Cerita Rakyat Indonesia #106: Legenda Putri Nyale

Penangkapan Nyale sudah menjadi tradisi (budaya) Pulau Lombok yang dilakukan setiap tanggal 20 bulan 10 (dalam kalender Sasak). Tradisi yang diisi dengan acara peresean, membuat kemah, dan mengisi acara malam dengan berbagai kesenian tradisional –  seperti Betandak (berbalas pantun), Bejambik (pemberian cendera mata kepada kekasih), serta Belancaran (pesiar dengan perahu).

Selain semua kegiatan itu, digelar juga pertunjukan mengenai asal-usul penangkapan Nyale, yang didasarkan pada naskah drama kolosal Putri Mandalika di Pantai Seger. Drama ini diambil dari cerita rakyat yang berkembang di dalam masyarakat setempat tentang asal-usul Nyale – dan kini menjadi bagian kesusasteraan cerita rakyat Indonesia. Bagaimana kisah selengkapnya?

Cerita rakyat Putri Nyale


Tersebutlah di Lombok sebuah Kerajaan Tonjang Beru, seorang putri cantik bernama Putri Mandalika. Ia dikaruniai paras yang sangat elok, hingga membuat para pangeran berebut ingin memiliki hatinya. Mereka berdatangan ke Kerajaan Tonjang Beru dengan maksud melamar Putri Mandalika. Namun, Sang Putri, menolak semua para pangeran tersebut dengan halus.

Di antara para pangeran yang melamar Putri Mandalika, ada dua orang pangeran yang tampaknya keberatan dengan penolakan tersebut. Dua pangeran tersebut adalah Pangeran Datu Teruna dari Kerajaan Johor dan Pangeran Maliawang dari Kerajaan Lipur. Mereka tidak terima ditolak oleh Putri Mandalika. Lantaran itu, mereka mengancam, jika Putri Mandalika tidak menerima pinangan salah satu di antara mereka, Kerajaan Tonjang Beru akan diserang.

Secara otomatis, ancaman tersebut membuat hati rakyat Tonjang Beru gelisah. Walaupun, Kerajaan Tonjang Beru besar, tapi pasukannya tidaklah sebanyak Kerajaan Johor atau Kerajaan Lipur.

Pada akhirnya, Putri Mandalika bersemedi. Ia berharap dapat menjatuhkan pilihan pada salah seorang pangeran supaya negerinya selamat dari marabahaya. Tapi, bisikan yang terdengar di lubuk hatinya berkata lain. Dalam bisikan itu, Putri Mandalika disuruh mengundang kedua pangeran pada tanggal 20 bulan 10 (menurut penanggalan masyarakat Sasak) di Pantai Kuta, Lombok. Sang Putri menitahkan utusannya untuk menemui kedua pangeran dengan pesan yang sama seperti dalam bisikan tersebut.

***

Pada hari H, semua orang berkumpul di Pantai Kuta, Lombok, termasuk rakyat Kerajaan Tonjang Beru. Mereka ingin menyaksikan siapa yang dipilih Putri Mandalika di antara dua pangeran. Para pangeran pun juga datang. Sekira pukul tiga sore hari, akhirnya Putri Mandalika keluar juga. Semua menantikan apa yang akan dikatakannya.

“Terima kasih, kalian berdua telah memenuhi undanganku. Aku telah menetapkan bahwa diriku tidak dapat memilih salah satu di antara dua pangeran. Hari ini, aku memutuskan bahwa diriku untuk kalian semua. Takdir menghendaki aku menjadi Nyale yang dapat kalian nikmati, pada bulan dan tanggal yang sama setiap tahunnya di sini.”

Setelah berkata seperti itu, Putri Mandalika menceburkan dirinya ke dalam laut, dan langsung ditelan gelombang. Mendadak langit berubah gelap, angin bertiup kencang, kilat dan petir menyambar-nyambar. Sesaat kemudian, suasana berubah menjadi terang kembali. Semua orang, tanpa kecuali mencari-cari keberadaan Sang Putri.

Pada saat seperti itu, muncullah cacing-cacing laut kecil yang jumlahnya sangat banyak, yang kini disebut sebagai Nyale. Barulah mereka mengetahui apa yang dikatakan oleh Sang Putri. Lalu beramai-ramai mereka berlomba mengambil binatang itu sebanyak-banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasih dan pula sebagai santapan atau keperluan lainnya.

Baca lainnya dari kumpulan cerita rakyat Indonesia.
0 Komentar untuk "Cerita Rakyat Indonesia #106: Legenda Putri Nyale"

Back To Top