Showing posts with label Drama. Show all posts
Showing posts with label Drama. Show all posts

Naskah Drama Cinderella Bahasa Indonesia (Part 2)

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, May 20, 2013

Lanjutan naskah drama Cinderella bahasa Indonesia bagian 1.

Naskah drama Cinderella diadaptasi dari cerita rakyat dunia yang dipopulerkan Brothers Grimm. Cinderella mengisahkan seorang gadis yang ditinggal meninggal kedua orang tuanya. Dia mendapat perlakuan buruk dari ibu tiri serta tiga saudara tirinya. Pertemuannya dengan seorang pangeran tampan mengubah hidupnya untuk selamanya. Penggubah naskah drama Cinderella bahasa Indonesia berdasarkan beberapa sumber dan imajinasi. Mudah-mudah bisa membantu teman-teman yang sedang membutuhkan naskah drama, untuk bisa dikembangkan lebih lanjut.

Naskah Drama Cinderella 2

[Babak ke 5. MENCARI PUTRI CANTIK]

[KEESOKAN HARINYA, PANGERAN MENITAHKAN KEPADA PENGAWAL-PENGAWALNYA UNTUK MENCARI PEMILIK SEPATU KACA. DIMANA PUN MEREKA BERADA. BAIK DI PELOSOK SEKALIPUN.]

Pangeran: “Pengawal!”

Pengawal: “Hamba, Gusti Pangeran.” [MEMBUNGKUK MEMBERI HORMAT.]

Pangeran: “Semalam, tampaknya aku sudah menemukan seorang wanita idaman yang kucari selama ini.”

Pengawal: “Ya, Paduka.”

Pangeran: “Namun, belum sempat aku bertanya latar belakangnya, ia keburu pulang dengan tergesa-gesa. Ia cuma meninggalkan ini.” [MENUNJUKKAN SEBELAH SEPATU KACA MILIK CINDERELLA.]

Pengawal: “Milik siapakah itu, Gusti Pangeran?”

Pangeran: “Justru itu. Aku menitahkan kamu dan anak buahmu untuk menyisir seluruh pelosok negeri. Cari seorang wanita yang cocok mengenakan sepatu ini. Pastikan semua wanita, tidak peduli siapapun, memakai sepatu ini!”

Pengawal: “Baiklah, Gusti Pangeran.”

[Babak ke 6. MENCARI PEMILIK SEPATU KACA]

[BERSAMA ANAK BUAHNYA, PENGAWAL SEGERA BERGERAK. MEREKA MENYISIR SEMUA TEMPAT, HINGGA TIBA DI RUMAH CINDERELLA DAN IBU TIRI-NYA.]

Pengawal: “Selamat pagi, Madam.”

Ibu Tiri: “Ada apa?”

Pengawal: “Kami datang ke sini atas titah Pangeran untuk mencari pemilik ini. [MENUNJUK SEPATU KACA.] Karena Pangeran hendak memperistrinya. Adakah Madam memiliki anak gadis?”

Ibu Tiri: “Silakan tunggu di sini.”

Ibu Tiri: “Anastasia, Drizella, dan Frederica!” [BERTERIAK MEMANGGIL KETIGA ANAKNYA.]

[KETIGA ANAKNYA, ANASTASIA, DRIZELLA, DAN FREDERICA. MEREKA KEMUDIAN MENCOBA SEPATU KACA YANG DIBAWA PENGAWAL PANGERAN.]

Pengawal: [Menggeleng.] “Sepertinya bukan putri-putri Madam yang kami cari. Maaf…”

Ibu Tiri: “Cobalah sekali lagi.”

Ibu Tiri: “Kalian, cobalah untuk mengecilkan ukuran kakimu sebentar saja.” [BERBISIK KEPADA PUTRI-PUTRINYA.]

Anastasia: “Uh, sakit, Mam. Ini bukan sepatu ukuranku.”

Pengawal: “Sudah, tolong lepaskan.”

Drizella: “Hmm, sepertinya sepatu kaca ini akan muat di kakiku.”

Pengawal: “Tolong, jangan kau paksakan.”

Drizella: “Tidak, sepatu kaca ini pas di kakiku. Lihatlah…”

Pengawal: “Sudah cukup.”

Frederica: “Tidak cukup.” [MENGAMBIL SEPATU KACA DAN INGIN MEMBANTINGNYA.]

Pengawal: “Eits, eits, jangan dibanting.”

Frederica: [MENYERAHKAN KEMBALI SEPATU KACA ITU KE PENGAWAL.]

Pengawal: “Karena tidak ada seorang pun yang cocok disini, kami akan melanjutkan pencarian kami di lain tempat.”

[Babak ke 7. Menemukan Cinderella]


[Tepat pada saat itu, Cinderella lewat.]

Pengawal: “Apakah dia anak gadis Anda, Madam?”

Ibu Tiri: “Bukan. Dia cuma pembantu di sini!”

Pengawal: “Tidak menjadi soal. Asalkan dia seorang wanita, kami diperintahkan untuk mencobanya.”

Ibu Tiri: “Tidak. Tidak boleh. Sepatu kaca itu takkan muat untuknya!”

[KEMARAHAN IBU TIRI DIHADANG OLEH TOMBAK-TOMBAK ANAK BUAH PENGAWAL. MEMBUATNYA TERDIAM.]

Pengawal: “Tidak perlu.” [MEMERINTAHKAN ANAK BUAHNYA UNTUK MENURUNKAN TOMBAK.]

Pengawal: “Dan kamu? Siapa namamu?”

Cinderella: “Cinderella, Tuan.”

Pengawal: “Baiklah, Cinderella. Cobalah sepatu kaca ini.”

Ibu Tiri: “Tidak akan muat.”

Anastasia, Drizella, dan Frederica: “Si dekil ini bukan pemilik sepatu kaca itu!”

Cinderella: [MENJULURKAN KAKI KANANNYA.]

Pengawal: “Pas sekali sepatu ini di kaki Anda. Ah, Andalah Putri cantik itu?!”

[IBU DAN KETIGA KAKAK TIRI CINDERELLA SANGAT MARAH DAN IRI PADA CINDERELLA, NAMUN MEREKA TIDAK BISA BERBUAT APA-APA. TEPAT SAAT ITU, IBU PERI MUNCUL.]

Ibu Peri: “Selamat Cinderella. Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran. Sim salabim.” [Cinderella berubah menjadi putri cantik seperti waktu pesta rakyat.]

Ibu Peri: “Kamu tidak perlu khawatir. Tidak seperti sebelumnya, pengaruhnya akan abadi.”

Cinderella: “Terima kasih Ibu Peri.”

[CINDERELLA PUN PERGI KE ISTANA PANGERAN. IA MENIKAH DENGAN PANGERAN TAMPAN. DEMIKIANLAH NASKAH DRAMA CINDERELLA INI ADANYA.][]
More aboutNaskah Drama Cinderella Bahasa Indonesia (Part 2)

Naskah Drama Cinderella Bahasa Indonesia

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Friday, May 17, 2013

Naskah drama Cinderella diadaptasi dari cerita rakyat dunia yang dipopulerkan Brothers Grimm. Cinderella mengisahkan seorang gadis yang ditinggal meninggal kedua orang tuanya. Dia mendapat perlakuan buruk dari ibu tiri serta tiga saudara tirinya. Pertemuannya dengan seorang pangeran tampan mengubah hidupnya untuk selamanya. Penggubah naskah drama Cinderella bahasa Indonesia berdasarkan beberapa sumber dan imajinasi. Mudah-mudah bisa membantu teman-teman yang sedang membutuhkan naskah drama, untuk bisa dikembangkan lebih lanjut.

Naskah Drama Cinderella

[INTRO: DI SEBUAH ISTANA, HIDUPLAH SEORANG GADIS CANTIK BERSAMA IBU TIRI DAN KETIGA KAKAK TIRINYA. GADIS INI MESKIPUN TERLIHAT KOTOR DAN PENUH DEBU, NAMUN SANGATLAH CANTIK DAN BAIK HATI. SEDANGKAN, IBU DAN KETIGA KAKAK TIRINYA SANGATLAH JAHAT. MEREKA MEMPEKERJAKAN GADIS INI DI RUMAHNYA SENDIRI. SETIAP HARI SI GADIS HARUS MENGERJAKAN SELURUH PEKERJAAN RUMAH. IBU TIRINYA SELALU MEMBENTAKNYA. SEMENTARA KETIGA KAKAK TIRINYA SELALU MEMANGGILNYA DENGAN SEBUTAN CINDERELLA, YANG ARTINYA GADIS KOTOR DAN PENUH DEBU. MENURUT KETIGA KAKAK TIRINYA, ITU ADALAH NAMA YANG COCOK UNTUK ANAK PEREMPUAN INI.]

***

[Babak ke 1. UNDANGAN]

[TEROMPET BERBUNYI. SEORANG UTUSAN KERAJAAN DATANG DIIRINGI PARA PRAJURIT, MENGABARKAN UNDANGAN PESTA RAKYAT YANG AKAN DIHELAT ISTANA. SEMUA ORANG BERKUMPUL, KECUALI CINDERELLA YANG HANYA BISA MELIHAT DARI BALIK JENDELA.]

Utusan Kerajaan: “Pengumuman… pengumuman… Sehubungan dengan akan diadakannya pesta rakyat di istana, maka pihak istana mengundang semua orang untuk turut serta. Silakan hadir pada saat acara berlangsung. Siapapun boleh turut serta. Oiya, pada pesta rakyat tersebut, Pangeran juga akan memilih calon pendamping dari para undangan. Jadi, dandan secantik mungkin, siapa tahu anda yang terpilih.”

[SEMUA ORANG, KHUSUSNYA PARA WANITA, BERSORAK-SORAI. TERMASUK, SAUDARA TIRI CINDERELLA, ANASTASIA, DRIZELLA, DAN FREDERICA.]

Anastasia: “Asyik… pasti Pangeran memilihku untuk menjadi ratunya. Karena, aku paling cantik di sini!”

Drizella: “Siapa kata? Pasti orang itu buta! Jelas aku-lah yang akan menjadi pendamping Sang Pangeran.”

Anastasia: “Kau?! Tidak bisakah kau berbicara sedikit halus?”

Frederica: “Sudahlah, tidak perlu diributkan. Karena yang akan menjadi pendamping Pangeran adalah aku.”

Ibu Tiri: “Hei, kalian ini. Tidak perlu bertengkar. Ibu yakin salah satu anak Ibu ada yang terpilih sebagai pendamping Pangeran. Tapi, siapapun dari kalian yang terpilih tidak perlu dipersoalkan. Karena, nantinya semua itu akan membuatku gembira.”

[SEMENTARA ITU, CINDERELLA YANG BERADA DI BALIK JENDELA KAMAR INGIN IKUT JUGA PESTA ITU.]

***

[Babak ke 2. KESEDIHAN]

[HARI H PESTA RAKYAT TIBA. ANASTASIA, DRIZELLA, FREDERICA, DAN MENGENAKAN GAUN TERBAIK YANG MEREKA MILIKI. MEREKA BERDANDAN DENGAN DANDANAN PALING CANTIK YANG BISA DILAKUKAN.]

Ibu Tiri: ”Hei, kalian, pakai ini, pakai itu, kau kurang ini, kau kurang itu.” [SIBUK MEMERHATIKAN MAKE UP KETIGA ANAKNYA.]

[CINDERELLA YANG HANYA BISA MELIHAT MEREKA BERDANDAN MENJADI SEDIH. SEBETULNYA, DIA JUGA INGIN BERANGKAT KE PESTA ITU. TAPI, IA MEMAHAMI POSISI DIRINYA, YANG TIDAK BISA IKUT DALAM PESTA RAKYAT ITU. APALAGI, IBU TIRINYA MELARANG. IA MENDESAH.]

Ibu Tiri: “Kau mau ikut?”

Cinderella: [Mengangguk. Matanya menyiratkan harapan.]

Ibu Tiri: “Dengan gaun apa? Pakaian yang kau punya kan lusuh-lusuh begitu? Apa mau pergi ke pesta dengan baju lusuh itu?”

***

[Babak ke 3. KEAJAIBAN]

[DI KAMAR.]

Cinderella: [MENANGIS TERSEDU-SEDU, KARENA HATINYA KESAL.] “Oh, Tuhan, seandainya ayah masih ada, takkan begini ceritanya. Pasti aku dibelikan gaun terindah untuk ikut pesta itu.”

[SAAT ITU, SEORANG PERI TIBA-TIBA MUNCUL DI HADAPAN CINDERELLA.]

Ibu Peri: “Jangan menangis, anakku. Tidak seharusnya kau bersedih. Tersenyumlah, supaya wajahmu bertambah cantik.”

Cinderella: “Bagaimana bisa aku tersenyum, Ibu Peri? Aku juga ingin datang ke pesta itu seperti kakak-kakakku. Tapi, gara-gara aku tidak punya gaun yang cantik, mereka tidak mengizinkanku.”

Ibu Peri: [TERSENYUM DENGAN RAMAH.] “Cinderella, bawalah empat ekor tikus, dua ekor kadal, dan satu labu yang besar.”

Cinderella: [MUKANYA BINGUNG.] “Untuk apa?”

Ibu Peri: “Sudah kau kumpulkan saja.”

[CINDERELLA MENGUMPULKAN EMPAT EKOR TIKUS, DUA EKOR KADAL, DAN SATU LABU BESAR SESUAI PERMINTAAN IBU PERI.]

Ibu Peri: “Sim salabim!” [MENGAYUNKAN TONGKAT SIHIRNYA KE HEWAN-HEWAN YANG DIBAWA CINDERELLA]

[Empat tikus berubah menjadi kuda. Dua kadal berubah menjadi sais. Dan labu besar berubah menjadi kereta berwarna emas.]

Ibu Peri: “Sepertinya kau membutuhkan gaun baru.” [MENGAYUNKAN TONGKATNYA KEPADA CINDERELLA.]

Cinderella: “Wah, bagus sekali gaun ini, Ibu Peri.” [MELIHAT GAUNNYA BERUBAH MENJADI GAUN BERWARNA PUTIH YANG CANTIK NAN ELEGAN.]

Ibu Peri: “Sebagai sentuhan akhir…” [Ibu Peri mengayunkan tongkatnya, dan tampaklah sepasang sepatu kaca.]

Cinderella: “Ibu Peri, ini… ini…” [TAK KUASA MENAHAN RASA HARUNYA, MEMELUK IBU PERI.]

Ibu Peri: “Oke… oke… Tapi, kau harus ingat bahwa pengaruh sihir ini akan lenyap selepas pukul dua belas malam. Karena itu, pulanglah sebelum lewat tengah malam.”

Cinderella: “Baiklah, Ibu Peri, aku akan mengingat hal tersebut.”

Ibu Peri: “Sekarang berangkatlah!”

[CINDERELLA NAIK KERETA KUDA EMAS, YANG MEMBAWANYA BERANGKAT MENUJU ISTANA.]

***

[Babak ke 4. PUTRI CANTIK DATANG]

[CINDERELLA TIBA DI ISTANA DAN LANGSUNG MASUK KE AULA ISTANA. BEGITU MASUK, PANDANGAN SEMUA YANG HADIR TERTUJU PADA CINDERELLA. MEREKA SANGAT KAGUM DENGAN KECANTIKAN CINDERELLA, TERMASUK SANG PANGERAN.]

Pangeran: “Putri yang cantik, maukah menari dengan saya?” [SAMBIL MENCIUM PUNGGUNG TANGAN CINDERELLA.]

Cinderella: “Baiklah, Pangeran.”

[CINDERELLA DAN PANGERAN MENARI DALAM ALUNAN MUSIK YANG SYAHDU DIIRINGI PANDANGAN IRI MATA SELURUH TAMU YANG HADIR. IBU DAN KETIGA KAKAK CINDERELLA MERASA IRI PADA PUTRI CANTIK ITU, MEREKA TIDAK MENDUGA BAHWA PUTRI CANTIK ITU ADALAH CINDERELLA.]

Pangeran: “Selama ini, saya mengidamkan wanita seperti Putri.”

Cinderella: [Tersipu-sipu]

[KEDUANYA TERUS BERDANSA HINGGA TIDAK TERASA WAKTU SUDAH MENUNJUKKAN PUKUL DUA BELAS MALAM. LONCENG PUN BERDENTANG-DENTANG.]

Cinderella: “Maaf Pangeran, saya harus segera pulang!”

[CINDERELLA LANGSUNG BERLARI PULANG. DI TENGAH TANGGA, SEPATU KACANYA TERLEPAS. TAPI, CINDERELLA TIDAK MENGGUBRISNYA. IA TERUS BERLARI. PANGERAN MENGEJAR CINDERELLA. TAPI, IA KEHILANGAN JEJAK CINDERELLA. PANGERAN MENEMUKAN SEPATU KACA MILIK CINDERELLA DI TENGAH TANGGA.]

Pangeran: “Aku akan mencarimu.”

[DI TENGAH JALAN PULANG, CINDERELLA BERUBAH KEMBALI MENJADI GADIS PENUH DEBU. NAMUN, IA SUDAH CUKUP BAHAGIA.]

Bersambung ke naskah drama Cinderella bahasa Indonesia bagian 2.[]
More aboutNaskah Drama Cinderella Bahasa Indonesia

4 Kiat Praktis Menulis Naskah Drama

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Sunday, May 12, 2013

Pada dasarnya naskah drama adalah karya sastra fiksi yang bentuknya sama seperti cerpen dan novel. Letak perbedaannya, untuk cerpen atau novel, bentuknya naratif yang memenuhi seluruh halaman dari kiri ke kanan. Sementara, naskah drama ditulis dengan dialog antartokoh dan anotasi* tingkah laku tokoh-tokoh di dalamnya.

Langkah-langkah Menulis Naskah Drama

1. Tentukan Ide Cerita

Hal pertama yang harus ditentukan adalah ide cerita yang menjadi gambaran dasar cerita. Sejatinya, ide dasar merupakan konflik. Bukankah setiap cerita berisi konflik? Kalau tidak ada konflik, bisa dipastikan sebuah cerita akan membosankan. Ide cerita dapat mengambil dari kisah kehidupan sehari-hari. Contoh, seorang siswa baru sering dijahili teman-teman sekelasnya. Atau bisa juga menyadur dari karya sastra penulis lain, semisal cerpen, cerita rakyat, dongeng, cerita wayang, dll. 
“Bolehkah mengambil ide cerita dari karya yang sudah dipublish, seperti cerpen atau novel?”
Bolehkah mengambil ide cerita dari karya yang sudah dipublish, seperti cerpen atau novel? Boleh. Banyak penulis besar, yang menyadur atau terinspirasi karya yang sudah dipublish sebagai bagian dari mempelajari teknik menulis. Namun, yang patut diperhatikan dalam menyadur atau terinspirasi karya lain adalah tetap menjaga kode etik dalam berkarya.

2. Buat sinopsis cerita

Sesudah menentukan ide cerita, tuliskan ide cerita itu dalam sinopsis pendek. Panjangnya kira-kira setengah sampai satu halaman. Beri gambaran umum dari ide cerita yang telah didapat ke dalam sinopsis cerita ini. Tentukan peristiwa yang akan menjadi sumber cerita. 
“Ingat 5w + 1h (where, when, why, what, who, and how).”
Dengan begitu, diperoleh gambaran peristiwa apa saja yang akan terjadi. Di samping itu, dapat diperkirakan siapa tokohnya, di mana tempat kejadiannya, dan kapan terjadinya. Ingat 5w + 1h (where, when, why, what, who, and how). Alur (plot) pun akan dapat ditentukan. Saya memiliki beberapa contoh membuat sinopsis cerita dari kumpulan cerita rakyat Indonesia.

3. Start Menulis

"Ada waktu merevisi."
Semua sudah tersedia! Tinggal menuliskannya saja. Apa yang melintas di kepala tulis saja. Jangan takut salah dulu. Ada waktu merevisi. Yang penting sekarang tuliskan saja berdasarkan sinopsis yang sudah dibuat. Jika belum memahami bentuk naskah drama, silakan baca-baca di contoh naskah drama.

4. Revisi

Sesudah menuliskan semuanya, saatnya merevisi. Mulai dari ejaan, tanda baca, cara menulis, sampai masalah ide cerita. Cerita dapat berkembang dan berubah sesuai berkembangnya pemahaman. Yang harus diingat dalam proses ini adalah harus ditentukan kapan saat berhenti merevisi. 
"Yang harus diingat dalam proses ini adalah harus ditentukan kapan saat berhenti merevisi."
Bayangkan saja, jika karya yang sudah ditulis tidak ada benarnya, tentu takkan pernah diterbitkan atau dipublish. Jadi, tentukan batas waktu memperbaiki. Tidak masalah karya kita jelek, setidaknya kita telah menulis sebuah karya. Berikutnya tulis lagi karya yang baru dan lebih bagus.[]

----------
Sumber inspirasi: "Kitab Teater" karya Nano Riantiarno; "Melejitkan Otak lewat Gaya Menulis Bebas" karya Jubilee Enterprise.

----------
* penjelasan.
More about4 Kiat Praktis Menulis Naskah Drama

Naskah Drama #3: Malin Kundang

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, April 30, 2013

Beberapa waktu sebelumnya, saya sudah pernah menulis dan mempublikasikan naskah drama Malin Kundang. Namun, entah bagaimana, naskah tersebut hilang dari blog ini—mungkin karena terhapus tidak sengaja oleh saya sendiri, entahlah. Karena tidak punya back-up, saya menulisnya kembali, berdasarkan ingatan dan beberapa referensi tambahan dari internet. Tapi, perlu saya tegaskan kepada Anda, bahwa artikel ini hanyalah contoh naskah drama anak sekolah—yang dikembangkan dari cerita rakyat Malin Kundang. Pengembangannya bisa dilakukan sesuai imajinasi dan kekreatifan masing-masing. Selamat membaca ^^

Naskah Drama Malin Kundang


[PROLOG: dulu, hiduplah seorang wanita tua dengan anaknya yang bernama Malin. Mereka hidup menderita dan bergantung pada hasil hutan.]

Ibu: "Malin, datang ke sini anak, membantu saya untuk membawa kayu bakar ini. "

Malin: "Ya ibu, tunggu sebentar." (Malin membantu ibunya)

Malin: "Ibu, berapa lama kita akan bertahan dengan kondisi ini? Saya ingin ada perubahan dalam hidup kita."

Ibu: "Entahlah, Ibu tidak tahu Malin, kita harus bersabar dan jangan berhenti berdoa kepada Allah. "

Malin: "Ibu, aku punya ide, biarkan aku pergi untuk mengubah keberuntungan saya? Siapa tahu aku akan menjadi orang kaya."

Ibu: ...

[Malin dan ibunya kembali ke rumah, tapi ibunya hanya diam tentang ide. Setelah mereka tiba di rumah.]

Malin: "Bu, bagaimana dengan ide saya?"

Ibu: "Saya pikir itu bukan ide yang baik anakku. Karena, jika kamu pergi, siapa yang akan menjagaku di sini."

Malin: "Tapi Ibu, jika saya tidak mengubah peruntungan, bagaimana kita bisa bertahan? Saya berjanji Ibu, jika bisa menjadi orang kaya, saya akan kembali. Tenang saja Ibu, saya akan berbicara dengan Dayat, supaya menengok Ibu setiap hari hingga saya kembali ke rumah."

[Ibu Malin tidak bisa melarang apa Malin inginkan. Akhirnya, dia setuju dengan ide Malin.]

Ibu: "Baiklah, jika itu memang keinginanmu, Malin! Tapi, kamu harus pegang janjimu untuk kembali ke kampung ini."

[Malin pergi ke rumah Dayat untuk memintanya menjaga ibunya, hingga ia kembali dari perantauan membawa uang yang banyak. Dayat merupakan sahabat Malin, yang selalu ke mana-mana suka maupun duka.]

Dayat: "Kamu mau ke mana, Malin?"

Malin: "Besok, aku akan merantau untuk mengubah nasib."

Dayat: "Apa? Jika kamu pergi merantau, siapa yang akan menjaga Ibumu di sini?"

Malin: "Karena itu, aku mendatangimu. Aku ingin menjaga Ibuku—tengoklah ia setiap hari itu sudah cukup baginya—hingga aku kembali.”

Dayat: "Oh, baiklah kalau begitu. Ingat pesanku untukmu, jangan lupakan kita yang ada di sini, Malin."

[Keesokan harinya, Ibu Malin mengantarkan anaknya ke pelabuhan.]

Ibu: "Jaga dirimu baik-baik, Nak. Cepatlah pulang, setelah kamu sukses di rantau.”

Malin: "Ya Ibu, doakan saya supaya saya cepat mendapat rezeki yang banyak.”

Malin: “Dayat, tolong kamu jaga Ibu saya baik-baik. Terima kasih sebelumnya. Selamat tinggal.”

Dayat: "Jangan khawatirkan soal itu, Malin. Saya berjanji akan merawat ibumu sepenuh jiwa raga saya. Jaga dirimu baik-baik. "

Ibu: "Selamat jalan, Anakku."

Dayat: "Selamat jalan, Malin."

[Akhirnya, Malin memulai peruntungannya di perantauan. Ia pergi berlayar dengan saudagar kaya. Di kapal, Kapten memberinya pekerjaan sebagai kru. Kapten memiliki putri semata wayang, yang telah menjadi seorang anak gadis cantik. Nama anak gadis Kapten adalah Ningrum. Ketika Malin melihatnya, ia jatuh hati. Hal ini memberikan semangat kepada Malin untuk bekerja lebih giat lagi.]

Malin: (Berkata di dalam hati, saat melihat Ningrum mendatanginya) "Ningrum sangat cantik. Aku menyukainya, dan harus menikahinya. Dengan begitu, jika sesuatu terjadi pada ayahnya, warisannya akan jatuh ke tanganku, sehingga aku akan menjadi orang kaya.”

Ningrum: "Apakah kamu melihat ayahku?”

Malin: "Hmm, saya tidak melihatnya. Mungkin ia pergi ke dapur. Cobalah ke sana untuk melihatnya."

Ningrum: "Oh, baiklah. Saya akan ke sana menemuinya."

Malin: [Tersenyum] "Ya, silakan Nona. Apakah perlu kuantar?”

Ningrum: [Hanya tersenyum, sambil berjalan meninggalkan Malin.]

[Sementara itu, di kampung halaman Malin, Ibu Malin sangat gelisah. Ia resah bagaimana Malin menjalani kehidupannya di perantauan. Apakah Malin sehat? Apakah Malin bisa menjaga dirinya baik-baik? Semua pertanyaan-pertanyaan khas orang tua yang khawatir akan anaknya menggelayut menjadi beban pikiran Ibu Malin. Sementara itu, ia juga khawatir Malin tidak pulang kembali ke kampung halamannya, dan melupakan dirinya.]

Ibu: "Dayat, saya rindu sekali dengan Malin. Kira-kira, kapankah ia kembali? Apakah ia baik-baik saja saat ini?

Dayat: "Jangan takut, Ibu. Malin akan pulang. Ia telah berjanji. Sementara itu, biarkan saya menjaga Ibu.”

Ibu: "Ya, terima kasih, Dayat. Entah, apa jadinya saya tanpa bantuanmu."

Dayat: “Jangan terlalu dipikirkan, Ibu.”

[Suatu hari, kapten memanggil Malin, karena ia akan menaikkan jabatan Malin atas prestasi kerjanya selama ini. Dengan jabatan ini, dalam beberapa tahun, membuat Malin menjadi orang kaya.]

Malin: "Sekarang, saya kaya raya. Saya dapat membeli semuanya dengan uang saya. Karena itu, Ningrum harus menikah dengan saya.”

[Semakin hari, Ibu Malin semakin merindukan anaknya. Ketuaannya membuat ia lelah menunggu Malin. Namun, Dayat selalu memberikan dukungan untuk Ibu Malin, bahwa Malin yang akan datang kembali dan orang kaya.]

Dayat: "Jangan sedih, Ibu."

Ibu: "Saya lelah, Dayat. Saya lelah menunggu Malin. Kita tidak pernah mendapatkan berita dari Malin sedikit pun.”

Dayat: "Saya percaya Ibu, bahwa Malin akan datang kembali dan menjadi orang kaya.”

Ibu: "Apakah kamu yakin, Dayat?"

Dayat: "Ya, Ibu. Jangan sedih lagi ibu."

[Setelah Malin telah menjadi orang kaya, Malin menikahi Ningrum. Mereka hidup bahagia dan menjadi pasangan yang romantis.]

Malin: “Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?”

Ningrum: “Malin suamiku, kita kan sudah menikah. Bagaimana kalau kita berbulan madu?”

Malin: “Sepertinya, itu ide bagus, bagaimana kalau kita Pulau Dua Angsa?”

Ningrum: “Wah, pulau itu sangat bagus. Saya setuju.”

Malin: “Oke! Kalau begitu, kita ke sana besok.”

[Keesokan harinya, Malin serta istrinya berlayar ke Pulau Dua Angsa. Dalam perjalanannya, mereka singgah ke kampung halaman Malin, untuk mengisi berbagai perbekalan. Tapi, Malin tidak menemui Ibunya seperti yang telah dijanjikan. Ia hanya berjalan-jalan di sekitar dermaga saja. Ketika itu, Dayat – sahabat Malin – melihatnya.]

Dayat: "Malin? Apakah dia Malin? Ya, seperti dia adalah Malin. Saya harus mengatakan itu kepada Ibunya."

[Dayat pergi ke rumah Ibu Malin untuk mengabarkan kedatangan Malin. Ia sangat senang mengetahui Malin datang ke kampung halamannya. Jika, Ibu Malin mengetahui berita ini, tentu hatinya bahagia.]

Dayat: "Ibu... Ibu ..."

Ibu: "Ya, saya di sini, Dayat."

Dayat: "Ibu, Malin pulang. Ia ada di pelabuhan sekarang. Tampaknya, ia telah menjadi orang kaya sekarang!"

Ibu: "Apa kamu yakin kalau yang kamu lihat adalah Malin?"

Dayat: "Ya, saya yakin Bu. Saya tidak mungkin bisa melupakan wajahnya. Saya masih ingat wajah Malin."

Ibu: "Jika apa yang kamu lihat benar, ayo temani saya pergi ke sana."

[Dayat mendampingi Ibu Malin untuk menemui anaknya. Sesampainya di pelabuhan, Ibu Malin memang melihat anaknya. Saking harunya, air mata keluar dari matanya. Ia memanggil Malin dari kejauhan untuk kemudian mendekatinya.]

Ibu: "Malin, Malin, anakku! Malin …"

Ningrum: "Siapa itu wanita tua, Suamiku?"

[Malin tidak menjawab pertanyaan Ningrum, karena tenggorokannya tercekat tidak bisa menjawab pertanyaannya dari istrinya.]

Ningrum: "Siapa dia, Suamiku?"

Ibu: “Malin, siapa ia? Apakah ia Istrimu? Ia sungguh wanita yang sangat cantik.“ [Ibu Malin membuka tangannya untuk memeluk menantunya.]

Ningrum: [Tapi, Ningrum menepis pelukan itu.] "Issh, jangan sentuh aku!"

Malin: "Jangan kamu menyentuhnya! Dasar wanita kotor! Kulitmu bisa mengotori kulitnya!"

Ningrum: "Siapa wanita tua ini, Malin? Benarkah ia Ibumu? Uh, ia benar-benar sangat kotor."

Malin: "Saya tidak tahu. Saya tidak mengenal wanita ini. "

Ibu: "Malin, anakku. Kenapa kamu ini, Nak? Apa salah Ibu? Aku ini Ibumu. Ibumu. Kamu telah berjanji untuk kembali ke kampung ini untuk menemuiku, jika kamu sudah kaya. Sekarang kamu sudah kaya, dan bukankah kedatanganmu ke sini untuk menemuiku?”

Malin: "Cih, Ibuku? Mengaku-ngaku saja kamu sebagai Ibu? Saya tidak mengenal kamu. Jika saya kaya, tentu Ibu saya juga kaya. Tidak sepertimu, kotor dan bau!”

Ibu: "MALIN!!!” [Ibu Malin berkata keras.]

Ibu: “Saya Ibumu—ibu yang telah melahirkanmu! Saya bisa mengatakan fakta tentang dirimu."

Ningrum: "Pergi saja kamu, wanita tua."

Ibu: "Malin ... Malin ..."

Malin: "Pergi. Pergilah sekarang, kamu!"

Dayat: "MALIN! Lupakah kamu terhadap Ibumu? Lupakah kamu terhadap saya—sahabat baikmu? Ini Ibumu, Malin. Ibumu."

Malin: "Tidak, saya tidak lupa. Saya benar-benar tidak mengenal kamu dan wanita tua itu. Seingat saya, saya tidak pernah memiliki sahabat sepertimu."

Dayat: "Jahat, kamu! Celakalah kamu, Malin."

Ibu: "Ingat saya, Nak? Saya adalah ibumu."

Dayat: "Tolong, ingat ibumu, Malin. Ia selalu menunggumu kembali ke kampung halamanmu. Ingatlah janjimu, Malin."

[Malin tidak peduli. Ia menyeret Ibunya dengan kasar, hingga wanita tua itu jatuh tersungkur.]

Malin: Jangan panggil aku sebagai anakmu, wanita kotor! Ayo, Ningrum, kita harus pergi secepatnya dari tempat ini sebelum wanita ini mengotori wajah kita."

Ningrum: "Ya, Suamiku."

[Setelah mendorong paksa Ibunya pergi, Malin kembali ke kapalnya. Sementara Ibunya, masih berteriak memanggil-manggil namanya.]

Ibu: “Malin ... Malin ... Jangan biarkan Ibumu Malin!!!“

[Hilang sudah kesabaran Ibu Malin melihat tingkah anaknya. Lalu, dengan kesal ia mengucap asal kalimat “jadilah batu!”. Kata-kata seorang Ibu yang sedang marah menjadi doa yang didengar oleh Tuhan.]

Ibu: “Ya Tuhan, kenapa anakku seperti itu? Apa salahku? Apa dosaku? Ia sama sekali melupakanku. Saya tidak terima perlakuan itu darinya. Sekarang hilang sudah kesabaranku. Aku mengutuknya: Jadilah batu!!!”

[Setelah itu, tiba-tiba datanglah badai menghancurkan Kapal Malin, petir menyambar tubuhnya. Dan ...]

Malin: “Apa yang terjadi? Tubuh saya tidak bisa digerakkan! Maafkan saya, Ibu. Maafkan saya ...!”

Ningrum: “Apa yang terjadi? Apa yang terjadimu, Malin? Kamu kenapa?”

[EPILOG: Malin pun berubah menjadi batu, ketika ia meminta ampun kepada Ibunya. Kapal, kru serta istrinya tenggelam ke dasar laut. Itulah hasil jika kita memberontak kepada orang tua kami terutama untuk ibu kita.]

Contoh naskah drama lainnya, bisa dibaca di kategori naskah drama.[]
More aboutNaskah Drama #3: Malin Kundang

Naskah Drama #2: Bawang Merah dan Bawang Putih

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Friday, April 12, 2013

Naskah drama Bawang Merah dan Bawang Putih yang saya tulis ini merupakan pengembangan dari cerita rakyat Bawang Merah Bawang Putih pada postingan sebelumnya. Berarti, ini kali kedua saya menulis teks naskah drama, setelah menulis naskah drama Danau Toba dan naskah drama Malin Kundang. Tujuan dari penulisan ini tidak lain tidak bukan adalah untuk membantu teman-teman yang masih duduk di bangku sekolah, yang ada pelajaran bahasa Indonesia dengan sub pementasan drama atau untuk bahan pembelajaran.

Walaupun, naskah drama Bawang Merah dan Bawang Putih ini sudah full, tapi bagi teman-teman yang ingin menambah dengan kreativitas dan imajinasinya dipersilakan. Semoga bermanfaat ^^

***

Naskah Drama Bawang Merah dan Bawang Putih.

Pemain ada 6 orang, yaitu: Bawang Putih, Ibu Bawang Putih, Ayah Bawang Putih, Ibu Bawang Merah, Bawang Merah, Pangeran.

BABAK 1:

[Ibu Bawang Putih dalam keadaan sekarat. Ia berpesan kepada putri semata wayangnya itu ]

Bawang Putih: "Ya, Bu."

Ibu Bawang Putih: "Setelah ibu tiada, tetaplah menjadi anak yang bersahaja."

Bawang Putih: [Menitikkan air mata.] "Iya, bu..."

Ayah Bawang Putih: [Menangis, menyaksikan hal tersebut.]

[Setelah berpesan seperti itu, Ibu Bawang Putih meninggal dunia diiringi isak tangis Bawang Putih dan Ayah Bawang Putih.]

***

BABAK 2:

[Setelah Ibu Bawang Putih meninggal, Ayah Bawang Putih menikah dengan Ibu Bawang Merah. Hal ini menjadikan hidup Bawang Putih tidak bahagia. Bersama anaknya yang bernama Bawang Merah, wanita tua itu memperlakukan Bawang Putih seenak hatinya.]

Ibu Bawang Merah: "Bawang Putihhhhh!!!"

Bawang Putih: [Datang dengan tergopoh-gopoh] "Iya, Mah."

Ibu Bawang Merah: "Dari mana aja sih kamu. Dipanggil dari tadi, lama banget! Ini tumpah!

Bawang Merah: [Tiba-tiba datang dan menoyor Bawang Putih. Lalu menjatuhkan makanannya.] "Ini bersihin sekalian ya."

Bawang Putih: [Menghela napas. Tapi, mau tak mau dilakukan juga.]

[Ibu Bawang Merah dan Bawang Merah tertawa kecil melihat hal tersebut.]

***

[Karena kelakuan ibu tiri dan kakak tirinya, Bawang Putih merasa sedih hatinya. Ia sekarang sebatang kara. Tak ada yang bisa dijadikannya tempat bersandar sejak ayahnya meninggal.]

Bawang Putih: [Menatap bintang di langit dengan sedih.] "Oh, Tuhan, kenapa hidupku seperti ini? Orang-orang terdekatku kini sudah tiada semuanya. Tak ada orang yang mengasihiku kini."

[Bawang Putih berdoa, semoga ada seseorang laki-laki baik hati yang datang dan menjadi kekasihnya. Doa tersebut dicatat oleh malaikat dan diperdengarkan kepada Tuhan.]

***

BABAK 3:

[Bawang Putih hendak pulang setelah mencuci baju di sungai, saat ia bertemu dengan Pangeran tampan.]

Pangeran: [Duduk di atas kudanya.] "Wahai, gadis cantik, bolehkah saya bertanya kepadamu?"

Bawang Putih: [Menoleh ke asal suara. Dan mundur beberapa langkah karena tatapan tajam Pangeran. Kemudian, ia menunduk.] "Silakan, Tuan. Apa yang hendak Tuan tanyakan kepada hamba?"

Pangeran: "Saya sedang berburu bersama para pengawalku. Tapi, saking semangatnya, saya pergi terlampau cepat daripada mereka. Ketika saya ingin kembali, saya kehilangan jejak mereka. Jika tidak keberatan maukah kamu memberi saya petunjuk jalan manakah yang baik untuk pulang ke istana saya?"

Bawang Putih: [Menunjuk ke jalan yang dimaui oleh Pangeran.]

Pangeran: "Oiya, sebelum saya pergi, bolehkah saya bertanya siapakah nama kamu?"

Bawang Putih: "Nama hamba, Bawang Putih, Pangeran."

[Begitulah pertemuan pertama antara Pangeran dan Bawang Putih. Pertemuan tersebut membekas di hati Pangeran. Sehingga, diam-diam, Pangeran memperhatikan Bawang Putih. Karena ia sudah jatuh cinta.]

***

BABAK 4:

[Bawang Putih berlari ketakutan. Ia dikejar ibu tiri dan kakak tirinya, karena telah menghilangkan pakaiannya. Pangeran menolong Bawang Putih.]

Pangeran: "Hei, Bawang Putih, kesinilah."

Bawang Putih: [Segera mengikuti kata-kata Pangeran.]

[Akhirnya, selamatlah Bawang Putih dari kejaran ibu tiri dan kakak tirinya. Pangeran membawa Bawang Putih ke tempat yang aman. Lalu, bercerita-cerita. Pangeran simpati dengan kisah hidup Bawang Putih langsung melamarnya. Ia ingin menyelamatkan hidup Bawang Putih.]

Pangeran: "Kisah hidupmu sungguh dramatis. Tapi, terlepas dari semua itu, sejak saya melihatmu, saya telah jatuh cinta. Bawang Putih maukah menikah denganku?"

Bawang Putih: "Bila itu keinginan Pangeran..."

[Maka, menikahlah mereka. Setelah menikah, Pangeran membereskan masalah antara Bawang Putih dengan ibu tiri dan kakak tirinya.]

***

BABAK 5:

[Ibu Bawang Merah dan Bawang Merah bersimpuh di hadapan Bawang Putih dan Pangeran. Ibu anak itu menghadapi sidang atas perbuatan mereka sebelumnya.]

Pangeran: "Pengawal, bawa kedua orang itu ke sini!"

Ibu Bawang Merah: "Ampuni kami, Pangeran. Kami berjanji mengubah sifat buruk yang ada pada diri kami."

Pangeran: [Menatap Bawang Putih, istrinya. Meminta keputusannya.]

Bawang Putih: [Membalas tatapan Pangeran, suaminya. Lalu, ia bangkit menghampiri ibu tiri dan saudara tirinya.] "Saya bisa saja melupakan semua yang ibu dan kakak lakukan. Tapi... Satu syarat yang harus kalian lakukan..."

Ibu Bawang Merah: "Apa itu? Katakan saja. Kami akan melakukannya dengan senang hati..."

Bawang Putih: "Kalian harus pergi dari sini, dan jangan sampai saya melihat kalian lagi. Jika saya sampai melihat kalian lagi, maka saya akan memerintah para pengawal untuk menangkap dan menjebloskan kalian ke dalam bui."

Pangeran: "Sekarang, enyahlah kalian dari hadapan kami!"

[Ibu Bawang Merah dan Bawang Merah sujud mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati yang Bawang Putih dan Pangeran berikan.]

Ibu Bawang Merah dan Bawang Merah: "Terima kasih atas kebaikan hati kalian berdua." [Keduanya segera berlalu.]

[Setelah kepergian ibu tiri dan kakak tirinya, Bawang Putih hidup bahagia bersama Pangeran.]
More aboutNaskah Drama #2: Bawang Merah dan Bawang Putih

Naskah Drama #1: Danau Toba

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Wednesday, April 10, 2013

Hari ini, saya memposting naskah drama yang dikembangkan dari cerita rakyat Danau Toba. Ada beberapa perbedaan antara naskah ini dengan cerita rakyat Indonesia tentang danau paling terkenal di Sumatera Utara tersebut. Tapi, perbedaan itu bukanlah untuk mengubah alur cerita, melainkan untuk memudahkan penulisan dan memberikan pemahaman kepada para pemain dan penonton.

Ada tiga pemain dalam naskah drama yang ditulis berdasarkan cerita rakyat Danau Toba ini. Pertama, Toba selaku tokoh utama; kedua, Putri selaku ikan yang berubah menjadi seorang perempuan yang cantik; ketiga, Samosir selaku putra Toba dan Putri. Naskah drama ini ditulis dan dikembangkan untuk membantu teman-teman yang ingin mementaskan drama yang mengambil setting cerita rakyat Danau Toba - salah satu dari cerita rakyat Indonesia asal Sumatera Utara.

***

Babak I

1. [Toba, pemuda miskin yang tinggal di Sumatera Utara alias Medan dengan peralatan pancingnya, di atas panggung. Ia hendak memancing]

2. Toba: [dengan logat batak] “Dari pagi tadi hingga sore begini aku memancing, belum satu pun umpan disaut ikan. Kenapa tak ada ikan-ikan memakan umpan pancingku? Apa rasa umpan dari pancingku tidak enak? Atau karena Dewi Fortuna belum berada di pihakku? Aduh, kalau begini, bagaimana aku bisa makan hari ini? Oh, Tuhan, tolonglah hambamu ini…”

3. [Toba melempar umpan yang telah diikatkan pada tali pancing. Setelahnya duduk melamun, menunggu lagi]

4. Toba: [Tali pancang mengencang, tanda umpan dimakan ikan, Toba dengan ekspresi terkejut, sigap memegang joran] “Tampaknya, ikan besar yang menyambar umpanku.”

5. [Toba menarik tali pancing sekuat tenaga, hingga akhirnya seekor ikan mas berhasil ditarik olehnya.]

6. Toba: “Ikan yang besar, lumayan untuk lauk dua hari.”

7. [Ikan yang ditangkap oleh Toba mendadak berubah menjadi wanita berparas cantik nan anggun. Toba terkejut bercampur tidak percaya, saat melihatnya?]

8. Toba: “Putri dari mana kau? Dari kayangankah? Elok sekali paras kau.”

9. Putri: “Ya, aku Putri, dari kayangan, wahai Pemuda. Aku begini gara-gara dikutuk oleh para dewata karena telah melanggar peraturan di kayangan. Telah tersurat, jika aku tersentuh oleh makhluk lain, maka aku akan berubah seperti makhluk itu. Karena aku disentuh manusia, maka aku menjadi manusia.”

10. Toba: “Panjang sekali cerita kau, tak mengerti aku. Ah! Sudahlah, kau pulang dulu ke rumahku nanti kau ceritakan ulang.”

11. [Sesampainya di rumah Toba]

12. Putri: “Inikah rumah Abang? Berantakan sekali!”

13. Toba: “Aku terlalu sibuk mengurusi hal-hal lain di luar rumah. Jadi, tak sempat membersihkan rumah. Pasti kau kira rumahku itu bersih dan indah? Ya, beginilah kalau tinggal sendirian.”

14. Putri: “Lho, Abang sendirian? Orang tua Abang di mana, dari tadi tidak kelihatan?”

15. Toba: “Mereka telah meninggal 3 tahun lalu. Ayahku meninggal terlebih dulu, selang sebulan kemudian baru ibuku menyusul. Eh, tapi sudahlah tak perlu kau pikirkan. Itu sudah berlalu.”

16. Putri: “Maafkan aku. Ngomong-ngomong, nama Abang siapa?”

17. Toba : “Aku, Toba. Kalau kau siapa? Eh, sebentar, katanya kau dari kayangan. Berarti kupanggil kau Putri saja. Lebih elok didengarnya. Eh, tadi kau ngomong mau cerita lagi kenapa kau sampai bisa dikutuk jadi ikan mas. Ceritalah. Aku siap mendengar.”

18. Putri: “Ah! Sudahlah, tak perlu diingat lagi. Aku tak mau mengingat masa laluku. Tadi juga aku sudah berbagi dengan penonton dan Abang, tapi sepertinya Abang agak telat mikir. Yang penting sekarang, aku bisa menikmati rasanya menjadi seorang manusia.”

19. Toba: “Ya, sudahlah kalau kau tak mau cerita lagi.”

[Setelah berada di rumah Toba selama hari, tindak tanduk Putri membuat hati pemuda jomblo itu tertarik. Jadilah, ia mengungkapkan cintanya.]

20. Toba: “Putri, bolehkah aku mengatakan sesuatu pada kau?”

21. Putri: [Mengangguk dan tersenyum]

22. Toba: “Entahlah, apa yang kurasakan ini benar. Hmm, maksudku begini, kita berbeda kelas sosial. Kau Putri dari kayangan. Sementara, aku orang bumi. Hmm, … gimana ya?”

23. Putri: “Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Bang…”

24. Toba: “Jujur, sejak melihatmu, entahlah ada yang berbeda pada diriku. Ada semacam getaran di hatiku, melihat paras kau yang elok dan anggun, tutur kata kau yang lembut, dan semuanya. Bisa dikatakan hmm… aku jatuh cinta padamu. Putri maukah menikah denganku?”

25. Putri: “Baiklah. Aku bersedia dengan syarat: Abang tidak boleh mengatakan mengenai asal-usulku. Dan jika kita punya anak nanti, Abang tak boleh memanggilnya dengan sebutan anak ikan. Karena itu menyakitiku juga.”

26. Toba: “Kalau masalah itu kau tak perlu takut. Rahasia ini akan kujaga baik-baik. Mari, kau kukenalkan dengan orang kampung. Kujamin mereka terpesona melihat keanggunanmu.”

27. Toba: “Warga, ayo ke sini! Aku mau mengenalkan kalian dengan calon istriku yang berasal dari i……”

28. Warga kampung: “Toba, ceritakanlah kisah cinta kalian.”

29. Toba: (dengan logat batak yang khas) “Aku bertemu dengannya di desa sebelah. Panjanglah ceritanya, aku sendiri sampai lupa bagaimana detail cerita aku bisa bertemu dengan wanita berparas cantik ini. Aku orang yang beruntung dapat menikahinya.”

Babak II

30. [Toba dan Putri telah menikah dan Toba sudah pindah rumah.]

31. Toba: [masih dengan logat batak yang kental] “Terimakasih atas apa yang sudah kau berikan pada Putri. Berkat kau, aku bisa tinggal di rumah modern seperti ini. Tidak seperti rumahku yang dulu. Sekali lagi terimakasih, Putri.”

32. Putri: “Abang, tidak perlu sungkan. Yang penting, sekarang kita bahagia.”

33. Toba: “Betul betul betul.”

34. Putri: [mengerahkan kesaktian yang dimilikinya] “Abang, ini adalah pemberianku yang terakhir. Setelah ini, kesaktianku akan hilang. Dan, aku tidak bisa memberikanmu sesuatu yang berharga lagi. Pergunakan pemberianku yang terakhir ini sebaik-baiknya.”

35. Toba: “Kau tak perlu takut. Aku pasti menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat dan takkan menyia-nyiaknnya. Kalau tidak ada kau, mungkin aku masih kerja sendirian di ladang sekarang.”

Babak III

36. [Toba dan Putri dikaruniai bayi laki-laki yang lucu.]

37. Toba: ”Nang, ning, ning, nang, ning, nung. Putri, kau lihat anak kita lucu ‘kali.”

38. Putri: “Iya, Bang. Ngomong-ngomong, anak kita dikasih nama apa, Bang?”

39. Toba: “Bagaimana kalau Samosir?”

40. Putri: [tersenyum] “Samosir, nama yang bagus. Cocok untuk anak kita, Bang.”

Babak IV

41. [Samosir tumbuh menjadi anak yang tampan, tetapi anak ini punya kebiasaan buruk. Anak ini tukang makan. Hal ini seringkali membuat Toba marah.]

42. Toba: [berteriak sambil setengah marah] “Putri, kau tidak masak hari ini? Bagaimana kau ini, tidak tahukah kau aku lelah pulang kerja. Ternyata, sampai rumah aku harus marah lagi.”

43. Putri: “Maaf, Bang. Tadi Samosir merasa sangat lapar. Jadi, bekal buat Abang dimakan sama Samosir. Ini mau saya buatkan lagi bekal untuk Abang. Ditunggu ya, Bang.”

44. Toba: [masih setengah marah] “Ya, sudah kutunggu. Tapi, lain kali jangan diulangi. Mana si Samosir? Samosir, ke mana kau? Sudah kenyang kau makan, Nak? Enak kau makan jatah punya ayahmu ini? Kau, tahu ayahmu ini lelah, letih, dan lesu.”

45. Samosir: “Maaf, Ayah. Tadi, Samosir sangat lapar. Jadi, Samosir makan punya ayah.”

46. Toba: “Ya sudah, ayah maafkan. Tapi lain kali, jangan diulangi ya, mengerti?”

47. Samosir: “Iya, Ayah. Samosir, janji.”

48. Toba: “Bagus.”

49. [Hal ini berlangsung terus sampai akhrinya kesabaran Toba sudah melampaui batas.]

50. Toba: [dengan nada marah] “Samosir, apa yang waktu itu kau janjikan kepada aku? Kau melanggar janjimu. Sekarang, aku harus menghukummu. Kau tidak boleh tidur di rumah ini, sebelum kau bisa mengendalikan rasa laparmu itu!”

51. Putri: [sambil menangis] ”Jangan, Bang! Samosir masih kecil, kalau Samosir sakit bagaimana, Bang? Apa Abang tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Samosir jika Abang melakukan ini. Samosir tak berdaya, Bang. Dia masih kecil.”

52. Toba: [masih dengan nada marah] “Ini jadinya kalau anak ini terus dimanja. Dia selalu bertindak sesuka hati, tidak memikirkan orang lain. Kalian berdua sama saja.”

53. Putri: [dengan nada memelas] “Sekarang terserah pada Abang! Kalau Abang ingin menghukum Samosir. Silakan! Tapi, Abang harus turuti permintaan saya. Saya minta Abang tidak mengusir Samosir dari rumah. Hanya itu permintaan saya.”

54. Toba: (marah agak mereda] “Samosir, karena ibumu yang meminta, Ayah tidak bisa menolak. Ayah tidak jadi mengusirmu. Tapi kau tetap harus menjalani hukumanmu. Selama seminggu, kau tidak kuizinkan tidur di kamar. Tempat tidurmu di gudang. Mengerti?”

55. Samosir: [sambil menangis] “Iya, Ayah. Samosir mengerti.”

56. [Empat bulan berlalu, Samosir yang sudah bebas dari hukumannya, masih dengan kebiasaannya yang sering lapar. Kali ini, kemarahan Toba sudah memuncak.]

57. Toba: [sangat marah] “Samosir, di mana kau?”

58. Samosir: “Aku di sini Ayah. Ada apa Ayah memanggilku?”

59. Toba: “Jangan banyak bertanya kau! Apakah kau makan lagi bekal untuk Ayah?”

60. Samosir: “Maaf, Ayah! Tadi, Samosir sangat lapar, terpaksa Samosir makan bekal Ayah?”

61. Toba: [menarik cuping telinga Samosir sambil membawanya ke luar rumah] “Kau tahu Ayah dari mana? Kau tahu Ayah ini bekerja di ladang, banting tulang. Untuk siapa? Untuk kau! Tapi, seenaknya saja kau makan bekal Ayah. Sekali, dua kali sudah Ayah maafkan, tapi ini sudah berulang kali. Kau tahu itu bukan?”

62. Samosir: [menangis] “Maaf, Ayah! Samosir akan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan hukum Samosir lagi Ayah.”

63.Toba: “Sudah! Tak ada lagi kata maaf buat anak nakal seperti kau! Dasar anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau keturunan ikan!!”

64. [Sambil menangis, Samosir berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya diceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu.]

65. Putri: [Terkejut mendengar cerita Samosir] “Anakku, apa kau jujur? Apakah kau tidak membohongi Ibu?”

66. Samosir: [Menggeleng] “Tidak, Bu. Apa benar aku ini anak ikan, Bu? Jawab, Bu!

67. Putri: “Sekarang, Ibu minta kau untuk tidak mempedulikan perkataan Ayahmu. Segeralah pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah kita dan kau harus memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu.”

68. Samosir: “Baik, Bu!”

69. [Samosir segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari menuju bukit yang dimaksud ibunya, kemudian mendakinya. Ketika tampak oleh ibunya bahwa Samosir sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh dari rumah mereka itu.]

70. Putri: [sambil berlari ke arah sungai] “Sudah tidak ada lagi yang bisa kupercaya. Toba sudah berkhianat!”

71. [Akhir cerita, setibanya Putri di tepi sungai, mendadak langit menggelap, kilat menyambar disertai bunyi guruh yang menggelegar. Putri kemudian melompat ke dalam sungai. Ia berubah menjadi seekor ikan besar lagi. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar. Di kemudian hari, orang-orang menyebutnya Danau Toba dan pulau kecil yang berada di tengah-tengahnya dinamai Pulau Samosir.]

***

Demikianlah postingan cerita rakyat Indonesia kali ini. Oiya, naskah drama ini bisa dikembangkan sesuai dengan imajinasi teman-teman sekalian. Semoga bermanfaat ^^
More aboutNaskah Drama #1: Danau Toba