Cerita Rakyat Indonesia #97: Legenda Telaga Pasir

Telaga Pasir atau lebih dikenal Telaga Sarangan merupakan salah satu objek wisata air yang terkenal di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Telaga ini memiliki luas sekitar 30 hektar dengan kedalaman mencapai 30 meter. Menurut cerita rakyat Indonesia setempat, mulanya telaga ini sebuah ladang milik Kyai Pasir. Lalu, suatu peristiwa menyebabkan ladang ini menjadi telaga. Peristiwa apakah itu? Temukan jawabannya dalam cerita rakyat Legenda Telaga Pasir berikut ini.

***

Di kaki Gunung Lawu, Magetan, hiduplah sepasang suami istri bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Mereka orang miskin yang kerjanya sehari-hari menggarap ladang. Ya, itu sudah cukup memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, walaupun pas-pasan.

Suatu hari, ketika menggarap ladang, mata Kyai Pasir menatap sebuah telur besar yang teronggok di bawah pepohonan. Melihat hal tersebut, Kyai Pasir mencoba menghampirinya.

"Telur apa ini ya?" gumam Kyai Pasir terheran-heran. Kyai Pasir menjumputnya lalu mengamatinya dengan seksama.

"Apa mungkin ini telur ayam. Mana mungkin ayam berkeliaran di sekitar sini?" Kyai Pasir bertanya-tanya. "Ah, bodo ah. Mau telur apa kek, yang penting telur ini enak untuk dijadikan lauk untukku dan istriku."

Maka, Kyai Pasir segera pulang ke rumah untuk istirahat karena hari sudah siang sekaligus memberikan telur yang didapatnya supaya dimasak oleh istrinya.

"Bu, tolong masak telur ini," kata Kyai Pasir sesampainya di rumah.

"Telur apa ini, Pak? Besar sekali..." tanyat Nyai Pasir.

"Sudahlah, Bu, tidak perlu kau pikirkan. Yang jelas itu telur bisa buat makan kita siang ini. Lekaslah, perutku sudah keroncongan."

Nyai Pasir segera memasak telur tersebut. Setelah matang telur tersebut dibagi dua sama rata-rata. Suami istri itu masing-masing mendapat separuh-separuh. Usai istirahat dan makan siang, tubuh Kyai Pasir kembali bertenaga. Ia pamit pada istrinya untuk bekerja.

Di tengah perjalanan, Kyai Pasir mengelus-elus perutnya. Tampaknya, ia masih merasakan nikmatnya telur rebus tadi. Hanya saja, saat sampai di ladang, tiba-tiba sekujur tubuh Kyai Pasir terasa sakit, panas, dan kaku. Kyai Pasir bingung apa yang tengah terjadi pada dirinya. Matanya pun mulai berkunang-kunang.

"Duh, kenapa tubuhku ini?" erang Kyai Pasir.

Saking sakitnya, Kyai Pasir rebah ke tanah dan berguling-guling ke sana ke mari. Selang beberapa waktu berikutnya, dari tubuh Kyai Pasir mulai tumbuh sisik, sementara mulutnya mulai maju. Kyai Pasir berubah menjadi ular naga.

Di waktu yang berbarengan, Nyai Pasir juga mengalami hal yang sama. Ia mengeluhkan tubuhnya sakit. Maka, ia pergi ke ladang dan di saat itu ia melihat seekor naga yang mengerikan. Tepat saat itu, Nyai Pasir juga berubah menjadi ular naga. Ternyata telur yang mereka makan adalah telur naga.

Kedua naga itu mengais-ngais tanah, sehingga tanah di sekitar berserakan dan membentuk cekungan seperti habis digali. Lama-lama, cekungan tanah itu makin luas dan dalam. Setelah itu, muncullah semburan air yang amat deras sehingga cekungan itu dipenuhi air dan berubah menjadi telaga.

Masyarakat setempat menamakan telaga itu Telaga Pasir, yang mengambil nama dari Kyai dan Nyai Pasir. Dan karena lokasinya berada di Kelurahan Sarangan, telaga ini juga dikenal dengan Telaga Sarangan.

***

Begitulah legenda Telaga Pasir ini saya kisahkan kembali. Cerita rakyat Indonesia ini masih digemari oleh masyarakat Jawa Timur, khususnya Magetan. Pesan moral yang bisa dipetik dari kisah ini yaitu hendaklah kita berhati-hati sebelum mengambil sesuatu yang belum jelas asal-usulnya supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Saat ini, Telaga Pasir atau Telaga Sarangan ini menjadi obyek wisata andalan Kabupaten Magetan. Apabila hendak membaca kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya, silakan pilih di bagian kategori.
0 Komentar untuk "Cerita Rakyat Indonesia #97: Legenda Telaga Pasir"

Back To Top