Showing posts with label Sumatera Utara. Show all posts
Showing posts with label Sumatera Utara. Show all posts

Cerita Rakyat Indonesia #126: Asal-Usul Candi Muara Takus

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, September 16, 2013

Memang cerita rakyat Indonesia asal-usul Candi Muara tidaklah sepopuler situs ini sendiri. Pun demikian, keberadaan sastra lisan ini adalah bagian yang tak terlepas dari keberadaan situs kompleks Candi Muara Takus itu sendiri.

*

Dikisahkan, dulu di Sumatera, ada seorang pria bernama Datuk Tukang Ubek yang sokonya hilang. Dia lantas meminta bantuan dua temannya, yaitu Datuk Tukang Tembak dan Datuk Tukang Solam, untuk menemaninya mencari Sokonya itu.

Berangkatlah ketiganya bertapa di tempat Koto Pondam. Setelah selesai mereka kembali berlayar menuju Dondang. Ketika mereka sampai di Laut Merah, terdengar seseorang berteriak meminta pertolongan. Rupanya itu suara seorang perempuan yang sedang dicengkeram oleh elang bangkai.

Ketiganya kemudian menolong perempuan itu, dan berhasil mendapatkannya. Nama perempuan itu adalah Putri Reno Bulan - itu terlihat dari gelang yang ada di tangannya. Setelah itu, ketiga datuk itu saling berebut untuk mengantarkan si perempuan. Karena tidak ada titik temu, akhirnya mereka menemui Datuk Singo Mahadiraja untuk memutuskan siapa di antara mereka yang berhak mengantarkan si perempuan. Setelah beberapa saat, akhirnya Datuk Singo Mahadiraja memutuskan bahwa Datuk Tukang Ubek-lah yang berhak mengantarkan Putri Reno Bulan ke rumahnya.

*

Rupanya, Putri Reno Bulan adalah orang India, yang diculik oleh burung elang dari rumahnya. [Baca artikel tentang kumpulan cerita rakyat dan dongeng]

Ibunda Putri Reno Bulan, yakni Putri Andam Dewi, gelisah anaknya tak pulang-pulang. Karena itu, dia memanggil peramal untuk mengetahui di mana putrinya berada. Sang peramal pun membeberkan kisah sebenarnya bahwa Putri Reno Bulan dalam keadaan selamat dan berada di Sumatera.

Usai mendapat penjelasan sang peramal, Putri Andam Dewi serta suaminya Raja India berangkat ke tanah Sumatera bersama para bawahannya. Sesampainya di tanah Sumatera, rombongan ini pun bertemu dengan Putri Reno Bulan.

Putri Reno Bulan menceritakan bahwa dia telah ditolong oleh tiga orang datuk. Demi membalas kebaikan hati mereka, Putri Reno Bulan meminta ayahnya untuk membuatkan sebuah istana untuk mereka seperti di India. Keinginan tersebut lantas dikabulkan oleh Raja India.

*

Untuk membangun istana yang dimaksud Putri Reno Bulan, membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Sehingga, masyarakat sekitar serta bawahan Raja India bahu-membahu membangunnya. Beberapa waktu kemudian, sesuai waktu yang direncanakan, selesai sudah bangunan yang dimaksudkan.

Raja India pun menyerahkan bangunan tersebut dengan pesta penyerahan. Kini istana yang dibangun itu dikenal dengan nama Candi Muara Takus.

Demikian cerita rakyat tentang asal-usul nama Candi Muara Takus berasal.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #126: Asal-Usul Candi Muara Takus

Cerita Rakyat Indonesia #117: Putri yang menjadi Ular

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, June 20, 2013

Cerita rakyat Indonesia ini karya Kak Rico*

Di tepi sebuah hutan kecil yang hijau, sebuah danau yang berair jernih berkilau disapa mentari pagi. Permukaannya yang tenang beriak kala sepasang kaki yang indah menyibaknya. Sang pemiliknya adalah seorang putri yang sedang duduk di atas batu besar yang menyembul dari dasar danau. Aduhai alangkah cantiknya ia. Bahkan burung-burung pun terpesona memandangnya. Ialah Putri dari kerajaan di sebuah negeri di wilayah Simalungun yang terkenal amat rupawan. Ialah dambaan dari Puluhan Pangeran dan Putra bangsawan. Dan kini seorang Pangeran dari negeri seberang telah datang untuk meminangnya.

Sepasang ikan meloncat di dekat kakinya membuyarkan lamunannya.
“Ah alangkah bahagianya kedua ikan ini. Mereka pastilah sepasang kekasih yang saling mencintai. Sebentar lagi akupun akan sebahagia mereka,” pikir Putri sambil tersenyum kecil.

Beberapa Dayang yang menemani sang Putri, duduk-duduk di tepi danau memperhatikan tingkah sang Putri yang sebentar-bentar tersipu dan tersenyum malu.

“Lihatlah Tuan Putri kita. Oh ia pasti sedang melamunkan rencana pernikahannya dengan Pangeran dari kerajaan tetangga yang katanya sangat tampan. Setelah puluhan Pangeran yang datang, akhirnya Baginda memutuskan menerima lamaran yang satu ini,” kata salah satu Dayang.

“Kenapa? Apa istimewanya Pangeran itu?” tanya Dayang lainnya.

“Entahlah. Bagaimana aku bisa tahu,” kata Dayang pertama.

“Ayolah! Ceritakan apa yang kau ketahui,” desak Dayang lain.

“Aku juga tidak tahu banyak, “ jawab Dayang pertama yang rupanya Dayang kepercayaan Putri. “Tadi pagi Baginda memanggil Putri menghadap. Katanya utusan Pangeran dari kerajaan tetangga datang untuk melamarnya. Kerajaannya sangat besar dan kuat. Sehingga menurut Baginda, jika lamaran itu ia terima, otomatis akan menyatukan kekuatan kedua negeri.”

“Apakah Tuan Putri langsung menerimanya?” tanya Dayang kedua.

“Ya tentu saja. Putri adalah anak yang berbakti. Ia tahu perkawinan ini akan membawa kebaikan untuk seluruh negeri,” jawab Dayang pertama.

“Kalau begitu, sebentar lagi akan ada pesta besar donk! Asyiiiiik.,” seru Dayang-dayang.

“Ah, masih lama. Masih dua bulan lagi. Pestanya memang akan besar-besaran, makanya butuh waktu lama untuk mempersiapkannya,” kata Dayang pertama.

“Ya Tuhan. Semoga Tuan Putri selalu bahagia,” doa semua Dayang.

“Tugas kita sekarang adalah menjaga Tuan Putri supaya tidak ada sesuatu yang akan membatalkan pernikahannya,” kata Dayang pertama disambut anggukan Dayang lainnya.

“Bibi Dayang…!” seru Putri.
Para Dayang segera berlarian menuju Tuan mereka. Mereka membantu Putri membersihkan badan hingga kulitnya semakin tampak menawan. Kemudian mereka mencuci rambutnya yang panjang dan hitam sehingga harum semerbak. Kemudian para Dayang membiarkan Tuan mereka berendam menikmati kesejukan air danau. Memang begitulah kebiasaan Putri, ia tidak pernah cepat-cepat keluar dari air setelah selesai membersihkan badan.

Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang menggoyangkan semua pepohonan di pinggir danau. Sebatang ranting yang lumayan besar, patah dan jatuh menimpa wajah Putri tanpa sempat menghindarinya.
“Aaaa…..!” Putri menjerit kesakitan.

Dayang-dayang segera berlarian membantu Putri keluar dari danau. Dari sela jari-jari Putri yang masih menutupi mukanya, mengalir darah segar. Dengan panik mereka berusaha menghentikannya. Tapi alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari ternyata hidung Putri telah hilang sebelah.

“Cepat ambilkan aku cermin!” perintah Putri.

Dengan ketakutan, mereka segera menyerahkan sebuah cermin.
“Tidaakkk…!” tangis Putri pilu. “Oh Tuhan. Mukaku cacat. Bagaimana aku bisa menikah dengan Pangeran jika mukaku sejelek ini. Ia pasti tidak mau melihatku.” [klik disini untuk membaca cerita rakyat indonesia lainnya]

Putri menangis meratapi nasibnya yang malang. Ia begitu ketakutan membayangkan kemarahan Pangeran jika ia tahu mempelainya tak secantik yang ia bayangkan. Mungkin negerinya akan diserang, karena dianggap telah berbohong. Atau hal-hal buruk lainnya. Ia tak kuasa membayangkan kesedihan ayah dan bundanya.

“Tuhan, lebih baik kau hukumlah aku. Hilangkanlah aku dari dunia ini. Aku tidak sanggup bertemu kedua orang tuaku lagi, “ ratap Putri.

Petir menyambar diiringi guntur yang menggelegar begitu Putri mengucapkan doanya. Semua yang ada di situ menjerit ketakutan. Mereka semakin ketakutan ketika melihat badan Putri secara perlahan mulai ditumbuhi sisik seperti ular. Dayang pertama segera berlari ke istana untuk memberitahu Raja dan Ratu.

“Apa? Putriku berubah menjadi ular? Bagaimana bisa?” seru Ratu sambil terisak.

“Ayolah kita segera pergi melihatnya. Mungkin kita masih bisa menolongnya,” kata Raja sambil menarik tangan istrinya. Tabib istana pun tanpa disuruh ikut berlari di belakang Raja.

Sesampainya di danau, Putri sudah tidak tampak lagi. Tinggal para dayang yang masih menangis keras mengerumuni seekor ular besar yang bergelung di atas batu besar.

“Putriku…?” seru Ratu shock.

Ular besar itu menoleh dan menjulurkan lidahnya. Dari kedua matanya mengalir air mata. Pandangannya begitu memilukan seolah-olah hendak mengucapkan maaf dan selamat tinggal.

“Putri. Apa yang terjadi nak?” tangis Raja dan Ratu.

“Cepat tolong dia tabib!” seru Raja.

Namun Ular besar itu menggelengkan kepalanya dan segera meninggalkan mereka menuju hutan. Betapapun kerasnya Raja dan Ratu memanggilnya, Putri yang malang itu tetap menghilang ditelan hutan. Sejak itu Putri tidak pernah kembali. Hal ini menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu mengucapkan doa yang baik dan selalu berpikir tenang. Karena bagaimana seandainya kita terlanjur mengucapkan doa yang buruk dan kemudian dikabulkan? Mengerikan bukan?

----------
*) Kak Rico adalah seorang pendongeng. Ia punya website yang menampung seluruh dongeng-dongengnya, termasuk cerita rakyat Indonesia di blog dongengkakrico.wordpress.com.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #117: Putri yang menjadi Ular

Cerita Rakyat Danau Toba Berbahasa Inggris

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Sunday, May 5, 2013

Pada artikel sebelumnya, saya sudah pernah memposting cerita rakyat Danau Toba dan naskah drama Danau Toba. Cerita tersebut mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Toba yang berkenalan dengan seorang wanita, yang berasal dari ikan mas—hasil pancingannya sendiri. Rupanya wanita ini telah memikat hati Toba si bujak lapuk. Hal itulah yang membuat Toba ingin menikahinya. Setelah mengungkapkan perasaannya, si wanita setuju tapi dengan syarat bahwa Toba tidak akan mengungkit-ungkit asal-usulnya. Ketika mereka sudah menikah dan memiliki seorang anak bernama Samosir, secara tidak sengaja (khilaf) Toba mengungkit asal-usul Samosir. Hujan turun selama beberapa waktu, hingga menggenanglah air hujan dan menjadi sebuah danau. Masyarakat setempat menamai danau itu Danau Toba.

Cerita rakyat Indonesia ini memiliki versi bahasa Inggrisnya. Jika teman-teman memiliki tugas yang berhubungan dengan dongeng Danau Toba tapi dalam versi bahasa Inggris, teman-teman bisa membacanya langsung melalui link berikut. Oiya, saya beri sedikit deskripsi sebagai gambarannya ya…

Indonesian Foklore: Lake Toba

Once upon time, there was a fisherman who lived in North Sumatra. One day, when he was fishing in a river, he got a big fish, beautiful big fish. He was so excited. Then he went home and put the fish in the bucket. But when he wanted to kill the fish, he felt so pity with it.
In the next day, he went fishing again. But this time, he could not get any fish. He was so hunggry. Then he went home with empty-handed. After got there, he was surprised, there was a girl there. [Source]

Teman-teman bisa mengembangkan dongeng di atas sesuai imajinasi sendiri. Semoga apa yang saya bagikan di dalam artikel ini bermanfaat untuk kalian. Terima kasih.[]
More aboutCerita Rakyat Danau Toba Berbahasa Inggris

Cerita Rakyat Indonesia #77: Dayang Bandir dan Sandean Raja

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Wednesday, March 20, 2013

Cerita rakyat Indonesia berjudul Dayang Bandir dan Sandean Raja ini berasal dari Sumatera Utara dengan cerita dua kakak beradik dari Kerajaan Timur didzalimi oleh pamannya. Sebelumnya, anda bisa membaca cerita rakyat Sumatera Utara pada kategori. Bagaimana kisah selanjutnya?

***

Di Kerajaan Timur Sumatera Utara, ada seorang putra mahkota yang bernama Sandean Raja. Ia mempunyai kakak perempuan bernama Dayang Bandir. Orangtua kedua anak ini meninggal saat mereka masih kecil. Oleh karena itu, untuk sementara, kerajaan dipimpin olehn paman mereka bernama Kareang.

Kareang sangat serakah. Ia ingin menjadi raja selamanya dan tidak ingin memberikannya kepada keponakannya. Untuk menjadi raja selamanya, ia harus memiliki benda-benda pusaka Kerajaan Timur. Benda itu disimpan oleh Dayang Bandir.

Dayang Bandir mengetahui niat buruk pamannya. Ia pun menyembunyikan pusaka itu.

Kareang sangat marah ketika mengetahui pusaka tersebut tidak ada di tempatnya. Ia mulai mengancam para keponakannya itu. Untunglah para pengawal sangat menyayangi Dayang Bandir dan Sandean Raja. Mereka menjaga kedua tuan mereka itu.

Suatu hari, Kareang mengajak kedua keponakannya berjalan-jalan ke hutan. Sikapnya sangat baik, sehingga kedua keponakannya itu tidak menaruh curiga sama sekali. Di tengah hutan, Kareang kembali memaksa Dayang Bandir memberi tahu letak pusaka-pusaka itu. Namun, Dayang Bandir tidak mau mengatakannya. Kareang sangat marah dan mengikat Dayang Bandir di atas pohon yang sangat tinggi.

Kareang meninggalkan kedua keponakannya itu tanpa bekal makanan.

Sandean Raja tak henti-hentinya menangis. Ia mencoba menyelamatkan kakaknya, tetapi tidak bisa. Ia pun luka-luka karena terjatuh dari pohon.

Akhirnya, Dayang Bandir meninggal dunia karena tidak makan dan minum. Sebelumnya, ia berpesan agar Sandean Raja menemui adik ibu mereka, yaitu Raja Sorma. Paman mereka itu adalah raja di Kerajaan Barat.

Sandean Raja berusaha bertahan hidup di hutan. Beberapa tahun kemudian, ia tumbuh menjadi pemuda gagah dan pemberani. Ia melaksanakan pesan kakaknya untuk menemui Raja Sorma.

Raja Sorma adalah seorang raja yang baik budi dan bijaksana. Ia tidak kejam seperti Kareang yang kita telah menjadi raja di Kerajaan Timur.

Semula, Raja Sorma tidak langsung percaya bahwa yang datang menemuinya itu adalah keponakannya. Ia memberi persyaratan kepada Sandean Raja. Pertama, ia harus memindahka sebatang pohon hidup di hutan ke dalam istana. Ujian yang kedua, ia harus menebas sebagian wilayah hutan untuk dijadikan ladang. Ketiga, Sandean Raja harus membangun sebuah istana besar yang disebut Rumah Bolon. Istana ini harus bisa selesai dalam tiga hari. Sandean Raja mampu melewati ujian yang diberikan oleh Raja Sorma.

Lalu, ujian terakhir, Sandean Raja harus menebak putri pamannya itu yang berada di antara puluhan gadis. Mereka ditempatkan di dalam ruangan yang sangat gelap.

Roh Dayang Bandir membantu adiknya itu. Sandean Raja mampu menunjuk putri Raja Sorma dengan benar.

Akhirnya, Raja Sorma menikahkan putrinya dengan Sandean Raja. Mereka hidup bahagia di Kerajaan Barat.

Suatu malam, Sandean Raja bermimpi. Dayang Bandir memintanya untuk memimpin Kerajaan Timur sesuai amanat ayah mereka. Lalu, Sandean Raja menyusun kekuatan untuk menyerang Kerajaan Timur. Ia memimpin sendiri serangan mendadak itu. Kerajaan Timur kalah. Kareang yang jahat tewas dalam peperangan itu. Seluruh rakyat Kerajaan Timur sangat bersukacita dengan kembalinya Sandean Raja. Ia memimpin Kerajaan Timur denga arif bijaksana seperti ayahnya dulu.

***

Pesan dalam cerita rakyat Indonesia ini adalah tanamkan kebaikan dalam diri kita kebaikan akan selalu membawa kebahagiaan.

Cerita rakyat Indonesia ini diambil dari buku 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara, Visimedia, 2010. Dikumpulkan dan diceritakan kembali oleh Marina Asril Reza.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #77: Dayang Bandir dan Sandean Raja

Cerita Rakyat Indonesia #75: Legenda Lau Kawar

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, March 18, 2013

Selain Danau Toba yang terkenal akan keindahan alam, Sumatera Utara ada danau lain yang juga tidak kalah terkenal, yaitu Danau Lau Kawar. Danau ini terletak di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Masyarakat setempat percaya bahwa danau yang terbentuk secara alami ini memiliki cerita tersendiri, dan masuk ke ranah budaya cerita rakyat Indonesia. Mau tahu ceritanya? Yuk baca sama-sama...

***

Dulu sekali, ada sebuah desa di Sumatera Utara yang bernama Desa Kawar, yang subur dan makmur. Suatu ketika, hasil panen penduduk berlimpah ruah. Para penduduk pun mengadakan acara adat sebagai bentuk syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Penduduk desa itu bersukacita menghadiri acara itu. Semua penduduk hadir, kecuali seorang nenek yang sedang terbaring sakit di rumahnya. Semua anggota keluarga nenek itu pergi ke pesta dan meninggalkan sang nenek seorang diri.

Suara yang ramai membangunkan si Nenek. Perutnya terasa lapar. Dengan susah payah, ia turun dari tempat tidur dan beringsut ke dapur untuk mencari makanan. Sayangnya, tak ada sedikit pun makanan di dapur.

Nenek itu kembali ke tempat tidur. Ia sangat sedih karena anak dan menantunya tidak ingat padanya. Padahal, di tempat pesta, makanan berlebih. Air matanya bercucuran.

Ketika pesta makan-makan usai, barulah anaknya ingat bahwa ibunya belum makan. Ia menyuruh istrinya mengirimkan makanan untuk ibu mereka di rumah. Sang istri segera membungkus makanan dan menyuruh anaknya mengantar makanan itu. Setelah mengantar makanan, anak itu kembali lagi ke tempat pesta.

Si Nenek sangat senang cucunya datang membawa makanan. Namun, ia terkejur saat membuka bungkusan tersebut. Isinya hanya sisa-sisa makanan yang menjijikkan.

Si Nenek sangat sedih. Air matanya berlinang. Dalam kesedihannya, ia berdoa kepada Tuhan.

"Ya Tuhan, betapa durhakanya mereka kepadaku. Berikanlah pelajaran yang setimpal kepada mereka!" demikian si Nenek berdoa.

Tak lama kemudian, terjadilah gempa bumi yang dahsyat. Petir menyambar dan guntur menggelegar. Hujan turun begitu derasnya.

Penduduk yang sedang menyelenggarakan pesta rakyat berlarian dengan panik sambil menjerit-jerit ketakutan. Namun, hujan semakin deras dan dalam sekejap, Desa Kawar pun tenggelam. Tak ada seorang pun selamat.

Desa yang subur makmur itu pun berubah menjadi sebuah kawah besar yang digenangi air kawah itu dinamakan Lau Kawar.

***

Demikianlah cerita rakyat Indonesia berjudul Legenda Lau Kawar dari Sumatera Utara. 

Cerita rakyat Indonesia ini dicuplik dari 108 Cerita Rakyat Terbaik Asli Nusantara, yang diceritakan kembali oleh Marina Asril Reza. Buku ini diterbitkan tahun 2010 oleh Visimedia, Jakarta.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #75: Legenda Lau Kawar

Cerita Rakyat Indonesia #37: Asal Mula Nama Pulau-pulau di Mentawai

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Friday, December 28, 2012

Kepulauan Mentawai adalah nama salah satu kabupaten di Provinsi Sumatra Barat. Kabupaten Kepulauan Mentawai terdiri dari 4 kelompok pulau utama yang berpenghuni, yaitu Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan yang mayoritas dihuni oleh suku Mentawai. Di sekitar keempat pulau utama tersebut terdapat beberapa pulau kecil yang telah diberi nama. Pemberian nama untuk pulau-pulau kecil tersebut terkait dengan pengembaraan masyarakat suku Mentawai dari daerah Simatalu, Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat untuk mencari daerah baru. Pulau-pulau manakah yang dimaksud dalam cerita ini? Berikut kisahnya dalam cerita Asal Mula Nama Pulau-pulau Di Mentawai.

***

Dahulu, suku Mentawai masih tinggal dalam satu kampung bernama Simatalu yang kini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Siberut Utara. Mereka senantiasa hidup rukun dan saling menghormati satu sama lain. Suatu ketika, kerukunan masyarakat di kampung itu terpecah akibat ulah seorang warganya yang membuat kekacauan.

Hari itu, tampak seorang lelaki setengah baya berjalan seorang diri menuju ke hutan untuk mencari kayu bakar. Saat sedang asyik mengumpulkan ranting-ranting kayu yang sudah kering, tiba-tiba ia melihat sebatang pohon sipeu (nama buah yang terdapat di Siberut Utara). Rupanya, pohon sipeu itu sedang berbuah lebat dan mulai masak. Maka, ia pun membuat garis lingkaran di tanah mengelilingi batang pohon itu.

“Semoga buah pohon sipeu ini jatuh di dalam lingkaran yang ku buat ini sehingga akan menjadi milikku,” gumam lelaki setengah baya itu dengan penuh harapan.

Usai berkata demikian, lelaki setengah baya itu pun pulang sambil memikul kayu bakar yang telah dikumpulkannya. Selang beberapa saat kemudian, datang pula seorang lelaki lain di tempat itu. Saat melihat garis lingkaran di bawah pohon sipeu itu, ia pun tertarik untuk membuat garis lingkaran yang lebih luas.

“Ah, aku juga mau membuat garis lingkaran di sini. Semoga buah sipeu ini jatuh di dalam lingkaranku,” harapnya seraya meninggalkan tempat itu.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali si lelaki yang pertama kembali mendatangi tempat itu. Mulanya, ia merasa senang karena melihat ada sebuah sipeu yang sudah masak jatuh di garis lingkarannya. Namun, ketika hendak mengambil buah itu, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah sipeu lain yang lebih besar dan tergeletak di dalam garis lingkaran yang dibuat oleh orang lain. Pada saat itulah muncul sifat serakahnya.

“Ah, masak aku yang lebih awal membuat garis lingkaran hanya mendapatkan buah sipeu kecil?” gumamnya. “Selagi orang itu belum datang, sebaiknya aku tukar saja buah sipeu itu.”

Lelaki yang serakah itu cepat-cepat mengambil buah sipeu yang besar kemudian menaruh sipeu kecil miliknya ke dalam garis lingkaran orang lain. Setelah itu, ia bergegas kembali ke rumahnya dengan perasaan senang. Sepeninggal lelaki paruh baya itu, lelaki yang kedua pun tiba di tempat itu. Betapa senang hatinya saat melihat sebuah sipeu kecil tergeletak di dalam garis lingkarannya. Namun, ketika hendak mengambil buat itu, ia merasa ada sesuatu yang janggal pada tempat buah itu terjatuh. Jejak buah yang tercetak di tanah itu tidak sama dengan buah sipeu miliknya. 

“Hai, kenapa jejak buah sipeu ini jauh lebih besar daripada buahnya?” gumam lelaki itu, “Pasti ada sesuatu yang tidak beres.”

Merasa curiga, lelaki kedua itu pun segera memeriksa garis lingkaran milik orang lain. Dugaannya benar. Setelah mencocokkan jejak yang ada di garis lingkaran itu dengan buah sipeu yang dipegangnya ternyata ukurannya sama persis. Dengan perasaan kecewa, ia pun membawa pulang buah sipeu itu. Setiba di rumah, ia kemudian berpikir bahwa seseorang pasti telah berlaku tidak adil pada dirinya. Ia merasa telah ditipu dan tenggelam dalam perasaan resah. Tak mau berlama-lama terhanyut dalam perasaan tertipu dan resah, maka ia pun berniat untuk menyelidiki siapa yang telah melakukan kecurangan itu.

“Ah, aku harus mencari tahu siapa orang yang telah menipuku itu,” tekadnya.

Keesokan harinya, lelaki yang kedua itu datang lebih pagi ke hutan. Ia kemudian memanjat pohon sipeu itu lalu mengambil dua buahnya dengan ukuran yang berbeda. Buah sipeu yang lebih besar diletakkan di garis lingkaran miliknya, sedangkan buah sipeu yang kecil diletakkan di garis lingkaran orang lain. Setelah itu, ia bersembunyi di balik semak-semak.

Tak berapa lama kemudian, lelaki yang pertama pun datang. Dengan cepat-cepat ia kembali menukar buah sipeu kecil yang jatuh di lingkrannya dengan buah sipeu besar milik orang lain. Lelaki kedua yang menyaksikan kejadian itu pun jadi tahu bahwa orang yang telah menipunya selama ini adalah tetangganya sendiri, orang sekampung di Simatalu. Karena tidak ingin terjadi pusabuat (perpecahan) di antara mereka, ia memilih mencari daerah baru untuk tempat tinggal.

Suatu hari, lelaki yang kedua beserta seluruh sanak keluarganya meninggalkan kampung Simatalu. Mereka berlayar tanpa arah dan tujuan yang jelas. Setelah beberapa hari mengarungi samudera, sampailah mereka di suatu daerah yang bermuara dua. Rombongan ini singgah sejenak di daerah itu dan memeriksa keadaan sekitar. Setelah memeriksa kondisi cuaca dan iklim, ternyata daerah tersebut dianggap tidak bagus untuk dijadikan tempat tinggal. Akhirnya rombongan ini memutuskan untuk meninggalkan daerah itu. Namun, sebelum pergi, mereka menamakan daerah tersebut dengan nama Dua Monga (dua muara).

Rombongan ini akhirnya melanjutkan pelayaran hingga sampai di suatu daerah yang lain. Ketika kapal mereka tiba daerah itu, anjing yang mereka bawa mendahului turun. Maka, daerah itu pun mereka namai Majojok. Setelah mereka memeriksa keadaan alamnya, ternyata daerah itu tidak cocok juga untuk dijadikan tempat tinggal. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk mencari daerah lain.

Setelah beberapa hari berlayar, rombongan pengembara itu sampai pada suatu daerah. Ketika hendak turun dari kapal, gelang salah seorang anggota rombongan terjatuh. Maka daerah itu mereka namakan Bele Raksok, yang artinya gelang jatuh. Usai memeriksa keadaan di sekitarnya, daerah itu juga dinilai masih belum cocok untuk dijadikan tempat tinggal.

Rombongan pun kembali berlayar hingga sampai di sebuah daerah di Siberut Selatan. Pemandangan di sekitar daerah tersebut sungguh mempesona. Pantainya berpasir putih sehingga tampak bagus dan indah. Mereka pun menamai daerah itu Bulau Buggei, yang artinya pasir putih. Namun, setelah diteliti, ternyata daerah itu masih dianggap kurang cocok sehingga mereka pun melanjutkan pelayaran.

Setelah beberapa hari berlayar, rombongan itu kembali berlabuh di sebuah daerah di Siberut Selatan. Oleh karena daerah itu memiliki banyak Muntei, maka mereka menamainya Muntei. Setelah diteliti, daerah itu juga tidak juga cocok dijadikan tempat untuk menetap. Akhirnya, mereka kembali meneruskan pelayaran. Di tengah perjalanan, rombongan itu mulai dilanda rasa putus asa.

“Sudah banyak daerah kita kunjungi, tapi belum juga ada yang cocok untuk dijadikan tempat menetap. Ingin kembali ke Simatalu juga sudah tidak mungkin,” ungkap salah seorang rombongan itu.

“Kalau begitu, sebaiknya kita meneruskan pelayaran,” ujar seorang anggota rombongan yang lain.

Akhirnya, rombongan itu kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah pulau yang banyak terdapat pohon Paddegat. Mereka pun menamai pulau itu Pulau Mapaddegat. Pulau ini kini termasuk ke dalam wilayah Sipora. Karena tempat itu tidak cocok untuk dijadikan tempat menetap, rombongan ini akhirnya meneruskan pelayaran.

Pelayaran kembali dilanjutkan hingga rombongan tiba di Tuapejat yang masih termasuk ke dalam wilayah Sipora. Setelah diteliti, daerah itu memiliki cuaca dan iklim yang bagus sehingga mereka pun memutuskan untuk menetap di sana. Mereka mulai membangun rumah dan membuka lahan perkebunan untuk ditanami. Daerah itu terus berkembang sehingga lama-kelamaan menjadi kampung yang ramai. Hingga kini, Tuapejat menjadi sebuah nama desa di wilayah Kecamatan Sipora Utara sekaligus sebagai ibukota Kabupaten Kepulauan Mentawai.

***

Demikian cerita Asal Mula Nama Pulau-Pulau Di Mentawai dari daerah Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa perpecahan tidak akan terjadi sekiranya lelaki yang pertama mau berbuat jujur. Dia seharusnya mensyukuri apa yang telah menjadi rejekinya dan menghormati hak orang lain.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #37: Asal Mula Nama Pulau-pulau di Mentawai

Cerita Rakyat Indonesia #17: Kisah Candi Cina

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Saturday, October 20, 2012

Kabupaten Muaro Jambi yang merupakan bagian dari Provinsi Jambi kaya akan peninggalan bersejarah yang tak ternilai harganya. Sayangnya peninggalan-peninggalan ini masih banya yang belum ditemukan dan dirawat sebagai mana mestinya. Salah satunya adalah suatu situs candi yang terdapat di desa Kemingking Dalam, kecamatan Tanggo Rajo. Di desa ini terdapat beberapa gundukan batu yang pada awalnya tidak dianggap sebagai apapun oleh warga sekitar. Namun, ketika lapisan tanah yang menumpuk sedikit demi sedikit mulai luntur, maka terlihatlah bahwa gundukan batu itu merupakan sebuah candi.

Warga tidak terlalu mengetaui tentang asal muasal dari candi ini. Penelitian tentang candi inipun baru saja dilakukan dan belum diketahui hasilnya. Sesuatu yang dapat diyakini kebenarannya adalah candi ini mungkin berasal dari masa suatu kebudayaan budha karena bentuk arsitekturnya yang tidak terlalu berbeda dengan candi yang terletak di situs candi muaro jambi.

Cerita tentang candi ini banyak berkembang di masyarakat desa Kemingking Dalam. Ada berbagai versi cerita tentang candi yang sering disebut warga sebagai candi Cino. Salah satunya adalah bahwa di jaman dahulu kala ketika sistem perdagangan internasional yang memasuki kerajaan Jambi masih dilakukan melalui aliran sungai Batanghari, banyak orang asing yang berkunjung bahkan menetap di Jambi termasuk di Desa Kemingking Dalam. Dari sekian banyak pedagang yang datang dan pergi ini, ada sekumpulan pedagang yang berasal dari negeri Cina.

Pedagang dari negeri Cina ini sering melakukan perjalanan bisnis ke daerah Jambi melalui aliran sungai Batanghari dan ketika mereka berkunjung ke wilayah Jambi mereka akan menetap untuk beberapa waktu karena telah menempuh perjalanan yang jauh dan melelahkan. Karena mereka berasal dari Cina dan beragama Buddha maka mereka kemudian membangun candi yang mereka gunakan untuk kepentingan ibadah mereka selama mereka berada di wilayah Jambi. Karena hubungan mereka dengan raja atau penguasadi masa cukup baik, mereka diberi ijin untuk mendirikan kompleks candi untuk peribadatan mereka. Karena candi itu dibangun oleh pedagang dari negeri Cina, candi itu kemudian disebut sebagai candi Cino, disesuaikan dengan lafal masyarkat sekitar.

Hingga kini masa demi masa telah berlalu, masa perdagangan yang gemilang itu telah lama berakhir demikian pula dengan fungsi candi yang telah dibangun tersebut semakin lama semakin terkubur hingga beberapa waktu lalu kembali ditemukan keberadaannya oleh warga sekitar. Kini segala pelestarian kebudadayaan kuno ini tergantung kepada pemerintah daerah dan pusat serta kerjasama masyarakat sekitar untuk menjaga warisan budaya bangsa ini.

Ditulis ulang oleh: Prawitri Thalib | pwi_fansclub @yahoo.com
More aboutCerita Rakyat Indonesia #17: Kisah Candi Cina

Cerita Rakyat Indonesia #11: Legenda Harimau Makan Durian

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, October 18, 2012


Desa Kemingking Dalam merupakan termasuk wilayah kecamatan Taman Rajo, kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Daerah ini terkenal dengan berbagai macam hasil bumi salah satunya adalah durian. Di desa Kemingking Dalam, musim durian biasanya tiba satu atau dua tahun sekali dengan hasil yang berlimpah. Durian dari daerah ini terkenal karena bentuknya yang tidak terlalu besar namun memiliki rasa khas yang manis dan legit. Setiap musim panen tiba, masyarakat desa Kemingking Dalam akan berbondong-bondong menunggui durian yang runtuh di kebun mereka masing-masing. Mereka menjaga kebun ini bersama keluarga mereka baik di waktu siang maupun malam. Tetapi, ketika musim panen hampir usai dan buah yang ada di pohon tinggal sedikit, masyarakat desa Kemingking Dalam tidak akan lagi menunggui kebun mereka di malam hari. Berkenaan dengan kebiasaan ini, terdapat sebuah cerita di dalamnya.

Pada suatu masa ketika desa Kemingking Dalam masih merupakan desa dengan pemerintahan tersendiri dan raja-rajanya masih berkuasa. Rakyat hidup berdampingan dalam kedamaian dan kesejahteraan berkat pemimpin yang bijaksana. Namun, tiba-tiba segala kemakmuran itu terganggu dengan hadirnya seekor harimau besar dari negeri seberang. Harimau ini buas, bengis, dan lapar. Ia tidak hanya menghabisi ternak warga masyaraka, tetapi lambat laun harimau ini mulai menyerang manusia. Membuat belasan orang meninggal sedangkan puluha lainnya luka-luka dengan cacat pada tubuhnya.

Melihat hal ini, Raja yang berkuasa di saat itu tidak dapat tinggal diam. Ia kemudian memerintahkan salah seorang prajuritnya yang paling sakti untuk mengatasi krisis yang terjadi di kerajaannya. Prajurit ini dengan patuh pergi mencari harimau untuk mengusir atau membunuhnya. Ketika berhadapan dengan sang harimau prajurit ini langsung menyerang dengan segala daya upaya yang dimilikinya. Namun sang harimau yang sangat besar dan kuat dapat dengan mudah mematahkan pedang dan tombak senjata sang prajurit serta melukai prajurit hingga terluka parah.

Mengetahui kondisinya yang tidak lagi memungkinkannya untuk bertarung secara maksimal, sang prajurit kemudian melarikan diri dari sang harimau dengan segenap kesaktiannya yang tersisa ia dapat menghindari pengejaran si harimau selama beberapa musim. Hingga akhir tahun itu tiba, cidera yang diderita sang prajurit masih belum pulih sepenuhnya. Ia masih belum sanggup untuk melawan sang harimau yang terus mengejarnya seorang diri. Hingga ketika itu sampailah sang prajurit di sebuah daerah yang masih merupakan bagian dari wilayah Desa Kemingking Dalam sekarang ini yang dipenuhi aroma manis dan tanahnya dipenuhi buah yang penuh duri.

Di tempat ini sang prajurit tidak dapat lagi melarikan diri dan ia telah bertekad untuk melawan sang harimau apapun taruhannya. Ketika sang harimau mendapati sang prajurit tidak lagi melarikan diri ia pun menyerang sang prajurit tanpa ampun. Mereka kemudian bertarung dengan seluruh kemampuan mereka. Hingga kemudian sang prajurit menyadari kehadiran buah yang permukaannya dipenuhi duri itu. Ia kemudian menggunakan buah yang di masa kini dikenal dengan nama Durian sebagai senjatanya. Sang prajurit melempar harimau jahat itu dengan durian terus menerus hingga harimau itu terluka parah dan menyadari bahwa ia telah kalah.

Saat hendak menghabisi sang harimau, harimau pun meminta ampun atas semua kesalahan yang telah ia lakukan di masa lalu. Ia pun berjanji kepada sang prajurit untuk tidak lagi menyerang warga asalkan ia diperbolehkan untuk melahap sebagian dari buah yang penuh duri yang tumbuh di tanah mereka itu. Karena rasa kasihan dan iba serta karena melihat kesungguhan dari sang harimau, maka sang prajurit pun membiarkan harimau untuk terus hidup dengan syarat ia tidak akan mendapat ampun lagi apabila ia melanggar janjinya pada sang prajurit.

Maka setelah sekian lama dalam pelarian kembalilah sang prajurit dengan kemenangan di pihaknya. Ia pun melaporkan segala yang terjadi kepada Rajanya dan meneruskan sumpah sang harimau kepada seluruh masyarakat untuk dihormati dan dipatuhi. Hingga sekarang, sumpah sang harimau terus dijaga oleh masyarakat desa Kemingking Dalam. Sehingga meskipun hutan desa Kemingking Dalam termasuk dalam wilayah kekuasaan harimau, harimau-harimau ini tidak pernah menampakkan diri ataupun menyerang warga. Mereka hanya muncul di waktu malam ketika musim durian hampir usai untuk melahap buah-buah terakhir yang telah diperjanjikan untuknya.

Ditulis ulang oleh: Prawitri Thalib | pwi_fansclub@yahoo.com
More aboutCerita Rakyat Indonesia #11: Legenda Harimau Makan Durian

Cerita Rakyat Indonesia #4 - Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, August 14, 2012

Dahulu hiduplah seorang pemuda bernama Toba. Pemuda ini memiliki pekerjaan paling hebat sedunia, yaitu sebagai petani dan pemancing ikan.

Untuk urusan memancing, Toba sangatlah lihai. Dia tidak membutuhkan waktu lama. Seperti pada sore itu, Toba pergi ke sungai untuk memancing. Baru mata kail pancing dilemparkan, umpannya telah disambar ikan. Tentu saja, Toba girang mendapatkan ikan untuk makan malam.

Segera Toba menyediakan kepis dan memasukkan ikan itu ke dalamnya. Toba kemudian pulang. Di jalan, dia telah memikirkan masakan apa yang akan dibuatnya dengan bahan ikan.

Sesampainya di rumah, Toba segera memindahkan ikan dari dalam kepis itu ke bak berisi air. Toba menginginkan si ikan tetap dalam keadaan segar ketika dimasak. Setelah itu, Toba menyiapkan bumbu-bumbu dan kayu bakar yang dibutuhkan. Sayangnya, kayu bakar miliknya habis. Toba terpaksa ke dalam hutan untuk mencarinya.

Waktu sudah beranjak malam saat Toba kembali mencari kayu bakar. Sesampainya di rumahnya, Toba terkejut karena dia tidak menemukan ikan di dalam bak air. Dia malah menemukan keping emas. Padahal dia tidak merasa punya keping emas itu. Toba tambah terkejut lagi mengetahui ada seorang gadis cantik di dalam kamarnya.

"Siapakah kamu wahai gadis cantik?"

Gadis cantik itu hanya tersenyum. Dia kemudian keluar dari kamar dan duduk di dipan di depan. Gadis cantik itu kemudian menjelaskan semua pada Toba.

"Aku adalah ikan yang kamu tangkap tadi. Keping emas itu adalah sisikku."

Karena Toba masih bujangan, dan jarang sekali dia bertemu seorang gadis cantik di desanya. Maka, dia pun meminta si gadis untuk menjadi istrinya. Si gadis menyetujui hal tersebut, dengan satu syarat bahwa Toba tidak akan mengungkit-ungkit soal asal-usulnya. Toba menyetujui persyaratan yang diajukan.

Akhirnya, mereka pun menikah dan dikaruniai seorang putra yang diberi nama Samosir. Samosir adalah anak yang lincah, namun sayangnya dia manja.

Saat beranjak sedikit dewasa, Samosir acap diberi tugas untuk mengantarkan makanan bapaknya di sawah. Semua berjalan baik-baik saja. Hingga, Samosir merasa malas untuk mengantarkan makanan untuk ayahnya. Hal ini tentu membuat ibunya emosi.

Akhirnya, berangkat juga Samosir mengantarkan makanan untuk bapaknya. Karena hatinya sedang kesal, di tengah jalan, dia memakan sebagian besar makanan itu. Ketika makanan itu diberikan kepada Toba, Samosir ditanya, "Mengapa tinggal segini makanannya?"

"Tadi, aku memakannya, Pak!"

Demi mendengar perkataan Samosir, Toba naik pitam. Sudah telat mengantarkan makanannya, tinggal sedikit pula!

"Anak macam apa kamu ini?" Hardik Toba, "Dasar anak ikan!"

Samosir yang mendengar hardikan bapaknya segera pulang. Dia menemui ibunya dalam keadaan menangis.

"Kenapa kamu, Nak?"

"Bapak, Bu, huhuhu... Bapak bilang, aku anak ikan."

Bagai sambar geledek, ibu Samosir mendengarnya. Dan saat itulah, ia mengetahui bahwa jodohnya dengan Toba telah berakhir. Ibu Samosir kemudian menyuruh Samosir ikut dengannya untuk menemui Toba, ayahnya.

"Kamu telah melanggar syarat yang kuajukan dulu. Dengan demikian, kamu rasakan akibatnya," kata istri Toba. Toba sedih dan mengiba-iba padanya. Namun, perjanjian tetaplah perjanjian. Istrinya kemudian pergi bersama Samosir ke sungai. Perlahan-lahan mereka berubah kembali menjadi ikan.
Bersamaan dengan itu turun hujan lebat. Dan mengguyur desa si Toba hingga tenggelam. Desa yang tenggelam itu kini dinamakan Danau Toba. [CJ]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #4 - Legenda Danau Toba dan Pulau Samosir