Cerita Rakyat Indonesia #130: Pangeran Biawak

Sebuah cerita rakyat yang baik tentu mengandung pesan (nilai moral) yang baik pula. Hal ini supaya nilai-nilai kebaikan tertanam dalam diri anak-anak sebagai subyek. Salah satu dongeng Indonesia yang baik adalah Pangeran Biawak. Dongeng ini jarang sekali dibacakan, tidak banyak referensi yang memuatnya. Namun, pesan di belakangnya sungguh baik sekali. Nah, silakan dibaca saja ya...

*

Dalam cerita rakyat Nusantara yang berasal dari Kalimantan Tengah dikisahkan ada seorang raja di pedalaman yang mempunyai tujuh putri. Semuanya masih gadis. Namun, karena sudah cukup umur semuanya, mereka hendak dinikahkan. Sayangnya, tak ada calon yang mereka miliki. Sehingga, mau tak mau, ayahanda mereka campur tangan.

Sebagaimana lazimnya adat di zaman itu, jika ada seorang gadis tak punya calon, maka ayahnya akan menghelat sayembara untuk mencari pemuda impian bagi anaknya. Begitu juga yang dilakukan oleh ayahanda ketujuh putri tersebut. Karena, istananya terletak di pinggir sungai, maka sang raja juga mengadakan sayembara untuk membangunkan kerajaan di pinggir sungai seberangnya.

Tak lama setelah sayembara diumumkan, datanglah enam pemuda untuk mengikutinya. Dalam tempo tak begitu lama, keenam pemuda ini berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan sang raja. Namun, sayembara belumlah berakhir. Masih menunggu satu pemuda lagi untuk menyelesaikan satu tantangan lainnya, yakni membuatkan jembatan untuk masing-masing istana ke istana raja. Ya, kan tadi keenam istana ini terletak berseberangan dengan istana raja.

Tunggu ditunggu, datanglah seorang ibu tua dan seekor biawak. Siapa mereka? Rupanya ibu tua ini adalah ibu dari biawak itu.

"Hamba datang ke sini untuk mengikuti sayembara yang tuan paduka adakan," jelas ibu tua.

"Baiklah, apakah Anda punya seorang anak laki-laki?" tanya sang raja.

"Ya. Aku punya seorang anak laki-laki, yang biasa saja."

"Tak masalah. Siapa pun dia bisa mengikuti sayembara ini."

"Nah, anakku, kamu sudah mendengar kata-kata raja sendiri kan? Berarti kamu boleh ikutan," kata ibu tua kepada biawak.

Semua orang terkejut. Bagaimana mungkin seekor biawak bisa memiliki ibu manusia?

"Kan tadi tuan paduka sudah bilang tak mempermasalahkan. Siapapun boleh ikutan sayembara ini. Apa tuan paduka ingin menarik ucapan sendiri?"

Sang raja berdiam diri sejenak, menimang-nimang. "Ya, aku sudah mengatakannya. Dan pantang bagiku menarik ucapanku. Baiklah, kamu ikutan biawak."

Biawak pun langsung bekerja. [Klik di sini untuk membaca kumpulan cerita rakyat Indonesia lainnya]

Sementara itu, raja berdiskusi dengan ketujuh putrinya. Dia bertanya siapakah di antara mereka yang ingin menjadi istri dari biawak? Sebuah pilihan sulit! Nyatanya, keenam putri raja tak ada yang mau, kecuali si bungsu.

"Aku bersedia, ayahanda. Ini demi nama baik ayahanda yang telah berjanji kepada biawak untuk menikah salah seorang di antara putri ayahanda. Tentu saja, aku tidak bisa mengorbankan kebaikan keenam kakakku."

Biawak rupanya bekerja terlalu cepat. Karena selesai berdiskusi, keenam jembatan sudah jadi.

Keesokan harinya digelarlah pesta pernikahan. Tampak, keenam putri raja bergembira, sedangkan si bungsu cuma muram. Dia mencoba menutupi kesedihannya. Ketika malam tiba, dan semua pengantin baru ini ke kamar masing-masing hanya di kamar si bungsu tak terdengar suara cekikikan. Si bungsu cuma tertidur begitu saja, setelah meletakkan biawaknya di sudut kamar.

Namun, keesokan paginya, dia terkejut menemukan seorang pria tampan tidur di sisinya. Dia menjerit dan pengawal raja masuk ke kamarnya. Namun, tak ditemukan pria tampan itu. Si putri hanya menunjuk-nunjuk biawak. Pria tampan itu sudah berubah kembali menjadi biawak. Tapi, tak seorang pun pengawal percaya. Mereka hanya menganggap si bungsu sedang bermimpi buruk karena habis menikahi biawak.

Begitu yang terjadi selama beberapa malam. Namun, si bungsu tak lagi terkejut dengan kehadiran pria tampan tersebut. Justru dia bertanya mengapa suaminya yang cakep itu bisa berubah jadi biawak. Kata suaminya, dia berubah jadi biawak karena dikutuk. Si bungsu kemudian ke sudut kamar, dia menemukan kulit biawak yang akan dikenakan oleh suaminya menjelang pagi. Kali itu, si bungsu punya ide untuk membakarnya saja. Walhasil, suami si bungsu pun tak berubah kembali jadi biawak.

Sungguh senang hati si bungsu. Kemudian, keenam kakaknya merasa sedih juga kenapa dulu mereka tak mau. Itulah balasan bagi orang yang mau berbakti kepada orang tua. Demikian kisah Pangeran Biawak, sebuah cerita rakyat Indonesia dari Kalimantan Tengah.
0 Komentar untuk "Cerita Rakyat Indonesia #130: Pangeran Biawak"

Back To Top