Dongeng Bahasa Indonesia: Si Kancil Pencuri Timun

Dongeng Bahasa Indonesia: Si Kancil Pencuri Timun

Siang itu cuaca tampak panas. Tampak kancil tengah beristirahat di bawah rerindang pepohonan. Menikmati suasana. Di tengah kedamaian itu, tiba-tiba kancil dikejutkan oleh teriakan teman-temannya yang lari ke arahnya.

“Kebakaran… Kebakaran… Lari, Cil,” teriak jerapah.

Kancil langsung mengambil langkah seribu. Walaupun, kancil paling kecil di antara teman-temannya. Tapi, kancil lari paling cepat. Tidak terasa, kancil telah meninggalkan teman-temannya jauh di belakang. Saat napasnya habis, kancil baru berhenti.

Begitu menengok ke belakang, kancil terkejut karena tidak menemukan teman-temannya. ‘Lho, dimana mereka?’ batin kancil.

Krukkk… krukkk… terdengar suara perut kancil. Rupanya ia kelaparan gara-gara berlari tadi. Namun, kancil bingung harus mencari makanan di mana. Soalnya, kancil tidak tahu tengah berada dimana. Kancil pun berjalan saja lurus. Siapa tahu ada makanan di sana.

Tak dinyana, kancil sampai di sebuah perkebunan timun. Kebetulan saat itu, timun-timun yang ditanam sudah masak. Melihat begitu banyak timun, air liur kancil langsung menetes. Kancil pun segera memilih mana timun yang sekiranya lezat untuk disantap. Setelah ketemu, Kancil melahap habis timun itu dan beristirahat di bawah rerindangan pohon tidak jauh dari ladang Pak Tani.

“Aku tidak perlu pergi jauh-jauh dari tempat yang kaya akan makanan ini,” kata kancil.

Di saat seperti itu, Pak Tani datang ke sawahnya seperti biasa. Ia terkejut menemukan sawahnya dalam kondisi acak-acakan. ‘Siapa pelakunya?’ batin Pak Tani, ‘Hama, hewan, ataukah pencuri?’

Pak Tani memeriksa sawahnya dengan seksama. Ia melihat jejak binatang di tanah. ‘Ini pasti perbuatan binatang. Tapi, binatang apa? Ah, akan kubuat jebakan untuk menangkapnya.’ Pak Tani pun membuat jebakan untuk pencuri timunnya.

***

Keesokan hari, Pak Tani datang pagi-pagi. Ia membawa orang-orang sawah yang telah dilumuri getah nangka yang lengket. Sesudah menancapkan dengan kuat di tempat tertentu, Pak Tani pulang ke rumah.

Kancil yang melihatnya di kejauhan bergumam, ‘Wah, Pak Tani datang bersama temannya. Aku akan ke sana setelah temannya pergi.”

Tentu saja, orang-orangan sawah itu tidak akan pergi. Akhirnya, kancil tidak tahan lagi. Ia menghampiri orang-orangan sawah itu.

“Pak, saya lapar. Izinkan saya mengambil timun lagi disini. Maaf. Kemarin saya mencurinya. Karena bapak tidak ada. Maafkan saya, Pak,” kata kancil.

Orang-orangan sawah itu diam saja. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang seolah-olah mengejek kancil. Kancil pun tersinggung.

Dipukulnya, orang-orangan sawah itu dengan tangan kanannya. Tangan kanannya tidak bisa ditarik karena lengket. Kemudian, tangan kirinya mencoba memukulnya. Lagi-lagi tangan kirinya tidak bisa ditarik karena lengket. Alhasil, Kancil terjebak di tempat.

Sore harinya Pak Tani datang kembali. Ia menemukan kancil terjebak di jebakannya. Pak Tani segera menangkapnya. Kemudian menjebloskannya ke kurungan. Pak Tani memanggil istrinya untuk menyiapkan bumbu sate. Malam ini, kancil akan dijadikan sate panggang.

Kancil yang dijebloskan ke dalam kurungan mencoba menabrak-nabrak kurungan itu. Sayangnya, kurungan itu terlalu kuat untuk dirobohkan. Akhirnya, kancil terjebak di kurungan itu. Selamanya?

Hmm, dongeng Indonesia ini belum selesai.

Begitu memakai kekuatan kancil tidak bisa merobohkan kurungan. Kancil berpikir bagaimana caranya bisa keluar dari kurungan itu. Kancil mendapatkan ide sewaktu melihat anjing penjaga yang ada di situ.

“Hei, anjing,” panggil kancil.

Anjing penjaga menengok ke arah kancil.

“Iya, kamu. Sini.”

Anjing penjaga itu menghampiri kancil. “Ada apa?” tanyanya.

“Tahukah kamu, kalau malam ini aku diajak pesta oleh Pak Tani? Asyik ya?”

“Benarkah? Pak Tani tidak mengatakan apa-apa padaku.”

“Ini pesta khusus. Diadakan untuk menyambut kedatanganku.” Kancil mulai berbohong.

“Ah, masak sih?” anjing merasa tidak percaya.

“Ya sudah, kalau kamu tidak percaya. Nanti aku bilang saja sama Pak Tani supaya tidak mengajakmu.”

“Eh, jangan-jangan. Aku tentu mau ikut.”

“Makanya, temani aku disini supaya nanti kubujuk Pak Tani untuk mengajakmu.”

Anjing penjaga yang lugu itu membukakan kunci kandang. Dan kancil langsung keluar dengan cepat. Ia berlari sambil berkata, “Makasih ya sudah melepaskanku. Maaf aku berbohong padamu.”

Dan demikianlah dongeng bahasa Indonesia Si Kancil Pencuri Timun ini saya ceritakan ulang. Adik-adik bisa membaca dongeng lainnya di kumpulan dongeng Indonesia. Makasih sudah mampir ^^[]
Tag : Dongeng
1 Komentar untuk "Dongeng Bahasa Indonesia: Si Kancil Pencuri Timun"
vista ayu nissa lestari
delete

wow amaizing

Back To Top