Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Cerita Rakyat Indonesia #127: Jampang, Jagoan Betawi

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Saturday, September 21, 2013

Satu lagi cerita rakyat yang sangat legendaris dari tanah Betawi. Namanya Jampang. Ketenaran tokoh ini sebelas dua belas dengan ketenaran tokoh Pitung. Malah sekarang ada pantunnya: "Bang Jampang minum sekoteng, silakan bilang saya ganteng." *halah, lupakan ocehan tak berguna ini*. Sila baca sendiri saja ya ^^, mudah-mudahan terhibur, syukur jika bermanfaat.

Untuk dicatat para pembaca blog saya ini, bahwasanya versi yang saya ceritakan ulang ini diilhami dari situs silatindonesia. Tapi, bukan saya kopas lho.

Jampang, Jagoan Betawi

Disebutkan dalam cerita rakyat Betawi bahwa Jampang itu berasal dari Banten, yang belajar ilmu beladiri dari Ki Samad (Shomad) di Gunung Kepuh. Dia salah satu di antara dua murid kesayangan Ki Samad. Selain dirinya ada seorang lagi bernama Sarba. Kedua orang seperguruan ini sudah lama menimba ilmu silat di tempatnya Ki Samad. Lantaran itulah, tibalah saat bagi keduanya untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Sebelum meninggalkan padepokan, Jampang dan Sarba diberi satu nasihat terakhir oleh gurunya Ki Samad, yakni harus berhati-hati menggunakan ilmunya (ilmu silat maksudnya, red.). Jangan sampai diamalkan di jalan yang salah.

Jampang, salah satu tokoh cerita rakyat Betawi.

Pada awalnya, Jampang dan Sarba pulang bersama-sama hingga mereka bertemu centeng-centeng Juragan Saud, yakni Gabus dan Subro. Yang suka semena-mena kepada orang lain. Ceritanya, Jampang dan Sarba pun makan di warung nasi di tengah jalan. Dan, mereka berdua bertemu dengan keduanya yang tidak mau bayar makanannya. Melihat hal tersebut, Jampang dan Sarba yang suka menolong kaum lemah ini segera menggulung Gabus dan Subro. Dari sinilah, nama keduanya mulai terkenal. Sesudah menggulung para centeng Juragan Saud, Jampang dan Sarba berpisah.

*

Di kampungnya, Jampang mengamalkan ilmu yang telah dipelajarinya di padepokan Ki Samad dengan mengajari para pemuda kampung, terutama para santri Haji Baasyir. Melihat ketekunan Jampang mengajari santri-santrinya membuat Haji Baasyir meminta Jampang untuk mengantarkan surat ke Haji Hasan yang tinggal di Kebayoran. Dengan penuh takjim, Jampang melaksanakan keinginan Haji Baasyir.

Tak butuh waktu lama bagi Jampang untuk bisa sampai ke kawasan Kebayoran. Karena, jarak antara kampungnya dengan Kebayoran tergolong dekat, cukup berjalan kaki setengah hari. Dan nyatanya, ketika adzan dzuhur berkumandang bertalu-talu, Jampang sudah sampai. Namun, di sana kepiawaiannya bersilat harus dibuktikan dengan melawan kelaliman.

Ketika Jampang berjalan di tepi sungai, dia mendengar suara seorang wanita menjerit ke arahnya. Rupanya, gadis ini hendak dinakali oleh seorang laki-laki bejat yang belakangan diketahui bernama Kepeng, anak buah Jabrig, jawara setempat. Dan, gadis yang hendak dinakali itu bernama Siti, anaknya Pak Sudin.

Segera, terjadi perkelahian antara Jampang dengan Kepeng. Pada akhirnya, Kepeng pun berhasil dikalahkan oleh Jampang dengan jurus-jurusnya. Setelah keadaan aman, Jampang mengantarkan Kepeng ke rumahnya, menemui orang tuanya, Pak Sudin. Pak Sudin kemudian mengantarkan Jampang ke rumah Haji Hasan untuk mengantarkan surat titipan Haji Baasyir.

Setelah bertemu dengan Haji Hasan dan surat itu dibuka, ternyata surat itu adalah anjuran dari Haji Baasyir agar kampungnya dilatih oleh pemuda ganteng pintar silat bernama Jampang. Hal ini untuk menertibkan keamanan di Kebayoran. Memang waktu itu, daerah-daerah pinggiran Betawi tidak aman. Haji Hasan pun menyetujui usulan tersebut. Dan mulai keesokan harinya, Jampang mengajari para pemuda setempat untuk belajar silat. [Kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya]

Kabar ini segera diketahui Kepeng, yang kemudin melapor kepada Jabrig. Jagoan-jagoan ini panas hati melihat Jampang mengajari anak-anak setempat silat. Karena itu, mereka berniat membuat onar. Datanglah mereka ke tempat latihan Jampang and friends, dan segera berbuat huru-hara. Namun, hal ini langsung ditangani Jampang. Sehingga, Jabrig and the gank tidak bisa berbuat apa-apa.

Sesudah mengalahkan jagoan kampung ini, Jampang merasa tugasnya sudah selesai. Dia sudah mengajari anak-anak Kebayoran dasar-dasar bela diri. Dia juga sudah menghajar jawara kampung supaya kapok mengganggu. Dia kemudian pamit kepada Haji Hasan.

*

Di kampung halaman, rupanya fitnah sudah menanti Jampang yang disebarkan oleh Gabus dan Subro - dua preman yang dikalahkan dulu. Jampang difitnah telah mencuri dua ekor kerbau milik Juragan Saud. Tampaknya mereka berdua ingin menjebloskan Jampang ke dalam penjara.

Jampang pun meminta petunjuk Haji Baasyir. Saran dari Haji Baasyir adalah menemui Juragan Saud dan menyadarkannya. Bukannya menuruti saran Haji Baasyir, Jampang justru punya pemikiran lain. Dia ingin memberi pelajaran kepada Juragan Saud. Di rumah Juragan Saud, Jampang mengambil kerbau dan barang-barang berharga. Kemudian membagi-bagikannya kepada masyarakat kecil yang membutuhkannya.

Hal ini jelas memicu kekesalan tersendiri di hati Juragan Saud, yang kemudian memanggil para opas untuk menangkap Jampang. Para opas lalu mencari Jampang. Ada yang menyebutkan Jampang telah berhasil ditembak. Tak ada bukti bahwa Jampang mati. Menurut cerita rakyat Indonesia yang berkembang, Jampang aman. Dia bahkan menikahi Siti, anak Pak Sudin yang pernah diselamatkannya dulu.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #127: Jampang, Jagoan Betawi

Cerita Rakyat Indonesia #126: Kelenteng Ancol

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, September 10, 2013

Sejarah Kelenteng Ancol memang panjang. Konon, Kelenteng yang dalam bahasa Tionghoa disebut Da Bo Gong Miao atau Kelenteng Da Bo Gong ini dibangun sejak 1650.[1] Keterangan soal tahun pembangunan ini senada dengan prasasti yang terdapat dalam kelenteng pada restorasi tahun 1923. Pembangunan kelenteng Ancol sendiri didasarkan pada cerita cinta Sampo Soei Soe dengan Siti Wati. Kisah ini diturunkan dari mulut ke mulut, dan telah menjadi cerita rakyat Betawi yang terkenal.

*

Dikisahkan Sampo Toalang dan anak buahnya berlayar dari China menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Di tengah perjalanan, kapal yang mereka tumpangi oleng akibat diterjang ombak yang begitu besar. Hal yang sungguh mengherankan, mengingat cuaca sedang cerah.

Namun, keheranan Sampo Toalang beserta anak buahnya terjawab, tatkala muncul seekor naga menghadang laju kapal. Rupanya, gelombang ombak yang terjadi disebabkan oleh naga laut itu.[2]
Sampo Toalang tak tinggal diam. Dia maju menghunuskan pedangnya. Pertarungan dua makhluk beda habitat itu segera berlangsung seru, dan dimenangkan oleh Sampo Toalang di akhir pertarungan. Anak buah Sampo Toalang pun bersorak gembira karena tak ada lagi yang menghalangi mereka. Karena itu, laju kapal Sampo Toalang tak terbedung lagi untuk segera sampai ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ketika mendekati Pelabuhan Sunda Kelapa, mendadak Sampo Tualang memerintahkan anak buahnya untuk berhenti di Ancol. "Saudara-saudara, kita berlabuh di Ancol. Sunda Kelapa sedang dilanda banjir. Selama didarat kalian semua kerjakan tugas masing-masing dengan baik."

Dalam cerita rakyat Indonesia disebutkan jika para anak buah Sampo Toalang menyebar, mengerjakan tugas masing-masing. Di antara para anak buah Sampo Toalang itu, ada seorang juru masak bernama Ming[3]. Tugasnya selama berlabuh di Ancol adalah membeli bahan makanan sebagai bekal perjalanan di laut.

Namun, bukannya mengerjakan tugasnya dengan benar, Ming justru kepincut gadis lokal saat dia tengah sibuk berbelanja. "Siapakah gerangan gadis itu?" tanya Ming dalam hati. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Ming segera menghampiri gadis yang dilihatnya itu dan menyapanya tanpa sungkan.

"Salam. Namaku, Ming. Boleh aku berkenalan dengan Anda, Nona?"

Gadis itu tersenyum. Dengan ramah, dia juga memperkenalkan dirinya. "Salam. Namaku, Siti. Lengkapnya Siti Wati."

Begitu berkenalan dengan Siti Wati, Ming memutuskan untuk menetap di Ancol. Dia mengundurkan diri sebagai juru masak di kapal Sampo Tualang. Sampo Tualang sih tak masalah dengan keputusan Ming.

Cerita Rakyat Indonesia Kelenteng Ancol

Singkat cerita, Ming dan Siti Wati akhirnya menikah. Di Ancol, Ming terkenal sebagai juru masak yang piawai meracik masakan dan memperkenalkan resep warisan leluhur yang diketahuinya kepada masyarakat Ancol.

Setelah bertahun-tahun tinggal di Ancol, Ming dan Siti Wati sakit keras dan meninggal dunia. Masyarakat Ancol pun membangun sebuah kelenteng demi mengenang kebaikan mereka berdua. Kelenteng itu dinamai Kelenteng Ancol.

Demikianlah cerita rakyat Indonesia Kelenteng Ancol yang legendaris. Mungkin terdapat banyak perbedaan dengan fakta sejarahnya. Namun, begitulah ceritanya.

[1] Berdasarkan buku yang ditulis A Tesseire tahun 1792. Artikel selengkapnya bisa dibaca di http://www.shnews.co/detile-10294-kelenteng-ancol-sejarah-dan-bumbu-asmara.html.
[2] Soal naga, Anda bisa membacanya di http://panggoengsandiwara.blogspot.com/2008/06/cerita-rakyat-betawi-klenteng-ancol.html.
[3] Namun sumber-sumber yang saya baca menyebutkan namanya bukan Ming, melainkan Sam Po Soei Soe.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #126: Kelenteng Ancol

Cerita Rakyat Indonesia #115: Angkri, Jagoan Tanjung Priok yang Angkuh

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Friday, May 10, 2013

Pada masa Hindia Belanda dikenal seorang jagoan silat dari Tanjung Priok bernama Angkri. Menurut cerita rakyat Indonesia, berbekal kemampuan silatnya, Angkri banyak ditakuti lawan-lawannya dan namanya mentereng ke seantero Jakarta hingga kini. Sayangnya, Angkri punya sifat tidak seperti jagoan Betawi lainnya. Ia dikenal angkuh dan sombong. Sifat itulah yang pada akhirnya menamatkan riwayatnya. Kisah kematian Angkri kemudian menjadi bagian cerita rakyat Nusantara yang melegenda. Bagaimanakah cerita selengkapnya?

Cerita Rakyat: Angkri, Jagoan Tanjung Priok

Sudah jamak kalau di Pelabuhan Tanjung Priok selalu ramai kapal-kapal pedagang dari dalam maupun luar daerah yang berlabuh untuk bongkar muat berbagai jenis barang dagang, seperti hasil bumi, barang pecah belah, kain sutra, dan sebagainya. Setelah dibongkar (diturunkan) dari kapal, barang-barang itu kemudian di gudang.

Kegiatan bongkar muatan ini kemudian diintip oleh Angkri—jagoan di wilayah sekitar situ yang tindak tanduknya sudah terkenal sombong dan angkuh. Bersama dua kawannya, Bai dan Madun, pada malam harinya Angkri mencuri barang-barang pecah belah yang dipunyai opsinder Bloomekomp. Aksi itu mereka lakukan dengan mudah tanpa halangan berarti.

Gudang Opsinder Bloomekomp Dibobol Orang

Keesokan harinya, saat mengecek gudangnya, opsinder Bloomekomp terpana melihat pintu gudang terbuka. Begitu masuk ke dalam gudang, opsinder Bloomekomp jadi tambah yakin kalau beberapa barangnya telah diambil orang tanpa seizinnya.

'Siapa orang yang mengambil barang-barang ik*?' batin opsinder Bloomekomp.

Tanpa menunggu lama, opsinder Bloomekomp segera melapor pada kepala opas**. Setelah melakukan penyelidikan dengan seksama, kepala opas berkesimpulan kalau yang mengambil barang-barang opsinder Bloomekomp adalah Angkri. Kesimpulan ini kemudian dilaporkan kepada opsinder Bloomekomp.

"Setelah melakukan penyelidikan, kami berkesimpulan bahwa yang telah mengambil barang-barang meeneer adalah Angkri," kata kepala opas. Kepala opas, Bek Kasan beserta anak buahnya kemudian melakukan pengejaran.

Kepala Opas Memburu Angkri

Kepala opas bertanya pada banyak orang mengenai keberadaan Angkri. Tapi, hampir sembilan puluh sembilan persen orang yang ditanya olehnya mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui keberadaan Angkri. Hal itu nyaris membuatnya putus asa dan berhenti mengejar Angkri. Namun, terlihat titik terang ketika ada seseorang yang mengatakan kalau Angkri tengah menuju ke Kota Intan. Berangkatlah mereka semua menuju Kota Intan.

Perkelahian

Sementara kepala opas mencari jejak, Angkri dan kawan-kawan sudah sampai di rumah temannya, Pak Ocin, di daerah Kota Intan. Saat itu, Pak Ocin juga tengah kedatangan tamu, yaitu Kasun dan istrinya. Mereka semua teman lama.

Setelah beramah tamah barang sebentar, Angkri menyampaikan maksudnya.

"Begini, Pak Ocin, kedatangan kami kemari adalah untuk menitipkan barang-barang ini di rumahmu. Sementara aye mencari kapal. Besok pagi, aye sama teman-teman akan mengambilnya lagi."

Pak Ocin melihat barang-barang yang dibawa Angkri dkk. Ia sudah menduga bahwa barang-barang yang dibawa Angkri dkk. adalah barang curian. Maka, Pak Ocin menolaknya.

"Kagak bisa, Kri!" jawab Pak Ocin, "Gue kagak mau rumah gue dititipin barang curian."

Mendengar hal itu, sontak Angkri dkk. marah. Bai dan Madun mencabut golok untuk mengintimidasi Pak Ocin. Kasun yang sedari tadi diam, segera bersuara untuk meredakan ketegangan.

"Sabar, Dun! Sabar, Baik! Jangan kalian lakukan itu. Bukankah kita semua adalah teman lama?"

Suara Kasun ditanggapi oleh kepretan Angkri. Kena pelipis Kasun hingga berdarah.

ilustrasi angkri, cerita rakyat indonesia
"Itu buat bagian lo, Sun!" teriak Angkri.

Naik pitam-lah Kasun mendapat perlakuan seperti itu. Perkelahian di antara Kasun dan Angkri dkk. tak dapat dihindari. Walaupun tangguh, Kasun tak berkutik di hadapan tiga orang jagoan Betawi. Ia pun kalah. Angkri, Bai dan Madun segera meninggalkan tkp.

Angkri Menerima Hukuman

Tidak lama kemudian, kepala opas, Bek Kasan, dan anak buahnya sampai di rumah Pak Ocin. Tanpa ditanya sekalipun, mereka sudah tahu kalau yang melakukannya adalah Angkri dkk.

“Angkri dan kawan-kawan sudah melarikan diri tidak lama sebelum kalian datang,” kata Pak Ocin menjelaskan.

Kepala opas, Bek Kasan, dan anak buahnya tidak membuang waktu, yang dalam tempo singkat berhasil menyusulnya.

“Hei, Angkri, serahin diri lo!” teriak kepala opas.

Angkri menengok. “Lebih baik lo cincang gue, daripada gue harus nyerahin diri sama lo!”

Para jagoan silat Betawi itu segera berkelahi. Namun, sepertinya perkelahian tidak seimbang. Pihak Angkri yang lelah akibat berkelahi dengan Kasun dan membawa barang, akhirnya berhasil dibekuk.

Cerita rakyat ini diakhiri oleh hukuman untuk Angkri dkk. Pengadilan memutuskan Bai dan Madun dihukum bui selama beberapa tahun. Sedangkan, Angkri sendiri dijatuhi hukuman gantung. Nasib jagoan Tanjung Priok pun tamat sampai di sini.[]

----------
* Ik = saya.
** Opas = polisi.
*** Meeneer = tuan.

Silakan pilih melalui link kumpulan cerita rakyat Indonesia, jika ingin membaca cerita lainnya?
More aboutCerita Rakyat Indonesia #115: Angkri, Jagoan Tanjung Priok yang Angkuh

Cerita Rakyat Indonesia #110: Murtado Macan Kemayoran

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Saturday, May 4, 2013

Ternyata, selain Si Pitung, Mirah dari Marunda, dan si Jampang, cerita rakyat Jakarta ada lagi nama yang jarang disebut, yaitu: Murtado. Nama ini meyakinkan saya bahwa dari beberapa cerita rakyat asal Jakarta yang saya posting di blog Cerita Rakyat Indonesia, rata-rata bertema jagoan—dengan latar belakang sejarah Indonesia (zaman Hindia Belanda).

Karakter-karakter protagonisnya digambarkan memiliki sifat-sifat yang mulia, berpeci, rajin ibadah (pintar pengetahuan agama), pandai silat, kebal peluru, dsb. Sedangkan, karakter antagonisnya digambarkan sebagai tokoh dari meeneer (tuan) Belanda atau pribumi yang menjadi antek meeneer Belanda. Hal ini sedikit berbeda dengan karakter dari cerita rakyat Jawa, misalnya—yang karakter protagonisnya, biasanya, adalah pangeran. Ah, ini hanyalah pandangan saya sendiri. Benar tidaknya, silakan dipahami sendiri ya. Langsung saja kita ke kisahnya yuk…

Cerita Rakyat Murtado Macan Kemayoran

Sudah jamak, jika, orang-orang di daerah Kemayoran mengenal Murtado sebagai anak yang baik. Sebagai anak mantan lurah, Murtado tidaklah seperti anak-anak kebanyakan yang gemar menekan masyarakat dengan kekuasaan. Walaupun, ia jago silat dan tekun menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu dunia. Kerendahan hatinya ditunjukkan Murtado dengan ringan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan bantuannya. Karakter ini yang dinilai oleh masyarakat, dan justru disukai.

Di zaman Murtado hidup, tepat di masa Hindia Belanda, banyak jago-jago silat kenamaan di Kemayoran mengkhianati kaumnya sendiri. Mereka lebih suka menjadi antek sinyo-sinyo Belanda. Pasalnya, dengan menjadi antek sinyo-sinyo Belanda, duitnya lebih banyak dan lebih berkuasa tentunya—dari masyarakat Pribumi lainnya, tapi tidak dari Belanda. Walhasil, mereka banyak menebar teror demi memuluskan kebijakan tuan mereka—Belanda dan Tionghoa*. Para jago silat kenamaan di Kemayoran ini dipegang dua orang, yaitu Bek Lihun dan Mandor Bacan.

Ketika di Kemayoran diadakan derapan padi** (memanen padi), Mandor Bacan ditunjuk kompeni untuk mengawasi kegiatan itu. Murtado pun ikut dalam kegiatan itu untuk menemani seorang gadis cantik yang tidak lain adalah kekasih Murtado sendiri. Namun, ketika Mandor Bacan melihatnya, seperti kebanyakan centeng kompeni, ia langsung punya niat kurang ajar. Namun, aksi Mandor Bacan dihalangi oleh Murtado. Merasa memiliki hak berbuat apapun di tempat itu, Mandor Bacan memerintahkan Murtado untuk menyingkir, jika tidak…

“Minggirlah, jika tidak ingin pulang tinggal nama!” tukas Mandor Bacan.

“Silakan kalau Abang mau menjajal,” tantang Murtado.

Terjadilah perkelahian antara Mandor Bacan dan Murtado. Awalnya, perkelahian itu tampak seimbang. Namun, lama-kelamaan terlihat siapa yang lebih unggul. Dengan satu pukulan pungkasan dari Murtado, Mandor Bacan limbung dan ambruk. Mandor Bacan berdiri dengan sempoyongan. Pikirannya bekerja, jika tetap melawan bocah ini, dirinya pasti kalah. Maka, ia memilih kabur meninggalkan tempat perkara untuk kemudian melapor pada Bek Lihun.

Bek Lihun segera ke tempat perkara untuk menuntaskan permasalahan antara Mandor Bacan dengan Murtado. Namun, pembicaraan di antara para jago silat itu tidak menemukan titik temu sehingga harus diselesaikan sekali lagi dengan jalan bertarung. Maka, Bek Lihun pun menjajal kemampuan Murtado. Keduanya memakai jurus-jurus yang lumayan ribet di mata orang biasa. Namun, sayangnya, Murtado jauh lebih cepat, kuat, dan bertenaga. Ketika pukulan Murtado tepat mengenai Bek Lihun terpentallah orang tua itu beberapa langkah ke belakang dan muntah darah tapi tidak sampai game over. 

Murtado hendak memberi pukulan penghabisan pada Bek Lihun, tapi orang tua itu mengangkat tangannya menginstruksi bahwa ia menyerah. “Gue menyerah…” tukas Bek Lihun. Murtado mengampuni Bek Lihun dan Mandor Bacan dengan syarat mereka tidak mengganggu lagi siapapun yang ada di Kemayoran. Walaupun, mereka tetap menjadi antek kompeni.

Dan kehidupan pun berjalan seperti biasanya, hingga…

Segerombolan brocomorah di bawah pimpinan Warsa mulai menggasak Kemayoran. Setiap malam, gerombolan ini berhasil merauk harta penduduk, bahkan kadang-kadang melakukan pembunuhan. Aksi para brocomorah ini sebenarnya sudah mendapat respons dari Bek Lihun dkk., namun tampaknya gerombolan Warsa lebih kuat. Karena itu, Kemayoran menjadi tidak aman lagi. Pihak kompeni marah-marah kepada Bek Lihun dkk. Mereka beranggapan dengan ketidakamanan di Kemayoran, aliran dana pajak dan lainnya bakalan tidak berjalan dengan lancar.

Di tengah kegalauan itu, Bek Lihun dkk. datang kepada Murtado untuk meminta bantuan. Merasa keamanan Kemayoran masuk dalam ranah tanggung jawabnya juga, Murtado setuju dengan permintaan Bek Lihun. Bersama dua orang karibnya, Saomin dan Sarpin, Murtado mencari markas Warkas dan kawanannya di sekitaran Karawang. Ketiga orang ini lalu menggosak-asik*** markas Warkas, membuat kawanannya kocar-kacir. Warkas sendiri tewas dalam perkelahian itu. Murtado dan dua kawannya mengambil kembali harta pampasan kawanan Warkas dan dikembalikan kepada masyarakat Kemayoran.

Semua berterima kasih atas jasa Murtado, termasuk kompeni. Para sinyo itu ingin mengangkat Murtado menjadi bek Kemayoran menggantikan Bek Lihun. Tapi, tawaran Belanda ditolak mentah-mentah oleh Murtado. Ia memang ingin menjaga keamanan Kemayoran tapi tidak ingin menjadi antek kompeni. Mottonya: “Lebih baik hidup sebagai rakyat biasa, tapi ikut menjaga keamanan rakyat.” Dalam sejarah Indonesia Murtado dikenal orang-orang sebagai tokoh legendaris seperti Si Pitung, dll.

***

Demikian, cerita rakyat asal Jakarta yang mengisahkan tentang Murtado, Macan Kemayoran.[]

__________
* Pada masa Hindia Belanda, kasta paling rendah dalam strata sosial adalah kasta Pribumi. Karena itu, terjadi banyak perlakuan tidak adil terhadap mereka. Misalnya, kebijakan pajak atau kebijakan pembagian keuntungan.
** Ada syarat yang harus dipenuhi saat kegiatan derapan padi: “setiap memanen lima ikat padi, akan dibagi antara si pemotong dengan Belanda. Si pemotong mendapat satu ikat, sedangkan, kompeni mendapat empat ikat.”
*** Membuat berantakan.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #110: Murtado Macan Kemayoran

Cerita Rakyat Indonesia #110: Nyai Dasima

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Friday, May 3, 2013

Seingat saya, saya mendengar kata Nyai Dasima waktu TPI (sekarang MNC) menayangkan sinetron berjudul sama. Tapi, karena saya masih kecil dan tidak tertarik dengan sinetron berlatar belakang sejarah Indonesia, maka saya tidak mengikutinya. Tapi, setelah saya membaca cerita rakyat Indonesia Nyai Dasima, barulah saya mengetahuinya. Bahwa kisah mengenai Nyai Dasima berlatar belakang sejarah Indonesia, tepatnya zaman penjajahan Belanda.

Cerita rakyat ini mengisahkan tentang seorang perempuan cantik asal Kahuripan yang menjadi istri simpanan Tuan Edward, seorang Belanda. Karena kecantikannya, Nyai Dasima mendapat sejumlah masalah yang menyebabkan kematiannya. Bagaimana kisah selengkapnya?

Cerita Rakyat Nyai Dasima

Bagi para lelaki, kecantikan Dasima bak madu yang dapat disesap setiap saat. Dasima adalah wanita yang berasal dari Kahuripan. Lantaran, enggan hidup melarat, ia rela dijadikan wanita simpanan Tuan Edward. Dengan menjadi wanita simpanan Tuan Edward, Dasima mendapat gelar Nyai—yang kemudian disandangnya di depan namanya. Hasil hubungan mereka, lahirlah Nancy.

Atas kelahiran Nancy, Tuan Edward memberikan sebuah rumah di Pejambon untuk Nyai Dasima lengkap dengan para pembantu yang siap melayani kebutuhan Dasima. Kepindahan Nyai Dasima ke Pejambon tidak disertai oleh Tuan Edward, sehingga laki-laki yang lewat depan rumah Nyai Dasima pasti berdecak kagum pada si pemilik rumah. Sayangnya, mereka tidak berani masuk atau tidak punya kesempatan masuk karena memang tidak punya kepentingan.

Dikisahkan dalam cerita rakyat ini, ada seorang laki-laki bernama Samiun. Bisa dikatakan bahwa Samiun ini begitu beruntung, lantaran ia punya paman seorang tentara dengan jabatan Komandan Onder Distrik Gambir. Berpeluanglah ia masuk ke rumah Nyai Dasima atas nama pamannya. Ketika bertemu dengan Nyonya pemilik rumah yang tidak lain tidak bukan adalah Nyai Dasima, bergetarlah sanubari Samiun. Ia tidak menyangka Nyonya rumah begitu cantik bak Sinta dalam cerita wayang.

Sejak pulang dari rumah kuntum Pejambon itu, Samiun bolak-balik ke rumah Haji Salihun di Pecenongan untuk minta ilmu pelet. Kemudian, ia menyuap Mak Buyung yang bekerja jadi pembantu Nyai Dasima untuk mengambil sehelai rambut Nyai Dasima. Ia pun dengan lihai memainkan ilmu pelet yang diberikan Haji Salihun. Mantra pelet Samiun, tepat mengenai sasaran. Nyai Dasima menganggap Samiun pria tergagah di Batavia. Samiun pun membawa Nyai Dasima ke rumah ibunya, setelah berkongsi dengan Hayati istrinya dan ibunya untuk mengeruk harta Nyai Dasima—melalui pernikahan. Kembang Pejambon itu bak kerbau dicucuk hidungnya, saat Samiun mengajaknya menikah.

Melihat perilaku Hayati, Mak Soleha dan Samiun yang berubah total, Nyai Dasima sadar bahwa dirinya menjadi objek Samiun, Hayati dan Mak Soleha. Nyai Dasima tak tahan lagi dan minta cerai. Samiun setuju menceraikan dengan syarat harta Nyai Dasima yang ada di Pejambon pemberian tuan Edward harus diserahkan pada Samiun.

Hayati sangat berperan dalam menentukan langkah Samiun. Hayati terus mendesak agar Samiun bisa memperoleh harta Nyai Dasima. Dengan berbagai upaya Samiun mencoba melunakkan hati Nyai Dasima agar bersedia mengalihkan hartanya, tetapi hal itu sulit dilakukan Nyai Dasima. Tidak mungkin ia kembali ke Pejambon menemui Tuan Edward, jangan-jangan kemurkaan dan penjara yang didapatnya karena telah mempermalukan Tuan Edward di mata orang Belanda dan Eropa umumnya.

Samiun menceraikan Nyai Dasima, tetapi tak mendapatkan hartanya. Sementara Nyai Dasima tetap berada di rumah karena tak punya saudara di Batavia, tak punya uang lagi untuk pulang ke kampungnya, tak punya keberanian menemui Tuan Edward untuk memohon pengampunan atas kecurangan yang dilakukannya.

Hayati menjadi semakin kesal melihat Nyai Dasima yang telah berubah menjadi beban bagi keluarganya. Hayati mendesak Samiun untuk menyingkirkan Nyai Dasima, karena tidak bermanfaat lagi baginya, serta ketidaktepatan janji Samiun membuatnya linglung. Ia mengambil keputusan menghabisi nyawa Nyai Dasima.

Untuk melakukan hal itu, Samiun tak ingin melakukannya dengan tangan sendiri, perlu menggunakan tangan orang lain. Untuk hal itu, Samiun menyewa Bang Puasa—jagoan Kwitang dengan upah 100 Pasmat. Samiun merundingkan teknis pelaksanaan penghabisan nyawa Nyai Dasima. Akhirnya, mereka menyepakati cara terbaik yang harus dilakukan Samiun menyerahkan panjar sebesar 5 pasmat kepada Bang Puasa.

Sikap Samiun mengembangkan senyum yang manis sekali kepada Nyai Dasima. Mak Soleha menjadi kaget, mengapa Samiun bukannya mengusir Nyai Dasima malah berbaikan. Hayati yang mendengarkan cerita dari Mak Soleha tentang sikap Samiun menjadi sangat kesal. Ingin saja ia pergi ke rumah itu untuk menghabisi nyawa Nyai Dasima.

Sikap Samiun yang simpatik dan terkesan melindunginya membuat semangat Nyai Dasima tumbuh, serta hadir perasaan menyayangi kepada Samiun. Samiun mengajak Nyai Dasima ke kampung Ketapang untuk mendengarkan pertunjukan seni tutur tentang Amir Hamzah. Nyai Dasima yang telah melimpahkan harapannya kepada Samiun langsung setuju dengan ajakan tersebut. Nyai Dasima berharap mungkin malam ini adalah malam terindah dengan Samiun, dapat berjalan di bawah sinar rembulan sambil bercengkerama menumpahkan perasaannya selama ini terkandas di dasar lautan kebencian Hayati dan Mak Soleha.

Nyai Dasima segera bersolek secantik mungkin dengan sisa kecantikan yang dimilikinya. Mak Soleha menjadi jijik dan hampir saja meludahi muka Nyai Dasima, untung ada Samiun, sehingga masih ada rasa segan pada sang anak. Mak Soleha menjadi aneh dengan perilaku Samiun, jangan-jangan ilmu pelet Samiun menjadi bumerang buat Samiun. Hayati yang mendengarkan laporan Mak Soleha kelihatannya acuh tak acuh.

Hayati sendiri sudah hilang kesabaran atas janji Samiun yang akan memberikan harta yang banyak buatnya. Sekarang Hayati masa bodoh, tak ada gunanya berharap lagi, dan rasanya tak ada urusannya lagi dengan Nyai Dasima dan Samiun.

"Ti... lu kok masa bodoh?" tanya Mak Soleha keheranan.

"Abis, mau diapain lagi, gua nggak percaya ame Samiun."

"Kalau Samiun jadi pergi dengan Nyai Dasima dan nggak balik lagi gimana?"

"Biarin, gue juga bisa cari lelaki lain."

"Astaghfirullah!"

"Percuma ngucap, kalau niatnya nggak baik."

Mak Soleha menjadi kaget dengan pernyataan Hayati, seakan menuding dirinya ikut dalam permainan kotor mendapatkan harta milik Nyai Dasima. Mak Soleha kemudian justru membenci Hayati dan bertekad minta pada Samiun untuk menceraikan Hayati, biarlah dengan Nyai Dasima saja. Mak Soleha berubah pikiran dan menyesali sikapnya yang sempat membenci Nyai Dasima belakangan ini. Mak Soleha segera kembali ke rumahnya tetapi mendapati Samiun dan Nyai Dasima telah pergi.

Samiun dan Nyai Dasima pergi ke Ketapang. Mereka bergandengan tangan bagaikan dua sejoli yang baru mengenal cinta pertama. Sambil berjalan, Samiun kelihatan gugup. Ingin saja mengurungkan niat untuk tidak jadi pergi, tetapi menjadi bimbang manakala mengingat Hayati yang terus mendesaknya, dan Mak Soleha yang selalu menatap dengan nanar dan lecehan.

"Rangkulin pinggang saya, Bang Miun," pinta Nyai Dasima.

"Kayak orang baru jatuh cinta aja," sahut Samiun, tetapi tangannya melingkar di pinggang Nyai Dasima. Samiun menghentikan langkah, Nyai Dasima ikut berhenti dan bertanya.

"Ada apa, Bang Miun?"

"Kita lewat sana aja."

"Kan Jalan Ketapang lewat sini?"

"Abang khawatir kalau-kalau ada opas Belanda, nanti kita ditangkap, lagian Tuan Edward pasti masih nyariin lu."

Mereka menggunakan jalan lain, jalan setapak yang akan melewati sebuah kali dengan jembatan titian bambu. Di ujung tepian kali tempat menyeberang, Samiun melepaskan Nyai Dasima sendiri di belakang, bukannya menuntun tangan Nyai Dasima agar tidak terpeleset manakala menyeberang. Nyai Dasima tertinggal di belakang dan memanggil Samiun tetapi Samiun meneruskan langkah untuk sampai ke tepian seberang kali.

Dalam kesempatan itu, sebuah bayangan muncul. Bayangan seorang lelaki kekar dengan sigap memburu ke arah Nyai Dasima. Sambil mengirimkan pukulan maut ke tengkuk Nyai Dasima. Pukulan itu meleset karena Nyai Dasima sempat melangkah sebelum tangan lelaki kekar itu mendarat, sehingga yang terkena bagian belakang tetapi sakitnya bukan main, Nyai Dasima menjerit memanggil samiun. Samiun dengan tenang dan berkata, "Ajal lu sudah sampai, pasrahin aja diri lu."

Nyai Dasima berusaha lari untuk minta perlindungan pada Samiun yang telah berdiri di seberang tepian kali. Memang naas bagi Nyai Dasima, sebuah pukulan keras yang keluar dari tangan Bang Puasa, mendarat tepat pada posisi yang sensitif di bagian tengkorak kepala, dan Nyai Dasima ambruk bak daun kering disapu badai gurun. Matanya sebelah kanan melotot, lidah terjulur keluar yang sebagian putus tergigit gigi yang merapat akibat tekanan dari atas, darah mengucur dari hidung dan mulut. Setelah Nyai Dasima ambruk, Bang Puasa mengeluarkan golok tergenggam dan langsung menggorok leher Nyai Dasima. Tamatlah ajal Nyai Dasima yang disertai semburan darah yang semburat keluar dari urat di lehemya.

Samiun berdiri terpaku, kemudian memburu Nyai Dasima yang telah berubah menjadi seonggok bangkai manusia. Samiun mengangkat mayat Nyai Dasima dengan sebelah tangannya. Kenangan indah ketika bersama Nyai Dasima melintas di benaknya bagaikan slide membuatnya menitikan air mata. Bang Puasa dan Samiun berembuk sebentar, dan melemparkan mayat Nyai Dasima ke kali Ciliwung.

Ternyata peristiwa pembunuhan itu ada saksi matanya, yaitu Si Kuntum yang jalan bersama Bang Puasa. Namun, Si Kuntum bungkam karena Bang Puasa mengancamnya. Sementara di seberang kali dibalik rerimbunan pohon, Musanip dan Ganip yang sedang memancing juga menyaksikan peristiwa itu dengan jelas, dan keduanya ketakutan, bersembunyi agar tidak diketahui Bang Puasa. Istri Musanip yang rumahnya berdekatan dengan peristiwa itu terjadi, sempat mendengar jeritan Nyai Dasima, dan mengintip melalui celah dinding bambu rumahnya, dan ketakutan akan diketahui oleh Bang Puasa.

***

Bangkai Nyai Dasima hanyut terbawa arus kali Ciliwung. Bangkai tersebut kemudian menyangkut di tangga tempat mandinya Tuan Edward, orang yang pemah memeliharanya sebagai istri simpanan. Tuan Edward masgul melihat jasad Nyai Dasima. Tuan Edward segera melaporkan ke polisi tentang kematian Nyai Dasima. Di depan polisi, Tuan Edward mengaku bahwa Nyai Dasima adalah istrinya. Karena pengaduan tersebut polisi Distrik Weltevreden menganggap hal ini sebagai persoalan serius yang bisa mengancam jiwa setiap orang Eropa, khususnya orang Belanda. Polisi mengadakan sayembara berhadiah 200 pasmat bagi siapa pun yang dapat memberikan keterangan akurat tentang Nyai Dasima, siapa yang membunuhnya. Tergiur jumlah uang, Kuntum, Musanip, dan Ganip tak kuatir akan kemarahan Bang Puasa di kemudian hari. Mereka melaporkan kepada polisi tentang kejadian yang dilihat.

"Jadi, Puasa yang bunuh itu Madam Edward?"

"Betul, Tuan."

"Bagus, kamu orang pantas diberi hadiah nanti."

"Tapi kami takut, Tuan."

"Takut apa?"

"Takut sama Bang Puasa."

"Nee*, kamu orang jangan takut.”

Atas dasar laporan tersebut, polisi menangkap Bang Puasa serta barang bukti golok yang belum sempat di bersihkan dari darah Nyai Dasima. Sedangkan Samiun melarikan diri dan tak kembali lagi ke Kwitang karena takut ditangkap, sebab dialah dalang yang menyewa Bang Puasa untuk membunuh Nyai Dasima.[]

Catatan:
* Jangan (Belanda)
More aboutCerita Rakyat Indonesia #110: Nyai Dasima

Cerita Rakyat Indonesia #109: Si Manis Jembatan Ancol

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, May 2, 2013

Cerita rakyat yang akan saya bagikan ini telah menjadi bagian dari cerita horor legendaris yang ada di Jakarta selama bertahun-tahun. Saking terkenal, kisahnya pernah diangkat ke dalam film horor Indonesia. Ada yang tahu cerita rakyat yang saya maksud? Oke, saya kasih petunjuk. Lokasi dari cerita rakyat Indonesia ada di Jakarta, tepatnya di Jembatan Ancol. Nah, sudah tahu bukan cerita rakyat yang saya maksudkan?

Yeah, pada postingan cerita rakyat Indonesia, saya ingin mengisahkan tentang legenda si manis jembatan Ancol—sebuah cerita horor legendaris mengenai fenomena penampakan hantu perempuan di sekitar jembatan Ancol. Bagaimana cerita selengkapnya?

Cerita Rakyat Si Manis Jembatan Ancol

Waktu zaman Belanda masih menjajah Indonesia, sekitar tahun 1860, ada seorang wanita tua bernama Mak Emper*. Disebut dengan nama seperti itu, karena ia—bersama dua anaknya, yaitu Mpok dan Ariah—tinggal di emperan rumah seorang Tuan Tanah. Mak Emper dan Mpok bekerja untuk Si Tuan Tanah sebagai penumbuk padi. Sementara Ariah mencari kayu bakar untuk dipakai sendiri. Dengan demikian, hidup Mak Emper dan kedua anaknya tidak kelaparan, walaupun jauh dari kata berkecukupan.

Tahun demi tahun berlalu, hingga Mak Emper makin renta, sementara Mpok dan Ariah menjelma menjadi gadis cantik. Tuan Tanah yang melihat kecantikan Ariah langsung jatuh hati. Ia meminta Ariah kepada Mak Emper untuk dijadikan istri.

Mak Emper pun galau. Sebenarnya tidak masalah Tuan Tanah ingin memperistri Ariah, namun ada dilema yang dirasakannya. Pertama, Ariah masih memiliki kakak wanita—menurut adat orang dulu, melangkahi kakak merupakan pamali; kedua, Tuan Tanah sendiri sudah punya istri dan anak—jika ia mengizinkan Tuan Tanah menikahi Ariah, tentu ia sungkan terhadap istri dan anak Tuan Tanah. Tapi, jika tidak diizinkan pun ia tidak enak kepada Tuan Tanah. Kegalauan itu kemudian dicurahkan kepada dua anaknya.

Mpok sih bisa memahami duduk perkara. Sehingga, ia bersedia dilangkahi Ariah demi kebaikan bersama. Mak Emper dan Mpok kemudian mengembalikan permasalahan tersebut kepada Ariah. Soalnya urusan terima-tidaknya lamaran seorang laki-laki memang harus dikembalikan kepada anak, sebab ia yang akan menjalani kehidupan berumah tangga.

Ditanya tentang pernikahan, pikiran Ariah menggayut. Pasalnya, ia belum memikirkan untuk menikah. Lagipula, melangkahi kakak semata wayang merupakan pamali. Ia takut terkena karma, kakaknya tidak dapat jodoh.

“Pokoknya Mpok ridho deh dilangkahin sama Ariah. Ini semua demi kebaikan kita. Mpok yakin suatu saat bakal dapat jodoh juga,” tutur Mpok meyakinkan Ariah.

“Nggak deh, Mpok. Ariah nggak mau bersenang-senang di atas penderitaan Mpok. Walaupun Mpok ridho, tapi Ariah nggak ridho. Ariah nggak mau berumah tangga sebelum Mpok berumah tangga lebih dulu. Mak, Mpok, sepertinya Ariah tidak bisa menerima lamaran Tuan Tanah deh,” begitu pemikiran Ariah disampaikan kepada ibu dan kakaknya.

Mak Emper hanya menghela napas.

“Ariah udah ambil keputusan, Mak, Mpok!” tegas Ariah, sekali lagi.

***

Keesokan harinya, Ariah minggat dari emperan yang telah menjadi tempat tinggalnya selama ini. Ia meninggalkan ibu serta Mpok yang telah menemaninya selama ini. Juga dari Tuan Tanah yang sudah baik menerima mereka. Tapi, jangan hanya karena dirinya, mereka jadi terusir, lebih baik ia yang menyingkir. Ariah tahu diri.

Namun, minggat dari tempat tinggalnya selama ini, bukanlah perkara gampang. Selama hidupnya, Ariah tidak pernah meninggalkan kampungnya. Jadi, ia bingung harus melangkahkan kaki ke mana. Ia menuju Ancol tempat biasanya mencari kayu bakar dan melanjutkan perjalanan menuju utara hingga sampai di tempat bernama Bendungan Melayu.

Setelah sore, ia memutuskan untuk kembali ke Ancol, dan entah apa yang akan direncanakan Tuhan untuknya. Dari sela-sela pokok kayu muncul dua sosok laki-laki berbaju hitam-hitam menghadang Ariah. Mereka ini centengnya Tambahsia**.

“Heh, anak perawan, mau kemana lo?” tanya salah seorang dari mereka, yang bernama Pi’un. 

Ariah kebingungan melihat kedua centeng itu petantang-petenteng di hadapannya.

Melihat Ariah yang kebingungan Sura maju dan langsung menggamit tangan Ariah begitu saja. “Ikut gua, lo!” tukas Sura.

Ariah berusaha mengelak, “Mau dibawa kemana saya, Bang?”

“Nggak usah banyak tanya lo! Pendeknya lo bakal hidup enak di Bintang Mas!”

Demi menakut-nakuti Ariah, Pi’un mengeluarkan golok dari sarungnya dan mengibas-ngibaskannya.

“Nggak, Bang, Aye nggak mau!” Ariah meronta-ronta.

“Sialan lo!” Tubuh Ariah pun dihempaskan oleh Sura.

"Garap aja, Bang, ini bocah, baru kita habisin!"

Dalam ketidakberdayaan, Ariah “digarap” dua manusia terkutuk itu, kemudian dibunuh. Demi menghilangkan bukti mereka menggotong jasad Ariah dan melemparkannya ke pinggir laut Ancol.

Kisah kematian Ariah akhirnya menjadi dongeng yang melegenda.

***

Begitulah kisah si Manis Jembatan Ancol. Walaupun, setelah saya membaca artikel di Cerpen Horor, tentang Lukisan Asli Si Manis Jembatan Ancol, ada sedikit perbedaan. Bahwa Ariah—yang lebih terkenal dengan sebutan Mariah, Maria, atau Mariam—tidak mati, melainkan diambil oleh Ratu Kidul. Wallahu'alam.[]

Catatan:
* Mak Emper, berasal dari kata emperan, yaitu bagian bangunan rumah kecil, yang berdiri menempel pada bangunan rumah besar.
** Tambahsia adalah pemuda kaya yang memiliki villa bernama Bintang Mas. Ia biasa mencari gadis-gadis muda untuk “dimangsa”. Hal ini yang membawanya ke tiang gantungan pada 1872 di usia 29 tahun.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #109: Si Manis Jembatan Ancol

Cerita Rakyat Indonesia #28: Legenda Si Panjang

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Wednesday, October 24, 2012

Kompeni Belanda pada abad ke-18 di Batavia merasa menghadapi masalah besar. Hambatan itu datang dari kalangan pedagang. Pelopornya adalah para tauke. Saingan ini memang amat licin karena para tauke dan organisasinya begitu terpadu. Sampai ke pelosok-pelosok mereka punya jaringan yang rapi dan tidak kentara, terutama dalam bidang perdagangan. Kalau harga yang satu naik, harga yang lain ikut naik. Tidak ada yang berbeda. Begitu juga dengan barang-barang mana yang harus muncul dan mana pula yang tidak dikeluarkan dulu. Semua demi keuntungan para tauke.

Dengan alasan untuk kebugaran jasmani para pedagang dan warga warung kelontong di beberapa kampung Batavia sepakat untuk mendatangkan guru silat dari seberang laut. Mereka mengadakan latihan tersembunyi, biasanya malam hari. Kalau patroli Kompeni datang, mereka pura-pura latihan barongsai karena perayaan besar hampir tiba. Mereka nanti akan mengarak liong-liong besar dan panjang keliling kota Batavia sambil membakar kembang api sehari semalam. Pokoknya pesta besar. Kue-kue langka yang dibuat setahun sekali dan buah-buahan segar menjadi suguhan utama di tiap rumah. Serba istimewa.
hosting indonesia

Pejabat-pejabat Kompeni tidak suka kepada niat para tauke itu karena penguasa dan penentu segalanya di Batavia adalah para pejabat Kompeni, bukan para tauke. Oleh karena itu, para pejabat Kompeni mengadakan rapat pleno, dihadiri seiuruh bagian yang mengendalikan kota Batavia. Akhirnya, didapatkan beberapa jalan keluar, antara lain dengan mengerahkan budak belian sebanyak-banyaknya. Harga mereka juga tidak murah. Budak laki-laki bisa digunakan sebagai tenaga kasar di laut dan di hutan atau dilatih menjadi pengawal yang handal dan siap mati. Budak perempuan sebagai pembantu rumah tangga.

Karena selalu ikut tuannya yang kaya dan berkuasa, para budak banyak yang menjadi sombong, lupa asalnya. Di hadapan para tauke. mereka bisa berlagak. Bicaranya lebih tinggi dari tuannya. Ikut mengisap cerutu dan bertolak pinggang. Sering terjadi perkelahian antara para budak dan pedagang kelontong di pasar. Anehnya, biarpun para budak itu di pihak yang bersalah, sesampai di pengadilan mereka dibela. Akhirnya timbul protes, kelihatan sekali pejabat-pejabat Kompeni tetap lebih melindungi para budak. Para tauke disalahkan.

“Itu tidak adil,” gerutu si Panjang di hadapan kawan-kawannya.

Si Panjang adalah salah seorang tauke yang sudah lama mengikuti latihan silat di Gading Melati dekat Gandaria. Karena kecakapannya yang menonjol, si Panjang diangkat menjadi pemimpin para pesilat. Dia juga mulai dihormati sebagai guru mereka, dianggap sebagai pengganti guru dari Tiongkok yang sudah tua dan tidak bertenaga lagi itu. Si Panjang masih muda, berusia tiga puluhan, dan kuat. Tidak heran jika dia menjadi tumpuan kawan-kawan pesilat se-Betawi.

“Kalian harus berlatih lebih giat,” kata si Panjang, dimulai sekarang kalian harus berkumpul di sini tiap malam. Kita latihan yang praktis saja, yaitu teknik-teknik mempertahankan diri. Kita juga perlu memperdalam penyerangan dengan tenaga kosong. Gerakan dengan sedikit tenaga, tetapi dapat melumpuhkan lawan. Siapa tahu bisa digunakan sewaktu-waktu. Akan tetapi, rahasia harus tetap kita pegang. Sekali lagi tutup mulut. Berlagaklah seperti tidak tahu apa-apa, tetapi pasang telinga tajam-tajam. Kalau mengetahui hal-hal yang aneh dan mencurigakan, cepat bentahukan ke pusat kita di sini.”

Banyak amanat dan nasihat si Panjang kepada kawan-kawannya. Di antaranya harus tetap ramah kepada orang-orang Kompeni. Mereka yang masih bersahabat teruskan persahabatan itu dan yang berdagang harus makin meningkatkan usaha dagangnya. Akan tetapi, begitu sore hari kalau warung serta toko tutup, mereka satu per satu harus berkumpul kembali ke Gading Melati. Mereka membawa sumbangan makanan dan minuman serta bahan makanan pokok yang bisa disimpan untuk kepentingan perkumpulan silat. Mereka yang memiliki jung-jung di pelabuhan Batavia juga diberi tugas untuk menyediakan satu jung khusus. Siapa tahu dapat digunakan sewaktu-waktu dalam keadaan darurat.

Penguasa Batavia pada waktu itu Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Dari laporan Para penyelidik. dia langsung bisa membaca gelagat aneh dalam kota pemerintahannya. Dia menyebarkan agen-agennya ke daerah sasaran. Di antara agen-agennya itu ada yang bernama Liu Chu. Dari Liu Chu diketahui bahwa pengikut si Panjang makin banyak dan tempat mereka berkumpul di Gading Melati dekat pabrik gula.

“Apa yang mereka kerjakan di sang, mata-mata?” tanya Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Jawab Liu Chu, “Mereka menimbun candu. Hanya bagian atas saja yang berwujud rempah-rempah.”

Selanjutnya Liu Chu menjelaskan bahwa mereka juga mengumpulkan senjata tajam. Tiap malam mereka berlatih penuh semangat. Ikut hadir saat Liu Chu memberikan laporan adalah Jacob. Setelah Liu Chu meninggalkan ruangan, Jacob diperintahkan Baron van Imhoff untuk mengadakan rapat yang membicarakan peningkatan keamanan. Keputusan rapat, kalau para tauke tidak bisa dikendalikan lagi, akan dibuang ke Ceylon (sekarang Sri Lanka).

Si Panjang dan kawan-kawan sudah mendengar keputusan yang dianggap sangat gila ini. Mengapa Beng Kong yang telah ditunjuk sebagai wakil para tauke menurut saja kepada Kompeni? Mengapa tidak memberikan gambaran sedikit lebih baik?

Swa Beng Kong adalah Kapten Cina yang sudah berkali-kali diperintahkan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff untuk membubarkan perkumpulan silat di kampung Gading Melati. Akan tetapi, mereka tetap saja membangkang. Malah Si Panjang mulai menunjukkan sikap permusuhan. Jacob mengusulkan agar orang-orang berpakaian pangsi hitam atau biru ditangkap saja. Padahal waktu itu orang baik-baik pun senang memakai pangsi hitam atau biru. Lebih-lebih saat diadakan pesta barongsai. Masyarakat dari berbagai lapisan dan golongan tumpah ruah di pusat kota Batavia.

Selesai berpesta, serdadu-serdadu Kompeni sudah mengepung pusat keramaian. Mereka yang berpangsi hitam dan biru ditangkap. Orang-orang itu digiring ke balai kota. Lalu, dipindahkan ke patroli keamanan yang sudah disiapkan di tepi sungai. Sampai di muara Sungai Ciliwung mereka dipindahkan ke kapal perang. Sementara itu, beberapa orang sempat menyelamatkan diri. Empat orang lari ke Gading Metati. Mereka segera menemui si Panjang.

Dan keterangan para pelarian itu, si Panjang menggeleng-gelengkan kepala, “Sepertinya tidak mungkin. Apa benar mereka yang tertangkap diceburkan di tengah laut sebagai santapan hiu?” Sekali lagi si Panjang menggeleng-gelengkan kepaia. Dia bertekad melakukan batasan. Kemudian, dia mengerahkan anak buahnya yang sudah terlatih dalam bersilat dan para pelaut perantauan, temannya datam menyelundupkan candu. Beberapa puluh senjata bisa dimiliki. Tidak sedikit serdadu Kompeni yang berjatuhan kena peluru dari pendukung-pendukung si Panjang. Akan tetapi, Baron van Imhoff mengirimkan serdadu lebih banyak lagi. Akhirnya, kekuatan si Panjang tidak seimbang. Ketangkasan bersilat saja tidak akan mampu menghadapi pasukan bersenjata yang terlatih. Anak buah si Panjang kocar-kacir. Sementara itu, serdadu-serdadu Kompeni semakin ganas. Si Panjang dan gerombolannya mengundurkan diri sampai ke Peninggaran. Di sini si Panjang kena peluru dan tewas.

Gubernur Jenderal Baron van Imhoff tidak meiupakan jasa Liu Chu yang bertindak sebagai mata-mata selama pemerintahannya. Dia menaikkan gaji Liu Chu menjadi 80 dukat setiap bulan dan memberi hadiah-hadiah lainnya. Tentu saja disertai kenaikan pangkat.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #28: Legenda Si Panjang

Cerita Rakyat Indonesia #19: Asni dan Mirah

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, October 23, 2012

Suatu malam, centeng-centeng di rumah Babah Yong di Kemayoran terkapar di lantai. Babah Yong sendiri terikat di tiang ruang tengah. Perabot rumah berantakan. Barang-barang berharga dibawa kabur sekawanan perampok.

Malam itu juga, Tuan Ruys (penguasa daerah Kemayoran) segera datang mempelajari bekas-bekas perampokan. Di situ juga Nadir Bek Kemayoran. Para opas, bawahan mereka, ikut sibuk.

“Tangkap Asni!” perintah Tuan Ruys kepada Bek Kemayoran.

Keesokan harinya, seorang pemuda gagah sudah diborgol dan ditahan di kantor opas Kemayoran. Bek Kemayoran melaporkan hasil tangkapannya kepada Tuan Ruys. “Langsung saja masukkan ke penjara, Saeyan!” perintah Tuan Ruys kepada Bek Kemayoran.

Asni keberatan dimasukkan ke penjara. Dia menjelaskan bahwa tidak berbuat apa-apa. Malam itu, dia di rumah, tidak pergi ke mana-mana. Saksinya mengatakan hal yang sama kalau malam itu Asni di rumah. Setelah diselidiki dengan teliti, akhirnya Asni dilepas kembali, tidak jadi dimasukkan ke penjara. Namun, ada syarat yang diajukan Tuan Ruys. Asni harus sanggup menangkap perampok sebenarnya. Kalau tidak berhasil, Asni yang menggantikan si perampok di penjara.

Sementara itu, di Marunda, seorang gadis remaja cantik, bernama Mirah. Ibunya sudah lama meninggal, saat dia berusia tiga tahun. Bapaknya, Bang Bodong, belum mau menikah lagi. Dia selalu teringat istrinya yang tercinta. Karena itu, Bang Bodong sangat menyayangi Mirah. Diasuhnya Mirah dengan baik. Mirah dididik dengan penuh kesabaran agar kelak menjadi wanita yang dapat dibanggakan.

Mirah lebih suka bermain dengan kawan-kawan lelaki. Dia senang mendayung sampai ke muara atau berenang tiap hari di Sungai Blencong. Tidak aneh kalau Mirah sering adu renang dari seberang sungai ke seberang lainnya. Lain itu, Mirah juga tertarik pada ilmu silat. Dia kerap bergabung dengan kawan-kawan yang laki-laki untuk berlatih silat. Bukan hanya berbakat, Mirah juga pemberani. Melihat hal itu, Bang Bodong melatih sendiri putrinya dengan lebih tekun. Dalam waktu singkat, ketangkasan Mirah makin mengesankan. Sering dia diadu dengan kawan-kawan lelakinya. Tidak seorang pun sanggup menandingi ketangkasan Mirah. Semua lelaki yang dihadapi dikalahkannya. Mirah sangat disegani dan tidak ada duanya di kampung Marunda.

Bapaknya merasa khawatir terhadap masa depan putrinya. Bagaimanapun Mirah itu seorang wanita, kelak memerlukan seorang pendamping, seorang pelindung, dan seorang suami. Kalau semua lelaki yang datang selalu ditolak, Mirah nantinya tidak menikah. la bakal menjadi perawan tua. Pada saat itu, Asni melakukan penyelidikan ke Marunda. Dia ditegur penjaga gardu.

“Apa siang hari begini harus permisi juga?” tanya Asni.

Penjaga kampung Marunda tersinggung mendengar pertanyaan itu. Asni dipelototi dan segera ditendang. Namun, Asni sudah slap. Tendangan itu membuat penyerangnya hilang keseimbangan dan terjerembab. Kawan yang lain langsung memukul kepala Asni dengan tongkat. Dengan mudahnya Asni menangkap tangan penyerangnya, dipelintir sedemikian rupa hingga orang itu mengaduh kesakitan.

Kedua penjaga kampung itu segera ke rumah Bang Bodong. Mereka lapor kalau mereka telah diserang perusuh mabuk. Kontan Bang Bodong marah-marah. Dia mencari perusuh yang dimaksud. Tanpa banyak tanya, Bang Bodong menyerang si perusuh memakai jurus-jurusnya yang berbahaya. Repot juga Asni menangkis. Bang Bodong memang pendekar berpengalaman. Asni harus hati-hati mengambil langkah-langkah mengelak. Sehingga, tidak heran kalau Bang Bodong sering memukul dan menendang angin. Asni sigap sekali meloncat, bersalto ke belakang, koprol, dan berguling-guling ke sana ke mari. Akhirnya, Bang Bodong terengah-engah. Tanpa melakukan serangan balasan Bang Bodong sudah jatuh dengan sendirinya. Kelelahan. Memang faktor usia tak bisa menipu fisik seseorang.

Mendengar ayahnya dikalahkan Asni yang jauh Iebih muda itu, Mirah seperti melayang saat lari menyerang ke arah lawan. Asni justru senang menghadapi pendekar wanita yang mengamuk. Jurus-jurus Mirah sangat berbahaya. Mirah menggunakan tongkat. Hal itu membuat Asni jungkir balik. Elakan disertai tepisan tangan membuat Mirah terlempar ke kolam ikan. Tentu saja Mirah ditelan lumpur. Namun, dia bangkit kembali dengan cepat.

Mirah mencabut pedang, dan melayangkannya ke arah Asni. Entah bagaimana caranya, pedang terlepas dari tangan dan Mirah terlempar ke pohon yang bercabang-cabang. Saat jatuh ke tanah, tubuh Mirah sudah ditangkap Asni. Mirah geram sekali, sementara Asni tersenyum-senyum. Hal itu membuat Mirah makin marah. Untung Bang Bodong mengikuti adu silat itu dengan seksama.

“Jodoh lo datang juga akhirnya, Mirah,” kata ayahnya, “Lo harus terima die sebagai pemenang yang jantan. Lo kagak boleh ingkar janji. Die berhak ngambil lo jadi bini.”

Para pengikut Bang Bodong langsung bersorak. Asni diterima bekas musuhnya sebagai keluarga Baru. Pada saat itulah, Asni menceritakan asal usul dirinya. Dia datang ke Marunda mencari sekawanan perampok. Dulu perampok itu merampok rumah Babah Yong di Kemayoran. Kalau sampai gagal menangkap kawanan perampok itu, dia akan masuk penjara.

Baik, Mirah maupun ayahnya segera tahu siapa yang dimaksud. Tak lain tak bukan yang dimaksud Asni itu adalah Tirta dan kelompoknya. Memang mereka kerap berbuat onar. Gerombolan si berat ini tinggal di Karawang. Untuk menangkapnya tidak sulit, Tirta dan kelompoknya diundang di pesta perkawinan Asni dan Mirah yang dihelat di kampung Marunda.

Undangan disebar. Pesta dilangsungkan besar-besaran. Tamu-tamu Bang Bodong datang dari berbagai pelosok. Ketika Tirta datang, dia amat kaget bertemu Bek Kemayoran. Ternyata bukan Bek saja yang dijumpai. Tirta juga melihat Tuan Ruys. Kemudian yang membuatnya paling tidak tenteram duduk adalah opas-opas dan para centeng Babah Yong. Mereka seperti sudah mengepung dirinya.

Tak ada cara lain yang bisa dilakukan Tirta, kecuali mengeluarkan pistolnya. Dia mengacung-acungkan senjata api itu ke arah Bek Kemayoran dan segera ditembakkan. Letusan itu membuat para tamu panik, yang lantas membubarkan diri. Bang Bodong bermaksud menghalangi Tirta yang ingin menembak lagi. Pistol meletus dan melukai Bang Bodong. Pendekar tua itu terpental dan dadanya berdarah. Dia pingsan tak sadarkan diri.

Tirta kabur dari tempat pesta itu. Opas-opas mengejarnya. Centeng-centeng ikut mengejar sambil menghunus golok masing-masing. Namun, dari semua pengejar, Mirah yang paling cepat. Dia segera tampak berebut pistol derigan Tirta. Setelah beberapa saat berguling-guling di pasir pantai, tiba-tiba letusan pistol menggema. Tirta tampak berwajah pucat sambil merintih kesakitan.

“Gue udah lega bisa ketemu sama lo, Mirah. Hanya benda ini yang dapat gue berikan kepada lo,” kata Tirta.

Setelah bungkusan itu dibuka, Mirah melihat pending emas yang indah. Dengan terharu Mirah memperkenalkan Asni yang datang menyusul.

“Ini suami gue, Tirta,” kata Mirah.

Tirta dan Asni bertatapan.

“Lo adik saya, Asni,” kata Tirta sambil memeluk, “Kite satu ayah. Ibu gue dari Karawang, Ibu lo dari Banten.”

Tak lama kemudian, Tirta kehabisan darah. Kemudian, meregang nyawa. Asni dan Mirah amat sedih. Bang Bodong sudah siuman dari pingsannya dan mendapatkan perawatan.

Beberapa minggu kemudian, Asni dan Mirah meninggalkan Marunda. Mereka telah menjadi pasangan suami istri yang berbahagia dan tinggal di Kemayoran sampai tua.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #19: Asni dan Mirah

Cerita Rakyat Indonesia #13: Pitung, Jagoan Betawi

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, October 18, 2012


Pada jaman penjajahan belanda dahulu, di daerah Jakarta (dahulu Batavia) hiduplah seorang pria gagah yang bernama si Pitung. Dia lahir dari pasangan suami istri yang bernama pak Piun dan bu Pinah. Pekerjaan pak Piun sehari-hari adalah bertani.

Setiap hari si Pitung membantu bapaknya menanam padi, memetik kelapa dan mencari rumput untuk pakan ternaknya. Si Pitung juga tak segan untuk membantu tetangganya yang memerlukan bantuan. Tiap hari si Pitung juga sangat rajin menunaikan sholat dan puasa, bapaknya juga selalu mengajarkan si Pitung untuk bertutur kata yang santun, dan patuh kepada orang tua.

Si Pitung dan keluarganya tinggal di kampung Rawabelong, daerah kebayoran. Daerah itu adalah bagian dari daerah kekuasaan tuan tanah yang bernama babah Liem Tjeng Soen,oleh karena itu semua warga yang tinggal di situ wajib membayar pajak kepada babah Liem. Hasil pajak tanah tersebut nantinya akan disetorkan kepada Belanda.

Dalam memungut pajak, babah Liem dibantu oleh anak buahnya yang berasal dari kalangan pribumi. Anak buah yang diangkat babah Liem adalah kaum pribumi yang pandai bersilat dan memainkan senjata. Tujuannya adalah supaya para penduduk tidak berani melawan dan membantah pada saat dipungut pajak.

Hingga pada suatu hari, saat si Pitung membantu bapaknya mengumpulkan hasil panen dari sawah. Sesampainya di rumah, betapa terkejutnya si Pitung melihat anak buah babah Liem sedang marah-marah kepada bapaknya. Si Pitung lalu menghampiri bapaknya, dan bertanya kepada anak buah babah Liem, “Hey, apa salah bapak saya?”

“Tanya saja sama bapakmu ini!!”, jawab anak buah babah Liem.

Anak buah babah Liem lalu pergi dengan membawa semua hasil panen yang telah dikumpulakan si Pitung dan bapaknya. Dengan nada geram, si Pitung berbicara dalam hatinya, “Nantikan pembalasanku!!”

***

Hingga keesokan harinya saat si Pitung berjalan menyusuri kampung, dia melihat kesewenang-wenangan anak buah babah Liem lagi. Mereka merampas ayam, kambing, kelapa, dan padi dari penduduk, tanpa rasa iba.

Sebagai warga yang merasa bertanggung jawab atas keamanan, maka si Pitung tidak tinggal diam. Si Pitung lalu menghampiri anak buah babah Liem, lalu berteriak “Hentikan pengecut!! Kenapa kalian merampas harta orang lain?!”

Para anak buah babah Liem kemudian menoleh kearah si Pitung. “Siapa kamu ini, berani-beraninya mencegah kami? Kamu tidak tahu siapa kami ini?”,teriak anak buah babah Liem.

“Saya tidak peduli siapa kalian, tapi perbuatan kalian itu sangatlah kejam dan tidak berperi kemanusiaan!”, jawab si Pitung.

Mendengar perkataan si Pitung, pemimpin anak buah babah Liem menjadi geram. Ia lalu menghampiri si Pitung, dan menyerang sekenanya saja. Ia mengira bahwa Pitung akan mudah dirobohkan. Namun, di luar dugaannya, Pitung malah mencekal lengannya dan membantingnya ke tanah hingga pingsan. Anak buah babah Liem yang lain menghentikan kesibukan mereka dan mengepung Pitung. Dengan sigap Pitung menyerang lebih dulu. Ada lima orang yang mengeroyoknya. Satu demi satu ia hajar pelipis atau tulang kering mereka hingga mereka mengaduh kesakitan. Lalu mereka menggotong pimpinan centeng yang masih pingsan dan melarikan diri.

Sebelum pergi, mereka mengancam: “Awas, nanti kami laporkan Demang.”

Beberapa hari setelah peristiwa itu, nama Pitung menjadi pembicaraan di seluruh Kebayoran. Namun, Pitung tak gentar dan tetap bersikap tenang. Ia bahkan tidak menghindar kalau ada orang yang bertanya kepadanya tentang kejadian itu.

***

Suatu hari, Pak Piun menyuruh si Pitung menjual kambing ke Pasar Tanah Abang. Pak Piun sedang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Si Pitung pun pergi ke tanah abang untuk menjual dua kambingnya itu. Tanpa sepengetahuan si Pitung, ternyata ada satu orang anak buah babah Liem yang membuntutinya sejak berangkat dari rumah tadi. Hingga pada saat si Pitung mandi di sungai dan berwudhu, anak buah babah Liem tadi mencuri uang hasil penjualan kambing dari saku bajunya yang diletakkakn di pinggir sungai.

Sesampainya di rumah, si Pitung sangatlah kaget. Karena uang hasil penjualan kambing tidak ada di sakunya lagi. Dengan geram ia kembali ke Pasar Tanah Abang dan mencari orang yang telah mencuri uangnya. Setelah melakukan penyelidikan, ia menemukan orang itu. Orang itu sedang berkumpul di sebuah kedai kopi.

Si Pitung mendatanginya dan menghardik, “Kembalikan uangku!”

Salah seorang berkata sambil tertawa, “Kamu boleh ambil uang ini, tapi kamu harus menjadi anggota kami.”

“Tak sudi aku jadi anggota kalian,” jawab si Pitung.

Para anak buah babah Liem itu marah mendengar jawaban si Pitung. Serentak mereka menyerbu Pitung. Namun, yang mereka hadapi adalah Si Pitung dari Kampung Rawabelong yang pernah menghajar enam orang centeng Babah Liem sendirian. Akibatnya, satu demi satu mereka kena pukulan Si Pitung.

Sejak hari itu, Si Pitung memutuskan untuk membela orang-orang yang lemah. Ia tak tahan lagi melihat penderitaan rakyat jelata, yang ditindas tuan tanah dan dihisap oleh penjajah Belanda. Beberapa anak buah babah Liem yang pernah dihajarnya ada yang insyaf dan ia mengajak mereka untuk membentuk suatu kelompok. Bersama kelompoknya, ia merampoki rumah-rumah orang kaya dan membagi-bagikan harta rampasannya kepada orang-orang miskin dan lemah.

***

Nama Pitung menjadi harum di kalangan rakyat jelata.Para tuan tanah dan orang-orang yang mengambil keuntungan dengan cara memihak Belanda menjadi tidak nyaman. Mereka mengadukan permasalahan itu kepada pemerintah Belanda.

Penguasa penjajah di Batavia pun memerintahkan aparat-aparatnya untuk menangkap Si Pitung. Schout Heyne, komandan Kebayoran, memerintahkan mantri polisi untuk mencari tahu di mana si Pitung berada. Schout Heyne menjanjikan uang banyak kepada siapa saja yang mau memberi tahu keberadaan si Pitung.

Mengetahui dirinya menjadi buron, Pitung berpindah-pindah tempat dan ia tetap membantu rakyat. Harta rampasan dari orang kaya selalu ia berikan kepada rakyat yang lemah dan tertindas oleh penjajahan.

Pada suatu hari, Pitung dan kelompoknya terjebak oleh siasat polisi belanda. Waktu itu si Pitung beserta kelompoknya akan merampok rumah seorang demang, tapi ternyatapolisi belanda sudah lebih dulu bersembunyi di sekitar rumah demang itu. Ketika kelompok Pitung tiba, polisi segera mengepung rumah itu. Pitung membiarkan dirinya tertangkap, sementara teman-temannya berhasil meloloskan diri. Akhirnya si Pitung dibawa ke penjara dan disekap di sana.

***

Karena si Pitung adalah seorang yg cerdik dan sakti, maka dia berhasil meloloskan diri lewat genteng pada malam hari saat penjaga sedang istirahat. Pada pagi harinya, para penjaga menjadi panik karena si Pitung tidak ada di dalam penjara lagi.

Kabar lolosnya si Pitung membuat polisi belanda dan orang-orang kaya menjadi tidak tenteram lagi. Kemudian Schout Heyne memerintahkan orang untuk menangkap orang tua dan guru si Pitung. Mereka dipaksa para polisi untuk memberitahukan keberadaan Si Pitung sekarang. Namun, mereka tetap bungkam. Akibatnya, mereka pun dimasukkan kedalam penjara.

***

Mendengar kabar bahwa orang tua dan gurunya ditangkap polisi belanda, lalu si Pitung mengirim pesan kepada pihak belanda. Ia mengatakan akan menyerahkan diri bila orang tua dan gurunya itu dibebaskan. Kesepakatan tersebut kemudian disetujui oleh Schout Heyne.

Kemudian pada hari yang telah disepakati, mereka bertemu di tanah lapang. Orang tua si Pitung dilepaskan dahulu. Kini tinggal Haji Naipin yang masih bersama polisi belanda. Di tanah lapang itu, sepasukan polisi menodongkan senjata ke arah Haji Naipin.

“Lepaskan Haji Naipin sekarang juga”, kata si Pitung.

“Aku akan melepaskan gurumu ini setelah engkau benar-benar menyerah”, kata Schout Heyne.

Mendengar persyaratan yang diajukan Schout Heyne, lalu si Pitung maju ke tengah lapangan. Dengan sigap, pasukan polisi lalu membidikkan senjata mereka kearah si Pitung.

“Akhirnya tertangkap juga kamu, Pitung!” teriak Schout Heyne dengan nada sombong.

“Iya, tapi nanti aku pasti akan lolos lagi. Dengan orang pengecut seperti kalian, yang beraninya hanya mengandalkan anak buah, aku tidak takut,” jawab si Pitung.

Mendengar kata-kata si Pitung, Schout Heyne menjadi marah. Ia mundur beberapa langkah dan memberi aba-aba agar pasukannya bersiap menembak. Haji Naipin yang masih ada di situ memprotes tindakan yang pengecut itu. Namun protes dari Haji Naipin tidak didengarkan, dan aba-aba untuk menembak si Pitung sudah diteriakkan. Akhirnya si Pitung gugur bersimbah darah.

Orang tua dan guru si Pitung merasa sangat sedih sekali melihat si Pitung akhirnya gugur di tangan polisi belanda. Banyak rakyat yang turut mengiringi pemakamannya dan mendoakannya. Mereka berjanji akan selalu mengingat jasa Si Pitung, pembela dan pelindung mereka, dan tetap akan menganggap si Pitung sebagai pahlawan betawi.

Diceritakan ulang oleh: Kak Ghulam
More aboutCerita Rakyat Indonesia #13: Pitung, Jagoan Betawi