Naskah Drama #1: Danau Toba

Hari ini, saya memposting naskah drama yang dikembangkan dari cerita rakyat Danau Toba. Ada beberapa perbedaan antara naskah ini dengan cerita rakyat Indonesia tentang danau paling terkenal di Sumatera Utara tersebut. Tapi, perbedaan itu bukanlah untuk mengubah alur cerita, melainkan untuk memudahkan penulisan dan memberikan pemahaman kepada para pemain dan penonton.

Ada tiga pemain dalam naskah drama yang ditulis berdasarkan cerita rakyat Danau Toba ini. Pertama, Toba selaku tokoh utama; kedua, Putri selaku ikan yang berubah menjadi seorang perempuan yang cantik; ketiga, Samosir selaku putra Toba dan Putri. Naskah drama ini ditulis dan dikembangkan untuk membantu teman-teman yang ingin mementaskan drama yang mengambil setting cerita rakyat Danau Toba - salah satu dari cerita rakyat Indonesia asal Sumatera Utara.

***

Babak I

1. [Toba, pemuda miskin yang tinggal di Sumatera Utara alias Medan dengan peralatan pancingnya, di atas panggung. Ia hendak memancing]

2. Toba: [dengan logat batak] “Dari pagi tadi hingga sore begini aku memancing, belum satu pun umpan disaut ikan. Kenapa tak ada ikan-ikan memakan umpan pancingku? Apa rasa umpan dari pancingku tidak enak? Atau karena Dewi Fortuna belum berada di pihakku? Aduh, kalau begini, bagaimana aku bisa makan hari ini? Oh, Tuhan, tolonglah hambamu ini…”

3. [Toba melempar umpan yang telah diikatkan pada tali pancing. Setelahnya duduk melamun, menunggu lagi]

4. Toba: [Tali pancang mengencang, tanda umpan dimakan ikan, Toba dengan ekspresi terkejut, sigap memegang joran] “Tampaknya, ikan besar yang menyambar umpanku.”

5. [Toba menarik tali pancing sekuat tenaga, hingga akhirnya seekor ikan mas berhasil ditarik olehnya.]

6. Toba: “Ikan yang besar, lumayan untuk lauk dua hari.”

7. [Ikan yang ditangkap oleh Toba mendadak berubah menjadi wanita berparas cantik nan anggun. Toba terkejut bercampur tidak percaya, saat melihatnya?]

8. Toba: “Putri dari mana kau? Dari kayangankah? Elok sekali paras kau.”

9. Putri: “Ya, aku Putri, dari kayangan, wahai Pemuda. Aku begini gara-gara dikutuk oleh para dewata karena telah melanggar peraturan di kayangan. Telah tersurat, jika aku tersentuh oleh makhluk lain, maka aku akan berubah seperti makhluk itu. Karena aku disentuh manusia, maka aku menjadi manusia.”

10. Toba: “Panjang sekali cerita kau, tak mengerti aku. Ah! Sudahlah, kau pulang dulu ke rumahku nanti kau ceritakan ulang.”

11. [Sesampainya di rumah Toba]

12. Putri: “Inikah rumah Abang? Berantakan sekali!”

13. Toba: “Aku terlalu sibuk mengurusi hal-hal lain di luar rumah. Jadi, tak sempat membersihkan rumah. Pasti kau kira rumahku itu bersih dan indah? Ya, beginilah kalau tinggal sendirian.”

14. Putri: “Lho, Abang sendirian? Orang tua Abang di mana, dari tadi tidak kelihatan?”

15. Toba: “Mereka telah meninggal 3 tahun lalu. Ayahku meninggal terlebih dulu, selang sebulan kemudian baru ibuku menyusul. Eh, tapi sudahlah tak perlu kau pikirkan. Itu sudah berlalu.”

16. Putri: “Maafkan aku. Ngomong-ngomong, nama Abang siapa?”

17. Toba : “Aku, Toba. Kalau kau siapa? Eh, sebentar, katanya kau dari kayangan. Berarti kupanggil kau Putri saja. Lebih elok didengarnya. Eh, tadi kau ngomong mau cerita lagi kenapa kau sampai bisa dikutuk jadi ikan mas. Ceritalah. Aku siap mendengar.”

18. Putri: “Ah! Sudahlah, tak perlu diingat lagi. Aku tak mau mengingat masa laluku. Tadi juga aku sudah berbagi dengan penonton dan Abang, tapi sepertinya Abang agak telat mikir. Yang penting sekarang, aku bisa menikmati rasanya menjadi seorang manusia.”

19. Toba: “Ya, sudahlah kalau kau tak mau cerita lagi.”

[Setelah berada di rumah Toba selama hari, tindak tanduk Putri membuat hati pemuda jomblo itu tertarik. Jadilah, ia mengungkapkan cintanya.]

20. Toba: “Putri, bolehkah aku mengatakan sesuatu pada kau?”

21. Putri: [Mengangguk dan tersenyum]

22. Toba: “Entahlah, apa yang kurasakan ini benar. Hmm, maksudku begini, kita berbeda kelas sosial. Kau Putri dari kayangan. Sementara, aku orang bumi. Hmm, … gimana ya?”

23. Putri: “Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Bang…”

24. Toba: “Jujur, sejak melihatmu, entahlah ada yang berbeda pada diriku. Ada semacam getaran di hatiku, melihat paras kau yang elok dan anggun, tutur kata kau yang lembut, dan semuanya. Bisa dikatakan hmm… aku jatuh cinta padamu. Putri maukah menikah denganku?”

25. Putri: “Baiklah. Aku bersedia dengan syarat: Abang tidak boleh mengatakan mengenai asal-usulku. Dan jika kita punya anak nanti, Abang tak boleh memanggilnya dengan sebutan anak ikan. Karena itu menyakitiku juga.”

26. Toba: “Kalau masalah itu kau tak perlu takut. Rahasia ini akan kujaga baik-baik. Mari, kau kukenalkan dengan orang kampung. Kujamin mereka terpesona melihat keanggunanmu.”

27. Toba: “Warga, ayo ke sini! Aku mau mengenalkan kalian dengan calon istriku yang berasal dari i……”

28. Warga kampung: “Toba, ceritakanlah kisah cinta kalian.”

29. Toba: (dengan logat batak yang khas) “Aku bertemu dengannya di desa sebelah. Panjanglah ceritanya, aku sendiri sampai lupa bagaimana detail cerita aku bisa bertemu dengan wanita berparas cantik ini. Aku orang yang beruntung dapat menikahinya.”

Babak II

30. [Toba dan Putri telah menikah dan Toba sudah pindah rumah.]

31. Toba: [masih dengan logat batak yang kental] “Terimakasih atas apa yang sudah kau berikan pada Putri. Berkat kau, aku bisa tinggal di rumah modern seperti ini. Tidak seperti rumahku yang dulu. Sekali lagi terimakasih, Putri.”

32. Putri: “Abang, tidak perlu sungkan. Yang penting, sekarang kita bahagia.”

33. Toba: “Betul betul betul.”

34. Putri: [mengerahkan kesaktian yang dimilikinya] “Abang, ini adalah pemberianku yang terakhir. Setelah ini, kesaktianku akan hilang. Dan, aku tidak bisa memberikanmu sesuatu yang berharga lagi. Pergunakan pemberianku yang terakhir ini sebaik-baiknya.”

35. Toba: “Kau tak perlu takut. Aku pasti menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat dan takkan menyia-nyiaknnya. Kalau tidak ada kau, mungkin aku masih kerja sendirian di ladang sekarang.”

Babak III

36. [Toba dan Putri dikaruniai bayi laki-laki yang lucu.]

37. Toba: ”Nang, ning, ning, nang, ning, nung. Putri, kau lihat anak kita lucu ‘kali.”

38. Putri: “Iya, Bang. Ngomong-ngomong, anak kita dikasih nama apa, Bang?”

39. Toba: “Bagaimana kalau Samosir?”

40. Putri: [tersenyum] “Samosir, nama yang bagus. Cocok untuk anak kita, Bang.”

Babak IV

41. [Samosir tumbuh menjadi anak yang tampan, tetapi anak ini punya kebiasaan buruk. Anak ini tukang makan. Hal ini seringkali membuat Toba marah.]

42. Toba: [berteriak sambil setengah marah] “Putri, kau tidak masak hari ini? Bagaimana kau ini, tidak tahukah kau aku lelah pulang kerja. Ternyata, sampai rumah aku harus marah lagi.”

43. Putri: “Maaf, Bang. Tadi Samosir merasa sangat lapar. Jadi, bekal buat Abang dimakan sama Samosir. Ini mau saya buatkan lagi bekal untuk Abang. Ditunggu ya, Bang.”

44. Toba: [masih setengah marah] “Ya, sudah kutunggu. Tapi, lain kali jangan diulangi. Mana si Samosir? Samosir, ke mana kau? Sudah kenyang kau makan, Nak? Enak kau makan jatah punya ayahmu ini? Kau, tahu ayahmu ini lelah, letih, dan lesu.”

45. Samosir: “Maaf, Ayah. Tadi, Samosir sangat lapar. Jadi, Samosir makan punya ayah.”

46. Toba: “Ya sudah, ayah maafkan. Tapi lain kali, jangan diulangi ya, mengerti?”

47. Samosir: “Iya, Ayah. Samosir, janji.”

48. Toba: “Bagus.”

49. [Hal ini berlangsung terus sampai akhrinya kesabaran Toba sudah melampaui batas.]

50. Toba: [dengan nada marah] “Samosir, apa yang waktu itu kau janjikan kepada aku? Kau melanggar janjimu. Sekarang, aku harus menghukummu. Kau tidak boleh tidur di rumah ini, sebelum kau bisa mengendalikan rasa laparmu itu!”

51. Putri: [sambil menangis] ”Jangan, Bang! Samosir masih kecil, kalau Samosir sakit bagaimana, Bang? Apa Abang tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Samosir jika Abang melakukan ini. Samosir tak berdaya, Bang. Dia masih kecil.”

52. Toba: [masih dengan nada marah] “Ini jadinya kalau anak ini terus dimanja. Dia selalu bertindak sesuka hati, tidak memikirkan orang lain. Kalian berdua sama saja.”

53. Putri: [dengan nada memelas] “Sekarang terserah pada Abang! Kalau Abang ingin menghukum Samosir. Silakan! Tapi, Abang harus turuti permintaan saya. Saya minta Abang tidak mengusir Samosir dari rumah. Hanya itu permintaan saya.”

54. Toba: (marah agak mereda] “Samosir, karena ibumu yang meminta, Ayah tidak bisa menolak. Ayah tidak jadi mengusirmu. Tapi kau tetap harus menjalani hukumanmu. Selama seminggu, kau tidak kuizinkan tidur di kamar. Tempat tidurmu di gudang. Mengerti?”

55. Samosir: [sambil menangis] “Iya, Ayah. Samosir mengerti.”

56. [Empat bulan berlalu, Samosir yang sudah bebas dari hukumannya, masih dengan kebiasaannya yang sering lapar. Kali ini, kemarahan Toba sudah memuncak.]

57. Toba: [sangat marah] “Samosir, di mana kau?”

58. Samosir: “Aku di sini Ayah. Ada apa Ayah memanggilku?”

59. Toba: “Jangan banyak bertanya kau! Apakah kau makan lagi bekal untuk Ayah?”

60. Samosir: “Maaf, Ayah! Tadi, Samosir sangat lapar, terpaksa Samosir makan bekal Ayah?”

61. Toba: [menarik cuping telinga Samosir sambil membawanya ke luar rumah] “Kau tahu Ayah dari mana? Kau tahu Ayah ini bekerja di ladang, banting tulang. Untuk siapa? Untuk kau! Tapi, seenaknya saja kau makan bekal Ayah. Sekali, dua kali sudah Ayah maafkan, tapi ini sudah berulang kali. Kau tahu itu bukan?”

62. Samosir: [menangis] “Maaf, Ayah! Samosir akan mencoba untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan hukum Samosir lagi Ayah.”

63.Toba: “Sudah! Tak ada lagi kata maaf buat anak nakal seperti kau! Dasar anak kurang ajar. Tidak tahu diuntung. Betul-betul kau keturunan ikan!!”

64. [Sambil menangis, Samosir berlari pulang menemui ibunya di rumah. Kepada ibunya dia mengadukan bahwa dia dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan yang diucapkan ayahnya kepadanya diceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali, terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu.]

65. Putri: [Terkejut mendengar cerita Samosir] “Anakku, apa kau jujur? Apakah kau tidak membohongi Ibu?”

66. Samosir: [Menggeleng] “Tidak, Bu. Apa benar aku ini anak ikan, Bu? Jawab, Bu!

67. Putri: “Sekarang, Ibu minta kau untuk tidak mempedulikan perkataan Ayahmu. Segeralah pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah kita dan kau harus memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu.”

68. Samosir: “Baik, Bu!”

69. [Samosir segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari menuju bukit yang dimaksud ibunya, kemudian mendakinya. Ketika tampak oleh ibunya bahwa Samosir sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit , dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh dari rumah mereka itu.]

70. Putri: [sambil berlari ke arah sungai] “Sudah tidak ada lagi yang bisa kupercaya. Toba sudah berkhianat!”

71. [Akhir cerita, setibanya Putri di tepi sungai, mendadak langit menggelap, kilat menyambar disertai bunyi guruh yang menggelegar. Putri kemudian melompat ke dalam sungai. Ia berubah menjadi seekor ikan besar lagi. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tergenanglah lembah tempat sungai itu mengalir. Toba tak bisa menyelamatkan dirinya, ia mati tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar. Di kemudian hari, orang-orang menyebutnya Danau Toba dan pulau kecil yang berada di tengah-tengahnya dinamai Pulau Samosir.]

***

Demikianlah postingan cerita rakyat Indonesia kali ini. Oiya, naskah drama ini bisa dikembangkan sesuai dengan imajinasi teman-teman sekalian. Semoga bermanfaat ^^
Tag : Drama
0 Komentar untuk "Naskah Drama #1: Danau Toba"

Back To Top