Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts
Showing posts with label Jawa Timur. Show all posts

Cerita Rakyat Indonesia #134: Sawunggaling, Cerita Legenda Asal Surabaya

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, November 7, 2013

Cerita rakyat Jaka Barek atau Sawunggaling atau Raden Mas Tumenggung Sawunggaling merupakan salah satu cerita legenda Surabaya. Ia dikenal sebagai tokoh sejarah, yang masih belum banyak diceritakan sejarah Indonesia. Sehingga, akhirnya penyampaiannya pun dilakukan dari mulut ke mulut.

Salah satu versi dari tokoh sejarah ini akan saya ceritakan berikut. Selamat membaca.

***

Ketika pulang ke rumah, muka Jaka Barek merah padam. Rupanya, ia menahan marah karena teman-temannya mengejek dirinya adalah anak haram. Di rumah, ia menemui ibunya yang ketika itu tengah bersama kakek - neneknya.

"Ibu, aku nggak tahan lagi," kata Jaka.

"Ada apa anakku. Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?" timpal ibunya, Dewi Sangkrah.

"Ibu harus menjelaskan kepadaku, siapa sebenarnya bapakku. Kalau sudah meninggal tunjukkan makamnya, kalau masih hidup katakan dimana dia. Gara-gara dia aku sering diejek teman-temanku.

Dewi Sangkrah menghela napas, kemudian menengok ke arah kakak - nekek Jaka Barek. Memang sudah waktunya bagi dirinya untuk menjelaskan siapa sebenarnya bapak Jaka Barek. "Memang sudah sepatutnya ibu bercerita kepadamu. Dan ini waktu yang tepat. Bapak kamu itu masih hidup, Nak."

"Benarkah?" Mata Jaka Barek berbinar-binar, "Kalau begitu dimanakah dia?"

"Bapak kamu seorang Adipati di Kadipaten Surabaya. Namanya Jayengrana. Kesanalah kamu harus mencari untuk menemui bapakmu," kata Dewi Sangkrah.

***

Cerita Rakyat Indonesia #134: Sawunggaling, Cerita Legenda Asal Surabaya
Ilustrasi Sawunggaling.

Jaka Barek pun berniat mendatangi Kadipaten Surabaya untuk menemui bapaknya. Sesampainya disana, di depan gapura masuk, ia dicegat prajurit penjaga.

"Siapa kamu?"

"Saya Jaka Barek."

"Apa keperluanmu datang kemari?"

"Saya mau bertemu Adipati," jawab Jaka Barek.

"Tidak bisa. Lebih baik kau pergi sebelum kuusir dengan paksa," bentak prajurit itu.

"Tidak sebelum aku bertemu dengan Adipati Jayengrana," sahut Barek.

Tak tahan melihat tingkah Jaka Barek, prajurit penjaga itu segera menyerangnya. Jaka Barek melawan serangan itu.

Perkelahian itu diketahui oleh Sawungsari dan Sawungrana. Keduanya putra Adipati Jayengrana. Mereka melerai perkelahian tersebut. Tapi, setelah mengetahui maksud Jaka Barek yang ingin menemui Adipati Jayengrana karena mengaku-aku sebagai anaknya, sebagai hal yang mencurigakan. Mereka justru berkelahi dengan Jaka Barek.

Namun, semua itu terhenti saat Jayengrana mendatangi keributan itu. Ia menanyakan pada Jaka Barek apa maksud kedatangannya. Jaka Barek mengatakan jika dirinya datang untuk menemui bapaknya, Jayengrana.

"Apa yang membuktikan jika kamu ini anakku? Siapa nama ibumu?" tanya Jayengrana.

"Nama ibuku Dewi Sangkrah. Aku membawa ini, selendang Cinde Puspita."

Adipati Jayengrana mengenali itu semua. Ia percaya sekarang jika Jaka Barek adalah anaknya. Kepada Sawungsari dan Sawungrana, Jaka Barek diperkenalkan sebagai saudara. Begitulah, Jaka Barek kemudian berganti nama menjadi Sawunggaling.

***

Zaman mereka hidup, para kompeni Belanda sudah masuk ke tanah Jawa. Kadipaten Surabaya pun didtangi oleh utusan Belanda bernama Kapten Knol yang membawa surat dari Jenderal De Boor. Inti surat itu isinya mengakuisisi Kadipaten Surabaya dan Adipati Jayengrana dicabuk haknya sebgai adipati karena menolak bekerjasama dengan Belanda.

Disaat bersamaan ada woro-woro yang sebutkan jika di alun-alun Surabaya telah diadakan sayembara sodoran (perang tanding prajurit berkuda bersenjata tombak) dengan memanah umbul-umbul Yunggul Yuda. Hadiah bagi pemenang adalah diangkat sebagai Adipati Surabaya.

Adipati Jayengrana memerintah Sawungsari dan Sawungrana untuk mengikutinya. Di waktu yang berbarengan Sawunggaling juga turut serta. Dia pun memenangkan sayembara tersebut. Karena itu, ia diangkat jadi Adipati Surabaya. Plus, ia dinikahkan dengan putri Amangkurat Agung Kartasura, yaitu Nini Sekat Kedaton.

Kedua saudaranya iri. Mereka ingin mencelakai Sawunggaling dengan membubuhkan racun di minumannya. Beruntung, aksi tersebut diketahui oleh Adipati Cakraningrat dari Madura. Sehingga, berhasil digagalkan. Adipati Cakraningrat memberitahu jika Sawunggaling dikerjai dua saudaranya yang telah menjadi antek Belanda karena rasa irinya.

Sejak itu, Sawunggaling bertekad hancurkan Belanda. Dalam suatu pertempuran, ia berhasil hancurkan pasukan Belanda dan membunuh Jenderal De Boor.

-------
Baca kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya di sini.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #134: Sawunggaling, Cerita Legenda Asal Surabaya

Cerita Rakyat Indonesia #132: Legenda Gunung Bromo - Suku Tengger

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Wednesday, October 23, 2013

Saya mengira ada kesamaan cerita antara legenda Gunung Bromo dengan cerita rakyat Candi Prambanan, setidaknya pada bagian awal. Namun, tetap ada perbedaannya, di mana letak perbedaannya? Baca sajalah...

*

Dikisahkan zaman dulu hidup pasang muda suami istri di suatu dusun. Sang istri akhirnya hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan. Anehnya, bayi perempuan ini sewaktu dilahirkan tidaklah menangis, sehingga kedua orang tuanya memberinya nama: Roro Anteng yang berarti perempuan yang tenang atau diam.

Waktu pun berlalu hingga Roro Anteng tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Kecantikannya terkenal di kalangan para jejaka saat itu. Tak terkecuali seorang sakti mandraguna bernama Kiai Bima. Berbekal kebringasannya alias kesaktiannya, Kiai Bima mendatangi Roro Anteng untuk melamarnya disertai ancaman. Lamaran tersebut harus diterima, jika tidak ia akan membuat dusunnya binasa.

Sebenarnya Roro Anteng merasa berat hati menerima lamaran tersebut. Namun, ia terpaksa menerimanya demi menyelamatkan dusunnya. Dan ia memiliki sebuah rencana untuk menggagalkan lamaran tersebut. Ya, Roro Anteng mensyaratkan kepada Kiai Bima jika ingin lamarannya diterima maka harus membuatkan sebuah danau dalam tempo satu malam.

Cerita Rakyat Indonesia: Legenda Gunung Bromo - Suku Tengger
Gunung Bromo.

Karena tak ingin kehilangan Roro Anteng, Kiai Bima menyanggupinya. Berbekal batok kelapa Kiai Bima mulai mengeruk tanah untuk dijadikan danau. Dalam waktu singkat, danau sudah tampak akan selesai. Roro Anteng yang telah bersiasat kemudian meminta orang-orang dusun untuk memukul-mukul alu supaya hari sudah terdengar pagi dan ayam mulai berkokok.

Kiai Bima segera sadar jika dirinya tidak berhasil menyelesaikan tantangan dari Roro Anteng. Ia pun tidak bisa memaksakan lamarannya. Hatinya yang kesal segera membanting batok kelapa yang dipegangnya kemudian meninggalkannya. Bekas batok kelapanya kemudian menjadi Gunung Batok yang terletak di sebelah Gunung Bromo. Sementara, bekas galiannya menjadi Segara Wedi (lautan pasir) yang bisa dilihat sampai saat ini.

Roro Anteng pun akhirnya bertemu Joko Seger dan menikah. Selama bertahun-tahun menikah mereka belum juga dikaruniai seorang anakpun. Akhirnya Joko Seger berdoa kepada sang pencipta jika dikaruniai anak, dia bersedia mengorbankan anaknya itu.

Doa Joko Seger dikabulkan. Roro Anteng dan Joko Seger pun dikaruniai beberapa orang anak. Waktu berlalu sampai-sampai Joko Seger lupa dengan syarat doanya dulu. Waktu tidur, Joko Seger mendapat bisikan untuk memenuhi janjinya.

Joko Seger sebenarnya tidak rela mengorbankan salah satu anaknya. Namun, karena jika tidak dituruti akan terjadi bencana dan lagipula itu adalah janjinya sendiri, maka ia menyampaikannya kepada anak-anaknya. Salah seorang di antara anak-anak Joko Seger dan Roro Anteng pun bersedia untuk dikorbankan.

Hari H pun tiba. Keluarga Joko Seger menuju kawah Gunung Bromo seraya membawa aneka hasil bumi untuk sesaji. Salah seorang anak Joko Seger yang dikorbankan juga telah disiapkan. Bersama sesaji anak tersebut terjun ke kawah Gunung Bromo tersebut.

Setelah janji tersebut dilaksanakan keluarga Joko Seger pun hidup bahagia di sekitaran Gunung Bromo. Keturunan mereka menamai diri Suku Tengger - yang berasal dari nama Roro Anteng dan Joko Seger.

Upacara pengorbanan anak-anak mereka masih bisa kita saksikan sampai sekarang. Di bulan purnama tanggal 14 atau 15 bulan Kasodo (penanggalan Jawa) dilakukan upacara Kasodo, di mana terdapat proses pelemparan sesaji ke kawah Gunung Bromo. Demikian ini merupakan cerita legenda Indonesia tentang Gunung Bromo ini.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #132: Legenda Gunung Bromo - Suku Tengger

Cerita Rakyat Indonesia #102: Reog Ponorogo

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Monday, April 22, 2013

Siapa tak mengenal Reog Ponorogo?

Reog merupakan satu kesenian budaya yang dimiliki Indonesia yang berasal dari Jawa Timur bagian Barat Laut – lebih tepatnya Kota Ponorogo. Gerbang dari kota yang dianggap sebagai kota asal Reog ini saja dihiasi dua karakter yang selalu ikut tampil dalam pentas Reog, yaitu Warok dan Gemblak. Kesenian tradisional ini masih kental dengan mistik dan ilmu kebatinan.

Setidaknya ada lima versi paling populer di masyarakat mengenai asal-usul Reog. Namun, dari lima versi tersebut, menurut Wikipedia yang paling terkenal adalah cerita rakyat yang mengisahkan ketidakpuasan Ki Ageng Kutu (abdi Kerajaan Majapahit) terhadap Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir (berkuasa sekira abad-15). Ki Ageng Kutu melihat bahwa Bhre Kertabhumi telah menjalankan pemerintahan korup akibat pengaruh kuat istri Bhre Kertabhumi yang berasal dari negeri Tiongkok. Ki Ageng Kutu yang tidak puas atas roda pemerintahan Bhre Kertabhumi pergi meninggalkan sang raja. Ia mendirikan perguruan bela diri dan menurunkan ilmu kanuragannya kepada murid-muridnya untuk menggulingkan kekuasaan Bhre Kertabhumi. Harapannya, setelah Bhre Kertabhumi lengser keprabon, ia akan membawa membangkitkan kembali Majapahit menuju masa keemasannya.

Namun, pada perkembangannya, Ki Ageng Kutu menyadari apa yang telah dilakukannya tidak cukup kuat. Ia mengubah strategi, dengan menciptakan pertunjukan seni Reog untuk menyampaikan pesan politisnya dan untuk menyindir pemerintahan Bhre Kertabhumi. Dan dengan cepat Reog menjadi populer.

Yeah, itulah cerita rakyat paling populer tentang Reog Ponorogo. Lalu, bagaimana versi lain tentang Reog Ponorogo? Silakan dibaca di bawah ini…

Cerita Rakyat Reog Ponorogo


Raja Kediri Cari Menantu

Alkisah, Raja Kerajaan Daha Kediri cari menantu untuk putrinya yang paling cantik, yaitu Dewi Sanggalangit, yang kecantikannya sudah terkenal ke seantero jagat. Kabar ini pun terdengar sampai ke telinga Prabu Klana Sewandana yang berkuasa atas Kerajaan Bantarangin, konon, terletak di timur Gunung Lawu sebelah barat Gunung Wilis, daerah Ponorogo saat ini. Sang Prabu terkenal berwajah tampan serta sakti ini segera memerintahkan Pujangganong, Patih kepercayaannya. Maka, pergilah Pujangganong ke Kerajaan Kediri.

Di hadapan Kerajaan Kediri, Pujangganong menyampaikan maksud kedatangannya. "Hamba utusan Prabu Klana Sewandana, Raja Kerajaan Bantarangin, yang dengan ini bermaksud meminang Dewi Sanggalangit," tukas Pujangganong kepada Raja Kediri.

"Perkara pernikahan putriku Sanggalangit, tidak berhak ditentukan atas titahku. Aku hanya merestui apa yang menjadi keinginannya. Silakan, kau tanyakan sendiri padanya langsung. Pengawal, suruh kemari Sanggalangit!"

Dewi Sanggalangit pun datang. Ia tampak sedikit terkejut dengan kedatangan Pujangganong. Menurut tebakannya, Pujangganong hendak melamarnya sebagai buah promosi ayahnya mencari pendamping. Tanpa ditanya ulang, Dewi Sanggalangit mengajukan tiga syarat. Pertama, calon pengantin pria diharuskan berjalan melalui terowongan bawah tanah. Kedua, calon pengantin pria diharuskan menyuguhkan kesenian yang belum pernah dipentaskan di mana-mana. Ketiga, calon pengantin pria diharuskan membawa hewan berkepala dua, apapun itu.

Tanpa komplain soal syarat yang diajukan, Pujangganong langsung menyanggupi ketiga syarat yang diajukan Dewi Sanggalangit. Ia pun pulang ke Kerajaan Bantarangin untuk melapor kepada Prabu Klana Sewandana. Setelah menerima laporan dari patihnya, Sang Prabu pun tidak juga komplain. Ia langsung menyetujui syarat itu. Dan ia melakukan persiapan-persiapan untuk melamar Dewi Sanggalangit.

Singobarong Tidak Ingin Ketinggalan Melamar Dewi Sanggalangit

Kecantikan Dewi Sanggalangit sudah terkenal ke seantero Nusantara. Ketika Raja Kediri mengumumkan mencari menantu untuk putrinya, bukan hanya Prabu Klana Sewandana saja yang hendak melamar.

Dikisahkan bahwa Raja Kerajaan Lodaya bernama Singobarong juga memiliki niat yang sama. Tapi, ia telat, karena Dewi Sanggalangit sudah keburu hendak dilamar Prabu Klana Sewandana. Untuk itu, sewaktu hari lamaran tiba, Singobarong mencoba menggagalkannya. 

Bersama pasukannya, Singobarong mencegat rombongan Prabu Klana Sewandana di jalan. Terjadilah pertempuran sengit. Berbekal ilmu kanuragan mengubah bentuk, Singobarong mengubah dirinya menjadi seekor harimau. Raungan dan terkaman dari harimau jadi-jadian itu sangatlah mengerikan. Namun, kemenangan tidaklah ditentukan dari seberapa kuat kesaktian yang dimiliki oleh petarung, strategi serta taktik juga diperlukan. Prabu Klana tidak cuma pandai bersilat. Namun, juga pandai bertaktik.

Sang Prabu rupa-rupanya mengetahui kelemahan Singobarong saat menjadi harimau adalah kutu-kutu di kepalanya. Dikeluarkanlah, seekor burung merak kesayangan miliknya untuk memakan kutu-kutu di kepalanya. Akibatnya, Singobarong tidak bisa berkonsentrasi saat bertarung, dan malah menikmati patokan-patokan si burung merak di kepalanya. Sang Prabu tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia mengeluarkan Pecut Samandiman - pecut sakti warisan gurunya - ke arah Singobarang.

"Makanlah pecutku ini, Singobarong. Jadilah kau binatang berkepala dua!" serang Prabu Klana Sewandana seraya memekik.

Seketika, Singobarong melemas. Seluruh kekuatan serta kesaktiannya raib. Ia pun tidak mampu kembali ke wujud manusia. Burung merak yang ada di kepalanya pun tidak bisa terlepas. Dan malah menjadi peliharaan Prabu Klana Sewandana.

Rombongan Prabu Klana Sewandana meneruskan perjalanan menuju Kerajaan Kediri.

Pagelaran Binatang Berkepala Dua, yang Disebut Reog

Sesampainya di Kerajaan Kediri, Prabu Klana Sewandana berserta rombongan segera menggelar pertunjukan yang belum pernah ada sebelumnya, yaitu pertunjukan hewan berkepala dua yang kemudian disebut Reog.

Seselesainya pertunjukan Prabu Klana Sewandana segera menghadap Sang Raja.

"Baginda Raja, hamba telah melakukan semua syarat yang diminta Dewi Sanggalangit, yang  Karena itu, bolehkah hamba meneruskan permintaan Patih Pujangganong

"Oh, mengenai perkara itu, saya menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada putriku saja. Karena, ia yang kelak menjalaninya," sahut Dewi Sanggalangit.

Dewi Sanggalangit yang mendapat operan tersebut bingung. "Maaf, Tuan, sebenarnya siapa gerangan yang hendak melamar hamba, Tuan ataukah Pujangganong?"

"Saya-lah yang melamar anda. Beberapa waktu lalu saya telah mengutus Pujangganong untuk melamarkan anda untuk saya," jawab Prabu Klana Sewandana. Mendengar hal tersebut, pipi Dewi Sanggalangit bersemu kemerah-merahan.

Dan begitulah, Prabu Klana Sewandana dan Dewi Sanggalangit akhirnya menikah. Setelah pernikahan, Sang Prabu kemudian memboyong Dewi Sanggalangit ke Kerajaan Bantarangin. Di kerajaan ini, kesenian Reog makin kerap dipentaskan. Setelah Kerajaan Bantarangin berubah menjadi daerah bernama Ponorogo, Reog dikenal dengan sebutan Reog Ponorogo dan terkenal sampai ke seluruh penjuru dunia.

***

Mau membaca kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya? Pilih di bagian sidebar ya...
More aboutCerita Rakyat Indonesia #102: Reog Ponorogo

Cerita Rakyat Indonesia #97: Legenda Telaga Pasir

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, April 16, 2013

Telaga Pasir atau lebih dikenal Telaga Sarangan merupakan salah satu objek wisata air yang terkenal di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga ini memiliki luas sekitar 30 hektar dengan kedalaman mencapai 30 meter. Menurut cerita rakyat Indonesia setempat, mulanya telaga ini sebuah ladang milik Kyai Pasir. Lalu, suatu peristiwa menyebabkan ladang ini menjadi telaga. Peristiwa apakah itu? Temukan jawabannya dalam cerita rakyat Legenda Telaga Pasir berikut ini.

***

Di kaki Gunung Lawu, Magetan, hiduplah sepasang suami istri bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Mereka orang miskin yang kerjanya sehari-hari menggarap ladang. Ya, itu sudah cukup memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, walaupun pas-pasan.

Suatu hari, ketika menggarap ladang, mata Kyai Pasir menatap sebuah telur besar yang teronggok di bawah pepohonan. Melihat hal tersebut, Kyai Pasir mencoba menghampirinya.

"Telur apa ini ya?" gumam Kyai Pasir terheran-heran. Kyai Pasir menjumputnya lalu mengamatinya dengan seksama.

"Apa mungkin ini telur ayam. Mana mungkin ayam berkeliaran di sekitar sini?" Kyai Pasir bertanya-tanya. "Ah, bodo ah. Mau telur apa kek, yang penting telur ini enak untuk dijadikan lauk untukku dan istriku."

Maka, Kyai Pasir segera pulang ke rumah untuk istirahat karena hari sudah siang sekaligus memberikan telur yang didapatnya supaya dimasak oleh istrinya.

"Bu, tolong masak telur ini," kata Kyai Pasir sesampainya di rumah.

"Telur apa ini, Pak? Besar sekali..." tanyat Nyai Pasir.

"Sudahlah, Bu, tidak perlu kau pikirkan. Yang jelas itu telur bisa buat makan kita siang ini. Lekaslah, perutku sudah keroncongan."

Nyai Pasir segera memasak telur tersebut. Setelah matang telur tersebut dibagi dua sama rata-rata. Suami istri itu masing-masing mendapat separuh-separuh. Usai istirahat dan makan siang, tubuh Kyai Pasir kembali bertenaga. Ia pamit pada istrinya untuk bekerja.

Di tengah perjalanan, Kyai Pasir mengelus-elus perutnya. Tampaknya, ia masih merasakan nikmatnya telur rebus tadi. Hanya saja, saat sampai di ladang, tiba-tiba sekujur tubuh Kyai Pasir terasa sakit, panas, dan kaku. Kyai Pasir bingung apa yang tengah terjadi pada dirinya. Matanya pun mulai berkunang-kunang.

"Duh, kenapa tubuhku ini?" erang Kyai Pasir.

Saking sakitnya, Kyai Pasir rebah ke tanah dan berguling-guling ke sana ke mari. Selang beberapa waktu berikutnya, dari tubuh Kyai Pasir mulai tumbuh sisik, sementara mulutnya mulai maju. Kyai Pasir berubah menjadi ular naga.

Di waktu yang berbarengan, Nyai Pasir juga mengalami hal yang sama. Ia mengeluhkan tubuhnya sakit. Maka, ia pergi ke ladang dan di saat itu ia melihat seekor naga yang mengerikan. Tepat saat itu, Nyai Pasir juga berubah menjadi ular naga. Ternyata telur yang mereka makan adalah telur naga.

Kedua naga itu mengais-ngais tanah, sehingga tanah di sekitar berserakan dan membentuk cekungan seperti habis digali. Lama-lama, cekungan tanah itu makin luas dan dalam. Setelah itu, muncullah semburan air yang amat deras sehingga cekungan itu dipenuhi air dan berubah menjadi telaga.

Masyarakat setempat menamakan telaga itu Telaga Pasir, yang mengambil nama dari Kyai dan Nyai Pasir. Dan karena lokasinya berada di Kelurahan Sarangan, telaga ini juga dikenal dengan Telaga Sarangan.

***

Begitulah legenda Telaga Pasir ini saya kisahkan kembali. Cerita rakyat Indonesia ini masih digemari oleh masyarakat Jawa Timur, khususnya Magetan. Pesan moral yang bisa dipetik dari kisah ini yaitu hendaklah kita berhati-hati sebelum mengambil sesuatu yang belum jelas asal-usulnya supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Saat ini, Telaga Pasir atau Telaga Sarangan ini menjadi obyek wisata andalan Kabupaten Magetan. Apabila hendak membaca kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya, silakan pilih di bagian kategori.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #97: Legenda Telaga Pasir

Cerita Rakyat Indonesia #90: Legenda Arya Menak

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, April 4, 2013

Kalau menurut saya, cerita rakyat Indonesia yang akan saya kisahkan berikut ini hampir-hampir mirip dengan Jaka Tarub dari Jawa Tengah. Perbedaan yang paling mencolok terdapat pada nama-nama karakternya. Mungkin dulu ada adaptasi dari cerita rakyat Jaka Tarub. Atau bisa jadi sebaliknya. Entahlah... Yang jelas, cerita rakyat Indonesia memiliki kemiripan.

***

Alkisah pada zaman dahulu kala di Pulau Madura hiduplah seorang pemuda yang bernama Arya Menak. Pemuda ini sangat gemar mengembara hingga ke tengah hutan belantara. Dalam pengembaraannya pada suatu malam saat bulan purnama, dia beristirahat di bawah pohon dekat sebuah danau yang jernih arinya. Saat itu ia melihat sebuah cahaya terang yang berpendar di tepi danau tersebut. Karana penasaran, perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Dan, alangkah terkejutnya dia ketika melihat bahwa cahaya tadi berasal dari pantulan tubuh tujuh orang bidadari yang sedang mandi sambil bersenda gurau.

Arya Menak pun langsung terpesona akan kecantikan mereka. Timbullah keinginannya untuk memiliki salah seorang diantaranya. Ia lalu berjalan mengendap-endap ke arah tumpukan pakaian para bidadari yang diletakkan begitu saja di bawah sebuah pohon. Kemudian, dengan secepat kilat Aryo Menak mengambil salah satu selendang dari bidadari-bidadari itu.

Selepas mandi, ketujuh bidadari itu segera bergegas keluar dari telaga untuk mengambil pakaian masing-masing. Setelah berpakaian mereka langsung terbang menuju langit ke tujuh. Namun, ada satu bidadari yang tidak dapat terbang karena selendang yang biasa digunakan untuk terbang tidak ada di tempatnya lagi. Sang bidadari yang ditinggal oleh kakak-kakaknya itu lantas duduk terpekur di bawah pohon sambil menangis. Ia sangat bersedih karena tidak dapat lagi terbang ke rumahnya.

cerita rakyat, cerita rakyat indonesia, legenda aryo menak, cerita rakyat jawa timur
Arya Menak yang dari tadi mengintip di balik semak-semak perlahan-lahan mendekatinya. Ia berpura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Setelah mendapat penjelasan singkat dari sang bidadari, Arya Menak segera berkata, “Ini mungkin memang sudah menjadi kehendak para dewata agar engkau berdiam di bumi untuk sementara waktu. Jadi, janganlah engkau bersedih hati. Aku akan selalu menemani dan menghiburmu.”

Sang bidadari rupanya percaya dengan ucapan Arya Menak. Ia tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan untuk tinggal di rumahnya. Singkat cerita, beberapa bulan kemudian Arya Menak melamar sang bidadari. Mereka kemudian hidup sebagai pasangan suami isteri.

Oleh karena bukan seorang manusia biasa, maka sang bidadari tentu saja mempunyai kekuatan gaib. Salah satu contohnya, ia dapat menanak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Namun syaratnya, ketika akan menanak nasi siapapun tidak ada yang boleh menyaksikannya, termasuk Aryo Menak suaminya sendiri.

Dikisahkan, Arya Menak penasaran sebab beras di lumbungnya tidak bernah berkurang meskipun selalu diambil untuk dijadikan makanan. Ketika isterinya sedang mencuci pakaian di sungai, Arya Menak langsung masuk ke dapur untuk membuka panci tempat isterinya biasa menanak nasi. Tindakan ini ternyata membuat kekuatan gaib isterinya menjadi lenyap. Mulai saat itu, Sang Bidadari harus mengambil beras dalam jumlah banyak di lumbung. Lama-kelamaan beras di dalam lumbung menjadi berkurang.

Suatu hari, sang bidadari menjadi terkejut ketika akan mengambil beras yang hanya tersisa sedikit lagi di sudut lumbung. Ia melihat selendangnya yang hilang tersembul di bawah tumpukan beras. Ia lalu mengambil dan segera mencucinya. Setelah itu, sang bidadari langsung mengenakan selendangnya dan terbang ke langit.

Saat Arya Menak pulang ke rumah, ia menjadi bingung karena isterinya tidak ada dan makanan pun belum disediakan. Ia lalu mencari ke sekeliling rumahnya. Pada saat berada di lumbungnya, Arya Menak menjadi sangat terkejut. Selendang milik isterinya yang selama ini ia sembunyikan di sudut lumbung telah raib dari tempatnya. Arya Menak akhirnya sadar bahwa sang bidadari telah menemukan selendangnya dan terbang kembali ke langit. Ia sangat menyesal. Dan, sejak saat itu Arya Menak bersumpah bahwa ia dan seluruh keturunannya akan berpantang untuk memakan nasi.

***

Demikianlah cerita rakyat Indonesia berjudul Legenda Arya Menak.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #90: Legenda Arya Menak

Cerita Rakyat Indonesia #89: Petani Penjual Kucing

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, April 2, 2013

Cerita rakyat yang saya posting hari ini mengisahkan tentang seorang petani miskin. Namun, berkat kebaikan hati dan kejeliannya melihat peluang, ia mendapatkan uang lebih dari yang dibutuhkan, sehingga ia pun menjadi kaya raya. Beberapa orang di kampungnya pun mengikutinya. Bagaimana kisah selengkapnya dari cerita rakyat berjudul Petani Penjual Kucing? Yuk baca sama-sama...

***

Alkisah, ada seorang petani yang miskin namun rajin dan suka bekerja keras. Namanya Abdulah. Tanahnya hanya sepetak padahal ia harus menghidup istri dan anak-anaknya. Itu tak cukup. Karena itu ia berencana ke Jawa untuk mengadu nasib. Istrinya setuju dan mendukung hal itu.

Ketika berangkat ke Jawa, ia hanya membawa uang sepuluh gobang (1 gobang = 2,5 sen). Sepuluh gobang adalah uang yang hanya pas untuk ongkos berlayar ke Pulau Jawa.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan perempuan yang nampak miskin sedang menggendong anaknya yang tampak pucat kelaparan. Di tangannya, ia tampak menjinjing keranjang berisi 3 ekor kucing. Perempuan itu mendatanginya dan meminta Abdulah membeli, kucing-kucingnya. Abdulah berpikir, jika ia tak menolong, mungkin saja mereka bisa mati kelaparan. Maka ibalah hatinya. Perempuan itu menawarkan 5 gobang untuk 3 kucing. Namun, uang Abdulah sangatlah sedikit. Ia hanya mampu membayar dengan 3 gobang saja. Perempuan itu ternyata setuju.

Sesampai di pelabuhan, Abdulah memilih naik perahu layar yang biayanya lebih murah. Namun, ternyata perjalanan harus ditempuh dengan banyak kesulitan karena angin berhembus sangat besar dan kencang. Juru mudi tak mampu mengendalikan perahunya, maka perahu pun terombang-ambing dibawa oleh laju angin.

Rupanya angin tidak membawa mereka ke Jawa tapi ke arah lain. Sebuah pulau yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, bernama Pulau Tikus. Dinamai demikian karena banyak sekali tikus-tikus berkeliaran di pulau itu. Semua penduduk sudah merasa kewalahan menumpasnya, tapi tikus-tikus itu tak kunjung habis dan malah seakan tambah banyak. Padi di lumbung atau di sawah, juga persediaan makanan penduduk, semua disikat habis oleh tikus-tikus itu.

Melihat keadaan itu, Abdullah jadi teringat pada kucing-kucingnya. Ia lalu menunjukkan dan menerangkan pada penduduk pulau itu bahwa binatang yang dibawanya itu bisa membasmi dan memburu tikus. Penduduk pun lalu membawa Abdullah pada Kepala Pulau setempat.

"Benarkah binatangmu itu dapat membasmi tikus?” tanya kepala Pulau "Kalau benar aku akan berani beli bintang itu lima dinar per ekor.”

"Kalau begitu, lihat saja dulu binatang itu. Kalau tertarik silahkan ambil semuanya. Saya memiliki 3 ekor,” kata Abdullah.

Abdullah lalu mengeluarkan seekor kucing dalam karungnya. Lama tak diberi makan, tentu saja kucing itu merasa sangat lapar. Begitu dilihatnya ada tikus berkeliaran di depan matanya, langsung saja dikejarnya dengan ganas. Setelah tertangkap langsung dicabik-cabik tikus itu. Setelah makan satu ekor, si kucing lari mengejar tikus lainnya dan seterusnya.

Kepala pulau sangat puas menyaksikan itu. Dan akhirnya Abdullah pun mendapat 15 dinar (dinar = mata uang emas).

Abdullah girang hatinya. Lalu ia membatalkan niatnya untuk ke pulau jawa dan akhirnya dia pulang kembali ke Madura.

Sesampainya di Madura, uang itu dibelikan tanah yang lebih luas dan dia kerjakan sendiri tanah itu. Sampai akhirnya ia menjadi cukup berada.

Abdullah tak segan menceritakan keberuntungannya pada siapa saja yang bertanya padanya. Rupanya ada 3 orang penduduk desa yang ingin mengadu nasib. Mereka bermaksud mengikuti jejak seperti Abdullah. Mereka sudah berketetapan hati untuk menjual kucing-kucing ke pulau tikus. Seluruh hartanya mereka jual dan dibelikannya kucing-kucing yang banyak. Setelah siap mereka menyewa perahu ke pulau tikus itu.

Namun ternyata sekarang tikus-tikus di pulau itu sudah musnah. Setelah 3 ekor kucing Abdullah itu memakan tikus-tikus di pulau itu, mereka kenyang dan bertambah besar, lalu beranak pinak. Keturunannya juga memakan tikus-tikus lain yang masih tersisa. Sampai akhirnya tikus-tikus di sana habis semuanya.

Mereka kecewa dan sedih hatinya. Semua usaha yang dilakukannya selama ini ternyata tak ada gunanya sama sekali. Mereka lalu pulang kembali ke Madura dengan perasaan malu.

***

Bagaimana bagus tidak cerita rakyat ini? Pesan yang bisa ditarik dari cerita ini adalah jangan gampang mengikuti jejak kesuksesan orang lain. Belum tentu jalan yang ditempuh oleh seseorang bisa berhasil pula untuk kita. Semoga bermanfaat.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #89: Petani Penjual Kucing

Cerita Rakyat Indonesia #82: Asal-Usul Nama Surabaya

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Wednesday, March 27, 2013

Sampai sekarang Surabaya masih menjadi kota terbesar nomor dua di Indonesia. Nama kota di Provinsi Jawa Timur ini memang memiliki asal-usul yang unik. Ada dua versi asal-usul mengenai nama kota pahlawan itu. Pertama, menurut sejarah Indonesia, nama Surabaya muncul sejak awal Kerajaan Majapahit, waktu itu bernama Ujung Galuh. Dinamakan Surabaya, yang berarti "selamat dari bahaya", karena untuk menggambarkan epik tentara Majapahit dibawah Raden Wijaya melawan pasukan Tar Tar (Mongol). Lalu bagaimana asal-usul nama Surabaya menurut versi cerita rakyat Indonesia? Teman-teman dapat membacanya pada postingan berikut ini. Selamat membaca ^^

***

Cerita rakyat Indonesia ini dimulai dulu sekali, sewaktu batas antara laut dan darat masih bias, sewaktu hewan darat masih bisa mencari makan di laut dan hewan laut masih bisa mencari makan di darat. Dimana gara-gara batas yang tidak jelas ini menyebabkan perkelahian abadi antara seekor buaya dan seekor ikan sura (hiu).

Karena waktu itu, buaya masih bisa mencari makan di laut, begitu juga sebaliknya, ikan sura juga masih bisa mencari makan di darat. Mereka saling berebut makanan. Kedua hewan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa ini memiliki kekuatan, kepintaran, dan perut yang sama besarnya. Jadi, seimbang. Makanya, ketika keduanya berkelahi memperebutkan makanannya dan daerah kekuasaan belum pernah ada yang menang atau pun kalah. Saking bosannya berkelahi, akhirnya mereka bersepakat.

"Ikan sura, sudah bosan aku berkelahi denganmu. Lebih baik kita hentikan saja perkelahian tanpa akhir ini dengan membagi daerah kekuasaan masing-masing. Kamu di laut, aku di darat. Batas antara laut dan darat adalah tempat yang bisa dicapai oleh air laut ketika pasang surut."

Ikan sura yang sudah memikirkan hal yang sama berkata, "Deal! Setuju!"

Setelah itu, memang perkelahian diantara keduanya berhenti. Kedua makhluk itu berusaha menghormati wilayah masing-masing. Sayangnya, salah satu diantara mereka yaitu ikan sura hendak mencurangi kesepakatan. Diam-diam, ia masuk ke wilayah buaya untuk mendapatkan makanan. Pada awalnya memang tidak ketahuan, tapi karena berlangsung terus-menerus dan lama, buaya memergoki aksi ikan sura.

Demi melihat terlanggarnya kesepakatan, buaya segera mengajak ikan sura berkelahi kembali. Dan, perkelahian yang lebih sengit pun terjadi. Tak ada yang mau mengalah, sampai akhirnya ekor buaya digigit oleh ikan sura membelok ke kiri. Sementara ekor ikan sura berhasil digigit oleh buaya hingga hampir putus. Saat itu, ikan sura segera kabur ke laut lepas. Buaya bangga telah berhasil mempertahankan daerah kekuasaannya. Sejak itu, tidak pernah ada lagi perkelahian diantara mereka.

***

Cerita rakyat Indonesia tentang pertarungan ikan sura dan buaya ini sangat berkesan di hati masyarakat Surabaya. Karena itu, mereka mengabadikan peristiwa ini dengan memberi nama kota mereka dengan nama Surabaya. Semoga bermanfaat...

Oiya, jika teman-teman ingin membaca cerita rakyat Indonesia lainnya, silakan baca cerita rakyat danau toba, cerita rakyat malin kundang, cerita bawang merah bawang putih, cerita rakyat keong mas, cerita rakyat timun mas, dll. Atau bisa dipilih dari kategori di sidebar.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #82: Asal-Usul Nama Surabaya

Cerita Rakyat Indonesia #59: Legenda Ciung Wanara

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Wednesday, February 20, 2013

Cerita rakyat Indonesia, yang kami posting kali ini merupakan permintaan dari Angga Sindi Wahayudi [fb] yang meminta cerita Ciung Wanara dari Sunda. Menurut kami cerita rakyat Indonesia Ciung Wanara hampir mirip dengan cerita rakyat Cindelaras yang pernah kami posting sebelumnya. Oke langsung saja ya...

Ciung Wanara merupakan cerita rakyat Indonesia asli Jawa Barat (Sunda). Cerita rakyat dari Jawa Barat ini menceritakan legenda Kerajaan Sunda Galuh dan asal muasal nama Sungai Pamali. Serta, menggambarkan hubungan budaya antara orang Sunda dan Jawa Tengah.

***

Alkisah, pada zaman dulu sekali, berdirilah sebuah kerajaan besar di pulau Jawa bernama Kerajaan Galuh, yang beribukota di Galuh - kini dekat Ciamis. Dipercaya bahwa pada saat itu kerajaan Galuh membentang dari Hujung Kulon, ujung Barat Jawa, sampai ke Hujung Galuh ("Ujung Galuh"), yang saat ini adalah muara dari Sungai Brantas di dekat Surabaya sekarang. Kerajaan ini diperintah oleh Raja Prabu Permana Di Kusumah. Setelah memerintah dalam waktu yang lama Raja memutuskan untuk menjadi seorang pertapa dan karena itu ia memanggil menteri Aria Kebonan ke istana. Selain itu, Aria Kebonan juga telah datang kepada raja untuk membawa laporan tentang kerajaan. Sementara ia menunggu di depan pendapa, ia melihat pelayan sibuk mondar-mandir, mengatur segalanya untuk raja. Menteri itu berpikir betapa senangnya akan menjadi raja. Setiap perintah dipatuhi, setiap keinginan terpenuhi. Karena itu, ia ingin menjadi raja.

Saat ia sedang melamun di sana, raja memanggilnya.

"Aria Kebonan, apakah benar bahwa Engkau ingin menjadi raja?" Raja tahu itu karena ia diberkahi dengan kekuatan supranatural.

"Tidak, Yang Mulia, aku tidak akan bisa."

"Jangan berbohong, Aria Kebonan, aku tahu itu."

"Maaf, Yang Mulia, Saya baru saja memikirkannya."

"Yah, Aku akan membuat engkau menjadi raja Selama Aku pergi untuk bermeditasi, Engkau akan menjadi raja dan memerintah dengan benar. Engkau tidak akan memperlakukan (tidur dengan) kedua istriku, Dewi Pangrenyep dan Dewi Naganingrum sebagai istrimu."

"Baiklah, Yang Mulia."

"Aku akan mengubah penampilanmu menjadi seorang pria tampan. Namamu adalah Prabu Barma Wijaya. Beritahulah pada orang-orang bahwa raja telah menjadi muda. Aku sendiri akan pergi ke suatu tempat rahasia. Dengan demikian, engkau akan menjadi raja!"

Pada saat penampilan Aria Kebonan menyerupai Prabu Permana di Kusumah itu, tapi tampak sepuluh tahun lebih muda. Orang percaya pengumuman bahwa ia adalah Raja Prabu Permana Di Kusumah yang telah menjadi sepuluh tahun lebih muda dan mengubah namanya menjadi Prabu Barma Wijaya. Hanya satu orang tidak percaya ceritanya. Ia adalah Uwa Batara lengser yang mengetahui perjanjian antara raja dan menteri tersebut. Prabu Barma Wijaya menjadi bangga dan mempermalukan Uwa Batara lengser yang tidak dapat melakukan apa-apa. Dia juga memperlakukan kedua ratu dengan kasar. Keduanya menghindarinya, kecuali di depan umum ketika mereka berperilaku seolah-olah mereka istri Prabu Barma Wijaya.

***

Suatu malam kedua ratu bermimpi bahwa bulan jatuh di atas mereka. Mereka melaporkan hal itu kepada raja yang membuatnya ketakutan, karena mimpi tersebut biasanya peringatan bagi wanita yang akan hamil. Hal ini tidak mungkin karena ia tidak bersalah memperlakukan kedua ratu sebagai istri-istrinya. Uwa Batara lengser muncul dan mengusulkan untuk mengundang seorang pertapa baru, yang disebut Ajar Sukaresi - yang tidak lain adalah Raja Prabu Permana Di Kusumah - untuk menjelaskan mimpi yang aneh tersebut. Prabu Barma Wijaya setuju, dan begitu pertapa tiba di istana ia ditanya oleh raja tentang arti mimpi itu.

"Kedua ratu mengharapkan seorang anak, Yang Mulia."

Meskipun terkejut dengan jawabannya, Prabu Barma Wijaya masih bisa mengendalikan diri. Ingin tahu seberapa jauh pertapa berani berbohong kepadanya. Dia mengajukan pertanyaan lain. "Apakah mereka akan anak perempuan atau anak laki-laki?"

"Keduanya anak laki-laki, Yang Mulia." Padahal ini raja tidak bisa lagi menahan diri, mengambil kerisnya dan menusuk Ajar Sukaresi agar dia mati. Namun, Ajar Sukaresi tidak mati, dan keris itu malah bengkok.

"Apakah Raja berkehendak aku mati? Bila begitu, saya akan mati." Kemudian pertapa itu jatuh. Raja menendang mayatnya begitu hebat sehingga terlempar ke dalam hutan di mana ia berubah menjadi seekor naga besar, yang disebut Nagawiru.

Di keraton, sesuatu yang aneh terjadi. Kedua ratu hamil. Setelah beberapa waktu Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra yang bernama Hariang Banga.

Suatu hari ketika Prabu Barma Wijaya mengunjungi Dewi Naganingrum, secara ajaib janin dalam kandungan Naganingrum yang belum lahir tersebut berbicara, "Barma Wijaya, Engkau telah melupakan banyak janjimu. Semakin banyak kamu melakukan hal-hal kejam, kekuasaan kamu akan semakin pendek."

***

Peristiwa aneh janin yang dapat berbicara tersebut membuat raja sangat marah dan takut terhadap ancaman janin tersebut. Dia ingin menyingkirkan janin itu dan segera menemukan cara untuk melakukannya. Dia meminta bantuan Dewi Pangrenyep untuk dapat terlepas dari bayi Dewi Naganingrum yang akan lahir sebagai bajingan menurut mimpinya. Dia tidak akan cocok untuk menjadi penguasa negeri ini bersama-sama dengan Hariang Banga, putra Dewi Pangrenyep. Ratu percaya hal tersebut dan setuju, tapi apa yang harus dilakukan? "Kita akan menukar bayi tersebut dengan anjing dan melemparkannya ke sungai Citanduy."

Sebelum melahirkan, Dewi Pangrenyep menghimbau Dewi Naganingrum untuk menutupi matanya dengan malam (lilin) yang biasanya digunakan untuk membatik. Dia berpendapat bahwa perlakuan ini adalah untuk menghindarkan ibu yang sedang melahirkan agar tidak melihat terlalu banyak darah yang mungkin dapat membuatnya pingsan. Naganingrum setuju dan Pangrenyep pun menutup mata Dewi Naganingrum dengan lilin, berpura-pura membantu ratu malang tersebut. Naganingrum tidak menyadari apa yang terjadi, bayi yang baru lahir itu dimasukkan ke dalam keranjang dan dilemparkan ke dalam Sungai Citanduy, setelah ditukar dengan bayi anjing yang dibaringkan di pangkuan sang ibu yang tidak curiga akan perbuatan jahat tersebut.

Ratu Naganingrum segera menyadari bahwa ia tengah menggendong seekor bayi anjing, ia sangat terkejut dan jatuh sedih. Kedua pelaku kejahatan berusaha menyingkirkan Dewi Naganingrum dari istana dengan mengatakan kebohongan kepada rakyat, tapi tidak ada yang percaya kepada mereka. Bahkan Uwa Batara Lengser tak dapat melakukan apa-apa karena Raja serta Ratu Dewi Pangrenyep sangat berkuasa. Barma Wijaya bahkan memerintahkan hukuman mati atas Dewi Naganingrum karena dia telah melahirkan seekor anjing, yang dianggap sebagai kutukan dari para dewa dan aib bagi kerajaan. Uwa Batara Lengser mendapat perintah untuk melaksanakan eksekusi tersebut. Dia membawa ratu yang malang ke hutan, namun dia tak sampai hati membunuhnya, ia bahkan membangunkan sebuah gubuk yang baik untuknya. Untuk meyakinkan Raja dan Ratu Pangrenyep bahwa ia telah melakukan perintah mereka, ia menunjukkan kepada mereka pakaian Dewi Naganingrum yang berlumuran darah.

***

Di desa Geger Sunten, tepian sungai Citanduy, hiduplah sepasang suami istri tua yang biasa memasang bubu keramba perangkap ikan yang terbuat dari bambu di sungai untuk menangkap ikan. Suatu pagi mereka pergi ke sungai untuk mengambil ikan yang terperangkap di dalam bubu, dan sangat terkejut bukannya menemukan ikan melainkan keranjang yang tersangkut pada bubu tersebut. Setelah membukanya, mereka menemukan bayi yang menggemaskan. Mereka membawa pulang bayi tersebut, merawatnya dan menyayanginya seperti anak mereka sendiri.

Dengan berlalunya waktu bayi tumbuh menjadi seorang pemuda rupawan yang menemani berburu orang tua dalam hutan. Suatu hari mereka melihat seekor burung dan monyet.

"Burung dan monyet apakah itu, Ayah?"

"Burung itu disebut Ciung dan monyet itu adalah Wanara, anakku."

"Kalau begitu, panggillah aku Ciung Wanara." Orang tua itu menyetujui karena arti kedua kata tersebut cocok dengan karakter anak itu.

Suatu hari ia bertanya pada orang tuanya mengapa dia berbeda dengan anak laki-laki lain dari desa tersebut dan mengapa mereka sangat menghormatinya. Kemudian orang tua itu mengatakan kepadanya bahwa ia telah terbawa arus sungai ke desat tersebut dalam sebuah keranjang dan bukan anak dari desa tersebut.

"Orang tuamu pasti bangsawan dari Galuh."

"Kalau begitu, aku harus pergi ke sana di mencari orang tua kandungku, Ayah."

"Itu benar, tetapi kamu harus pergi dengan seorang teman. Di keranjang itu ada telur. Ambillah, pergilah ke hutan dan carilah unggas untuk menetaskan telur itu."

Ciung Wanara mengambil telur itu, pergi ke hutan seperti yang diperintahkan oleh sang orang tua, tetapi ia tidak dapat menemukan unggas. Ia menemukan Nagawiru yang baik kepada dia dan yang menawarkan dia untuk menetas telur. Dia meletakkan telur di bawah naga itu dan tak lama setelah menetas, anak ayam tumbuh dengan cepat. Ciung Wanara memasukkannya ke dalam keranjang, meninggalkan orang tua dan istrinya dan memulai perjalanannya ke Galuh.

Di ibukota Galuh, sabung ayam adalah sebuah acara olahraga besar, baik raja dan rakyatnya menyukainya. Raja Barma Wijaya memiliki ayam jago yang besar dan tak terkalahkan bernama Si Jeling. Dalam kesombongannya, ia menyatakan bahwa ia akan mengabulkan keinginan apapun kepada pemilik ayam yang bisa mengalahkan ayam juaranya.

Saat tiba, anak ayam Ciung Wanara sudah tumbuh menjadi ayam petarung yang kuat. Sementara Ciung Wanara sedang mencari pemilik keranjang, ia ikut ambil bagian dalam turnamen adu ayam kerajaan. Ayamnya tidak pernah kalah. Kabar tentang anak muda yang ayam jantannya selalu menang di sabung ayam akhirnya mencapai telinga Prabu Barma Wijaya yang kemudian memerintahkan Uwa Batara Lengser untuk menemukan pemuda itu. Orang tua itu segera menyadari bahwa pemuda pemilik ayam itu adalah putra Dewi Naganingrum yang telah lama hilang, terutama ketika Ciung Wanara menunjukkan padanya keranjang di mana ia telah dihanyutkan ke sungai. Uwa Batara Lengser mengatakan pada Ciung Wanara bahwa raja telah memerintahkan hal tersebut, pasca menuduh ibunya telah melahirkan seekor anjing.

"Jika ayam kamu menang melawan ayam raja, mintalah saja kepadanya setengah dari kerajaan sebagai hadiah kemenangan kamu."

Keesokan paginya Ciung Wanara muncul di depan Prabu Barma Wijaya dan menceritakan apa yang telah diusulkan Lengser. Raja setuju karena dia yakin akan kemenangan ayam jantannya yang disebut Si Jeling. Si Jeling sedikit lebih besar dari ayam jago Ciung Wanara, namun ayam Ciung Wanara lebih kuat karena dierami oleh naga Nagawiru. Dalam pertarungan berdarah ini, ayam sang Raja kehilangan nyawanya dalam pertarungan dan raja terpaksa memenuhi janjinya untuk memberikan Ciung Wanara setengah dari kerajaannya.

***

Ciung Wanara menjadi raja dari setengah kerajaan dan membangun penjara besi yang dibangun untuk mengurung orang-orang jahat. Ciung Wanara merencanakan siasat untuk menghukum Prabu Barma Wijaya dan Dewi Pangrenyep. Suatu hari Prabu Barma Wijaya dan Dewi Pangrenyep diundang oleh Ciung Wanara untuk datang dan memeriksa penjara yang baru dibangun. Ketika mereka berada di dalam, Ciung Wanara menutup pintu dan mengunci mereka di dalam. Dia kemudian memberitahu orang-orang di kerajaan tentang perbuatan jahat Barma dan Pangrenyep, orang-orang pun bersorak.

Namun, Hariang Banga, putra Dewi Pangrenyep, menjadi sedih mengetahui tentang penangkapan ibunya. Ia menyusun rencana pemberontakan, mengumpulkan banyak tentara dan memimpin perang melawan adiknya. Dalam pertempuran, ia menyerang Ciung Wanara dan para pengikutnya. Ciung Wanara dan Hariang Banga adalah pangeran yang kuat dan berkeahlian tinggi dalam seni bela diri pencak silat. Namun Ciung Wanara berhasil mendorong Hariang Banga ke tepian Sungai Brebes. Pertempuran terus berlangsung tanpa ada yang menang. Tiba-tiba muncullah Raja Prabu Permana Di Kusumah didampingi oleh Ratu Dewi Naganingrum dan Uwa Batara lengser.

"Hariang Banga dan Ciung Wanara!" kata Raja, "Hentikan pertempuran ini. Pamali ("tabu" atau "dilarang" dalam bahasa Sunda dan Jawa) - berperang melawan saudara sendiri. Kalian adalah saudara, kalian berdua adalah anak-anakku yang akan memerintah di negeri ini, Ciung Wanara di Galuh dan Hariang Banga di timur sungai Brebes, negara baru. Semoga sungai ini menjadi batas dan mengubah namanya dari Sungai Brebes menjadi Sungai Pamali untuk mengingatkan kalian berdua bahwa adalah pamali untuk memerangi saudara sendiri. Biarlah Dewi Pangrenyep dan Barma Wijaya yang dahulu adalah Aria Kebonan dipenjara karena dosa mereka."

Sejak itu sungai pembatasan tersebut dikenal sebagai Cipamali (Bahasa Sunda) atau Kali Pemali (Bahasa Jawa) yang berarti "Sungai Pamali". Hariang Banga pindah ke timur dan dikenal sebagai Jaka Susuruh. Dia mendirikan kerajaan Jawa dan menjadi raja Jawa, dan pengikutnya yang setia menjadi nenek moyang orang Jawa. Ciung Wanara memerintah kerajaan Galuh dengan adil, rakyatnya adalah orang Sunda, sejak itu Galuh dan Jawa makmur lagi seperti pada zaman Prabu Permana Di Kusumah. Saat kembali menuju ke barat, Ciung Wanara menyanyikan legenda ini dalam bentuk Pantun Sunda, sementara kakaknya menuju ke timur dengan melakukan hal yang sama, menyanyikan cerita epik ini dalam bentuk tembang.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #59: Legenda Ciung Wanara

Cerita Rakyat Indonesia #58: Calon Arang

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, February 19, 2013

Calon Arang dikenal sebagai tokoh dalam cerita rakyat Indonesia, khususnya daerah Jawa dan Bali. Cerita rakyat Indonesia, katanya, dibuat pada abad 12 dan tidak diketahui siapa pengarangnya. Calon Arang mengisahkan tentang seorang janda tukang tenung semasa Kerajaan Daha. Kini, salinan teks latin dari cerita rakyat Indonesia Calon Arang beradai di Bijdragen Koninklijke Instituut, Belanda.

***

Pada suatu masa di Kerajaan Daha yang dipimpin oleh raja Erlangga, hidup seorang janda yang sangat bengis. Ia bernama Calon Arang. Ia tinggal di desa Girah. Calon Arang adalah seorang penganut sebuah aliran hitam, yakni kepercayaan sesat yang selalu mengumbar kejahatan memakai ilmu gaib. Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Manggali. Karena puterinya telah cukup dewasa dan Calon Arang tidak ingin Ratna Manggali tidak mendapatkan jodoh, maka ia memaksa beberapa pemuda yang tampan dan kaya untuk menjadi menantunya. Karena sifatnya yang bengis, Calon Arang tidak disukai oleh penduduk Girah. Tak seorang pemuda pun yang mau memperistri Ratna Manggali. Hal ini membuat marah Calon Arang. Ia berniat membuat resah warga desa Girah.

“Kerahkan anak buahmu! Cari seorang anak gadis hari ini juga! Sebelum matahari tenggelam anak gadis itu harus dibawa ke candi Durga!“ perintah Calon Arang kepada Krakah, seorang anak buahnya. Krakah segera mengerahkan cantrik-cantrik Calon Arang untuk mencari seorang anak gadis. Suatu perkerjaan yang tidak terlalu sulit bagi para cantrik Calon Arang.

Sebelum matahari terbit, anak gadis yang malang itu sudah berada di Candi Durga. Ia meronta-ronta ketakutan. “Lepaskan aku! Lepaskan aku!“ teriaknya. Lama kelamaan anak gadis itu pun lelah dan jatuh pingsan. Ia kemudian di baringkan di altar persembahan. Tepat tengah malam yang gelap gulita, Calon Arang mengorbankan anak gadis itu untuk dipersembahkan kepada Betari Durga, dewi angkara murka.

Kutukan Calon Arang menjadi kenyataan. “Banjir! Banjir!“ teriak penduduk Girah yang diterjang aliran sungai Brantas. Siapapun yang terkena percikan air sungai Brantas pasti akan menderita sakit dan menemui ajalnya. “He, he… siapa yang berani melawan Calon Arang? Calon Arang tak terkalahkan!” demikian Calon Arang menantang dengan sombongnya. Akibat ulah Calon Arang itu, rakyat semakin menderita. Korban semakin banyak. Pagi sakit, sore meninggal. Tidak ada obat yang dapat menanggulangi wabah penyakit aneh itu..

“Apa yang menyebabkan rakyatku di desa Girah mengalami wabah dan bencana ?” Tanya Prabu Erlangga kepada Paman Patih. Setelah mendengar laporan Paman Patih tentang ulah Calon Arang, Prabu Erlangga marah besar. Genderang perang pun segera ditabuh. Maha Patih kerajaan Daha segera menghimpun prajurit pilihan. Mereka segera berangkat ke desa Girah untuk menangkap Calon Arang. Rakyat sangat gembira mendengar bahwa Calon Arang akan ditangkap. Para prajurit menjadi bangga dan merasa tugas suci itu akan berhasil berkat doa restu seluruh rakyat.

Prajurit kerajaan Daha sampai di desa kediaman Calon Arang. Belum sempat melepaskan lelah dari perjalanan jauh, para prajurit dikejutkan oleh ledakan-ledakan menggelegas di antara mereka. Tidak sedikit prajurit Daha yang tiba-tiba menggelepar di tanah, tanpa sebab yang pasti.

Korban dari prajurit Daha terus berjatuhan. Musuh mereka mampu merobohkan lawannya dari jarak jauh, walaupun tanpa senjata. Kekalahan prajurit Daha membuat para cantrik, murid Calon Arang bertambah ganas. “Serang! Serang terus!” seru para cantrik. Pasukan Daha porak poranda dan lari pontang-panting menyelamatkan diri. Prabu Erlangga terus mencari cara untuk mengalahkan Calon Arang. Untuk mengalahkan Calon Arang, kita harus menggunakan kasih saying”, kata Empu Barada dalam musyawarah kerajaan. “Kekesalan Calon Arang disebabkan belum ada seorang pun yang bersedia menikahi puteri tunggalnya.“

Empu Barada meminta Empu Bahula agar dapat membantu dengan tulus untuk mengalahkan Calon Arang. Empu Bahula yang masih lajang diminta bersedia memperistri Ratna Manggali. Dijelaskan, bahwa dengan memperistri Ratna Manggali, Empu Bahula dapat sekaligus memperdalam dan menyempurnakan ilmunya.

Akhirnya rombongan Empu Bahula berangkat ke desa Girah untuk meminang Ratna Manggali. “He he … aku sangat senang mempunyai menantu seorang Empu yang rupawan.” Calon Arang terkekeh gembira. Maka, diadakanlah pesta pernikahan besar-besaran selama tujuh hari tujuh malam. Pesta pora yang berlangsung itu sangat menyenangkan hati Calon Arang. Ratna Manggali dan Empu Bahula juga sangat bahagia. Mereka saling mencintai dan mengasihi. Pesta pernikahan telah berlalu, tetapi suasana gembira masih meliputi desa Girah. Empu Bahula memanfaatkan saat tersebut untuk melaksanakan tugasnya.

Di suatu hari, Empu Bahula bertanya kepada istrinya, “Dinda Manggali, apa yang menyebabkan Nyai Calon Arang begitu sakti?“ Ratna Manggali menjelaskan bahwa kesaktian Nyai Calon Arang terletak pada Kitab Sihir. Melalui buku itu, ia dapat memanggil Betari Durga. Kitab sihir itu tidak bisa lepas dari tangan Calon Arang, bahkan saat tidur, Kitab sihir itu digunakan sebagai alas kepalanya.

Empu Bahula segera mengatur siasat untuk mencuri Kitab Sihir. Tepat tengah malam, Empu Bahula menyelinap memasuki tempat peraduan Calon Arang. Rupanya Calon Arang tidur terlalu lelap, karena kelelahan setelah selama tujuh hari tujuh malam mengumbar kegembiraannya. Empu Bahul berhasil mencuri Kitab sihir Calon Arang dan langsung diserahkan ke Empu Baradah. Setelah itu, Empu Bahula dan istrinya segera mengungsi.

Calon Arang sangat marah ketika mengetahui Kitab sihirnya sudah tidak ada lagi, ia bagaikan seekor badak yang membabi buta. Sementara itu, Empu Baradah mempelajari Kitab sihir dengan tekun. Setelah siap, Empu Baradah menantang Calon Arang. Sewaktu menghadapi Empu Baradah, kedua belah telapak tangan Calon Arang menyemburkan jilatan api, begitu juga kedua matanya. Empu Baradah menghadapinya dengan tenang. Ia segera membaca sebuah mantera untuk mengembalikan jilatan dan semburan api ke tubuh Calon Arang. Karena Kitab sihir sudah tidak ada padanya, tubuh Calon Arang pun hancur menjadi abu dan tertiup kencang menuju ke Laut Selatan. Sejak itu, desa Girah menjadi aman tenteram seperti sediakala.

***

Demikianlah, cerita rakyat Indonesia Calon Arang. Cerita rakyat Indonesia ini memiliki pesan bahwa seseorang tidak dapat memaksakan kehendaknya pada orang lain dan tidak melakukan sesuatu hal yang dibenci orang lain. Karena pemaksaan kehendak akan berakibat buruk bagi diri sendiri. Semoga cerita rakyat Indonesia Calon Arang dapat diambil hikmahnya.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #58: Calon Arang

Cerita Rakyat Indonesia #41: Kisah Ande Ande Lumut

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Thursday, January 17, 2013

Ande Ande Lumut merupakan cerita rakyat yang berasal dari Jawa Timur. Cerita yang memiliki berbagai macam versi ini dikenal sebagai cerita rakyat tentang bersatunya kembali Kerajaan Jenggala dan Kediri. Diduga, cerita rakyat ini berasal dari era Majapahit.

Bagaimana kisahnya, kita baca di artikel berikut ini yuk.

***

Dahulu kala, ada dua buah kerajaan, Kediri dan Jenggala. Kedua kerajaan itu berasal dari sebuah kerajaan yang bernama Kahuripan. Raja Erlangga membagi kerajaan itu menjadi dua untuk menghindari perang saudara. Namun sebelum meninggal raja Erlangga berpesan bahwa kedua kerajaan itu harus disatukan kembali.

Maka kedua raja pun bersepakat menyatukan kembali kedua kerajaan dengan menikahkan putera mahkota Jenggala, Raden Panji Asmarabangun dengan puteri Kediri, Dewi Sekartaji.

Ibu tiri Sekartaji, selir raja Kediri, tidak menghendaki Sekartaji menikah dengan Raden Panji karena ia menginginkan puteri kandungnya sendiri yang nantinya menjadi ratu Jenggala. Maka ia menyekap dan menyembunyikan Sekartaji dan ibunya.

Pada saat Raden Panji datang ke Kediri untuk menikah dengan Sekartaji, puteri itu sudah menghilang. Raden Panji sangat kecewa. Ibu tiri Sekartaji membujuknya untuk tetap melangsungkan pernikahan dengan puterinya sebagai pengganti Sekartaji, namun Raden Panji menolak.

Raden Panji kemudian berkelana. Ia mengganti namanya menjadi Ande-Ande Lumut. Pada suatu hari ia tiba di desa Dadapan. Ia bertemu dengan seorang janda yang biasa dipanggil Mbok Randa Dadapan. Mbok Randa mengangkatnya sebagai anak dan sejak itu ia tinggal di rumah Mbok Randa.

Ande-Ande Lumut kemudian minta ibu angkatnya untuk mengumumkan bahwa ia mencari calon istri. Maka berdatanganlah gadis-gadis dari desa-desa di sekitar Dadapan untuk melamar Ande-Ande Lumut. Tak seorangpun ia terima sebagai isterinya.

Sementara itu, Sekartaji berhasil membebaskan diri dari sekapan ibu tirinya. Ia berniat untuk menemukan Raden Panji. Ia berkelana hingga tiba di rumah seorang janda yang mempunyai tiga anak gadis, Klething Abang, Klething Ijo dan si bungsu Klething Biru. Ibu janda menerimanya sebagai anak dan diberi nama Klething Kuning.

Klething Kuning disuruh menyelesaikan pekerjaan sehari-hari dari membersihkan rumah, mencuci pakaian dan peralatan dapur. Pada suatu hari karena kelelahan Klething Kuning menangis. Tiba-tiba datang seekor bangau besar. Klething Kuning hampir lari ketakutan. Namun bangau itu berkata, “Jangan takut, aku datang untuk membantumu.”

Bangau itu kemudian mengibaskan sayapnya dan pakaian yang harus dicuci Klething Kuning berubah menjadi bersih. Peralatan dapur juga dibersihkannya. Setelah itu bangau terbang kembali.

Bangau itu kembali setiap hari untuk membantu Klething Kuning. Pada suatu hari bangau menceritakan tentang Ande-Ande Lumut kepada Klething Kuning dan menyuruhnya pergi melamar.

Klething Kuning minta ijin kepada ibu angkatnya untuk pergi ke Dadapan. Ibunya mengijinkan ia pergi bila pekerjaannya sudah selesai. Ia pun sengaja menyuruh Klething Kuning mencuci sebanyak mungkin pakaian agar ia tidak dapat pergi.

Sementara itu ibu janda mengajak ketiga anak gadisnya ke Dadapan untuk melamar Ande-Ande Lumut. Di perjalanan mereka tiba di sebuah sungai yang sangat lebar. Tidak ada jembatan atau perahu yang melintas. Mereka kebingungan. Lalu mereka melihat seekor kepiting raksasa menghampiri mereka.

“Namaku Yuyu Kangkang. Kalian mau kuseberangkan?”

Mereka tentu saja mau.

“Tentu saja kalian harus memberiku imbalan.”

“Kau mau uang? Berapa?” tanya ibu janda.

“Aku tak mau uangmu. Anak gadismu cantik-cantik. Aku mau mereka menciumku.’

Mereka terperanjat mendengar jawaban Yuyu Kangkang. Namun mereka tidak mempunyai pilihan lain. Akhirnya mereka setuju. Kepiting raksasa itu menyeberangkan mereka satu persatu dan mereka pun memberikan ciuman sebagai imbalan.

Sesampainya di rumah mbok Randa, mereka minta bertemu dengan Ande-Ande Lumut.

Mbok Randa mengetuk kamar Ande-Ande Lumut, katanya, “Puteraku, lihatlah, gadis-gadis cantik ini ingin melamarmu. Pilihlah satu sebagai isterimu.”

“Ibu,” sahut Ande-Ande Lumut, “Katakan kepada mereka, aku tidak mau mengambil kekasih Yuyu Kangkang sebagai isteriku.”

Ibu Janda dan ketiga anak gadisnya terkejut mendengar jawaban Ande-Ande Lumut. Bagaimana pemuda itu tahu bahwa mereka tadi bertemu dengan kepiting raksasa itu? Dengan kecewa mereka pun pulang.

Di rumah, Klething Kuning sudah menyelesaikan semua tugasnya berkat bantuan bangau ajaib. Bangau itu memberinya sebatang lidi.

Ketika ibu angkatnya kembali Klething Kuning sekali lagi meminta ijin untuk pergi menemui Ande-Ande Lumut. Ibu angkatnya terpaksa mengijinkan, namun ia sengaja mengoleskan kotoran ayam ke punggung Klething Kuning.

Klething Kuning pun berangkat. Tibalah ia di sungai besar. Kepiting raksasa itu mendatanginya untuk menawarkan jasa membawanya ke seberang sungai.

“Gadis cantik, kau mau ke seberang? Mari kuantarkan,” kata Yuyu Kangkang

“Tidak usah, terima kasih” kata Klething Kuning sambil berjalan menjauh.

“Ayolah, kau tak perlu membayar,” Yuyu Kangkang mengejarnya.”Cukup sebuah ci... Aduh!”

Klething Kuning mencambuk Yuyu Kangkang dengan lidi pemberian bangau. Kepiting raksasa itu pun lari ketakutan.

Klething Kuning kemudian mendekati tepi air sungai dan menyabetkan lidinya sekali lagi. Air sungai terbelah, dan ia pun bisa berjalan di dasar sungai sampai ke seberang.

Klething Kuning akhirnya tiba di rumah Mbok Randa. Mbok Randa menerimanya sambil mengernyitkan hidung karena baju Klething Kuning bau kotoran ayam. Ia pun menyilakan gadis itu masuk lalu ia pergi ke kamar Ande-Ande Lumut.

“Ande anakku, ada seorang gadis cantik, tetapi kau tak perlu menemuinya. Bajunya bau sekali, seperti bau kotoran ayam. Biar kusuruh ia pulang saja.”

“Aku akan menemuinya, Ibu,” kata Ande-Ande Lumut.

“Tetapi... ia...,” sahut Mbok Randa.

“Ia satu-satunya gadis yang menyeberang tanpa bantuan Yuyu Kangkang, ibu. Ialah gadis yang aku tunggu-tunggu selama ini.”

Mbok Randa pun terdiam. Ia mengikuti Ande-Ande Lumut menemui gadis itu.

Klething Kuning terkejut sekali melihat Ande-Ande Lumut adalah tunangannya, Raden Panji Asmarabangun.

“Sekartaji, akhirnya kita bertemu lagi,” kata Raden Panji.

Raden Panji kemudian membawa Dewi Sekartaji dan Mbok Randa Dadapan ke Jenggala. Raden Panji dan Dewi Sekartaji pun menikah. Kerajaan Kediri dan Jenggala pun dipersatukan kembali.

***

Demikian cerita rakyat Ande Ande Lumut semoga memberi pelajaran yang berharga untuk kita semua, sekian.[]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #41: Kisah Ande Ande Lumut

Cerita Rakyat Indonesia #31: Asal-Usul Surabaya

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Friday, October 26, 2012

Setidaknya ada tiga keterangan tentang muasal nama Surabaya. Keterangan pertama menyebutkan, nama Surabaya awalnya adalah Churabaya, desa tempat menyeberang di tepian Sungai Brantas. Hal itu tercantum dalam prasasti Trowulan I tahun 1358 Masehi. Nama Surabaya juga tercantum dalam Pujasastra Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca. Dalam tulisan itu Surabaya (Surabhaya) tercantum dalam pujasastra tentang perjalanan pesiar pada tahun 1365 yang dilakukan Hayam Wuruk, Raja Majapahit.

Namun Surabaya sendiri diyakini oleh para ahli telah ada pada tahun-tahun sebelum prasasti-prasasti tersebut dibuat. Seorang peneliti Belanda, GH Von Faber dalam karyanya En Werd Een Stad Geboren (Telah Lahir Sebuah Kota) membuat hipotesis, Surabaya didirikan Raja Kertanegara tahun 1275, sebagai pemukiman baru bagi para prajuritnya yang telah berhasil menumpas pemberontakan Kemuruhan tahun 1270 M.

Versi berikutnya, nama Surabaya berkait erat dengan cerita tentang perkelahian hidup dan mati antara Adipati Jayengrono dan Sawunggaling. Konon, setelah mengalahkan tentara Tartar (Mongol), Raden Wijaya yang merupakan raja pertama Majapahit, mendirikan kraton di Ujung Galuh, sekarang kawasan pelabuhan Tanjung Perak, dan menempatkan Adipati Jayengrono untuk memimpin daerah itu. Lama-lama Jayengrono makin kuat dan mandiri karena menguasai ilmu Buaya, sehingga mengancam kedaulatan Majapahit.

Untuk menaklukkan Jayengrono, diutuslah Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura. Adu kesaktian dilakukan di pinggir Sungai Kalimas dekat Paneleh. Perkelahian adu kesaktian itu berlangsung tujuh hari tujuh malam dan berakhir tragis, keduanya meninggal kehabisan tenaga.
hosting indonesia

Dalam versi lainnya lagi, kata Surabaya muncul dari mitos pertempuran antara ikan Suro (Sura) dan Boyo (Baya atau Buaya), perlambang perjuangan antara darat dan laut. Penggambaran pertarungan itu terdapat dalam monumen suro dan boyo yang ada dekat kebun binatang di Jalan Setail Surabaya

Versi terakhir, dikeluarkan pada tahun 1975, ketika Walikota Subaya Soeparno menetapkan tanggal 31 Mei 1293 sebagai hari jadi Kota Surabaya. Ini berarti pada tahun 2005 Surabaya sudah berusia 712 tahun. Penetapan itu berdasar kesepakatan sekelompok sejarawan yang dibentuk pemerintah kota bahwa nama Surabaya berasal dari kata sura ing bhaya yang berarti keberanian menghadapi bahaya.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #31: Asal-Usul Surabaya

Cerita Rakyat Indonesia #24: Kisah Banyuwangi

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, October 23, 2012

Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya.

“Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “Hem, segar nian air sungai ini,” Raden Banterang minum air sungai itu, sampai merasa hilang dahaganya. Setelah itu, ia meninggalkan sungai. Namun baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba dikejutkan kedatangan seorang gadis cantik jelita.

“Ha? Seorang gadis cantik jelita? Benarkah ia seorang manusia? Jangan-jangan setan penunggu hutan,” gumam Raden Banterang bertanya-tanya. Raden Banterang memberanikan diri mendekati gadis cantik itu. “Kau manusia atau penunggu hutan?” sapa Raden Banterang. “Saya manusia,” jawab gadis itu sambil tersenyum. Raden Banterang pun memperkenalkan dirinya. Gadis cantik itu menyambutnya. “Nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”. “Saya berada di tempat ini karena menyelamatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam mempertahankan mahkota kerajaan,” Jelasnya. Mendengar ucapan gadis itu, Raden Banterang terkejut bukan kepalang. Melihat penderitaan puteri Raja Klungkung itu, Raden Banterang segera menolong dan mengajaknya pulang ke istana. Tak lama kemudian mereka menikah membangun keluarga bahagia.

Pada suatu hari, puteri Raja Klungkung berjalan-jalan sendirian ke luar istana. “Surati! Surati!”, panggil seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping. Setelah mengamati wajah lelaki itu, ia baru sadar bahwa yang berada di depannya adalah kakak kandungnya bernama Rupaksa. Maksud kedatangan Rupaksa adalah untuk mengajak adiknya untuk membalas dendam, karena Raden Banterang telah membunuh ayahandanya. Surati menceritakan bahwa ia mau diperistri Raden Banterang karena telah berhutang budi. Dengan begitu, Surati tidak mau membantu ajakan kakak kandungnya. Rupaksa marah mendengar jawaban adiknya. Namun, ia sempat memberikan sebuah kenangan berupa ikat kepala kepada Surati. “Ikat kepala ini harus kau simpan di bawah tempat tidurmu,” pesan Rupaksa.

Pertemuan Surati dengan kakak kandungnya tidak diketahui oleh Raden Banterang, dikarenakan Raden Banterang sedang berburu di hutan. Tatkala Raden Banterang berada di tengah hutan, tiba-tiba pandangan matanya dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki berpakaian compang-camping. “Tuangku, Raden Banterang. Keselamatan Tuan terancam bahaya yang direncanakan oleh istri tuan sendiri,” kata lelaki itu. “Tuan bisa melihat buktinya, dengan melihat sebuah ikat kepala yang diletakkan di bawah tempat peraduannya. Ikat kepala itu milik lelaki yang dimintai tolong untuk membunuh Tuan,” jelasnya. Setelah mengucapkan kata-kata itu, lelaki berpakaian compang-camping itu hilang secara misterius. Terkejutlah Raden Banterang mendengar laporan lelaki misterius itu. Ia pun segera pulang ke istana. Setelah tiba di istana, Raden Banterang langsung menuju ke peraaduan istrinya. Dicarinya ikat kepala yang telah diceritakan oleh lelaki berpakaian compang-camping yang telah menemui di hutan. “Ha! Benar kata lelaki itu! Ikat kepala ini sebagai bukti! Kau merencanakan mau membunuhku dengan minta tolong kepada pemilik ikat kepala ini!” tuduh Raden Banterang kepada istrinya. ” Begitukah balasanmu padaku?” tandas Raden Banterang.”Jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak bermaksud membunuh Kakanda, apalagi minta tolong kepada seorang lelaki!” jawab Surati. Namun Raden Banterang tetap pada pendiriannya, bahwa istrinya yang pernah ditolong itu akan membahayakan hidupnya. Nah, sebelum nyawanya terancam, Raden Banterang lebih dahulu ingin mencelakakan istrinya.

Raden Banterang berniat menenggelamkan istrinya di sebuah sungai. Setelah tiba di sungai, Raden Banterang menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki compang-camping ketika berburu di hutan. Sang istri pun menceritakan tentang pertemuan dengan seorang lelaki berpakaian compang-camping seperti yang dijelaskan suaminya. “Lelaki itu adalah kakak kandung Adinda. Dialah yang memberi sebuah ikat kepala kepada Adinda,” Surati menjelaskan kembali, agar Raden Banterang luluh hatinya. Namun, Raden Banterang tetap percaya bahwa istrinya akan mencelakakan dirinya. “Kakanda suamiku! Bukalah hati dan perasaan Kakanda! Adinda rela mati demi keselamatan Kakanda. Tetapi berilah kesempatan kepada Adinda untuk menceritakan perihal pertemuan Adinda dengan kakak kandung Adinda bernama Rupaksa,” ucap Surati mengingatkan.

“Kakak Adindalah yang akan membunuh kakanda! Adinda diminati bantuan, tetapi Adinda tolah!”. Mendengar hal tersebut , hati Raden Banterang tidak cair bahkan menganggap istrinya berbohong.. “Kakanda ! Jika air sungai ini menjadi bening dan harum baunya, berarti Adinda tidak bersalah! Tetapi, jika tetap keruh dan bau busuk, berarti Adinda bersalah!” seru Surati. Raden Banterang menganggap ucapan istrinya itu mengada-ada. Maka, Raden Banterang segera menghunus keris yang terselip di pinggangnya. Bersamaan itu pula, Surati melompat ke tengah sungai lalu menghilang.

Tidak berapa lama, terjadi sebuah keajaiban. Bau nan harum merebak di sekitar sungai. Melihat kejadian itu, Raden Banterang berseru dengan suara gemetar. “Istriku tidak berdosa! Air kali ini harum baunya!” Betapa menyesalnya Raden Banterang. Ia meratapi kematian istrinya, dan menyesali kebodohannya. Namun sudah terlambat.

Sejak itu, sungai menjadi harum baunya. Dalam bahasa Jawa disebut Banyuwangi. Banyu artinya air dan wangi artinya harum. Nama Banyuwangi kemudian menjadi nama kota Banyuwangi yang dilihat dari sisi legenda Banyuwangi.
More aboutCerita Rakyat Indonesia #24: Kisah Banyuwangi

Cerita Rakyat Indonesia #7 - Candra Kirana Jadi Keong Mas

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Friday, August 17, 2012

Tersebutlah pada masa lalu, seorang raja Kerajaan Daha bernama Raja Kertamarta. Beliau memiliki dua orang putri bernama Dewi Galuh dan Candra Kirana yang sama-sama belum menikah.
Namun, Candra Kirana telah memiliki seorang tunangan bernama Raden Inu Kertapati, putra mahkota Kerajaan Kahuripan. Sementara, Galuh Ajeng belum memiliki seorang pendamping. Hal ini karena dia diam-diam menyukai Raden Inu Kertapati. Akibatnya, dia pun iri pada Candra Kirana.

Iri hati ini sampai membuatnya tega mendatangi nenek sihir guna mengutuk Candra Kirana. Dia juga memfitnah Candra Kirana, membuat gadis malang itu terusir dari istana. Ketika Candra Kirana berjalan menyusuri pantai, si nenek sihir muncul. Kemudian, menyihirnya menjadi seekor keong emas dan membuangnya ke laut. Tapi, sihir itu akan sirna apabila keong emas berjumpa dengan tunangannya.

Suatu hari, seorang nenek menjala ikan-ikan laut tanpa sengaja menemukan keong mas di jalanya. Keong Emas dibawanya pulang dan ditaruh di tempayan. Keesokan hari, si nenek berniat mencari lagi ikan di laut, tetapi tak seekor pun didapat. Dia pulang dengan hati sedih. Tapi, sesampainya di gubuk, ia terkejut karena tersaji berbagai macam masakan enak. Si nenek pun bertanya-tanya, "Siapa gerangan pengirim masakan ini?"

Hal yang sama terjadi berulang-ulang selama beberapa hari kemudian. Tentu si nenek penasaran.
Besoknya, si nenek pura-pura pergi melaut. Padahal, yang sesungguhnya adalah dia mengintip apa yang tengah terjadi. Ternyata keong emas berubah menjadi gadis cantik. Dengan cekatan dia meracik dan menyajikan masakan untuk si nenek.

Si nenek yang mengintip dari balik pintu segera masuk, kemudian menegurnya.

"Hai, siapa gerangankah kau putri cantik?"

Gadis itu alias si keong mas terkejut melihat kedatangan si nenek. Namun, setelah menguasai dirinya, dia menjawab, "Aku adalah putri kerajaan Daha yang disihir menjadi keong emas oleh saudaraku karena ia iri kepadaku."

Setelah berkata demikian, Candra Kirana berubah kembali menjadi keong emas. Si nenek itu tertegun melihat apa yang disaksikannya.

***

Raden Inu Kertapati tak diam saja mengetahui Candra Kirana menghilang. Dia mencarinya dengan cara menyamar menjadi rakyat biasa. Nenek sihir yang mengetahui hal tersebut, segera mengubah dirinya menjadi gagak. Hal itu dilakukan untuk mencelakai Raden Inu Kertapati dengan cara memberikan arah yang salah. Di perjalanan Raden Inu bertemu seorang kakek kelaparan, lalu diberinya kakek itu makan. Ternyata si kakek adalah orang sakti yang baik. Dia menolong Raden Inu dari pengaruh burung gagak jadi-jadian itu. Sang kakek sakti memberitahu Raden Inu di mana Candra Kirana berada. Raden Inu harus pergi ke desa Dadapan.

Setelah berjalan selama berhari-hari, akhirnya Raden Inu sampai di desa Dadapan. Dia menghampiri sebuah gubuk yang dilihatnya untuk meminta seteguk air karena perbekalannya habis. Tapi, dia sangat terkejut, karena dari balik jendela tampak tunangannya sedang memasak. Maka, bertemulah mereka.

Sihir dari si nenek sihir sirna karena perjumpaan dengan Raden Inu. Pada saat itu nenek pemilik gubuk itu dan putri Candra Kirana memperkenalkan Raden Inu pada si nenek. Raden Inu kemudian memboyong tunangannya ke istana. Candra Kirana menceritakan semua perbuatan Galuh Ajeng pada Baginda Kertamarta.

Baginda minta maaf kepada Candra Kirana dan sebaliknya. Galuh Ajeng divonis mendapat hukuman setimpal. Karena takut Galuh Ajeng melarikan diri ke hutan. Sayang, ia terperosok dan jatuh ke dalam jurang.

Pernikahan Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati berlangsung. Mereka memboyong nenek pemilik gubuk yang baik hati itu ke istana. Mereka semua hidup bahagia. [CJ]
More aboutCerita Rakyat Indonesia #7 - Candra Kirana Jadi Keong Mas