Gagasan: Menulis Ulang Cerita Rakyat

Tanggal 3 Juli 2013 lalu Badan Arsip dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah menggelar Lomba Bercerita Siswa SD Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Pemenang lomba ini akan mewakili Provinsi Jawa Tengah di ajang serupa tingkat nasional yang akan diselenggarakan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Jakarta.

Salah satu tujuan lomba bercerita ini adalah membangun moralitas dan karakter para pelajar melalui cerita rakyat yang dapat memberi keteladanan. Saya yang kebetulan mengikuti lomba ini dari awal sampai akhir menyimpan sedikit kegalauan: adakah nilai edukatif dalam cerita rakyat yang disajikan oleh para peserta? Para peserta menyajikan cerita rakyat yang sangat  kental nuansa mitos dan klenik, seperti Timun Emas dan Rara Jonggrang.

Cerita semacam ini sangat lemah aspek pembentukan karakter pada jiwa anak. Kalaupun ada sifatnya cenderung dipaksakan ada dan mengada-ada. Bertentangan dengan logika akal sehat. Bagaimana bisa  seorang anak lahir dari dalam timun raksasa? Sungguh tak adil rasanya jika Rara Jonggrang yang berusaha melawan kediktatoran Bandung Bondowoso malah dikutuk menjadi arca candi. Karakter macam apakah yang akan dibangun dari cerita semacam ini?

Corak karya sastra suatu bangsa tanpa disadari telah membentuk karakter bangsa itu. Perang antara kerajaan Spanyol dan Inggris yang berakhir di Pantai Gravelines, Prancis, Agustus 1588, dimenangi armada Inggris. Dalam bukunya, The Achieving Society (1961), David McClelland menulis Inggris menang karena memiliki need for achievement (kebutuhan meraih prestasi) yang lebih tinggi daripada armada Spanyol. Salah satu penentu need for achievement (n-ach) adalah corak sastra rakyat.

Saat tingkat perekonomian Spanyol dan Inggris berada di puncak (1560-an), corak sastra rakyat Inggris tetap penuh kisah petualangan dan perjuangan. Namun, sastra rakyat Spanyol bergelimang kisah kemewahan dan hiburan. McClelland menyimpulkan kisah perjuangan dan petualangan lebih mengembangkan tingkat n-ach rakyat Inggris (McClelland, 1961, 1965). McClelland dengan bantuan beberapa ahli yang netral menemukan puisi, drama, pidato penguburan, dan kisah epik di Inggris ternyata menunjukkan optimisme yang tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan sikap tidak cepat menyerah.

Cerita-cerita seperti ini dianggap memiliki nilai n-ach tinggi. Lalu ia juga menemukan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi selalu didahului oleh the need for achievement yang tinggi dalam karya sastra masa itu. Ketika bergerak lebih jauh, mengumpulkan 1.300 dongeng dan cerita anak dari berbagai negara era 1925 dan 1950, ia mendapati cerita atau dongeng yang mengandung nilai n-ach tinggi selalu diikuti pertumbuhan ekonomi yang tinggi di negara itu dalam kurun waktu 25 tahun kemudian.

McClelland telah membuktikan bahwa corak sastra mampu memengaruhi karakter suatu bangsa. Hal ini berarti corak sastra mampu memengaruhi tingkat budaya literer suatu bangsa. Budaya literer merupakan suatu tolok ukur sejauh mana suatu bangsa bisa menyerap informasi, mengolah informasi, dan memberdayakan informasi untuk menggapai keberhasilan.

Geoffrey Jukes, penulis The Russo-Japanese War 1904-1905, mengungkapkan bahwa kunci penentu hasil perang itu bukanlah teknologi, tetapi tingkat budaya literer. Jepang yang merupakan representasi Benua Asia ketika itu secara mengejutkan mampu mengalahkan Rusia (Benua Eropa).  Rusia kalah pada pertempuran laut di Selat Tsushima, 27-28 Mei 1905. Hanya 20 persen personel militer Rusia bisa ”membaca dan menulis”.

Kapten Tsubasa

Akibatnya, banyak yang tidak mampu mengoperasikan secara benar persenjataan modern (saat itu) dan sistem telegraf nirkabel yang diimpor dari Jerman. Serangan Rusia sering salah sasaran karena salah membaca peta dan salah mengoperasikan jaringan komunikasi. Sebaliknya, hampir semua tentara Jepang tahu ”membaca dan menulis”. Mereka mahir menggunakan persenjataan militer modern dan memanfaatkan infrastruktur intelijen militer secara benar. Jepang bahkan sudah memodifikasi sistem telegraf nirkabel dari Jerman.

Kembali ke cerita rakyat di Tanah Air.  Dongeng asli Indonesia yang penuh dengan cerita mistis seolah mengajarkan cara instan untuk menggapai cita-cita. Seharusnya cerita rakyat mengajarkan cara bekerja keras, bekerja cerdas, dan bekerja pantang menyerah. Model cerita—irasional–semacam ini juga sering ditemui dalam sinetron-sinetron di layar kaca. Mengajarkan “solusi ajaib” dalam menyelesaikan masalah.

Bangsa ini perlu banyak belajar dari Jepang. Mimpi Jepang untuk merebut Piala Dunia dalam komik Kapten Tsubasa  telah memberikan inspirasi dalam dunia nyata. Kapten Tsubasa telah menjelma menjadi salah satu sosok penting dalam kebangkitan persepakbolaan negeri itu. Pada 1981, komik tersebut kali pertama dirilis di Jepang, bercerita tentang seorang anak berpostur pendek yang sangat gemar bermain sepak bola. Dia selalu menjadi bintang di tim sekolah, mulai di SD Nakatsu, hingga mimpinya merumput di Eropa terwujud.

Cerita Kapten Tsubasa berhasil menginspirasi generasi muda Jepang. Kapten Tsubasa adalah mimpi publik Jepang untuk memiliki seorang pemain sepak bola yang disegani di pentas sepak bola dunia. Berkat Tsubasa, sepak bola Jepang terus melakukan inovasi untuk meraih mimpi. Usaha Jepang membuahkan hasil yang pantas membuat Indonesia iri. Negeri Sakura  itu kini tak diragukan lagi merupakan negara sepak bola terkuat di Asia. Jepang merupakan tim pertama yang memastikan lolos ke Piala Dunia 2014 selain tuan rumah Brasil.

Cerita rakyat Indonesia harus ditulis ulang dengan karakter pantang menyerah dan penuh heroisme dalam meraih keberhasilan. Mungkin kisah Kancil Nyolong Timun yang telah menginspirasi para koruptor harus ditulis ulang menjadi Kancil Menangkap Pencuri Timun. Penulisan ulang cerita rakyat ini perlu dilakukan untuk membebaskan bangsa ini dari karakter pecundang menjadi pemenang. Menjadi bangsa yang sepenuhnya merdeka lahir batin, bebas dari segala bentuk penjajahan.

Bagaimana menurut Anda? Haruskah kita menulis ulang cerita rakyat kita?

Sumber: Solopos.com
Tag : Admin
0 Komentar untuk "Gagasan: Menulis Ulang Cerita Rakyat"

Back To Top