyat Indonesia adalah sejak kejadian tersebut, daerah rawa berlumpur itu dinamai Lempur, yang berasal dari kata “lumpur”. Sementara, gelang yang diambil ibunya dibuang di sebuat tebat. Sehingga, daerah tersebut dinamai Tebat Gelang. Baca kumpulan dongeng Indonesia.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #139: Asal-Mula Negeri Lempur

Cerita Rakyat Indonesia #138: Buaya Perompak Menculik Aminah

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Saturday, December 7, 2013

Di Lampung pernah ada cerita rakyat yang cukup mengerikan tentang buaya perompak yang mempunyai harta yang sangat banyak di goanya. Dikisahkan, buaya ini hidup di Sungai Tulang Bawang.

Ia sedih akibat hidup sendirian tanpa seorang kawan - dalam artian pendamping hidup. Karena itu, ia menculik seorang anak perawan untuk dijadikan istri. Berhari-hari buaya perompak mengintai dibalik diamnya demi mengamati anak gadis.

Selang beberapa hari kemudian datanglah seorang anak gadis ke Sungai Tulang Bawang. Si buaya perompak bersiap. Ia meluncur dari bawah air mendekati si anak gadis, yang ternyata bernama Aminah. Ketika Aminah mendekati bibir sungai, buaya perompak segera menyambarnya kemudian dengan cepat membawanya pergi.

Sementara itu, penduduk sekitar Sungai Tulang Bawang gempar mengetahui ada warganya yang hilang. Mereka pun mencari ke segala penjuru, sayang tak ada tanda-tanda dari sosok Aminah. Pencarian diteruskan, namun tetap saja tak ada apapun.

Di sebuah goa, Aminah terbangun dari pingsannya. Sekelilingnya dipenuhi oleh harta yang terbuat dari emas, kuning menyala terkena sinar matahari. Ia menyipitkan matanya ketika melihat sesosok yang ternyata seekor buaya ada di depannya. (Baca kumpulan dongeng anak lainnya)

Segera Aminah mundur beberapa langkah. Tapi, buaya itu mengatakan sesuatu. "Janganlah takut hai gadis muda," kata si buaya.

Aminah masih terdiam, pucat, dan ketakutan.

"Jangan takut, sebenarnya aku juga berasal dari manusia. Sama seperti kamu. Aku jadi seperti ini karena dikutuk atas perbuatanku yang suka merompak dan mengambil harta benda orang lain. Aku menyimpan semuanya di dalam sini dengan masuk melalui jalan rahasia yang tembus ke desamu. Tak ada yang tahu jalan rahasia itu," si buaya menjelaskan panjang lebar tentang asal-usul dirinya.

"Apa yang kamu mau dariku?" Aminah bertanya langsung.

"Hahaha..." Buaya tertawa, "Aku ingin kamu jadi pendampingku. Istriku."

Aminah terkejut. Bagaimana bisa ia menikahi buaya? Suatu hal yang tak mungkin dilakukannya. Perlahan-lahan, ia mulai bisa mengingat kenapa bisa berada di dalam goa ini. Ia berpikir beberapa lama sebelum menjawab. "Baiklah," kata Aminah akhirnya. Tapi ia pura-pura supaya pada waktu yang tepat ia bisa pulang meloloskan diri.

Dan waktu buaya tertidur pulas, Aminah pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera meloloskan diri melalui jalan rahasia itu sehingga sampai di desanya. Ia menceritakan semuanya pada orang-orang desa, dan mereka semua menutup jalan rahasia ke goa si buaya. Buaya perompak itu pun kembali hidup sendirian dan kesepian.

Pesan dari cerita rakyat Indonesia adalah "harta belum tentu menjamin kebahagiaan, terlebih ditambah perilaku yang tidak baik. Perilaku baik bisa mendatangkan ketenangan dan kebahagiaan."
More aboutCerita Rakyat Indonesia #138: Buaya Perompak Menculik Aminah

Cerita Rakyat Indonesia #137: Panembahan Senopati Menangkal Gunung Merapi Meletus

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Sunday, December 1, 2013

Dalam Babad Tanah Jawi dikisahkan sebuah cerita rakyat tentang Panembahan Senopati yang menangkal letusan Gunung Merapi. Dikisahkan Panembahan Senopati bertapa di Nglipura, daerah Bantul. Seselesainya bertapa Ki Juru Mertani menanyainya, "Apa yang kau dapatkan di dalam tapamu?"

"Saya mendapatkan lintang johar di Nglipura," jawab Panembahan Senopati.

"Apa lintang johar bisa menolak bala Gunung Merapi meletus?"

"Tidak, Paman."

"Kalau begitu," jelas Ki Juru Mertani, "Hanyutkanlah sebatang kayu di sungai. Naiklah kau di atasnya. Bertapalah lagi. Sesampainya di Laut Kidul kau akan bersua dengan Nyai Roro Kidul."

Cerita Rakyat Indonesia #137: Panembahan Senopati Menangkal Gunung Merapi Meletus

Panembahan Senopati melaksanakan apa yang diminta Ki Juru Mertani. Dan benar, saat sampai di Laut Kidul, ia bertemu dengan Nyai Roro Kidul. Dalam pertemuannya itu, disepakati bila Nyai Roro Kidul akan membantu Panembahan Senopati dalam menjaga Yogyakarta dari bala Gunung Merapi.

Sesudah pertemuan tersebut, Panembahan Senopati menemui Ki Juru Mertani.

"Apa yang kau dapat?" tanya Ki Juru Mertani.

"Saya bertemu dengan Nyai Roro Kidul. Saya diberi minyak Jayangkatong dan Telur Degan."

"Baiklah, Telur Degan yang kau dapat, berilah pada Ki Juru Taman."

Panembahan Senopati menuruti petunjuk Ki Juru Mertani. Ia menemui Ki Juru Taman dan memintanya memakan Telur Degan. Segera, secara ajaib, tubuh Ki Juru Taman membesar selayaknya raksasa.

Panembahan Senopati memerintahkannya untuk menjaga Gunung Merapi dengan posisi di Plawangan. Bila terjadi bencana, seperti meletusnya Gunung Merapi, maka ia yang bertugas menahan supaya lahar tak mengalir ke arah selatan. Itu sebabnya, mengapa aliran lahar tak pernah mengarah ke selatan.

Lalu, minyak Jayangketong sendiri digunakan untuk apa? Minyak itu diusapkan pada bocah laki-laki dan perempuan yang ada di Gunung Merapi. Setelah itu, secara fisik raga keduanya tidak kasat mata. Anak laki-laki itu kemudian dinamai Kyai Panggung, dan anak perempuannya dinamai Kyai Koso. Keduanya masih dipercaya menjaga Beringin Putih di utara masjid yang ada di selatan jalan. Benar atau tidaknya cerita ini dikembalikan kepada para pembaca sekalian. Misteri Gunung Merapi tetap berlanjut sampai kini.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #137: Panembahan Senopati Menangkal Gunung Merapi Meletus

Cerita Rakyat Indonesia #134: Sawunggaling, Cerita Legenda Asal Surabaya

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, November 7, 2013

Cerita rakyat Jaka Barek atau Sawunggaling atau Raden Mas Tumenggung Sawunggaling merupakan salah satu cerita legenda Surabaya. Ia dikenal sebagai tokoh sejarah, yang masih belum banyak diceritakan sejarah Indonesia. Sehingga, akhirnya penyampaiannya pun dilakukan dari mulut ke mulut.

Salah satu versi dari tokoh sejarah ini akan saya ceritakan berikut. Selamat membaca.

***

Ketika pulang ke rumah, muka Jaka Barek merah padam. Rupanya, ia menahan marah karena teman-temannya mengejek dirinya adalah anak haram. Di rumah, ia menemui ibunya yang ketika itu tengah bersama kakek - neneknya.

"Ibu, aku nggak tahan lagi," kata Jaka.

"Ada apa anakku. Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" timpal ibunya, Dewi Sangkrah.

"Ibu harus menjelaskan kepadaku, siapa sebenarnya bapakku. Kalau sudah meninggal tunjukkan makamnya, kalau masih hidup katakan dimana dia. Gara-gara dia aku sering diejek teman-temanku.

Dewi Sangkrah menghela napas, kemudian menengok ke arah kakak - nekek Jaka Barek. Memang sudah waktunya bagi dirinya untuk menjelaskan siapa sebenarnya bapak Jaka Barek. "Memang sudah sepatutnya ibu bercerita kepadamu. Dan ini waktu yang tepat. Bapak kamu itu masih hidup, Nak."

"Benarkah?" Mata Jaka Barek berbinar-binar, "Kalau begitu dimanakah dia?"

"Bapak kamu seorang Adipati di Kadipaten Surabaya. Namanya Jayengrana. Kesanalah kamu harus mencari untuk menemui bapakmu," kata Dewi Sangkrah.

***

Cerita Rakyat Indonesia #134: Sawunggaling, Cerita Legenda Asal Surabaya
Ilustrasi Sawunggaling.

Jaka Barek pun berniat mendatangi Kadipaten Surabaya untuk menemui bapaknya. Sesampainya disana, di depan gapura masuk, ia dicegat prajurit penjaga.

"Siapa kamu?"

"Saya Jaka Barek."

"Apa keperluanmu datang kemari?"

"Saya mau bertemu Adipati," jawab Jaka Barek.

"Tidak bisa. Lebih baik kau pergi sebelum kuusir dengan paksa," bentak prajurit itu.

"Tidak sebelum aku bertemu dengan Adipati Jayengrana," sahut Barek.

Tak tahan melihat tingkah Jaka Barek, prajurit penjaga itu segera menyerangnya. Jaka Barek melawan serangan itu.

Perkelahian itu diketahui oleh Sawungsari dan Sawungrana. Keduanya putra Adipati Jayengrana. Mereka melerai perkelahian tersebut. Tapi, setelah mengetahui maksud Jaka Barek yang ingin menemui Adipati Jayengrana karena mengaku-aku sebagai anaknya, sebagai hal yang mencurigakan. Mereka justru berkelahi dengan Jaka Barek.

Namun, semua itu terhenti saat Jayengrana mendatangi keributan itu. Ia menanyakan pada Jaka Barek apa maksud kedatangannya. Jaka Barek mengatakan jika dirinya datang untuk menemui bapaknya, Jayengrana.

"Apa yang membuktikan jika kamu ini anakku? Siapa nama ibumu?" tanya Jayengrana.

"Nama ibuku Dewi Sangkrah. Aku membawa ini, selendang Cinde Puspita."

Adipati Jayengrana mengenali itu semua. Ia percaya sekarang jika Jaka Barek adalah anaknya. Kepada Sawungsari dan Sawungrana, Jaka Barek diperkenalkan sebagai saudara. Begitulah, Jaka Barek kemudian berganti nama menjadi Sawunggaling.

***

Zaman mereka hidup, para kompeni Belanda sudah masuk ke tanah Jawa. Kadipaten Surabaya pun didtangi oleh utusan Belanda bernama Kapten Knol yang membawa surat dari Jenderal De Boor. Inti surat itu isinya mengakuisisi Kadipaten Surabaya dan Adipati Jayengrana dicabuk haknya sebgai adipati karena menolak bekerjasama dengan Belanda.

Disaat bersamaan ada woro-woro yang sebutkan jika di alun-alun Surabaya telah diadakan sayembara sodoran (perang tanding prajurit berkuda bersenjata tombak) dengan memanah umbul-umbul Yunggul Yuda. Hadiah bagi pemenang adalah diangkat sebagai Adipati Surabaya.

Adipati Jayengrana memerintah Sawungsari dan Sawungrana untuk mengikutinya. Di waktu yang berbarengan Sawunggaling juga turut serta. Dia pun memenangkan sayembara tersebut. Karena itu, ia diangkat jadi Adipati Surabaya. Plus, ia dinikahkan dengan putri Amangkurat Agung Kartasura, yaitu Nini Sekat Kedaton.

Kedua saudaranya iri. Mereka ingin mencelakai Sawunggaling dengan membubuhkan racun di minumannya. Beruntung, aksi tersebut diketahui oleh Adipati Cakraningrat dari Madura. Sehingga, berhasil digagalkan. Adipati Cakraningrat memberitahu jika Sawunggaling dikerjai dua saudaranya yang telah menjadi antek Belanda karena rasa irinya.

Sejak itu, Sawunggaling bertekad hancurkan Belanda. Dalam suatu pertempuran, ia berhasil hancurkan pasukan Belanda dan membunuh Jenderal De Boor.

-------
Baca kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya di sini.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #134: Sawunggaling, Cerita Legenda Asal Surabaya

Cerita Rakyat Indonesia #133: Cerita Legenda Batu Menangis

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Saturday, October 26, 2013

Mengenai cerita legenda batu menangis ini ada beberapa versi. Cerita rakyat yang saya kisahkan ulang ini berasal versi Kalimantan, dan bukan versi lainnya.

Cerita Legenda dan cerita rakyat Nusantara tentang Legenda Batu Menangis
Dikisahkan zaman dulu ada sepasang suami-istri. Si suami bernama Awang dan si istri bernama Sari. Setelah beberapa lama menikah, akhirnya Sari mengandung. Ketika tiba waktunya melahirkan, Sari dan Awang begitu gembira. Karena, anaknya sungguh cantik.

Hal yang unik adalah proses kelahirannya. Saat bayi cantik yang dinamai Putri ini lahir, cuaca sungguh tidak bersahabat. Angin bertiup kencang, gelap, dan pertanda buruk alam lainnya. Proses kelahiran inilah kelak mempengaruhi sifat Putri yang tidak sesuai dengan harapan orangtuanya.

Ya, setelah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik, perilakunya sedemikian buruk. Putri memiliki jiwa pemalas. Kerjanya setiap hari hanyalah bersolek tanpa pernah membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Sifatnya pun manja dan kekanak-kanakan. Dimana, setiap permintaannya harus dituruti tanpa peduli keadaan kedua orang tuanya.

Suatu ketika, Putri diajak Sari ibunya berbelanja di pasar yang terletak lumayan jauh dari rumahnya. Untuk mencapainya mereka harus berjalan melewati beberapa desa. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Putri bersolek sambil berjalan melenggak-lenggok bak bidadari. Terlebih-lebih ketika perjalanan pulang, Putri yang tidak mau membawa belanjaan membiarkan Ibu kerepotan membawa sendirian. [Baca kumpulan cerita rakyat Nusantara lainnya]

Hal ini Putri lakukan supaya dirinya terlihat orang-orang lebih dulu saat melewati desa. Dan betul saja, begitu melewati sebuah desa, banyak para pemuda memperhatikan dirinya. Mereka mengagumi kecantikan Putri yang tiada tara. Seorang pemuda sebut saja bernama Jafar memberanikan diri untuk bertanya kepada Putri.

“Hai, gadis cantik,” kata Jafar menyapa putri dengan ramah, “Boleh aku berkenalan denganmu?”

“Tentu saja,” sahut Putri. Dan berbincang-bincanglah mereka dengan akrab sampai akhirnya Jafar bertanya mengenai seorang perempuan renta yang bersamanya.

“Oh, bukan siapa-siapa? Ia cuma pembantuku.”

Kejadian serupa terjadi berulang-ulang setiap kali, Putri dan Ibu melewati desa. Para pemuda bertanya siapa perempuan yang bersama Putri. Dan Putri selalu menjawab dengan jawabanya yang tidak jauh berbeda, seperti “Ia budakku.” “Ia alas kakiku.”

Mendengar jawaban-jawaban seperti itu, Ibu sakit hati. Ia menggumam, “Ya, Tuhan, tega sekali anakku Putri berkata seperti itu kepada orang-orang. Apakah ia tak memikirkan perasaanku sama sekali. Sakit, Tuhan, sakit sekali hatiku mendengarnya. Aku tak tahan lagi. Berilah pelajaran kepadanya…”

Seketika, tubuh Putri membeku. Ia pun berteriak, “Ibu… Ibu… apa yang terjadi pada diriku?”

Ibu yang tidak menduga bahwa omongannya didengar oleh Tuhan, segera menghampiri Putri. Ibu juga menangis melihat keadaan Putri yang perlahan-lahan berubah menjadi batu.

“Ibu… Ibu… apa yang telah terjadi?” tanya Putri lagi.

Ibu menggeleng dan menjauh. “Tidak, Tuhan, tidak! Aku tidak menginginkan Putri menjadi batu. Aku menginginkan Engkau memberinya pelajaran, bukan dijadikan batu.”

Putri pun menangis. Ia tiba-tiba menyadari semua kekeliruannya telah menghinakan Ibunya. Namun, penyesalan selalu datang di akhir cerita. Dan itu terlambat! “Ibu… maafkan aku…” Dan tubuh Putri pun semua menjadi batu.

Konon, saat ini patung batu itu masih mengeluarkan air mata. Orang-orang menyebut batu ini sebagai legenda Batu Menangis. Demikianlah cerita dongeng yang berasal dari Kalimantan. Semoga bermanfaat.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #133: Cerita Legenda Batu Menangis

Cerita Rakyat Indonesia #132: Legenda Gunung Bromo - Suku Tengger

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Wednesday, October 23, 2013

Saya mengira ada kesamaan cerita antara legenda Gunung Bromo dengan cerita rakyat Candi Prambanan, setidaknya pada bagian awal. Namun, tetap ada perbedaannya, di mana letak perbedaannya? Baca sajalah...

*

Dikisahkan zaman dulu hidup pasang muda suami istri di suatu dusun. Sang istri akhirnya hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan. Anehnya, bayi perempuan ini sewaktu dilahirkan tidaklah menangis, sehingga kedua orang tuanya memberinya nama: Roro Anteng yang berarti perempuan yang tenang atau diam.

Waktu pun berlalu hingga Roro Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Kecantikannya terkenal di kalangan para jejaka saat itu. Tak terkecuali seorang sakti mandraguna bernama Kiai Bima. Berbekal kebringasannya alias kesaktiannya, Kiai Bima mendatangi Roro Anteng untuk melamarnya disertai ancaman. Lamaran tersebut harus diterima, jika tidak ia akan membuat dusunnya binasa.

Sebenarnya Roro Anteng merasa berat hati menerima lamaran tersebut. Namun, ia terpaksa menerimanya demi menyelamatkan dusunnya. Dan ia memiliki sebuah rencana untuk menggagalkan lamaran tersebut. Ya, Roro Anteng mensyaratkan kepada Kiai Bima jika ingin lamarannya diterima maka harus membuatkan sebuah danau dalam tempo satu malam.

Cerita Rakyat Indonesia: Legenda Gunung Bromo - Suku Tengger
Gunung Bromo.

Karena tak ingin kehilangan Roro Anteng, Kiai Bima menyanggupinya. Berbekal batok kelapa Kiai Bima mulai mengeruk tanah untuk dijadikan danau. Dalam waktu singkat, danau sudah tampak akan selesai. Roro Anteng yang telah bersiasat kemudian meminta orang-orang dusun untuk memukul-mukul alu supaya hari sudah terdengar pagi dan ayam mulai berkokok.

Kiai Bima segera sadar jika dirinya tidak berhasil menyelesaikan tantangan dari Roro Anteng. Ia pun tidak bisa memaksakan lamarannya. Hatinya yang kesal segera membanting batok kelapa yang dipegangnya kemudian meninggalkannya. Bekas batok kelapanya kemudian menjadi Gunung Batok yang terletak di sebelah Gunung Bromo. Sementara, bekas galiannya menjadi Segara Wedi (lautan pasir) yang bisa dilihat sampai saat ini.

Roro Anteng pun akhirnya bertemu Joko Seger dan menikah. Selama bertahun-tahun menikah mereka belum juga dikaruniai seorang anakpun. Akhirnya Joko Seger berdoa kepada sang pencipta jika dikaruniai anak, dia bersedia mengorbankan anaknya itu.

Doa Joko Seger dikabulkan. Roro Anteng dan Joko Seger pun dikaruniai beberapa orang anak. Waktu berlalu sampai-sampai Joko Seger lupa dengan syarat doanya dulu. Waktu tidur, Joko Seger mendapat bisikan untuk memenuhi janjinya.

Joko Seger sebenarnya tidak rela mengorbankan salah satu anaknya. Namun, karena jika tidak dituruti akan terjadi bencana dan lagipula itu adalah janjinya sendiri, maka ia menyampaikannya kepada anak-anaknya. Salah seorang di antara anak-anak Joko Seger dan Roro Anteng pun bersedia untuk dikorbankan.

Hari H pun tiba. Keluarga Joko Seger menuju kawah Gunung Bromo seraya membawa aneka hasil bumi untuk sesaji. Salah seorang anak Joko Seger yang dikorbankan juga telah disiapkan. Bersama sesaji anak tersebut terjun ke kawah Gunung Bromo tersebut.

Setelah janji tersebut dilaksanakan keluarga Joko Seger pun hidup bahagia di sekitaran Gunung Bromo. Keturunan mereka menamai diri Suku Tengger - yang berasal dari nama Roro Anteng dan Joko Seger.

Upacara pengorbanan anak-anak mereka masih bisa kita saksikan sampai sekarang. Di bulan purnama tanggal 14 atau 15 bulan Kasodo (penanggalan Jawa) dilakukan upacara Kasodo, di mana terdapat proses pelemparan sesaji ke kawah Gunung Bromo. Demikian ini merupakan cerita legenda Indonesia tentang Gunung Bromo ini.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #132: Legenda Gunung Bromo - Suku Tengger

Rumah Kristen Steward Bertema Cerita Dongeng 'Alice in Wonderland Dijual

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Friday, October 18, 2013

Pada 18 Oktober 2013, diberitakan jika rumah bertema cerita dongeng 'Alice in Wonderland' yang pernah ditempati oleh Kristen Steward dijual dengan harga yang cukup fantastis, US$ 1,75 (Rp 19,9 miliar).

Rumah Kristen Steward Bertema Cerita Dongeng 'Alice in Wonderland Dijual

Memang dilihat dari luar rumah dongeng ini hanya terlihat dipenuhi gambar serta pernak-pernik bertema 'Alice in Wonderland'. Di sebelah kolam renang, terdapat papan catur hitam putih plus bidak raksasanya. Tak ketinggalan, kelinci putih, salah satu karakter dalam dongeng 'Alice in Wonderland' dimural di salah satu dinding rumah. Kutipan yang sempat diucapkan Ratu Hati pun tertulis di samping gambar tersebut.

Lalu, apa yang menjadikan rumah ini mahal? Rupanya, interior di dalamnya punya nilai yang setara dengan harga penjualan. Rumah yang didirikan orangtua Kristen, yaitu John dan Jules-Mann Stewart juga memiliki ruangan yang sangat luas, yang dilengkapi full kitchen set mewahnya.

Coba lihat foto-foto berikut

Rumah Kristen Steward Bertema Cerita Dongeng 'Alice in Wonderland Dijual
Rumah Kristen Steward Bertema Cerita Dongeng 'Alice in Wonderland Dijual

Sumber: www.wowkeren.com/berita/tampil/00041375.html
More aboutRumah Kristen Steward Bertema Cerita Dongeng 'Alice in Wonderland Dijual

Wedhus Gembel, Pagelaran Teater Cerita Rakyat Jawa Hasil Kolaborasi Seniman Australia dan Indonesia

Diposkan oleh Cerita Rakyat

Pada 16 Oktober 2013, dikabarkan jika Snuff Puppets bekerja sama dengan seniman Yogyakarta gelar pentas teater yang bertema cerita rakyat Jawa, yaitu Wedhus Gembel. Snuff Puppet adalah yayasan seni yang berasal dari Australia, yang bergelut di dunia kesenian khususnya seni wayang orang - namun dengan kostum yang lebih kontemporer.

Kerjasama dengan seniman Indonesia ini bukanlah kali pertama. Sejak 2006, Snuff Puppets telah melakukan sejumlah kerjasama dengan para seniman Yogyakarta. Bagi keduanya, main dengan dua kultur yang berbeda tentu memiliki kesulitan yang juga berbeda. Namun begitu, kolaborasi keduanya hasilkan pentas teater yang unik. Bagi seniman Indonesia yang terlibat dalam pentas cerita rakyat ini tentu merupakan pengalaman tersendiri. Karena, penontonnya adalah masyarakat Australia.

Wedhus Gembel, Pagelaran Teater Cerita Rakyat Jawa Hasil Kolaborasi Seniman Australia dan Indonesia

Waktu cerita rakyat Nusantara Wedhus Gembel digelar di Federation Square, Melbourne, sejumlah warga memberikan respons yang luar biasa. Banyak anak-anak yang terhibur dengan plot cerita Wedhus Gembel. Anda bisa menyaksikan serunya pagelaran tersebut di video berikut ini.



Sumber: http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/2013-10-14/seniman-australia-dan-indonesia-kolaborasi-dalam-wedhus-gembel/1204432
More aboutWedhus Gembel, Pagelaran Teater Cerita Rakyat Jawa Hasil Kolaborasi Seniman Australia dan Indonesia

Cerita Rakyat Indonesia #131: Legenda Pesut Mahakam

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Saturday, October 12, 2013

Legenda Pesut Mahakam mengisahkan tentang asal-usul ikan pasut atau pesut dari Sungai Mahakam. Jika kalian ingin mengetahui secara lebih mendetail tentang ikan pesut Mahakam, silakan klik link berikut.

***

Dikisahkan zaman dulu di Rantau Mahakam, ada sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ketika ibu mereka meninggal karena sakit, kehidupan keluarga itu pun berubah. Sang ayah yang tadinya rajin bekerja menjadi pemurung dan enggan untuk bekerja. Ladang yang tumbuh subur pun perlahan-lahan mulai mengering dan hasilnya tidak seperti biasanya.

Demi melihat hal tersebut, anak-anaknya meminta ayah untuk bangkit lagi. Namun, hati ayah tetap sedih dan tak bergerak. Karena itu, anak-anak meminta sesepuh desa untuk memberi ayah nasihat. Hasilnya tetap sama, ayah menganggap nasihat tersebut hanya angin lalu.

Keadaan ini berlangsung cukup lama. Sampai suatu hari diadakan pesta adat panen, yang menampilkan berbagai macam pertunjukan seperti tari-tarian dan pertunjukan adu ketangkasan. Di antara para penampil, ada seorang gadis cantik yang mengundang begitu banyak perhatian dari orang-orang yang hadir. Saking menariknya, sampai-sampai ayah ingin melihatnya juga.

Di malam ketujuh, hari terakhir pesta adat panen, ayah menonton gadis itu meliuk-liuk menarikan dengan sungguh-sungguh. Terpikatlah hati ayah pada gadis itu. Terlebih ketika gadis melemparkan pandangan ke arah penonton. Gayung pun bersambut. Rupanya gadis juga menyukai ayah.

Dalam cerita rakyat, diceritakan setelah saling tertarik satu dengan lainnya, keduanya menemui para sesepuh desa untuk meminta restu. Juga tak lupa anak-anak ayah. Semua orang yang dimintai restu, sepakat dengan rencana ayah untuk menikah lagi. Lagipula, terlihat binar-binar mata ayah saat bersama dengan gadis. Pesta pernikahan pun digelar secara besar. Seselesai pesta pernikahan, berakhir pula kemuraman keluarga tersebut. Perlahan tapi pasti, mereka membangun kembali semua yang terbengkalai.

Namun, ternyata istri baru ayah sangat jahat kepada anak-anak. Dia selalu memberi anak-anak makanan sisa dari ayah. Puncak kejahatannya ini terjadi saat anak-anak disuruh untuk mencari kayu bakar di hutan tiga kali lebih banyak dari hari sebelumnya. Tentu hal ini memberatkan. Karena diancam akan diadukan kepada ayah, mereka menuruti saja perintah itu.

Ketika mencari kayu bakar di hutan, anak-anak tersesat tidak tahu jalan pulang. Mereka baru bisa pulang kala sore hari. Sesampainya di rumah, anak-anak lebih kaget lagi mengetahui rumah dalam keadaan kosong. Bukan itu saja, ayah dan ibu tirinya pun tak ada. Begitu pula perabotan. Alhasil, mereka menangis sejadi-jadinya.

Keesokan hari, mereka menukarkan kayu bakar kepada para tetangga dengan bekal makanan. Anak-anak berusaha mencari di mana ayah serta ibu tiri mereka. Perjalanan dua hari dua malam sudah mereka tempuh, namun belum ditemukan juga tanda-tanda keberadaan ayah. Hal ini membuat anak-anak patah arang. Bekal habis dan capek, membuat semangat mereka kendur. Beruntung mereka melihat sebuah pondokan yang ada asapnya. Ke sanalah mereka cepat-cepat.

Rupanya yang menempati pondokan itu adalah seorang kakek. Anak-anak segera bertanya pada kakek. Kakek itu mengingat-ingat barang sejenak, lalu mengatakan kalau dia melihat seorang perempuan dan seorang laki-laki pergi ke desa di seberang sungai. Anak-anak langsung ke sana dengan meminjam perahu kakek.

Benar saja, di ujung desa di seberang sungai, anak-anak menemukan sebuah pondokan baru dibangun. Ketika sampai di pondokan, tidak ada siapa-siapa. Yang ada hanya perabotan rumah tangga dan peralatan. Mereka segera mengenali semua itu adalah milik ayah. [Baca artikel lainnya dari kumpulan cerita rakyat Nusantara]

Anak-anak pun masuk ke dalam rumah. Di sana, mereka menemukan bubur yang masih panas dan segera memakannya karena rasa lapar yang tak tertahankan. Awalnya kakak yang memakannya hingga tersisa sedikit, lalu adiknya yang memakannya sampai tandas. Tapi, karena bubur yang mereka makan masih panas, dengan cepat suhu tubuh anak-anak naik.

Keduanya segera berlari-larian ke sana ke mari mencari air. Karena tak menemukan di dalam rumah. Mereka berlari keluar, berharap menemukan sungai. Semua pohon pisang yang dilewati oleh anak-anak mati kepanasan. Sesampainya di bibir sungai, tanpa berpikir panjang lagi mereka segera melompat ke dalam sungai.

Bersamaan dengan itu ayah dan ibu tiri datang. Mereka terkejut ada bungkusan milik kedua anaknya. Ibu tiri pun tak kalah terkejutnya menemukan periuknya telah kosong dan dia melihat banyak pohon pisang mati kepanasan. Ayah dan ibu tiri pun menyusuri pohon-pohon pisang mati tersebut sampai akhirnya mereka menemukan sungai. Dan, dua ekor hewan aneh yang menyemburkan air dari dalam kepalanya.

Legenda Pesut Mahakam

Pikiran ayah segera melayang kepada serentetang kejadian yang selama ini terjadi dalam kehidupannya. Ketika tersadar, dia tidak menemukan istrinya ada di sisinya. Rupanya istrinya itu sudah menghilang secara gaib. Barulah ayah tersadar jika istrinya bukanlah berasal dari kalangan manusia. Itu kenapa istrinya tak pernah mau menceritakan asal-usulnya.

Masyarakat pun datang untuk melihat hewan aneh itu. Kemudian, menamainya sebagai ikan pasut atau pesut. Orang-orang Mahakam sendiri menyebut ikan ini adalah Bawoi.

Demikian, Legenda Indonesia tentang Pesut Mahakam ini terkenal seantero negeri dari generasi ke generasi. Dikisahkan sebagai cerita rakyat Indonesia yang menjadi kekayaan khazanah sastra lisan Indonesia.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #131: Legenda Pesut Mahakam

Legenda Pesut Mahakam Bukan Hanya Mitos Belaka?

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, October 8, 2013

Ikan pesut berbeda dengan ikan lumba-lumba atau paus yang berhabitat di laut. Pesut yang dalam bahasa Latin Orcaella brevitostris berhabitat di sungai, khususnya di kawasan tropis. Indonesia, tepatnya Kalimantan Timur juga ada pesut. Asal-usulnya dikenal dengan "Legenda Pesut Mahakam".

Katanya sih dulu populasi pesut banyak. Saking banyaknya, pesut gampang ditemukan di muara-muara sungai di Kalimantan. Mulai terganggunya ekosistem pesut, menyebabkan mamalia ini termarjinalkan alias tersingkir, sehingga pesut dinyatakan sebagai hewan langka. Akhir populasi pesut menyurut, habitatnya pun juga menyusut. Di Sungai Mahakam, pesut masih bisa ditemukan. Sungai Mahakam, danau Jempang (15.000 Ha), danau Semayang (13.000 Ha) dan danau Melintang (11.000Ha) adalah tempat-tempat yang ada.

Legenda Pesut Mahakam

Secara morfologi, ikan pesut memiliki kepala bulat, dahi bundar dan kedua mata yang kecil - sepertinya hasil adaptasi terhadap habitatnya di air berlumpur. Namun, jangan salah, pesut juara untuk berenang di air paling keruh sekalipun. Warnanya abu-abu sampai wulung tua. Pada bagian bawahnya lebih pucat tanpa pola khas. Sirip punggungnya kecil dan membundar ke belakang sampai pertengahan punggung. Sirip dada lebar membundar.

Pesut hidup menggerombol dalam kawanan kecil. Di dunia ini, hanya ada tiga jenis pesut, yakni di Sungai Mekong (China), Sungai Irawady, dan terakhir Sungai Mahakam (tepatnya, Kalimantan Timur, Indonesia). Nah, penamaan pesut Mahakam sendiri memiliki dongengnya nih. Mau tahu ceritanya? Silakan baca dalam cerita rakyat Indonesia: "Legenda Pesut Mahakam". Selamat membaca ^^
More aboutLegenda Pesut Mahakam Bukan Hanya Mitos Belaka?

Cerita Rakyat Indonesia #130: Pangeran Biawak

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, September 30, 2013

Sebuah cerita rakyat yang baik tentu mengandung pesan (nilai moral) yang baik pula. Hal ini supaya nilai-nilai kebaikan tertanam dalam diri anak-anak sebagai subyek. Salah satu dongeng Indonesia yang baik adalah Pangeran Biawak. Dongeng ini jarang sekali dibacakan, tidak banyak referensi yang memuatnya. Namun, pesan di belakangnya sungguh baik sekali. Nah, silakan dibaca saja ya...

*

Dalam cerita rakyat Nusantara yang berasal dari Kalimantan Tengah dikisahkan ada seorang raja di pedalaman yang mempunyai tujuh putri. Semuanya masih gadis. Namun, karena sudah cukup umur semuanya, mereka hendak dinikahkan. Sayangnya, tak ada calon yang mereka miliki. Sehingga, mau tak mau, ayahanda mereka campur tangan.

Sebagaimana lazimnya adat di zaman itu, jika ada seorang gadis tak punya calon, maka ayahnya akan menghelat sayembara untuk mencari pemuda impian bagi anaknya. Begitu juga yang dilakukan oleh ayahanda ketujuh putri tersebut. Karena, istananya terletak di pinggir sungai, maka sang raja juga mengadakan sayembara untuk membangunkan kerajaan di pinggir sungai seberangnya.

Tak lama setelah sayembara diumumkan, datanglah enam pemuda untuk mengikutinya. Dalam tempo tak begitu lama, keenam pemuda ini berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan sang raja. Namun, sayembara belumlah berakhir. Masih menunggu satu pemuda lagi untuk menyelesaikan satu tantangan lainnya, yakni membuatkan jembatan untuk masing-masing istana ke istana raja. Ya, kan tadi keenam istana ini terletak berseberangan dengan istana raja.

Tunggu ditunggu, datanglah seorang ibu tua dan seekor biawak. Siapa mereka? Rupanya ibu tua ini adalah ibu dari biawak itu.

"Hamba datang ke sini untuk mengikuti sayembara yang tuan paduka adakan," jelas ibu tua.

"Baiklah, apakah Anda punya seorang anak laki-laki?" tanya sang raja.

"Ya. Aku punya seorang anak laki-laki, yang biasa saja."

"Tak masalah. Siapa pun dia bisa mengikuti sayembara ini."

"Nah, anakku, kamu sudah mendengar kata-kata raja sendiri kan? Berarti kamu boleh ikutan," kata ibu tua kepada biawak.

Semua orang terkejut. Bagaimana mungkin seekor biawak bisa memiliki ibu manusia?

"Kan tadi tuan paduka sudah bilang tak mempermasalahkan. Siapapun boleh ikutan sayembara ini. Apa tuan paduka ingin menarik ucapan sendiri?"

Sang raja berdiam diri sejenak, menimang-nimang. "Ya, aku sudah mengatakannya. Dan pantang bagiku menarik ucapanku. Baiklah, kamu ikutan biawak."

Biawak pun langsung bekerja. [Klik di sini untuk membaca kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya]

Sementara itu, raja berdiskusi dengan ketujuh putrinya. Dia bertanya siapakah di antara mereka yang ingin menjadi istri dari biawak? Sebuah pilihan sulit! Nyatanya, keenam putri raja tak ada yang mau, kecuali si bungsu.

"Aku bersedia, ayahanda. Ini demi nama baik ayahanda yang telah berjanji kepada biawak untuk menikah salah seorang di antara putri ayahanda. Tentu saja, aku tidak bisa mengorbankan kebaikan keenam kakakku."

Biawak rupanya bekerja terlalu cepat. Karena selesai berdiskusi, keenam jembatan sudah jadi.

Keesokan harinya digelarlah pesta pernikahan. Tampak, keenam putri raja bergembira, sedangkan si bungsu cuma muram. Dia mencoba menutupi kesedihannya. Ketika malam tiba, dan semua pengantin baru ini ke kamar masing-masing hanya di kamar si bungsu tak terdengar suara cekikikan. Si bungsu cuma tertidur begitu saja, setelah meletakkan biawaknya di sudut kamar.

Namun, keesokan paginya, dia terkejut menemukan seorang pria tampan tidur di sisinya. Dia menjerit dan pengawal raja masuk ke kamarnya. Namun, tak ditemukan pria tampan itu. Si putri hanya menunjuk-nunjuk biawak. Pria tampan itu sudah berubah kembali menjadi biawak. Tapi, tak seorang pun pengawal percaya. Mereka hanya menganggap si bungsu sedang bermimpi buruk karena habis menikahi biawak.

Begitu yang terjadi selama beberapa malam. Namun, si bungsu tak lagi terkejut dengan kehadiran pria tampan tersebut. Justru dia bertanya mengapa suaminya yang cakep itu bisa berubah jadi biawak. Kata suaminya, dia berubah jadi biawak karena dikutuk. Si bungsu kemudian ke sudut kamar, dia menemukan kulit biawak yang akan dikenakan oleh suaminya menjelang pagi. Kali itu, si bungsu punya ide untuk membakarnya saja. Walhasil, suami si bungsu pun tak berubah kembali jadi biawak.

Sungguh senang hati si bungsu. Kemudian, keenam kakaknya merasa sedih juga kenapa dulu mereka tak mau. Itulah balasan bagi orang yang mau berbakti kepada orang tua. Demikian kisah Pangeran Biawak, sebuah cerita rakyat Indonesia dari Kalimantan Tengah.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #130: Pangeran Biawak

Cerita Rakyat Indonesia #129: Asal-usul Sungai Palu

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, September 24, 2013

Secara administratif, Sungai Miu dan Sungai Gumasa merupakan bagian dari Sungai Palu-Lariang, yang terletak di Kabupaten Sigi Bromaru, bagian dari Provinsi Sulawesi Tengah. Dalam cerita rakyat Indonesia kisah Bolampa, dikisahkan bahwa dulu, duluuu sekali Sungai Miu dan Sungai Gumasa merupakan dua anak sungai yang terpisah dua. Namun, sebuah kejadian membuatnya menjadi satu. Kejadian apa itu? Peristiwa itu merupakan peristiwa kelam yang sangat memilukan hati.

Dikisahkan bahwa Raja Palu memiliki seorang permaisuri dan putra bernama Bolampa. Satu hal yang diwariskan Raja Palu kepada Bolampa adalah kesaktiannya. Dia juga kebal terhadap segala macam senjata.

Di tengah kegembiraan keduanya mengasuh Bolampa. Permaisuri hamil lagi. Namun, hal ini diam-diam menimbulkan kecemburuan di hati Bolampa. Karena, besar kemungkinan kasih sayang yang selama ini tercurahkan untuknya akan tidak ditujukan lagi untuknya, melainkan untuk adiknya.

Pada saat bersamaan, Raja Palu menderita sakit hingga menyebabkannya meninggal dunia. Kesedihan pun mewarnai Kerajaan Palu. Termasuk permaisuri dan Bolampa. Bolampa yang hatinya masih diliputi iri dengan kehadiran adiknya, segera minggat ke Desa Sidiru, di daerah Sibolga. Di sana, dia melampiaskan dendam kepada orang-orang secara membabi buta. Karena, dia terlalu kuat, tak pelak, Bolampa membuat tewas orang-orang itu. Hal ini tentu membuat masyarakat Sidiru jengkel terhadapnya. Namun, kesaktian yang diwariskan dari ayahnya membuatnya tak bisa dibunuh dengan mudah.

Bolampa heran, mengapa dia sampai bisa membunuh orang-orang. Sementara, dia sendiri tidak bisa dibunuh, bahkan kebal terhadap senjata apapun. Rasa penasaran membawanya untuk merasakan bagaimana kematian itu. Lalu, dia menyerahkan dirinya kepada orang-orang Sidiru. Orang-orang Sidiru menyambutnya dengan gembira. Namun, mereka bertanya kepada Bolampa bagaimana cara membunuh dirinya. Sedangkan, senjata yang mereka gunakan tidak mempan terhadapnya.

Bolampa kemudian mengatakan, "Bunuhlah aku selepas aku menjatuhkan diri dari pohon kelapa itu."

Bolampa kemudian naik pohon kelapa dan menjatuhkan dirinya. Orang-orang Sidiru pun mengikuti arahan Bolampa. Mereka menusuk Bolampa dalam keadaan lemah. Segera saja Bolampa tewas di tangan mereka. Jenazah Bolampa kemudian dibawa ke baruga (rumah adat) Raja Sidiru. Kepala Bolampa dipenggal dan diletakkan di tiang baruga. Setelah sebelumnya diberi tanduk yang terbuat dari emas.

Sewaktu anaknya meregang nyawa, ibu Bolampa yang sedang hamil tua berfirasat. Hatinya "kontak" dengan kejadian yang menimpa anaknya. Maka, dia mencari anaknya di Sidiru dan sampai di rumah Raja Sidiru. Begitu kaget dia melihat kepala Bolampa berada di tiang baruga. Dipanggillah Raja Sidiru sambil ngoceh-ngoceh tak karuan. Raja Sidiru pun membunuhnya. Kemudian, jenazahnya disimpan di peti mati kayu. Beberapa hari berikutnya, bayi yang dikandung permaisuri Palu lahir. [Baca kumpulan cerita rakyat Nusantara lainnya]

Bayi itu diambil oleh Raja Sidiru dan diserahkan kepada orang tua yang belum dikaruniai anak untuk dirawat. Orang tua itu senang mendapat anak dari Raja Sidiru. Mereka merawat dan mendidik anak titipan itu dengan baik dan memberinya nama Tuvunjagu. Tapi, dasar keturunan Bolampa, anak itu punya kekuatan dan sifat yang sama. Setelah dewasa, Tuvunjagu sering membunuh teman-temannya. Kedua orang tua yang semakin renta itu segera menceritakan semuanya tentang asal-usul Tuvunjagu.

Dipanggilnya Tuvunjagu untuk diceritakan asal-usulnya. "Nak, kemarilah. Bapa mau cerita sesuatu kepada kau."

"Ada apa Bapa?"

"Itu kau pernah lihat tengkorak yang terpancang di tiang baruga Raja Sidiru?"

"Ya, pernah Bapa."

"Itu adalah abang kau."

Dan diceritakan secara rinci mengenai Bolampa, ibunya, dan Tuvunjagu sendiri.

"Oh, jadi yang membunuh ibu dan kakakku adalah Raja Sidiru?" tanya Tuvunjagu dengan penuh dendam. Dendam kesumat pun bergumul di hati Tuvunjagu.

*

9 tahun berikutnya...

Raja Siddiru mengadakan pesta. Kesempatan ini tidak disia-siakan Tuvunjagu. Dia datang ke pesta itu dan mengajak putri semata wayang Raja Sidiru menari raego. Beberapa saat menari, tiba-tiba Tuvunjagu menarik parangnya dan menebas leher putri Raja Sidiru sampai pisah dari badannya. Tuvunjagu pun mengambil kepala itu dan berlari dengan cepat ke Palu. Sesampainya di Palu dia menancapkan kepala putri Raja Sidiru di tiang baruga Palu. Hal ini dilakukan sebagai pembalasan dendamnya.

Raja Sidiru segera mengumpulkan orang-orangnya untuk membalas dendam. Namun, seorang penasihat memberikan saran yang lebih bijaksana.

"Dulu, ketika Bolampa dan ibunya kita bunuh, tidak ada orang Palu yang datang ke Sidiru. Lebih baik kita buat jarak saja dengan Palu supaya Tuvunjagu tidak datang ke sini lagi supaya tidak terjadi pertumpahan darah yang lebih besar."

"Bagaimana caranya?" tanya Raja Sidiru.

"Dengan menyatukan Sungai Mui dan Sungai Gumasa."

Usul ini diterima Raja Sidiru yang langsung memerintahkan rakyat untuk menyatukan kedua sungai itu. Setelah beberapa bulan bekerja, akhirnya kedua sungai itu menyatu. Tuvunjagu pun tak pernah kembali lagi ke Sidiru. Kini, kita mengenalnya dengan nama Sungai Palu. Demikian, cerita rakyat Sulawesi tentang asal-usul Sungai Palu.

------
Sekadar catatan: cerita kali ini mengandung kekerasan. Besar kemungkinan tidak baik untuk konsumsi anak-anak. Harap hati-hati bagi para tukang copas untuk memberikannya kepada anak sebagai tugas sekolah. 
More aboutCerita Rakyat Indonesia #129: Asal-usul Sungai Palu

Cerita Rakyat Indonesia #128: Datu Pamona

Diposkan oleh Cerita Rakyat

Datu Pamona dikenal sebagai raja yang memerintah kawasan Pamona, yang punya Istana Langkanae dan beristri Monogu. Dia bukan berasal dari masyarakat setempat. Konon, cerita rakyat Indonesia menyebutkan bahwa Datu Pamona datang dari seberang lautan. Dia putra Raja Hindu yang datang ke Pamona dan membuat ramai kawasan setempat. Hal ini terjadi dulu sekali, saat orang-orang di Danau Pamona masih primitif.

Dikisahkan bahwa para penduduk Danau Pamona masih hidup secara nomaden. Mereka bertahan hidup dengan cara berburu binatang dan mengambil buah-buahan dari alam. Kebiasaan ini berubah tatkala datang tujuh orang Hindu dari seberang lautan. Ketujuh orang Hindu ini kemudian menetap di kawasan Danau Pamona sampai mereka beranak pinak.

Ketujuh orang ini mengajarkan kepada masyarakat keahlian yang mereka punyai, yaitu melukis, mematung, dan bercocok tanam. Sejak itu, kehidupan masyarakat setempat berubah. Dari hidup nomaden menjadi hidup menetap. Dari berburu kini menjadi pembuat makanan. Kedatangan ketujuh orang Hindu ini membuat kawasan tersebut perlahan-lahan ramai. Kemudian, mereka juga mengajak kelompok mereka tinggal di Pamona. Bahkan, populasi manusia di wilayah Pamona makin meluas sampai ke Bada dan Napu.

Ketika makin meluas, tanah untuk bermukim semakin sedikit. Orang-orang mulai berselisih mengenai patok tanah. Karena itu, timbullah keinginan untuk memiliki seorang pemimpin yang bisa dipanuti, adil, serta bijaksana. Dicarilah orang-orang lokal. Rupanya, agak sulit mencari seseorang dengan spesifikasi dari masyarakat setempat. Memang ada beberapa calon, namun masyarakat masih kurang sreg.

Di saat seperti itu, datanglah dua orang berkulit sawo. Keduanya putra Raja Hindu. Sebenarnya ada tiga, namun yang pertama sudah menetap dan dijadikan raja di Sigi. Kedua orang itu disambut dengan baik oleh masyarakat setempat, karena perbawa mereka yang santun dan bisa mengayomi. [Sila baca kumpulan cerita rakyat lainnya]

Setelah tinggal selama kurang lebih enam bulan lamanya, yang termuda di antara kedua putra Raja Hindu pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Luwu disertai 6 orang pemuda Pamona. Mereka berangkat menggunakan perahu melalui Danau Poso ke Tandompomuaka. Kemudian, menuju ke Kuala Kodina. Sesampainya di sana, ketiga orang dari enam orang pengantar kembali ke Pamona. Sisanya ikut si pemuda sampai ke Luwu. Di Luwu, si pemuda dijadikan raja dan tiga pengantarnya kemudian dijadikan pengawalnya.

Sedangkan, si pemuda yang tetap tinggal di Pamona, yang bernama Lelealu, dipandang masyarakat Pamona bisa dijadikan sebagai panutan. Karena sikap-sikap yang ditunjukkannya selama ini. Mereka sepakat menjadikan Lelealu jadi Raja Pamona. Untuk lebih afdolnya, Lelealu juga dinikahkan oleh gadis setempat bernama Monogu.

Pasca menikah dengan Monogu, Lelealu segera diangkat jadi raja bergelar Datu Pamona-Rombenunu. Datu Pamona pun dihadiahi Istana bernama Langkanae. Dia memerintah Pamona dengan keadilan yang biasa ditunjukkannya sehari-hari.

------
Diceritakan ulang secara bebas dari buku: Proyek Penerbitan dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Cerita Rakyat Sulawesi Tengah, Jakarta: Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1981.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #128: Datu Pamona

Cerita Rakyat Indonesia #127: Jampang, Jagoan Betawi

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Saturday, September 21, 2013

Satu lagi cerita rakyat yang sangat legendaris dari tanah Betawi. Namanya Jampang. Ketenaran tokoh ini sebelas dua belas dengan ketenaran tokoh Pitung. Malah sekarang ada pantunnya: "Bang Jampang minum sekoteng, silakan bilang saya ganteng." *halah, lupakan ocehan tak berguna ini*. Sila baca sendiri saja ya ^^, mudah-mudahan terhibur, syukur jika bermanfaat.

Untuk dicatat para pembaca blog saya ini, bahwasanya versi yang saya ceritakan ulang ini diilhami dari situs silatindonesia. Tapi, bukan saya kopas lho.

Jampang, Jagoan Betawi

Disebutkan dalam cerita rakyat Betawi bahwa Jampang itu berasal dari Banten, yang belajar ilmu beladiri dari Ki Samad (Shomad) di Gunung Kepuh. Dia salah satu di antara dua murid kesayangan Ki Samad. Selain dirinya ada seorang lagi bernama Sarba. Kedua orang seperguruan ini sudah lama menimba ilmu silat di tempatnya Ki Samad. Lantaran itulah, tibalah saat bagi keduanya untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Sebelum meninggalkan padepokan, Jampang dan Sarba diberi satu nasihat terakhir oleh gurunya Ki Samad, yakni harus berhati-hati menggunakan ilmunya (ilmu silat maksudnya, red.). Jangan sampai diamalkan di jalan yang salah.

Jampang, salah satu tokoh cerita rakyat Betawi.

Pada awalnya, Jampang dan Sarba pulang bersama-sama hingga mereka bertemu centeng-centeng Juragan Saud, yakni Gabus dan Subro. Yang suka semena-mena kepada orang lain. Ceritanya, Jampang dan Sarba pun makan di warung nasi di tengah jalan. Dan, mereka berdua bertemu dengan keduanya yang tidak mau bayar makanannya. Melihat hal tersebut, Jampang dan Sarba yang suka menolong kaum lemah ini segera menggulung Gabus dan Subro. Dari sinilah, nama keduanya mulai terkenal. Sesudah menggulung para centeng Juragan Saud, Jampang dan Sarba berpisah.

*

Di kampungnya, Jampang mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya di padepokan Ki Samad dengan mengajari para pemuda kampung, terutama para santri Haji Baasyir. Melihat ketekunan Jampang mengajari santri-santrinya membuat Haji Baasyir meminta Jampang untuk mengantarkan surat ke Haji Hasan yang tinggal di Kebayoran. Dengan penuh takjim, Jampang melaksanakan keinginan Haji Baasyir.

Tak butuh waktu lama bagi Jampang untuk bisa sampai ke kawasan Kebayoran. Karena, jarak antara kampungnya dengan Kebayoran tergolong dekat, cukup berjalan kaki setengah hari. Dan nyatanya, ketika adzan dzuhur berkumandang bertalu-talu, Jampang sudah sampai. Namun, di sana kepiawaiannya bersilat harus dibuktikan dengan melawan kelaliman.

Ketika Jampang berjalan di tepi sungai, dia mendengar suara seorang wanita menjerit ke arahnya. Rupanya, gadis ini hendak dinakali oleh seorang laki-laki bejat yang belakangan diketahui bernama Kepeng, anak buah Jabrig, jawara setempat. Dan, gadis yang hendak dinakali itu bernama Siti, anaknya Pak Sudin.

Segera, terjadi perkelahian antara Jampang dengan Kepeng. Pada akhirnya, Kepeng pun berhasil dikalahkan oleh Jampang dengan jurus-jurusnya. Setelah keadaan aman, Jampang mengantarkan Kepeng ke rumahnya, menemui orang tuanya, Pak Sudin. Pak Sudin kemudian mengantarkan Jampang ke rumah Haji Hasan untuk mengantarkan surat titipan Haji Baasyir.

Setelah bertemu dengan Haji Hasan dan surat itu dibuka, ternyata surat itu adalah anjuran dari Haji Baasyir agar kampungnya dilatih oleh pemuda ganteng pintar silat bernama Jampang. Hal ini untuk menertibkan keamanan di Kebayoran. Memang waktu itu, daerah-daerah pinggiran Betawi tidak aman. Haji Hasan pun menyetujui usulan tersebut. Dan mulai keesokan harinya, Jampang mengajari para pemuda setempat untuk belajar silat. [Kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya]

Kabar ini segera diketahui Kepeng, yang kemudin melapor kepada Jabrig. Jagoan-jagoan ini panas hati melihat Jampang mengajari anak-anak setempat silat. Karena itu, mereka berniat membuat onar. Datanglah mereka ke tempat latihan Jampang and friends, dan segera berbuat huru-hara. Namun, hal ini langsung ditangani Jampang. Sehingga, Jabrig and the gank tidak bisa berbuat apa-apa.

Sesudah mengalahkan jagoan kampung ini, Jampang merasa tugasnya sudah selesai. Dia sudah mengajari anak-anak Kebayoran dasar-dasar bela diri. Dia juga sudah menghajar jawara kampung supaya kapok mengganggu. Dia kemudian pamit kepada Haji Hasan.

*

Di kampung halaman, rupanya fitnah sudah menanti Jampang yang disebarkan oleh Gabus dan Subro - dua preman yang dikalahkan dulu. Jampang difitnah telah mencuri dua ekor kerbau milik Juragan Saud. Tampaknya mereka berdua ingin menjebloskan Jampang ke dalam penjara.

Jampang pun meminta petunjuk Haji Baasyir. Saran dari Haji Baasyir adalah menemui Juragan Saud dan menyadarkannya. Bukannya menuruti saran Haji Baasyir, Jampang justru punya pemikiran lain. Dia ingin memberi pelajaran kepada Juragan Saud. Di rumah Juragan Saud, Jampang mengambil kerbau dan barang-barang berharga. Kemudian membagi-bagikannya kepada masyarakat kecil yang membutuhkannya.

Hal ini jelas memicu kekesalan tersendiri di hati Juragan Saud, yang kemudian memanggil para opas untuk menangkap Jampang. Para opas lalu mencari Jampang. Ada yang menyebutkan Jampang telah berhasil ditembak. Tak ada bukti bahwa Jampang mati. Menurut cerita rakyat Indonesia yang berkembang, Jampang aman. Dia bahkan menikahi Siti, anak Pak Sudin yang pernah diselamatkannya dulu.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #127: Jampang, Jagoan Betawi

Cerita Rakyat Indonesia #126: Asal-Usul Candi Muara Takus

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, September 16, 2013

Memang cerita rakyat Indonesia asal-usul Candi Muara tidaklah sepopuler situs ini sendiri. Pun demikian, keberadaan sastra lisan ini adalah bagian yang tak terlepas dari keberadaan situs kompleks Candi Muara Takus itu sendiri.

*

Dikisahkan, dulu di Sumatera, ada seorang pria bernama Datuk Tukang Ubek yang sokonya hilang. Dia lantas meminta bantuan dua temannya, yaitu Datuk Tukang Tembak dan Datuk Tukang Solam, untuk menemaninya mencari Sokonya itu.

Berangkatlah ketiganya bertapa di tempat Koto Pondam. Setelah selesai mereka kembali berlayar menuju Dondang. Ketika mereka sampai di Laut Merah, terdengar seseorang berteriak meminta pertolongan. Rupanya itu suara seorang perempuan yang sedang dicengkeram oleh elang bangkai.

Ketiganya kemudian menolong perempuan itu, dan berhasil mendapatkannya. Nama perempuan itu adalah Putri Reno Bulan - itu terlihat dari gelang yang ada di tangannya. Setelah itu, ketiga datuk itu saling berebut untuk mengantarkan si perempuan. Karena tidak ada titik temu, akhirnya mereka menemui Datuk Singo Mahadiraja untuk memutuskan siapa di antara mereka yang berhak mengantarkan si perempuan. Setelah beberapa saat, akhirnya Datuk Singo Mahadiraja memutuskan bahwa Datuk Tukang Ubek-lah yang berhak mengantarkan Putri Reno Bulan ke rumahnya.

*

Rupanya, Putri Reno Bulan adalah orang India, yang diculik oleh burung elang dari rumahnya. [Baca artikel tentang kumpulan cerita rakyat dan dongeng]

Ibunda Putri Reno Bulan, yakni Putri Andam Dewi, gelisah anaknya tak pulang-pulang. Karena itu, dia memanggil peramal untuk mengetahui di mana putrinya berada. Sang peramal pun membeberkan kisah sebenarnya bahwa Putri Reno Bulan dalam keadaan selamat dan berada di Sumatera.

Usai mendapat penjelasan sang peramal, Putri Andam Dewi serta suaminya Raja India berangkat ke tanah Sumatera bersama para bawahannya. Sesampainya di tanah Sumatera, rombongan ini pun bertemu dengan Putri Reno Bulan.

Putri Reno Bulan menceritakan bahwa dia telah ditolong oleh tiga orang datuk. Demi membalas kebaikan hati mereka, Putri Reno Bulan meminta ayahnya untuk membuatkan sebuah istana untuk mereka seperti di India. Keinginan tersebut lantas dikabulkan oleh Raja India.

*

Untuk membangun istana yang dimaksud Putri Reno Bulan, membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Sehingga, masyarakat sekitar serta bawahan Raja India bahu-membahu membangunnya. Beberapa waktu kemudian, sesuai waktu yang direncanakan, selesai sudah bangunan yang dimaksudkan.

Raja India pun menyerahkan bangunan tersebut dengan pesta penyerahan. Kini istana yang dibangun itu dikenal dengan nama Candi Muara Takus.

Demikian cerita rakyat tentang asal-usul nama Candi Muara Takus berasal.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #126: Asal-Usul Candi Muara Takus

Cerita Rakyat Indonesia #126: Kelenteng Ancol

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, September 10, 2013

Sejarah Kelenteng Ancol memang panjang. Konon, Kelenteng yang dalam bahasa Tionghoa disebut Da Bo Gong Miao atau Kelenteng Da Bo Gong ini dibangun sejak 1650.[1] Keterangan soal tahun pembangunan ini senada dengan prasasti yang terdapat dalam kelenteng pada restorasi tahun 1923. Pembangunan kelenteng Ancol sendiri didasarkan pada cerita cinta Sampo Soei Soe dengan Siti Wati. Kisah ini diturunkan dari mulut ke mulut, dan telah menjadi cerita rakyat Betawi yang terkenal.

*

Dikisahkan Sampo Toalang dan anak buahnya berlayar dari China menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Di tengah perjalanan, kapal yang mereka tumpangi oleng akibat diterjang ombak yang begitu besar. Hal yang sungguh mengherankan, mengingat cuaca sedang cerah.

Namun, keheranan Sampo Toalang beserta anak buahnya terjawab, tatkala muncul seekor naga menghadang laju kapal. Rupanya, gelombang ombak yang terjadi disebabkan oleh naga laut itu.[2]
Sampo Toalang tak tinggal diam. Dia maju menghunuskan pedangnya. Pertarungan dua makhluk beda habitat itu segera berlangsung seru, dan dimenangkan oleh Sampo Toalang di akhir pertarungan. Anak buah Sampo Toalang pun bersorak gembira karena tak ada lagi yang menghalangi mereka. Karena itu, laju kapal Sampo Toalang tak terbedung lagi untuk segera sampai ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ketika mendekati Pelabuhan Sunda Kelapa, mendadak Sampo Tualang memerintahkan anak buahnya untuk berhenti di Ancol. "Saudara-saudara, kita berlabuh di Ancol. Sunda Kelapa sedang dilanda banjir. Selama didarat kalian semua kerjakan tugas masing-masing dengan baik."

Dalam cerita rakyat Indonesia disebutkan jika para anak buah Sampo Toalang menyebar, mengerjakan tugas masing-masing. Di antara para anak buah Sampo Toalang itu, ada seorang juru masak bernama Ming[3]. Tugasnya selama berlabuh di Ancol adalah membeli bahan makanan sebagai bekal perjalanan di laut.

Namun, bukannya mengerjakan tugasnya dengan benar, Ming justru kepincut gadis lokal saat dia tengah sibuk berbelanja. "Siapakah gerangan gadis itu?" tanya Ming dalam hati. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ming segera menghampiri gadis yang dilihatnya itu dan menyapanya tanpa sungkan.

"Salam. Namaku, Ming. Boleh aku berkenalan dengan Anda, Nona?"

Gadis itu tersenyum. Dengan ramah, dia juga memperkenalkan dirinya. "Salam. Namaku, Siti. Lengkapnya Siti Wati."

Begitu berkenalan dengan Siti Wati, Ming memutuskan untuk menetap di Ancol. Dia mengundurkan diri sebagai juru masak di kapal Sampo Tualang. Sampo Tualang sih tak masalah dengan keputusan Ming.

Cerita Rakyat Indonesia Kelenteng Ancol

Singkat cerita, Ming dan Siti Wati akhirnya menikah. Di Ancol, Ming terkenal sebagai juru masak yang piawai meracik masakan dan memperkenalkan resep warisan leluhur yang diketahuinya kepada masyarakat Ancol.

Setelah bertahun-tahun tinggal di Ancol, Ming dan Siti Wati sakit keras dan meninggal dunia. Masyarakat Ancol pun membangun sebuah kelenteng demi mengenang kebaikan mereka berdua. Kelenteng itu dinamai Kelenteng Ancol.

Demikianlah cerita rakyat Indonesia Kelenteng Ancol yang legendaris. Mungkin terdapat banyak perbedaan dengan fakta sejarahnya. Namun, begitulah ceritanya.

[1] Berdasarkan buku yang ditulis A Tesseire tahun 1792. Artikel selengkapnya bisa dibaca di http://www.shnews.co/detile-10294-kelenteng-ancol-sejarah-dan-bumbu-asmara.html.
[2] Soal naga, Anda bisa membacanya di http://panggoengsandiwara.blogspot.com/2008/06/cerita-rakyat-betawi-klenteng-ancol.html.
[3] Namun sumber-sumber yang saya baca menyebutkan namanya bukan Ming, melainkan Sam Po Soei Soe.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #126: Kelenteng Ancol

Cerita Rakyat Jepang: Urashima Taro

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Sunday, September 8, 2013

Dalam kumpulan cerita rakyat Jepang yang terkenal, ada satu karakter bernama Urashima Taro. Dia seorang nelayan baik hati di Jepang.

Dikisahkan, di Provinsi Tango, Jepang, ada seorang nelayan bernama Urashima Tarō. Suatu hari, ketika memancing ikan di laut, Tarō mendapatkan penyu yang besar. Alih-alih menangkapnya, Tarō memilih melepasnya dengan alasan penyu bisa hidup selama 10.000 tahun. Sungguh sayang jika dibunuh.

Selang beberapa hari kemudian, datang seorang wanita dari laut memakai perahu. Tetua setempat meminta Tarō menemuinya. Wanita itu memperkenalkan diri sebagai pelayan dari Istana Laut. Dia hendak menjemput Tarō ke Istana Laut atas perintah tuan putri, bernama Putri Oto. Maka, berangkatlah Tarō ke Istana Laut.

Cerita Rakyat Jepang: Urashima Taro, 365ceritarakyatindonesia
Ilustrasi Urashima Tarō by tomoko kubo.

Sesampainya di sana, Tarō disambut baik oleh Putri Oto sendiri, yang tak lain adalah jelmaan penyu yang dilepaskan Tarō. Mereka pun kemudian hidup bahagia selama tiga tahun lamanya. Setelah akhirnya, Tarō merasa merindui kampung halamannya, khususnya kedua orang tuanya.

Putri Oto sesungguhnya tak ingin Tarō pergi meninggalkannya. Namun dalam cerita rakyat Jepang, tekad Tarō yang sudah bulat membuat Putri Oto tak mampu lagi membendung keinginan Tarō. Sebelum kembali ke kampung halamannya, Putri Oto memberikan kotak perhiasan yang disebut tamatebako kepada Tarō.

Sesampainya di kampung halaman, Tarō terkejut mendapati kampung halamannya sudah tak ada lagi. Setelah bertanya ke sana kemari, Tarō mendapat penjelasan bahwa kampung halamannya sudah lama sekali tak ada lagi. Rupanya, ada perbedaan waktu. Jika dalam hitungan waktu di Istana Laut, Tarō hanya tinggal selama tiga tahun. Namun, di kampung halaman Tarō sudah ratusan tahun lamanya.

Akhirnya, Tarō membuka tamatebako yang dibawanya. Seketika itu juga keluar asap putih sebanyak tiga kali dari dalam, dan tiba-tiba Tarō berubah menjadi burung jenjang.

Begitulah cerita rakyat Jepang: Ushima Tarō yang terkenal ke seantero Jepang hingga saat ini.

Catatan: versi yang saya sadur ini berdasarkan versi Otogizōshi. Kementerian Pendidikan Jepang, memasukkan legenda Ushima Tarō dalam buku teks resmi bagi anak-anak kelas 2 Sekolah Dasar pada 1910.[]
More aboutCerita Rakyat Jepang: Urashima Taro