Naskah Drama #3: Malin Kundang

Diposkan oleh Cerita Rakyat on Tuesday, April 30, 2013

Beberapa waktu sebelumnya, saya sudah pernah menulis dan mempublikasikan naskah drama Malin Kundang. Namun, entah bagaimana, naskah tersebut hilang dari blog ini—mungkin karena terhapus tidak sengaja oleh saya sendiri, entahlah. Karena tidak punya back-up, saya menulisnya kembali, berdasarkan ingatan dan beberapa referensi tambahan dari internet. Tapi, perlu saya tegaskan kepada Anda, bahwa artikel ini hanyalah contoh naskah drama anak sekolah—yang dikembangkan dari cerita rakyat Malin Kundang. Pengembangannya bisa dilakukan sesuai imajinasi dan kekreatifan masing-masing. Selamat membaca ^^

Naskah Drama Malin Kundang


[PROLOG: dulu, hiduplah seorang wanita tua dengan anaknya yang bernama Malin. Mereka hidup menderita dan bergantung pada hasil hutan.]

Ibu: "Malin, datang ke sini anak, membantu saya untuk membawa kayu bakar ini. "

Malin: "Ya ibu, tunggu sebentar." (Malin membantu ibunya)

Malin: "Ibu, berapa lama kita akan bertahan dengan kondisi ini? Saya ingin ada perubahan dalam hidup kita."

Ibu: "Entahlah, Ibu tidak tahu Malin, kita harus bersabar dan jangan berhenti berdoa kepada Allah. "

Malin: "Ibu, aku punya ide, biarkan aku pergi untuk mengubah keberuntungan saya? Siapa tahu aku akan menjadi orang kaya."

Ibu: ...

[Malin dan ibunya kembali ke rumah, tapi ibunya hanya diam tentang ide. Setelah mereka tiba di rumah.]

Malin: "Bu, bagaimana dengan ide saya?"

Ibu: "Saya pikir itu bukan ide yang baik anakku. Karena, jika kamu pergi, siapa yang akan menjagaku di sini."

Malin: "Tapi Ibu, jika saya tidak mengubah peruntungan, bagaimana kita bisa bertahan? Saya berjanji Ibu, jika bisa menjadi orang kaya, saya akan kembali. Tenang saja Ibu, saya akan berbicara dengan Dayat, supaya menengok Ibu setiap hari hingga saya kembali ke rumah."

[Ibu Malin tidak bisa melarang apa Malin inginkan. Akhirnya, dia setuju dengan ide Malin.]

Ibu: "Baiklah, jika itu memang keinginanmu, Malin! Tapi, kamu harus pegang janjimu untuk kembali ke kampung ini."

[Malin pergi ke rumah Dayat untuk memintanya menjaga ibunya, hingga ia kembali dari perantauan membawa uang yang banyak. Dayat merupakan sahabat Malin, yang selalu ke mana-mana suka maupun duka.]

Dayat: "Kamu mau ke mana, Malin?"

Malin: "Besok, aku akan merantau untuk mengubah nasib."

Dayat: "Apa? Jika kamu pergi merantau, siapa yang akan menjaga Ibumu di sini?"

Malin: "Karena itu, aku mendatangimu. Aku ingin menjaga Ibuku—tengoklah ia setiap hari itu sudah cukup baginya—hingga aku kembali.”

Dayat: "Oh, baiklah kalau begitu. Ingat pesanku untukmu, jangan lupakan kita yang ada di sini, Malin."

[Keesokan harinya, Ibu Malin mengantarkan anaknya ke pelabuhan.]

Ibu: "Jaga dirimu baik-baik, Nak. Cepatlah pulang, setelah kamu sukses di rantau.”

Malin: "Ya Ibu, doakan saya supaya saya cepat mendapat rezeki yang banyak.”

Malin: “Dayat, tolong kamu jaga Ibu saya baik-baik. Terima kasih sebelumnya. Selamat tinggal.”

Dayat: "Jangan khawatirkan soal itu, Malin. Saya berjanji akan merawat ibumu sepenuh jiwa raga saya. Jaga dirimu baik-baik. "

Ibu: "Selamat jalan, Anakku."

Dayat: "Selamat jalan, Malin."

[Akhirnya, Malin memulai peruntungannya di perantauan. Ia pergi berlayar dengan saudagar kaya. Di kapal, Kapten memberinya pekerjaan sebagai kru. Kapten memiliki putri semata wayang, yang telah menjadi seorang anak gadis cantik. Nama anak gadis Kapten adalah Ningrum. Ketika Malin melihatnya, ia jatuh hati. Hal ini memberikan semangat kepada Malin untuk bekerja lebih giat lagi.]

Malin: (Berkata di dalam hati, saat melihat Ningrum mendatanginya) "Ningrum sangat cantik. Aku menyukainya, dan harus menikahinya. Dengan begitu, jika sesuatu terjadi pada ayahnya, warisannya akan jatuh ke tanganku, sehingga aku akan menjadi orang kaya.”

Ningrum: "Apakah kamu melihat ayahku?”

Malin: "Hmm, saya tidak melihatnya. Mungkin ia pergi ke dapur. Cobalah ke sana untuk melihatnya."

Ningrum: "Oh, baiklah. Saya akan ke sana menemuinya."

Malin: [Tersenyum] "Ya, silakan Nona. Apakah perlu kuantar?”

Ningrum: [Hanya tersenyum, sambil berjalan meninggalkan Malin.]

[Sementara itu, di kampung halaman Malin, Ibu Malin sangat gelisah. Ia resah bagaimana Malin menjalani kehidupannya di perantauan. Apakah Malin sehat? Apakah Malin bisa menjaga dirinya baik-baik? Semua pertanyaan-pertanyaan khas orang tua yang khawatir akan anaknya menggelayut menjadi beban pikiran Ibu Malin. Sementara itu, ia juga khawatir Malin tidak pulang kembali ke kampung halamannya, dan melupakan dirinya.]

Ibu: "Dayat, saya rindu sekali dengan Malin. Kira-kira, kapankah ia kembali? Apakah ia baik-baik saja saat ini?

Dayat: "Jangan takut, Ibu. Malin akan pulang. Ia telah berjanji. Sementara itu, biarkan saya menjaga Ibu.”

Ibu: "Ya, terima kasih, Dayat. Entah, apa jadinya saya tanpa bantuanmu."

Dayat: “Jangan terlalu dipikirkan, Ibu.”

[Suatu hari, kapten memanggil Malin, karena ia akan menaikkan jabatan Malin atas prestasi kerjanya selama ini. Dengan jabatan ini, dalam beberapa tahun, membuat Malin menjadi orang kaya.]

Malin: "Sekarang, saya kaya raya. Saya dapat membeli semuanya dengan uang saya. Karena itu, Ningrum harus menikah dengan saya.”

[Semakin hari, Ibu Malin semakin merindukan anaknya. Ketuaannya membuat ia lelah menunggu Malin. Namun, Dayat selalu memberikan dukungan untuk Ibu Malin, bahwa Malin yang akan datang kembali dan orang kaya.]

Dayat: "Jangan sedih, Ibu."

Ibu: "Saya lelah, Dayat. Saya lelah menunggu Malin. Kita tidak pernah mendapatkan berita dari Malin sedikit pun.”

Dayat: "Saya percaya Ibu, bahwa Malin akan datang kembali dan menjadi orang kaya.”

Ibu: "Apakah kamu yakin, Dayat?"

Dayat: "Ya, Ibu. Jangan sedih lagi ibu."

[Setelah Malin telah menjadi orang kaya, Malin menikahi Ningrum. Mereka hidup bahagia dan menjadi pasangan yang romantis.]

Malin: “Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?”

Ningrum: “Malin suamiku, kita kan sudah menikah. Bagaimana kalau kita berbulan madu?”

Malin: “Sepertinya, itu ide bagus, bagaimana kalau kita Pulau Dua Angsa?”

Ningrum: “Wah, pulau itu sangat bagus. Saya setuju.”

Malin: “Oke! Kalau begitu, kita ke sana besok.”

[Keesokan harinya, Malin serta istrinya berlayar ke Pulau Dua Angsa. Dalam perjalanannya, mereka singgah ke kampung halaman Malin, untuk mengisi berbagai perbekalan. Tapi, Malin tidak menemui Ibunya seperti yang telah dijanjikan. Ia hanya berjalan-jalan di sekitar dermaga saja. Ketika itu, Dayat – sahabat Malin – melihatnya.]

Dayat: "Malin? Apakah dia Malin? Ya, seperti dia adalah Malin. Saya harus mengatakan itu kepada Ibunya."

[Dayat pergi ke rumah Ibu Malin untuk mengabarkan kedatangan Malin. Ia sangat senang mengetahui Malin datang ke kampung halamannya. Jika, Ibu Malin mengetahui berita ini, tentu hatinya bahagia.]

Dayat: "Ibu... Ibu ..."

Ibu: "Ya, saya di sini, Dayat."

Dayat: "Ibu, Malin pulang. Ia ada di pelabuhan sekarang. Tampaknya, ia telah menjadi orang kaya sekarang!"

Ibu: "Apa kamu yakin kalau yang kamu lihat adalah Malin?"

Dayat: "Ya, saya yakin Bu. Saya tidak mungkin bisa melupakan wajahnya. Saya masih ingat wajah Malin."

Ibu: "Jika apa yang kamu lihat benar, ayo temani saya pergi ke sana."

[Dayat mendampingi Ibu Malin untuk menemui anaknya. Sesampainya di pelabuhan, Ibu Malin memang melihat anaknya. Saking harunya, air mata keluar dari matanya. Ia memanggil Malin dari kejauhan untuk kemudian mendekatinya.]

Ibu: "Malin, Malin, anakku! Malin …"

Ningrum: "Siapa itu wanita tua, Suamiku?"

[Malin tidak menjawab pertanyaan Ningrum, karena tenggorokannya tercekat tidak bisa menjawab pertanyaannya dari istrinya.]

Ningrum: "Siapa dia, Suamiku?"

Ibu: “Malin, siapa ia? Apakah ia Istrimu? Ia sungguh wanita yang sangat cantik.“ [Ibu Malin membuka tangannya untuk memeluk menantunya.]

Ningrum: [Tapi, Ningrum menepis pelukan itu.] "Issh, jangan sentuh aku!"

Malin: "Jangan kamu menyentuhnya! Dasar wanita kotor! Kulitmu bisa mengotori kulitnya!"

Ningrum: "Siapa wanita tua ini, Malin? Benarkah ia Ibumu? Uh, ia benar-benar sangat kotor."

Malin: "Saya tidak tahu. Saya tidak mengenal wanita ini. "

Ibu: "Malin, anakku. Kenapa kamu ini, Nak? Apa salah Ibu? Aku ini Ibumu. Ibumu. Kamu telah berjanji untuk kembali ke kampung ini untuk menemuiku, jika kamu sudah kaya. Sekarang kamu sudah kaya, dan bukankah kedatanganmu ke sini untuk menemuiku?”

Malin: "Cih, Ibuku? Mengaku-ngaku saja kamu sebagai Ibu? Saya tidak mengenal kamu. Jika saya kaya, tentu Ibu saya juga kaya. Tidak sepertimu, kotor dan bau!”

Ibu: "MALIN!!!” [Ibu Malin berkata keras.]

Ibu: “Saya Ibumu—ibu yang telah melahirkanmu! Saya bisa mengatakan fakta tentang dirimu."

Ningrum: "Pergi saja kamu, wanita tua."

Ibu: "Malin ... Malin ..."

Malin: "Pergi. Pergilah sekarang, kamu!"

Dayat: "MALIN! Lupakah kamu terhadap Ibumu? Lupakah kamu terhadap saya—sahabat baikmu? Ini Ibumu, Malin. Ibumu."

Malin: "Tidak, saya tidak lupa. Saya benar-benar tidak mengenal kamu dan wanita tua itu. Seingat saya, saya tidak pernah memiliki sahabat sepertimu."

Dayat: "Jahat, kamu! Celakalah kamu, Malin."

Ibu: "Ingat saya, Nak? Saya adalah ibumu."

Dayat: "Tolong, ingat ibumu, Malin. Ia selalu menunggumu kembali ke kampung halamanmu. Ingatlah janjimu, Malin."

[Malin tidak peduli. Ia menyeret Ibunya dengan kasar, hingga wanita tua itu jatuh tersungkur.]

Malin: Jangan panggil aku sebagai anakmu, wanita kotor! Ayo, Ningrum, kita harus pergi secepatnya dari tempat ini sebelum wanita ini mengotori wajah kita."

Ningrum: "Ya, Suamiku."

[Setelah mendorong paksa Ibunya pergi, Malin kembali ke kapalnya. Sementara Ibunya, masih berteriak memanggil-manggil namanya.]

Ibu: “Malin ... Malin ... Jangan biarkan Ibumu Malin!!!“

[Hilang sudah kesabaran Ibu Malin melihat tingkah anaknya. Lalu, dengan kesal ia mengucap asal kalimat “jadilah batu!”. Kata-kata seorang Ibu yang sedang marah menjadi doa yang didengar oleh Tuhan.]

Ibu: “Ya Tuhan, kenapa anakku seperti itu? Apa salahku? Apa dosaku? Ia sama sekali melupakanku. Saya tidak terima perlakuan itu darinya. Sekarang hilang sudah kesabaranku. Aku mengutuknya: Jadilah batu!!!”

[Setelah itu, tiba-tiba datanglah badai menghancurkan Kapal Malin, petir menyambar tubuhnya. Dan ...]

Malin: “Apa yang terjadi? Tubuh saya tidak bisa digerakkan! Maafkan saya, Ibu. Maafkan saya ...!”

Ningrum: “Apa yang terjadi? Apa yang terjadimu, Malin? Kamu kenapa?”

[EPILOG: Malin pun berubah menjadi batu, ketika ia meminta ampun kepada Ibunya. Kapal, kru serta istrinya tenggelam ke dasar laut. Itulah hasil jika kita memberontak kepada orang tua kami terutama untuk ibu kita.]

Contoh naskah drama lainnya, bisa dibaca di kategori naskah drama.[]

Artikel Terkait

{ 1 komentar... read them below or add one }

Post a Comment